Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Rencana Intan dan Ansel


"Man, kabar kamu gimana?"


Arka mengirim pesan singkat pada istrinya itu di tengah malam.


"Baik, Ka. Kamu juga baik-baik aja kan?" Amanda balik bertanya.


"Baik koq. Aku video call ya." ujar Arka.


"Iya."


Tak lama Arka pun melakukan panggilan video call ke nomor istrinya tersebut.


"Hai, Ka."


"Hai sayang."


Mereka saling menatap satu sama lain. Ada kerinduan besar yang tiba-tiba menyeruak, bahkan lebih besar dari sebelumnya. Ingin rasanya memeluk, namun semua yang mereka lakukan saat ini belum maksimal.


Mereka belum merasa puas dan muak untuk melakukannya lagi. Ibarat sebuah perjalanan, ini belum ada setengahnya.


"Apa kabar sayang?" tanya Arka.


"Baik, tadi kan udah nanya." ucap Amanda sambil tersenyum.


"Iya, tapi pengen nanya lagi sambil ngeliat muka kamu." ujar Arka.


Amanda kembali tersenyum.


"Aku baik, sayang." jawab wanita itu kemudian.


"Kamu juga baik kan?" Ia balik bertanya.


"Baik, makasih ya bolen pisangnya tempo hari." ucap Arka.


"Iya sama-sama." jawab Amanda.


"Gimana, udah puas belum?" tanya Arka pada istrinya tersebut.


Amanda sedikit diam.


"Kalau dibilang puas sih, ya jelas belum. Belum banyak hal yang aku dan kita lakukan selama menjalani kehidupan single ini. Tapi kalau mau dibilang kangen, rindu, ingat. Itu semua nggak bisa dibohongi." ujar Amanda.


Arka menarik nafas dan menunduk.


"Sebenarnya aku udah pengen menyudahi banget. Tapi takutnya nanti perasaan pengen bebas ini muncul lagi, dan jadi masalah lagi di kemudian hari. Jadi aku pikir, kita harus bebas sampai muak." ucap pria itu.


"Aku juga mikir begitu, Ka." tukas Amanda kemudian.


mereka pun lanjut berbincang dan membicarakan perihal anak-anak.


***


"Gue udah nasehatin Arka, Nin. Sebagai teman, gue nggak diam aja."


Rio berkata pada Nino ketika akhirnya Nino mengajak bertemu, untuk membicarakan soal Arka dan juga Amanda. Yang mana menurutnya bersikap terlalu kekanak-kanakan kali ini.


"Gue tuh kalau mau ngomong nggak enak. Soalnya di depan daddy, gue udah menyetujui ide mereka. Padahal menurut gue itu terlalu kayak remaja SMP." ujar Nino.


"Ya, gue nggak tau ini hasilnya akan seefektif apa. Mungkin bagi mereka berdua ini adalah penyelesaian terbaik. Tapi kan mereka punya dua anak. Kecuali mereka bikin ide berpisah sementara kayak gini tuh, pas belum punya anak." lanjutnya kemudian.


"Iya sih. Walaupun orang tua Arka atau daddy nggak bakal itung-itungan dalam ngurus cucu. Tapi kan harusnya Arka sama Amanda punya rasa nggak enak. Apalagi ini tujuannya bukan untuk perkejaan, bukan karena mereka sibuk kerja. Tujuannya buat bebas sementara. Kan jadi kayak gimana ya."


Rio berkata seraya menggaruk-garuk kepalanya. Sedang Nino kini mereguk kopi di dalam gelas yang ia genggam.


"Makanya." jawab Nino.


"Ya gue tau Arka masih muda, Amanda juga masih usia 30 an. Yang nikah udah sama-sama dewasa aja banyak yang zonk koq. Tapi ini terlalu kayak anak kecil menurut gue. Ngapain coba mesti pisah rumah segala."


Rio tertawa karena tak tau harus menangapi dengan cara apalagi.


"Dari awal nikah aja udah kocak sih mereka." tukasnya kemudian.


"Amanda nggak mau nikah resmi, bayar cowok buat jadi lakinya dia. Mereka nikah pake perjanjian, sebelum akhirnya sama-sama waras dan sadar kalau saling suka satu sama lain." lanjutnya lagi.


"Ini pas ada masalah begini, ada aja idenya." tambah pemuda itu.


Nino yang tertawa kali ini.


"Mau dimarahin habis-habisan, dua-duanya bukan remaja lagi." ucap Nino.


