
Arka dan Rio beserta rombongan tiba di pos 4. Saat itu hari telah sedemikian senja dan juga berkabut. Mereka akhirnya beristirahat terlebih dahulu, sebab ada salah satu kru YouTube Rio yang kelelahan.
Sementara di rumah Amanda bingung kenapa handphone Arka masih tak dapat juga dihubungi. Ia mencoba menelpon Rio dan keadaan handphone pemuda itu pun sama.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada di luar service area."
"Ini Arka sama Rio pada kemana sih?. Tidur apa gimana?" Gerutu Amanda.
"Awas aja kalau sampai macam-macam sama cewek lain. Gue kandangin bareng kepiting dua-duanya." lanjutnya wanita itu lagi.
***
"Ka, lo masih marah sama gue.?"
Lagi-lagi Rio mengeluarkan pertanyaan klasiknya terhadap Arka.
"Mau marah gimana lagi, udah sampe sini." ucap Arka lalu mengambil air yang ia bawa kemudian meminumnya.
"Krauk."
Rio menggigit semangka yang ia bawa di sisi telinga Arka. Arka kemudian menoleh dan meminta semangka tersebut pada sang sahabat. Rio memberikan sepotong pada Arka dan Arka pun memakannya.
"Abis ini kita lanjut." ujar Arka.
"Kita udah harus sampai di pos 5 sebelum gelap." lanjutnya kemudian.
"Iya, tapi biarin Rayhan istirahat dulu." ucap Rio seraya menoleh pada kru YouTube-nya yang kelelahan tersebut.
"Oke." jawab Arka.
Mereka lanjut mengisi energi di tempat itu selama beberapa saat. Dan setelah dirasa cukup, kru yang kelelahan itu sudah lebih baik. Mereka pun melanjutkan perjalanan.
Setelah menempuh jarak kurang dari dua jam, mereka tiba di pos 5. Tak jauh dari sana mereka mendirikan camp, kemudian beristirahat. Sebab mereka akan summit di pagi hari alias mengejar sunrise.
***
Waktu berlalu.
Handphone Amanda tiba-tiba bergetar. Saat itu hari telah gelap dan ternyata yang menelpon adalah ayah tiri Arka.
"Iya, pa."
Amanda menjawab telpon tersebut.
"Amanda, Arka koq nggak bisa dihubungi ya?" tanya sang ayah mertua kepadanya.
"Emang belum bisa dihubungi juga ya, pa?" Amanda balik bertanya.
"Soalnya tadi, Amanda juga ada menghubungi dan nggak bisa." ucap perempuan itu.
"Iya, soalnya ini papanya Rio ada nelpon papa nanyain Arka. Katanya nelpon Rio nggak bisa, nelpon Arka juga nggak bisa. Dia ada hal penting yang mau dibicarakan." tukas ayah tiri Arka lagi.
"Papanya Rio udah coba telpon ke management atau kru dan sutradara di lokasi syuting yang disana nggak, pa?" Amanda kembali bertanya.
"Nah itu papa kurang tau. Coba nanti papa tanya dulu ya."
"Iya, pa. Amanda coba telpon ke orang management-nya dulu deh." ucap Amanda.
"Ya sudah, nanti kabarin papa ya."
"Iya, pa. Anak-anak nakal nggak disana?"
Amanda mempertanyakan perihal anak-anaknya.
"Nggak, itu udah pada mau tidur. Lagi minum susu sama Rianti depan televisi.
"Oh ya udah, titip anak-anak ya pa. Maaf ngerepotin."
Ayah tiri Arka tertawa.
"Papa justru senang mereka disini, jadi ada hiburan."
Amanda tersenyum.
Makasih ya pa, sekali lagi.
"Iya nak. Ya udah, papa mau hubungin ayah Rio dulu ya."
"Iya pa."
Ayah tiri Arka pun lalu berpamitan dan sambungan telpon tersebut kemudian disudahi.
Amanda kembali bergumam. Tadi sore saat tak bisa menghubungi, ia tak begitu khawatir. Karena ia pikir Arka tidur dan handphonenya sengaja dimatikan agar tak mengganggu.
Tapi kini perasaan Amanda agak sedikit terusik. Ia mulai takut terjadi apa-apa terhadap suaminya itu.
