Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Lampu Hijau dari Om


Liana menelpon Rio. Dan tentu saja Rio senang mendapat panggilan dari kekasihnya tersebut.


"Ya, hallo. Dengan ayank ganteng disini."


Rio berujar sambil menaikkan kakinya ke atas sebuah meja. Saat itu ia tengah duduk di kursi yang tak jauh dari Arka.


Mendengar Rio berkata seperti itu Arka pun menoleh, dan hendak memukul kepala sahabatnya itu dengan kayu.


"Lagi break sekarang?" tanya Liana.


"Iya."


"Sendiri?"


"Iya sayang, aku sendirian. Kalau mau mesra-mesraan nggak apa-apa." ujarnya lagi.


Liana tertawa di seberang sana. Sementara Arka melempar Rio dengan bungkus roti, yang isinya telah ia makan sejak tadi.


"Kamu banyak banget beliin aku hadiah. Dari yang mahal sampai yang nggak jelas." Liana berujar sambil masih tertawa. Rio pun jadi ikut melebarkan bibir.


"Tapi kamu suka kan sama yang nggak jelas itu?" tanya nya kemudian.


"Iya." jawab Liana.


"Ntar kapan-kapan jalan bareng yuk, kemana gitu. Ke Bali kek, Lombok atau kemana." ujar Rio lagi.


"Boleh, aku juga udah lama nggak liburan." tukas Liana.


"Tapi liat jadwal libur cuti aku juga ya." lanjutnya kemudian.


"Iya, pokoknya atur aja. Aku selalu siap sedia koq." ucap Rio.


Kedua lanjut berbincang, kadang tertawa, kadang terdengar mesra, dan kadang juga diam beberapa saat sampai kemudian kembali mendapatkan topik obrolan.


Sedang Arka sendiri kini telah tertidur di atas kursi. Saking lelahnya ia selama menjalani proses syuting hari ini.


***


Esok hari.


Gareth terdiam di ruang kerjanya dan belum pulang. Meski hampir seluruh karyawan telah membubarkan diri. Ia duduk seraya menghadap ke kaca gedung dan menjatuhkan pandangannya ke langit luas.


"Tap, tap, tap."


Sebuah langkah terdengar mendekat, namun Gareth masih juga tak bergeming.


"Tap, tap, tap."


Langkah itu kian mendekat. Kini si pemilik langkah itu mulai menuang wine yang tersedia ke dalam gelas, lalu meminumnya. Seketika Gareth menyadari jika yang datang tersebut adalah pamannya sendiri.


"Om, sejak kapan disini?" tanya-nya lalu berdiri.


Pria yang mengasuh Gareth dari kecil itu pun tersenyum sangat tipis, dengan mata yang menatap sang keponakan.


"Sejak tadi." jawabnya lalu kembali minum.


"Sejak kamu mulai memikirkan perempuan itu." lanjutnya kemudian.


Gareth agak terkejut. Sebab sang paman seakan mengetahui isi dari kepalanya saat ini.


"Aku mikirin profit perusahaan, om." ujarnya berkilah.


Dan lagi-lagi pria yang ia sapa om tersebut tersenyum.


"Profit selama tiga bulan belakangan ini terus meningkat kan?" ujarnya kemudian.


Gareth jadi makin serba salah, sebab alasannya terkesan tak masuk akal.


"Om tau soal itu. Lagi-lagi Amanda kan orangnya?" tebak sang paman dengan penuh percaya diri.


Gareth terdiam, seperti pion catur yang terkena skakmat. Sang paman kemudian membuat langkah-langkah kecil. Menuju ke foto ayah Gareth yang terpajang di suatu sudut.


Kemudian ia terlihat menghela nafas dan meminum kembali wine yang masih berada di tangannya.


"Kalau memang kamu mencintai perempuan itu, kenapa tidak kamu perjuangkan saja.?" tanya nya lagi.


Gareth kaget mendengar pertanyaan tersebut. Sebab pamannya itu pun tau jika Amanda adalah istri orang.


"Cinta itu tidak pernah salah, Gar. Kalau kamu memang mencintai dia dengan sepenuh hati, ya perjuangkan."


Sang paman kembali berbalik, kali ini ia menatap ke arah Gareth yang masih saja menjatuhkan pandangan ke lain sudut.


"Itu nggak mungkin, om." ujar Gareth.


"Terlalu berat dan terlalu sulit." lanjutnya lagi.


"Sejak kapan kamu takut bersaing dengan orang lain." tanya nya kemudian.


