Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Dinner


"Baik pak, terima kasih. Semoga kita bisa bekerjasama dengan baik."


Amanda menjabat tangan calon investor yang ia temui bersama Gareth.


"Sama-sama bu Amanda. Kami juga berharap setelah pertemuan ini, progres hubungan yang terjalin diantara kita dapat berjalan dan berkembang dengan pesat." jawab si calon investor tersebut.


"Terima kasih." ujar Amanda sekali lagi.


"Terima kasih." Gareth menimpali.


Mereka saling berjabat tangan lalu berpamitan. Amanda dan Gareth kini melangkah menuju ke arah lift. Ketika pintu lift terbuka, Amanda masuk duluan kemudian di ikuti Gareth.


Raut wajah keduanya terlihat senang. Sebab kesan saat pertemuan tadi sangat positif, dan rasa-rasanya kerjasama yang baru ini akan segera terwujud.


Saat tiba di lobi, keduanya kembali melangkah dan hendak menuju ke halaman parkir. Namun kemudian karena memakai high heels, tiba-tiba Amanda salah mengambil langkah kemudian oleng.


"Aw."


Ia nyaris saja terjatuh, andai Gareth tak dengan sigap menangkap tubuhnya. Kemudian waktu pun seakan membeku. Bak adegan sinetron ia jatuh ke pelukan pria itu. Cukup lama keduanya saling bersitatap, sampai kemudian Amanda kembali berdiri.


"Sorry." ujarnya pada Gareth.


"It's ok." jawab Gareth kemudian.


Keduanya jadi canggung dan salah tingkah. Amanda seperti itu lantaran malu dirinya hampir terjatuh. Sedang Gareth merasa jika itu semua adalah keberuntungan baginya. Mereka kemudian tiba di halaman parkir lalu sama-sama masuk ke dalam mobil.


"Nanti kita makan dan ngopi dulu ya." ucap Gareth.


"Oke." jawab Amanda.


Lalu Gareth menghidupkan mesin mobil dan menginjak pedal gas.


***


Amman telah sehat dan hari ini saatnya ia kembali ke sel tahanan. Meski tak sebesar rasa sayangnya terhadap Ryan, sang ayah angkat. Namun hati Nino cukup pilu menyaksikan ayah kandungnya yang harus kembali mendekam dalam penjara tersebut.


"Maafin Nino, Pa. Nino belum bisa meringankan hukuman papa." ucapnya kemudian.


Dengan penuh ketegaran Amman pun tersenyum, lalu mendekat ke arah anaknya tersebut.


"Papa baik-baik aja. Dengan papa menemukan keberadaan kamu di dunia ini, papa sudah merasa tujuan hidup papa sudah tercapai. Karena kamu adalah hal besar dan terpenting bagi papa."


Keduanya lalu saling berpelukan satu sama lain. Nino rasanya ingin menangis, tapi tidak dengan Amman. Pria tua itu justru sangat berterima kasih pada beberapa hari belakangan ini.


Dimana ia bisa merasakan berada di tengah-tengah hangatnya sebuah keluarga. Ada istri, anak, serta cucu-cucu yang memberinya penghiburan.


Nino mengantar Amman, sampai ia kembali ke lembaga pemasyarakatan. Disana ia memastikan semua clear dan terkendali terlebih dahulu. Setelah itu ia baru bisa melepas kembali sang ayah, pada hukuman yang tengah ia jalani.


***


Gareth mengajak Amanda untuk ngopi sejenak. Sebab tadi saat diajak makan, Amanda baru teringat jika ia ada janji dinner di rumah mertuanya sore ini. Tepatnya di kediaman Ryan, ayah Arka.


Meski agak sedikit sakit hati demi mendengar hal tersebut. Namun Gareth berusaha terlihat menghormati keputusan Amanda. Toh dengan ngopi seperti ini saja, mereka sudah kembali berdekatan serta akrab seperti sebelumnya..


"Thanks untuk hari ini." ucap Gareth pada Amanda. Mereka lalu mengangkat gelas dan cheers. Kemudian meminum kopi secara bersamaan.


"Oh ya, makasih loh mawar emasnya. Aku pajang di kantor." tukas Amanda lagi.