Amanda meraih handphone dan mencari nomor kontak management Arka. Dan ia mendapati nomor mbak Arni. Ia pun lalu menghubungi wanita itu, dan langsung diangkat.
"Hallo mbak." ujar Amanda ketika telah tersambung.
"Iya Amanda, ada apa?"
Kebetulan mbak Arni ada menyimpan kontak Amanda. Ia sendiri lupa kapan pernah memintanya.
"Mbak, punya nomor sutradara di lokasi syuting Arka nggak?. Atau aku bisa minta tolong hubungi, buat nanyain Arka sama Rio." ujar Amanda.
"Arka sama Rio kenapa emangnya?" tanya mbak Arni kemudian.
"Mereka nggak bisa dihubungi dari sore tadi, mbak. Sampai papanya Rio pun nyariin dia. Takut terjadi apa-apa aja sama mereka. Soalnya nggak ada ngabarin sama sekali juga dari pagi." ucap Amanda lagi.
"Pada tidur kali, kan ini lagi break syuting mereka." tukas mbak Arni.
"Aku juga mengiranya gitu." ucap Amanda.
"Tapi masa iya selama ini." lanjutnya kemudian.
"Oke gini aja deh. Aku coba hubungi sutradara disana ya. Ntar aku tanya mereka dimana."
"Oke, minta tolong banget ya mbak. Aku udah nggak enak perasaan ini. Tadi masih biasa aja, tapi sekarang kerasa banget." ucap Amanda.
"Iya, nanti segera aku kabari." tukas mbak Arni.
Tak lama percakapan itu pun diakhiri. Mbak Arni mencoba menghubungi sutradara di lokasi syuting, dan sutradara itu mengatakan jika ia tidak tahu mengenai dua orang talent tersebut. Sebab mereka semua sedang libur.
"Coba ntar saya suruh orang buat ke apartemen mereka ya." ucap sang sutradara pada mbak Arni.
"Iya mas, minta tolong banget. Soalnya istri dan keluarga pada nyariin mereka." ujar mbak Arni lagi.
"Oke-oke, setelah ini langsung saya suruh datang kesana koq orangnya." ucap sang sutradara.
"Makasih mas." ucap mbak Arni.
"Sama-sama."
Mbak Arni lalu menyudahi panggilan tersebut dan mengirim pesan singkat pada Amanda.
"Sutradara lagi nyuruh orang buat ke apartemen mereka." ucap wanita itu.
Amanda sedikit bisa bernafas agak panjang. Meski ini semua belum membantu banyak. Sebab ia hanya akan tenang total apabila telah menerima kabar tentang dua orang itu.
***
Camp.
Malam telah sedemikian larut, namun Rio tak dapat memejamkan matanya. Ia masih saja duduk di luar tenda sambil ngopi dengan Arka. Sementara sebagian besar kru yang berangkat bersama telah terlelap.
"Ka, koq gue merinding banget ya." ucap Rio pada Arka.
"Kurang darah kali lo. Mana abis jalan jauh juga. Mungkin gula darah lo lagi turun drastis." ucap Arka.
Rio masih melirik kesana-kemari. Jujur ini pengalaman pertamanya mendaki gunung. Tetapi sudah kelima kalinya bagi Arka. Jadi Arka agak lebih santai menghadapi udara dan juga suara-suara yang mungkin terdengar aneh serta asing di telinga.
"Lo denger nggak sih?" ucap Rio kemudian.
"Denger apaan?" tanya Arka.
"Itu ada suara kayak burung hantu gitu." jawab Rio.
Arka mencoba mendengarkan secara seksama, namun ia tak mendengar apa-apa.
"Nggak ada tuh, kalau jangkrik iya gue dengar."
"Ada, Ka. Coba lo dengar deh." ucap Rio sekali lagi. Dan lagi-lagi Arka mencoba mendengar.
"Nggak ada juga." tukasnya kemudian.
"Tapi kalaupun lo dengar suara burung apapun itu, ya wajar. Ini kita lagi di hutan, bukan lagi di SCBD." tukas Arka.
"Iya juga sih."
Rio manggut-manggut. Kemudian sahabatnya itu mereguk kopi yang mulai dingin. Arka pun sama demikian. Tak lama ia mendengar apa yang Rio dengar. Namun Arka tetap bersikap santai.