Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Gareth dan Amanda


"Hallo, selamat pagi!"


Gareth menelpon Amanda pagi itu dengan suara yang begitu formal.


"Iya selamat pagi, dengan operator welcome cell ada yang bisa kami bantu."


Amanda bercanda, dan tak disangka Gareth pun tertawa mendengar semua itu.


"Padahal aku sudah melakukan panggilan resmi loh. Eh, malah lawak jadinya." ucap Gareth.


"Lagian tegang amat, ada apa sih? tanya Amanda pada pria itu.


"Nanti siang sampai malam, selama satu bulan ke depan. The Good think akan mengadakan exhibition di berbagai kota." ucap Gareth.


The good think adalah nama salah satu produk, yang saat ini mereka kelola bersama.


"Hari ini grand opening, aku harap kamu bisa datang." ucap Gareth lagi.


"Koq aku nggak dikasih tau kalau akan diadakan?" tanya Amanda.


"Ini berdasarkan hasil rapat sebelum kamu bergabung dulu. Jadi agendanya memang sudah ada. Bukan tidak melibatkan kamu selaku investor." jawab Gareth.


"Oh, ok. It's not a big deal." ucap Amanda.


"Jam berapa mau kesana?" tanya nya kemudian.


"Kita jalan sore aja. Karena puncak acaranya itu malam hari." ucap Gareth.


"Oke, nanti aku kabari kamu kalau mau jalan."


"Aku jemput aja." ujar Gareth.


"Kita beli gaun dulu, karena dress code untuk perempuan adalah peach." ujar laki-laki itu.


Amanda diam dan berpikir. Ia mencoba mengingat-ingat isi lemarinya. Namun ia tak menemukan gaun atau dress dengan warna tersebut.


"Oh oke deh." ucap Amanda.


"Atur aja." lanjutnya kemudian.


"Sip " jawab Gareth.


Tak lama mereka pun menyudahi percakapan itu dan melanjutkan pekerjaan masing-masing.


***


Di kantor Nino.


Pria tampan itu terus saja mendapat teror dari sang ayah, Ryan. Berupa pertanyaan WhatsApp, mengenai kapan sang putra bisa bertemu dengan wanita yang akan ia jodohkan.


"Dad, please lah. Nanti-nanti aja. Lagian Ansel juga belum nikah. Kita ngurus Ansel aja dulu sampai kelar." jawab Nino.


"Kamu nggak kasihan sama daddy. Daddy ini sudah tua loh, Nin. Daddy sudah melihat anak-anak Arka. Tinggal menunggu anak-anak kamu dan juga Ansel."


Nino menghela nafas. Ia heran mengapa ayah bule seperti Ryan tampak sangat drama sekali kali ini.


"Kenapa pak Nino?"


Salah seorang karyawan yang tengah berada di dihadapannya kini bertanya. Sebab ia melihat Nino bengong menatap layar handphone.


"Biasa, bapak saya udah jadi bule lokal." ucap Nino.


"Masa saya mau dijodohkan sama anak temannya dia." lanjut pria itu.


Si karyawan kini tertawa-tawa.


"Ya kalau cakep dan cocok, kenapa nggak pak." ujarnya kemudian.


"Haduh, nggak deh. Takut beli kucing dalam karung." ujarnya kemudian.


"Pas dibuka tau-tau macan." lanjutnya lagi.


Mereka pun lalu sama-sama tertawa.


***


Di lokasi syuting, Rio berteriak pada Arka. Mempraktekkan dialog serta adegan yang diperuntukkan bagi mereka berdua.


"Ri, lo abis makan apaan sih?" tanya Arka kemudian.


"Mulut gue bau ya, Ka?" Rio balik bertanya.


"Bau banget, anjir. Sumpah!"


Dalam circle pertemanan mereka, tak mengapa mengatakan jika mulut atau pun ketek bau. Itu adalah bentuk perhatian agar masing-masing teman mereka tak dicibir orang lain di luar pertemanan.


"Emang iya ya?" tanya Rio


"Haaaah." Ia mulai meniupkan nafas ke tangannya sendiri lalu mencium bau nafas tersebut.


"Di gue biasa aja." ujar Rio.


"Iya di elu, di gue bau ayam gulai basi tau nggak." ucap Arka.


Rio terbahak.


"Gue lagi radang tenggorokan sih, Ka. Kalau nggak break dulu deh. Gue mau beli larutan dulu."


