Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Pergi


"Braaak."


Bahu Arka dan Elina saling bertabrakan. Elina oleng, kemudian dengan sigap Arka menangkap tubuh perempuan itu, supaya ia tidak terjatuh.


Lama keduanya bersitatap dalam diam, sampai kemudian Arka membantu perempuan itu untuk berdiri.


"Kamu suka banget caper kalau di depan saya." Arka berujar dengan nada yang dingin.


"Padahal kamu bisa berjalan agak jauh di sebelah sana." ujarnya lagi.


Elina tampak mengangkat kepala.


"Kenapa kalau saya mau jalan disini. Emangnya ini jalan nenek moyang anda." Elina berujar dengan ketus.


"Ya." jawab Arka seraya menatap tajam ke mata perempuan itu. Tak lama kemudian,


"Cut."


Sutradara memotong adegan tersebut, dan seluruh kru kini bertepuk tangan. Syuting telah dimulai sejak pagi tadi dan Elina hanya kebagian sedikit adegan bersama Arka.


Tetapi ia senang, karena semua itu akan kembali di lanjutkan besok. Sementara Arka biasa saja, karena ia terbiasa syuting dengan banyak artis perempuan lainnya. Intinya hanya Elina yang berbunga-bunga malam itu.


"Ka, ntar pulang berenang yuk!"


Elina mengajak Arka untuk berenang di kolam apartemen. Kolam tersebut terdapat di rooftop dan terbilang jarang ada yang berenang malam hari. Padahal view-nya sangat bagus sekali.


"Oke." jawab Arka.


Elina sumringah, lantaran hatinya begitu gembira mendengar hal tersebut.


"Gue sama Rio udah pengen banget berenang dari kemaren." tukas Arka lagi.


Elina jadi makjleb di saat yang bersamaan. Sebab tadinya ia berekspektasi bisa berenang berdua saja bersama pemuda itu, namun ternyata harus ada pengganggu yang ikut.


"Tapi kayaknya aku mau datang bulan deh, Ka. Lain kali aja berenangnya."


Elina mengcancel rencananya karena kesal.


"Oh ya udah." jawab Arka.


Elina kemudian berlalu, sementara Arka menuju ke belakang set lokasi guna mencari air mineral.


***


Di malam yang sama, Rianti dijemput oleh pacarnya yang bernama Alex. Namun Alex tak menemui perempuan itu di rumah, melainkan di ujung jalan.


Alasannya karena akses masuk ke rumah ibu Arka banyak berlubang. Sedang pacar Rianti tersebut menggunakan mobil mewah.


"Bu, Rianti sudah pergi?"


Ayah tiri Arka yang baru keluar dari toilet bertanya pada istrinya. Tadi ada sempat ia mendengar Rianti pamit.


"Iya pak, dijemput pacarnya di ujung jalan sana." jawab ibu Arka.


"Koq nggak kesini?" tanya ayah tiri Arka heran.


"Ya mana ibu tau." jawab ibu Arka.


"Nggak sopan orang itu. Main bawa anak gadis orang aja. Orang tuh datang dulu, jemput baik-baik." gerutu ayah tiri Arka lagi.


Ia kemudian mengambil handphone dan menelpon Rianti. Ia ingin memastikan keponakannya tersebut baik-baik saja. Rianti bilang ia saat ini masih dalam perjalanan.


Sejatinya ayah tiri Arka ingin menyinggung masalah attitude dari pacar baru Rianti. Tetapi ia juga tak ingin merusak mood keponakannya tersebut. Alhasil ia pun lalu menyudahi panggilan itu dengan rasa kesal.


"Kamu cantik banget malam ini."


Alex pacar Rianti yang berumur di atas 35 tahun itu kini menggenggam tangan Rianti dengan erat. Rianti sendiri tersipu malu dibuatnya, karena ini kali pertamanya pacaran dan ia diperlakukan bak seorang putri. Setidaknya itu menurut pikiran yang ada di benaknya saat ini.


Alex menghentikan sejenak mobilnya di bahu jalan, ketika perjalanan telah cukup lama berlangsung. Rianti bingung mengapa Alex melakukan hal demikian.


"Kenapa kita berhenti disini?" tanya Rianti.


Alex yang tampan itu pun menoleh.


"Aku mau mengagumi kecantikan kamu dulu." ujarnya.


Rianti makin tersipu malu dan tak berani menatap wajah pria itu. Sejatinya ia bertemu dengan Alex di sebuah pameran mobil sport, belum lama ini. Saat ia menemani teman kampusnya yang penggila mobil sport, menghadiri acara tersebut.


