
"Ka."
"Hmm?"
Arka menoleh pada Amanda, dalam keadaan masih terbaring pasca melakukan kewajiban suami istri. Amanda juga belum beranjak dari atas tempat tidur sejak tadi.
"Gimana sejauh ini?. Masih cinta sama aku?"
Amanda mengeluarkan pertanyaan yang agak sedikit mengganggu bagi Arka.
"Ngomong apa sih kamu?" tanya Arka heran sekaligus gusar. Ia tak nyaman mendengar pertanyaan itu.
"Ya, aku mau nanya aja. Masih cinta nggak sama aku?. Setelah sekian waktu kita bersama."
"Ya masihlah. Barusan tadi apa coba, kalau nggak cinta?"
Arka menyinggung soal aktivitas panas yang mereka lakukan tadi.
"Ya kan bisa aja karena kebutuhan." jawab Amanda.
Arka sejatinya ingin marah mendengar semua itu. Namun ia menurunkan sedikit ego lalu membelai kepala dan rambut sang istri dengan lembut.
"Kamu kenapa sih?. Lagi sensi ya?" tanya Arka.
Amanda tersenyum tipis.
"Aku liat berita artis yang di KDRT suaminya itu loh, Ka. Nyesek banget rasanya. Kalau kamu udah nggak suka sama aku, bilang baik-baik ya. Jangan perlakukan aku kayak gitu."
Arka mengerti. Amanda memang sering terpengaruh oleh kejadian yang berlangsung di sekitar, termasuk di televisi atau pemberitaan sosial media.
"Jangan hanya karena kesalahan satu laki-laki, kamu jadi ikut menyalahkan semuanya Man."
"Aku nggak menyalahkan, hanya sekedar mengingatkan. Kita nggak pernah tau sampai kapan cinta itu akan hidup. Sebagian orang bisa aja cintanya redup atau bahkan mati di tengah-tengah."
Arka menghela nafas agak panjang dan masih menatap mata serta membelai rambut Amanda. Mereka berada dalam posisi tidur miring dan saling berhadapan satu sama lain.
"Aku cuma minta itu aja. Jangan kamu perlakukan aku kayak gitu. Seandainya sudah ada yang lain di hati kamu dan kamu udah nggak cinta sama aku lagi. Jangan sekali-kali, Ka. Apalagi di depan anak-anak."
Arka mengangguk, lalu menarik Amanda ke dalam pelukannya. Ia melakukan semua itu bukan karena berencana suatu hari nanti untuk meninggalkan Amanda. Melainkan ia sudah tidak tau mesti merespon dengan cara apalagi. Amanda agaknya benar-benar takut akan hal tersebut.
"Tidur dulu gih, nanti baru kita pulang ke rumah." ujar Arka.
Amanda mengangguk, kemudian mereka berdua sama-sama memejamkan mata dan mulai tertidur.
***
Malam itu, Elina membuka sosial media dan melihat banyaknya pengguna yang menandai dirinya pada sebuah postingan.
Karena di dorong rasa penasaran, ia pun lalu membuka postingan tersebut dan ternyata isinya adalah di foto candid dirinya dan Arka di lokasi syuting.
"Gosipnya ya say, tapi mimin mah nggak tau persis. Semoga aja sih nggak."
Sebuah caption yang menggiring opini tertera di bawah postingan tersebut. Mendadak Elina tersenyum dan membiarkan saja semua itu begitu adanya.
Entah siapa yang melakukan hal tersebut, namun Elina merasa itu tak masalah baginya. Justru ia berharap hal tersebut bisa jadi berita yg lebih besar dan heboh.
Tanpa ia harus membayar admin akun lambe, ternyata ada aja orang yang berpihak padanya. Elina menutup handphone dan pura-pura tidak tau jika ada postingan tersebut. Kemudian ia pergi tidur.
Sementara Arka dan Amanda kini sudah pulang ke rumah dan bercengkrama bersama si kembar di dalam kamar.
"Bobok yuk!" ajak Arka pada keduanya.
"Iya nak, bobok. Udah malam ini." Amanda menimpali.
"Dadak."
"Dak."