"Air kelapa ijo aja tuh yang di depan. Lebih ampuh buat mengeluarkan panas di dalam." tukas Arka.


"Mau gue beliin?" tanya Arka lagi.


"Bareng aja ke sananya." tukas Rio.


Maka keduanya pun menyambangi tukang es kelapa yang kebetulan ada di tempat tersebut.


"Jangan pake es batu, ri. Sama aja bohong kalau gitu." ucap Arka.


"Iya kagak." jawab Rio seakan mengerti.


"Ini bang."


"Hmm, asem." ujar Rio.


"Tambahin kental manis kali ya."


"Ya nggak jadi obat lagi, Karyadi. Kental manis itu kan gula isinya. Yang ada tenggorokan lo makin radang.


"Iya juga sih." ucap Rio.


"Udah, minum gini aja." ujar Arka.


Rio pun akhirnya merelakan. Walau rasanya kurang bersahabat di lidah pemuda itu. Tetapi setelah lama di nikmati, ia akhirnya menyukai air kelapa itu.


***


"Jadi syutingnya bakalan ada di luar kota?" tanya Amanda pada Arka. Ketika esok paginya mereka bertemu di meja makan.


Sejatinya Arka pulang di pukul tiga dini hari. Tetapi saat itu Amanda sudah tertidur lelap. Maka ia memutuskan untuk tidak membangunkan sang istri.


Ia melakukan aktivitas seperti mandi dengan, membuat minuman hangat, lalu mengecek anak-anak dan pergi tidur.


Pagi ini mereka kembali bertemu. Saat sarapan pun telah disiapkan Amanda di meja makan.


"Iya, paling nggak sampe sebulan." ucap Arka.


"Lusa kita pada mau kesana dulu." Lanjutnya kemudian.


"Barengan sama yang lain?" tanya Amanda.


"Iya, sama Rio juga." jawab Arka.


"Kamu udah baikan." tanya Amanda lagi.


"Udah, aku ancam soalnya." tukas Arka.


"Ancam gimana?"


"Aku ambil tokek kesayangan dia di ibu kos. Aku ancam lepaskan di dinding rumah orang." jawab Arka.


Amanda tertawa.


"Tokek beneran?"


"Iya, yang dijual online itu loh. Gecko." ujar Arka.


"Ih, geli." ucap Amanda.


"Tapi lucu, Man." ucap Arka.


"Tetap aja melata dan berkaki empat." ujar Amanda lagi.


Arka tertawa.


"Tapi udah baikan beneran kan kalian?" Lagi-lagi Amanda bertanya.


"Udah, tenang aja." jawab Arka.


"Eheee."


Tiba-tiba terdengar suara si kembar tertawa. Arka dan Amanda pun menoleh. Kedua anak mereka tampak tengah menyusun mainan edukatif berupa bentuk seperti kubus, kerucut, persegi panjang dan lain-lain.


Amanda dan Arka tersenyum. Namun kemudian Afka secara sengaja menyenggol bagian atas yang telah mereka susun tersebut. Hingga semuanya jatuh berantakan.


"Braaak."


Azka kaget melihat semua itu dan tak lama refleks tangannya mengambil bentuk kubus dan,


"Buuuk."


Ia memukul wajah Afka.


"Hey."


Arka dan Amanda sontak berteriak kemudian berlarian ke arah dua anak itu.


"Nggak boleh, Azka. Cepet banget tangannya."


Amanda mengeluarkan ocehan khas emak-emak yang muncul secara otomatis sejak ia menjadi ibu.


"Kasihan Afka nya." ujar Arka menimpali.


"Buuuk!"


Afka membalas dengan menggunakan bentuk persegi panjang, dan itu mengenai wajah saudaranya.


"Hmm, sama aja ternyata. Baru di bela. " tukas Amanda.


Kedua anak itu kembali hendak war, namun kemudian Arka marah.


"Hey!. Kalau dilanjut, papa buang mainannya. Mau?"


Keduanya masih sengit.


"Mau nggak?"


"Hoaya."


"Tituoa."


Mereka seperti beradu argumen. Arka dan Amanda menahan tawa.


"Masih mau berantem?" tanya Amanda.


Mereka diam.


"Kalau masih kita buang aja pa, mainan mereka." lanjut wanita itu.


Tak lama keduanya pun lalu sama-sama menangis. Arka dan Amanda menggendong mereka lalu memberikan susu. Tak lama mereka sudah terlihat berbaring di kasur kecil depan televisi.