Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Ketemu


"Hah, ke Senopati?"'


Amanda kaget saat diberitahu Arka perihal Rianti.


"Iya Man, barusan papa bilang ke aku. Dan ngeselinnya lagi, Rianti nggak bisa dihubungi sampai saat ini coba. Gimana nggak cemas banget aku dari tadi. Makanya belum sempat balas chat kamu." jawab Arka.


"Astaga, itu anak. Kalau ada apa-apa gimana?. Aturan kenalkan dulu itu cowok ke orang rumah. Biar kalau ada apa-apa bisa dicari orangnya." ujar Amanda lagi.


"Itu dia masalahnya, si Rianti ini terlalu polos jadi cewek. Masa mau-mau aja di jemput di ujung jalan. Ya walaupun mobilnya di parkir disitu, aturan cowoknya ya jalan lah menuju ke rumah. Pamit yang bener sama orang tua.." ujar Arka lagi.


"Terus gimana dong, Ka?" tanya Amanda pada suaminya itu."


"Aku udah minta tolong Ansel buat cari dia disana. Soalnya nggak ngangkat-ngangkat juga di telpon. Ansel bilang dia mau ngajak Nino." jawab Arka.


"Ya udah gini aja deh, aku mau telpon Dito sama Fahri dulu. Itu anak dua kan hantunya daerah sana tuh. Ntar aku minta tolong mereka cariin Rianti. Kalau nggak sibuk, pasti mereka mau." ujar Amanda.


"Thank you ya, Man. Maaf jadi ngerepotin banyak orang." tukas Arka.


"Iya nggak apa-apa, Ka. Pokoknya kamu disana tenang aja ya, jangan mikir macem-macem. Nanti kerjaan kamu jadi terganggu." ujar Amanda.


"Iya, Man. Aku janji."


"Oke ya udah, aku hubungi dua anak itu dulu." ucap Amanda.


"Oke, makasih ya Man sekali lagi."


"Sama-sama sayang."


Arka lalu menyudahi telpon tersebut. Amanda bergegas menghubungi dua mantan mahasiswanya. Sebab saat ini ia sudah tidak menjadi dosen lagi di universitas tersebut.


Lantaran pekerjaan kantor sudah semakin menumpuk dan si kembar sudah semakin besar. Ia ingin lebih banyak waktu untuk kedua anaknya itu.


"Hallo, Dito."


"Iya, mbak."


Terdengar suara Dito di seberang. Amanda kemudian menanyakan dimana pemuda itu berada. Dan apakah ia bisa atau tidak dimintai tolong mengenai Rianti.


"Dito bilang ia bisa membantu mencari gadis itu. Fahri pun saat ini tengah bersama dengan dirinya. Amanda lalu bertema kasih dengan sangat pada mereka berdua. Maka Dito dan Fahri memulai pencarian mereka tak lama setelah itu, sama seperti Ansel dan juga Nino yang kini telah bergerak.


***


"Ayo minum!"


Alex memaksa Rianti untuk segera menyentuh gelas berisi minuman keras yang telah ia tuang tadi. Namun Rianti masih enggan melakukan hal tersebut.


"Ayolah sayang, sedikit aja!" Alex menggunakan bujuk rayunya.


"Aku tuh nggak biasa minum beginian." ujar Rianti pada pria itu.


"Sedikit aja."


Alex mengangkat gelas sloki itu dan tetap memaksa Rianti. Dari tempat dimana ia duduk, Gareth mulai geram. Seumur-umur ia dan teman-temannya tak pernah memaksa orang yang tidak mau untuk minum.


"Nggak mau, ah!" Rianti masih menolak.


"Ayolah, Ti. Sekali ini aja. Nanti kamu akan terbiasa."


Rianti menepis semua itu hingga isinya tumpah. Alex kaget, minuman tersebut nyaris mengenai jasnya. Ia ingin marah pada Rianti, namun Rianti lebih marah. Gadis itu kini pamit ke toilet.


Alex tampak gusar, sebab perempuan yang ia bawa kali ini agak sulit untuk di perlakukan seperti perempuan-perempuan yang sering ia bawa sebelumnya.


Rianti pergi, di dalam toilet ia banyak menyesali diri. Kini ia memiliki rencana untuk pulang, sebab ia merasa ini bukan sesuatu yang ia inginkan.