Alex adalah salah satu penyelenggara pameran itu dan ternyata ia juga memiliki koleksi mobil mewah yang cukup banyak.


Rianti pun memperhatikan dan benar saja. Alex tengah melihat ke arahnya. Sontak saat itu Rianti membuang muka. Namun kemudian pada sebuah kesempatan, Alex datang mendekat dan memperkenalkan diri.


Mereka akhirnya bertukar nomor handphone dan Rianti diajak jalan di hari berikutnya. Di hari berikutnya lagi Alex menyatakan cintanya pada gadis itu. Tentu saja Rianti kaget dan mendadak berbunga-bunga. Ia tak melewatkan kesempatan tersebut dan langsung menerima cinta Alex.


"Hey."


Alex membuyarkan lamunan Rianti. Rianti pun kaget dan sadar jika saat ini dirinya masih dipandangi oleh pria itu.


"Mikirin apa?" tanya Alex kemudian.


"Ah, nggak ada." jawab Rianti.


Semilir angin berhembus di luar sana. Alex mendekat, jantung Rianti berdegup kencang. Dan tak lama Alex pun mencium bibir gadis itu.


Rianti yang memang belum pernah melakukan hal tersebut kini terdiam. Alex kemudian tersenyum padanya dan kembali memberikan ciuman. Kali ini Rianti membalas.


"Pulang dari tempat acara nanti, kamu ikut aku ya." ujar Alex.


"Kemana?" tanya Rianti polos.


"Ya kemana aja, yang penting kita bisa berduaan." ucap Alex lagi.


"Aku mau peluk dan cium kamu sampai puas." lanjutnya kemudian.


Rianti tersenyum, ia benar-benar tak begitu paham dengan apa yang dimaksud oleh Alex. Di dalam pikirannya, ia tengah berada di negri dongeng. Dimana ia dan pangeran akan mendatangi tempat-tempat yang indah.


Tanpa ia ketahui jika tempat indah yang ada di benak laki-laki dan perempuan itu sama sekali berbeda dan bertolak belakang. Bila perempuan mengartikan tempat yang indah sebagai tempat yang gemerlapan dan penuh lampu, maka laki-laki mengartikannya sebagai tempat yang gelap dan penuh kenikmatan.


"Kita jalan yuk!" ajak Alex seraya menghidupkan mesin mobil.


Rianti mengangguk. Sesaat kemudian mobil yang dikemudikan pria itu mulai kembali merayap dan meninggalkan bahu jalan.


***


"Apa?" Rianti pergi sama cowok?"


Arka diberitahu oleh sang ayah tiri mengenai kelakuan Rianti dan juga pacar barunya.


"Iya, apa dia ada cerita ke kamu mengenai siapa laki-laki itu?" tanya ayah tiri Arka.


"Kan dia selalu cerita sama kamu kalau ada apa-apa." lanjutnya lagi.


"Arka malah baru tau ini dari papa." jawab Arka kemudian.


"Sebelumnya dia nggak ada cerita?"


"Nggak ada sama sekali, pa." jawab Arka lagi.


Ayah tiri Arka kini menghela nafas panjang.


"Papa tuh khawatir, Ka. Rianti itu kan polos banget orangnya. Dia bilang pacarnya itu laki-laki kaya raya, umur sudah di atas 30 lebih. Papa takut itu suami orang." tukas pria itu.


Arka kini jadi ikut-ikutan resah.


"Papa pernah ketemu sama cowoknya itu?" Lagi-lagi Arka bertanya.


"Nggak tau, makanya ini papa tanya kamu." jawab ayah tiri Arka.


"Tadi aja nggak jemput ke rumah koq, di ujung jalan sana kata ibu kamu." lanjut pria itu.


"Duh, Rianti-Rianti."


Arka semakin resah.


"Ya udah deh pa, gini aja. Arka mau hubungi dia dulu. Biar Arka tanya bener-bener dan cari tau dulu cowoknya itu siapa." ujarnya kemudian.


"Oke, papa minta tolong sama kamu ya Ka. Papa tuh nggak enak kalau mau marahin dia langsung. Nanti dia malah nggak mau pulang dan pergi sama laki-laki itu "


"Oke, oke pa. Nanti Arka telpon papa deh, kalau udah berhasil mengorek keterangan dari dia."


"Iya, makasih banyak ya Ka."


"Iya pa, sama-sama."


Ayah tiri Arka lalu menyudahi percakapan tersebut. Sementara Arka lanjut menghubungi Rianti.