Gareth seolah tersentak hatinya. Sebab sang paman mengingatkan akan harga diri yang dimiliki oleh keponakannya tersebut. Bahwasannya Gareth bukanlah orang yang takut akan sebuah persaingan.


"Gar, kalau memang kamu suka sama dia. Pergi dan berusahalah untuk mendapatkan. Kebahagiaan itu di raih, bukan di tunggu."


Sang paman menatap mata Gareth dan begitupun sebaliknya.


"Om mau lihat kamu bahagia. Karena om sudah janji pada mendiang ayahmu." ujarnya lagi.


Gareth diam, sang paman menepuk bahunya kemudian berlalu. Sementara bayangan akan Amanda kini tampak semakin jelas dalam ingatan.


***


Kantor Amanda.


"Eh, Ti. Itu si kliennya bu Amanda yang pak Gareth-Gareth itu, kenapa sinis mulu sih tiap ketemu lo?"


Salah satu rekan sesama resepsionis bertanya pada Rianti. Mereka kini telah bersiap untuk pulang.


"Nggak tau gue, padahal cuma pernah ketemu dia sekali doang. Itupun dia nabrak ojol yang gue tumpangi. Mentang-mentang mobil bagus jadi ugal-ugalan, anjir." ujar Rianti.


"Oh gitu." jawab rekannya tersebut.


"Iya, gitu." tukas Rianti.


"Ya gue aneh aja sih, dia kayak punya dendam lama gitu ke elo."


"Sok banget tau dia orangnya." Lagi-lagi Rianti menjawab.


"Keliatan sih." rekan kerja Rianti menyetujui.


"Tapi ganteng." lanjutnya sambil tertawa.


"Dasar warga lokal." canda Rianti sambil ikut tertawa.


"Loh, kenapa?" tanya si rekan heran.


"Kalau good looking pasti masuk dalam daftar pengecualian." jawab Rianti.


"Mau ngeselin kek, kelakuan mirip babi kek. Tetap aja yang diliat gantengnya duluan." lanjut perempuan itu.


"Ya namanya juga manusia negri ini, Ti. Gue sebagai warga pemuja good looking nggak menampik akan hal tersebut. Good looking di atas segalanya."


"Hahahaha."


"Good looking privilege itu emang nyata ya say." ujarnya kemudian.


Keduanya tertawa-tawa. Tak lama kemudian mereka pun beranjak.


"Yuk ah, cabut!" ujar rekannya tersebut.


Rianti dan rekannya berpisah di muka gerbang. Ojek online yang dipesan rekannya itu telah tiba terlebih dahulu. Sementara rianti masih harus menunggu beberapa saat. Sebab ia mendapatkan driver yang jauh.


Setelah menit demi menit berlalu, driver yang ia pesan tersebut pun akhirnya tiba. Rianti lalu naik, namun di pertengahan jalan ia mendapat SMS diskon dari sebuah kopi shop.


"Mas, mau nemenin saya mampir bentar nggak. Mau beli kopi di kopi mantan." ujar Rianti.


"Oh yang di depan sana itu ya mbak?" tanya si driver.


"Iya mas."


"Oke mbak."


Driver tersebut menyetujui. Rianti senang dan berniat akan membelikan juga untuk si driver. Tak menunggu lama mereka segera sampai di outlet kopi mantan yang dimaksud.


Suasana tempat itu belum begitu ramai. Rianti segera masuk dan memesan empat cup ukuran medium. Tiga untuk ia bawa ke rumah dan satu untuk si driver ojol.


"Rianti Astari."


Nama Rianti dipanggil setelah kopi yang ia pesan jadi. Gadis itu buru-buru mendekat dan mengambil pesanan. Tak lama kemudian setelah berterima kasih, ia pun berbalik arah.


"Buuuk."


Tanpa sengaja tubuhnya menabrak seseorang. Beruntung kopi yang ia bawa ada di tangan kanan dan tak ikut tertabrak. Hingga kopi tersebut masih aman.


"Hati-hati dong kalau jalan."


Orang yang tertabrak Rianti menggerutu. Dan kini gadis itu menyadari siapa yang ada di hadapannya.


"Eh pak Gareth, udah tau orang lagi ngambil pesanan. Ngapain berdiri dekat banget?. Kan bodoh." ujarnya kemudian.


Gareth mendadak naik pitam. Namun Rianti kemudian berlalu dan keluar dari outlet, dengan terburu-buru.