Jika memang Alex mencintai dirinya, pria itu tak akan memaksakan apapun terhadap dirinya. Rianti juga tak akan pernah melakukan hal yang sama.


Rianti lalu keluar dan bersiap untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun kemudian ia tertegun. Pasalnya kini di depan mata tampak seorang wanita yang tengah mencerca Alex.


"Mana perempuan itu?" tanya si wanita kemudian.


"Perempuan yang mana?" tanya Alex dengan nada ngegas.


Rianti terkejut mendengar semua itu. Dadanya kini terasa begitu sesak.


"Maksud kamu apa sih?"


Alex mulai terbata-bata. Sedang perempuan yang mengoceh itu kini menilik ke sekitar. Tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan mata Rianti.


"Elo kan selingkuhan suami gue?" ujarnya lalu mendekat.


Alex kaget sekaligus memerah wajahnya saat melihat sang istri tiba-tiba mendekati Rianti. Sedang Rianti terpaku di tengah tatapan seluruh pengunjung klub.


"Dasar pelakor kamu."


"Rianti, sayang."


Gareth secara serta merta mendekat lalu memegang tangan Rianti.


"Ada apa ini?" tanya nya sambil berpura-pura tidak tau. Sedang Rianti dengan tubuh gemetar membalas genggaman tangan Gareth.


"Ada apa ya?" tanya Gareth sekali lagi pada istri Alex.


Istri Alex sendiri kini terdiam karena merasa dirinya salah sasaran.


"Ayo, kita pergi!"


Gareth membawa Rianti menjauh, sedang Alex tak berkutik. Sang istri kembali mendekat dan mereka kembali bertengkar. Gareth mengajak Rianti keluar dan masuk ke dalam mobilnya. Tak lama kemudian mobil itu pun tancap gas meninggalkan pelataran parkir bar.


***


Di lain pihak Ansel dan Nino terus menyambangi bar-bar dan lounge, yang mereka perkirakan mungkin untuk didatangi oleh Rianti dan juga kekasihnya.


"Gimana?" tanya Ansel ketika ia bertemu Nino lagi di depan pintu masuk. Ini sudah ketiga kalinya mereka masuk ke tempat yang berbeda.


"Nggak ada." ujar Nino.


"Gue udah muter-muter di dalam dan minta tolong ke temen gue yang kerja disini, untuk kasih info by CCTV. Tetap nggak ada juga. Emang si Rianti nggak kesini kayaknya." lanjut pria itu kemudian.


"Ya udah deh, kita cari lagi aja." ucap Ansel.


Nino mengangguk, mereka kemudian lanjut mencari ditempat lainnya lagi.


"Dert."


"Dert."


"Dert."


Tiba-tiba Amanda menelpon Nino dan menanyakan apakah saudaranya itu ikut dalam pencarian Rianti. Nino menjawab iya, kemudian mereka terlibat obrolan yang cukup panjang.


***


Di sebuah jalan Gareth menepi dan menghentikan kendaraannya. Sebab sejak tadi Rianti hanya diam dan menangis.


"Udah!"


Gareth mencoba menenangkan gadis itu, kemudian memberikan tissue padanya. Rianti berusaha menyeka air mata yang mengalir, namun ia malah makin terisak.


"Kamu tau sebelumnya kalau dia udah punya istri?"


Gareth melontarkan pertanyaan pada gadis itu. Rianti menggelengkan kepala, karena dia memang tidak tau apa-apa.


"Kalian udah lama kenal?"


Rianti kembali menggeleng, lalu lanjut mengusap air mata yang terus mengalir.


"Lain kali kenali benar-benar dulu, sebelum memutuskan berhubungan. Untung istrinya belum mengeluarkan handphone dan merekam kamu. Kalau nggak, bisa viral kamu dimana-mana. Di cap sebagai perusak rumah tangga orang." ujar Gareth lagi.


Rianti tentu saja makin menjadi-jadi tangisnya. Gareth membiarkan saja, sampai akhirnya gadis itu tenang dengan sendirinya. Setelah melihat Rianti tak lagi menangis, ia lalu kembali menekan pedal gas mobil. Ia mengantar Rianti sampai ke rumah orang tua Arka.