"Oh ya?. Kamu nggak bawa pulang?"


Gareth bertanya dengan nada kecewa yang sengaja di sembunyikan dan di lapisi dengan senyuman.


Padahal hatinya sakit mendengar hal tersebut. Mengingat ia ingin sekali barang pemberiannya dibawa oleh Amanda ke rumah. Agar dirinya bisa diingat setiap saat.


"Aku tarok di kantor aja. Biar kalau kamu lagi ke kantor aku, kamu bisa lihat. Bahwa pemberian kamu aku terima dan jaga dengan baik." jawab Amanda.


Gareth tersenyum getir, sementara Amanda tak peka akan hal tersebut. Ia pikir adalah hal wajar meletakkan pemberian teman dan memajangnya di kantor.


***


Citra sedang berada di halaman rumah dan memeriksa bunga-bunga yang ia tanam. Bunga-bunga tersebut nampak sedang di rawat oleh para asisten rumah tangga.


Ia begitu gembira sebab bunga-bunga itu tumbuh sangat subur serta wanginya semerbak.


"Yang ini tambah pupuknya."


Ia berujar pada salah satu asisten rumah tangga, yang tengah berkutat dengan pot bunga mawar warna kuning.


"Oh iya, bu." jawab asisten rumah tangga itu padanya. Kemudian Ian bergegas.


"Hai, kamu besar sekali."


Citra beralih ke pot bunga mawar yang berwarna putih. Disana ia memuji bunganya yang besar dan tampak mekar."


"Bu."


Seorang asisten rumah tangga berujar, seraya menoleh ke suatu arah. Tepatnya kepada seseorang yang berdiri di muka pagar.


"Degh."


Hati Citra bergemuruh. Sebab orang yang berdiri di muka pintu pagar itu tiada lain dan tiada bukan adalah Nino.


"Ma, masuk!"


Citra hendak membuka pintu pagar.


"Nggak perlu." ucap Nino kemudian.


"Aku kesini cuma mau menyampaikan, bahwa papa sudah kembali ke penjara. Aku yang antar tadi. Semoga anda puas atas semuanya, karena ini sudah sesuai dengan maunya anda. Anda benar-benar manusia yang tidak punya perasaan."


Nino berlalu begitu saja. Sementara Citra kini terpaku ditempatnya, tanpa ada kesempatan untuk membela diri.


***


Usai kegiatan hari itu, Amanda minta diantar ke kediaman Ryan. Gareth sendiri mau tidak mau harus menuruti keinginan dari wanita yang sangat ia sukai tersebut.


Meski sakit hati sekali rasanya. Melihat Amanda juga memiliki hubungan baik dengan sang mertua. Arka dan keluarganya telah begitu kuat menjerat wanita itu, hingga terasa sangat sulit untuk direbut.


"Mau ikut mampir, Gar?. Sekalian aku kenalkan ke papanya Arka." ucap Amanda pada Gareth.


"Oh, lain kali aja." jawab Gareth.


"Aku ada janji soalnya." dusta pria itu kemudian.


"Oh, ok."


Amanda membuka pintu mobil. Sebelumnya Gareth telah membuka lock dari kendaraan tersebut.


"Thanks untuk hari ini." ucap Amanda.


"Aku yang terima kasih." ujar Gareth.


Amanda tersenyum dan Gareth membalas. Tak lama wanita itu pun keluar dan menuju ke muka pintu pagar rumah Ryan.


Setelah memastikan Gareth berlalu, ia lalu memencet bel. Pada saat yang bersamaan Ansel serta Intan tiba, disusul kemudian oleh Nino. Lalu Pamela membukakan pintu untuk mereka.


Mereka disambut oleh Ryan yang ternyata sudah selesai memasak. Kali ini acara makan mereka di halaman belakang.


"Anak-anak nggak diajak, Amanda?" tanya. Ryan pada sang menantu.


"Mereka masih dijalan, dad. Diantar sama mbak dan pak Darwis." jawabnya kemudian.


"Oh, baiklah kalau begitu. Daddy sudah kangen sekali dengan mereka." ucap Ryan.


Amanda tertawa kecil, sebab orang-orang disekitar memang tak pernah cukup saat merindukan kedua anaknya.