Keduanya kompak menjawab sambil menggelengkan kepala.
"Ih, udah malam tau." ujar Amanda lagi.
"Dadak."
"Ya udah papa sama mama bobok ya." ujar Arka pura-pura memejamkan mata dan diikuti oleh Amanda.
"Eheee."
Kedua anak itu menyentuh mulut dan mata kedua orang tua mereka. Bahkan mereka mencoba membuka mata Arka dan Amanda dengan menggunakan tangan mereka.
"Eheee."
"Muaaach."
Azka mencium pipi Amanda, namun dengan mulut yang terbuka. Tentu saja hal tersebut membuat Amanda jadi tertawa.
"Heh, ludah semua muka mama." ujarnya kemudian.
"Eheee."
"Aduh."
Afka mencolok mata sang ayah, hingga Arka pun kini terpaksa menghindarkan kepala agak menjauh.
"Nakal ya." ujar Arka pada Afka.
"Eheee."
Keduanya kembali tertawa-tawa. Mereka terus bercengkrama sampai akhirnya malam semakin larut, dan mereka sama-sama tertidur.
***
Esok hari.
"Lo baik-baik aja kan?"
Robert kembali mengunjungi Doni untuk yang kesekian kalinya, kali ini bersama Rio. Namun Rio sendiri memilih untuk tidak mau bertatap muka langsung. Ia menunggu di ruang tunggu bersama dengan Cintara, pacar Robert.
"Nyokap gue apa kabar?"
Doni bertanya dengan pandangan mata menunduk. Memang sejak dirinya di tahan, Doni memilih tak ingin bertemu sang ibu bila dibesuk. Alasannya karena ia malu atas perbuatannya yang telah membuat sang ibu kecewa.
"Nyokap lo baik-baik aja. Kita semua masih bantu ngurusin dia." jawab Robert.
Doni hanya bisa diam dan tertunduk seperti biasanya. Teman yang dulu sering ia anggap musuh, justru bersikap begitu baik pada dirinya. Bahkan teman yang sudah ia jahati seperti Arka, masih peduli terhadap ibunya.
"Di luar ada Rio." ujar Robert lagi.
Doni terkejut mendengar semua itu.
"Tapi dia nggak mau ketemu lo secara langsung. Dia masih marah banget sama lo." ujar Robert.
Makin dalam Doni tenggelam dalam penyesalan. Namun di hati ia senang, karena itu artinya masih ada harapan untuk kembali berteman dengan sahabatnya itu.
Di waktu yang nyaris bersamaan, Amanda tengah menjenguk Rani. Kali ini kemarahan wanita itu sudah cukup jauh mereda ketimbang dulu. Ia pun sudah mau memeluk Rani, ketika saudaranya itu menangis menanyakan anak-anaknya.
"Lo tenang aja. Gue urus mereka dengan baik." ujar Amanda pada Rani.
Dan tentu saja Rani hanya bisa menangis keras menanggapi hal tersebut. Apalagi ketika Amanda memperlihatkan video kegiatan Rasya dan Rania sepanjang hari kemarin.
Video tersebut diambil oleh Anita atas perintah Amanda. Agar Rani bisa melepas kerinduan kepada kedua anaknya tersebut.
***
Ansel diam di ruang kerjanya, pasca hampir satu jam ia berbicara di telepon dengan temannya di Jerman.
Ada sebuah ucapan yang saat ini tertanam di benak Ansel. Ucapan yang dikatakan oleh temannya itu, mengenai apakah Ansel telah tepat mengambil sebuah keputusan.
Kini ia jadi ragu sendiri, setelah temannya ia itu memberi pandangan yang sedikit membuka pikirannya. Ia benar-benar berada dalam dilema dan tak tau harus berbuat apa.
“Ansel, sekali kau melangkah dalam pernikahan, kau tidak akan bisa kembali ke belakang. Jadi lebih baik kau pikirkan baik-baik semua itu sebelum mengambil keputusan.”
Temannya itu berujar dalam bahasa Jerman, dan kini benak Ansel seolah mengulang kata-kata tersebut. Ia benar-benar terpikir akan hal itu dan mendadak muncul keraguan besar dalam dirinya.