"Iya, bener-bener." ujar Rio masih tertawa.


"Kalau remaja udah gue pites pala dua-duanya." ucap Rio.


Nino kembali menghela nafas.


"Ya paling gue minta tolong sekali lagi Ri. Nasehatin lagi Arka-nya. Biar si Amanda ntar gue yang ngomongin."


Rio mengangguk-anggukan kepala.


Keduanya sama-sama tertawa kecil, lalu mereguk kopi dan menghisap batang rokok masing-masing.


***


"Kita nikahnya ini nanti gimana?" tanya Intan pada Ansel di telpon.


"Gimana apanya, nikah ya nikah." jawab Ansel sambil makan cilok yang ia beli tadi.


Kebetulan kang cilok itu rajin lewat di depan rumah Ryan, setelah Ansel membeli hampir setiap hari.


"Agamanya, Bambang. Ini mau ikut agama siapa. Kan agama kita beda. Disini nggak bisa nikah beda keyakinan gitu." ucap Intan.


"Iya aku ikut kamu lah, kan udah bilang dari dulu-dulu. Udah sempat belajar juga walau nggak terlalu ngerti sampai saat ini." balas pria itu.


"Emang daddy nggak masalah?" tanya Intan lagi.


"Nggak, dia mah santai aja. Aku nggak punya keyakinan aja pernah koq." jawab Ansel.


"Emang iya?" Lagi-lagi Intan bertanya.


"Tanya aja Nino." ujar Ansel.


"Terus, dalam keadaan gitu kamu larinya kemana kalau ada masalah?"


"Ya nggak lari, diselesaikan. Ngapain punya masalah malah lari." ujar Ansel kemudian.


Intan ingin membakar bulu ketek Ansel. Tapi apa yang diucapkan bule itu ada benarnya juga.


"Iya juga ya, ngapain lari dari masalah." tukasnya.


"Nah itu tau." ujar Ansel lagi.


"Tapi koq aku jadi kesel sekarang." ucap Intan.


Ansel pun lalu terbahak.


"Ya udah kalau daddy beneran nggak masalah. Berarti kamu ikut aku ya." ujar Intan.


"Beres." jawab Ansel.


"Terus tempat nikahnya?. Di tempat yang pernah kita bicarakan sebelumnya aja. Atau gimana?" Intan terus melontarkan pertanyaan.


"Bisa." jawab Ansel lagi.


"Tapi kalau kamu punya opsi lain boleh juga." lanjut pria itu.


"Mmm, ntar deh aku pikirin lagi. Masih tiga bulan lagi kan."


"Iya, tapi kita udah harus siap-siap dari sekarang." ujar Ansel.


"Mana yang bisa kita handle ya kita handle. Jangan nyusahin banyak pihak apalagi orang tua."


"Iya." jawab Intan.


"Nyari baju pengantin, udah?" tanya Ansel pada Intan.


"Udah mulai nyari-nyari contoh. Tapi belum dapat yang bener-bener srek di hati." jawab gadis itu.


"Ya udah cari terus aja. Tapi jangan lama-lama menentukan pilihannya. Soalnya kadang butik, slot jahitnya nggak banyak. Karena udah ada orang lain yang pesan juga."


"Kamu sendiri?" tanya Intan.


"Aku mah gampang, cowok. Kalau misalkan itu pakaian nggak jadi pas udah hari H. Tinggal pake aja jas koleksi aku sendiri. Yang harus cantik itu kan kamu, kamu pengantin ceweknya."


Intan tersenyum mendengar semua itu.


"Koq kamu diam?. Pasti lagi senyum-senyum sambil hidung kamu mengembang ya kan?"


Ansel mematahkan kesenangan Intan dan membuat Intan ingin memasukkan kekasihnya itu ke dalam kandang yang isinya banyak kecoa.


"Kamu tuh ya, aku lagi senyum-senyum jadi buyar tau nggak." ujar intan Sewot.


Kali ini malah Ansel yang tertawa-tawa.


"Dasar bule gesrek." ujar Intan.


"Untung ganteng." lanjutnya lagi.


"Eh gini-gini aku calon dokter kamu loh." ucap Ansel.


"Dokter?" tanya Intan sambil mengerutkan dahi.


"Kan habis nikah nanti aku suntik pake suntikan tumpul."


"Ih, kamu mah. Otaknya nggak bener."


Intan Sewot, sementara Ansel kian terpingkal-pingkal.