Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Min Ji


Usai berburu hantaran kemarin, Nino tak lantas disuruh pulang oleh ayahnya Ryan. Begitupula dengan Ansel.


Sebab Pamela akan pulang selama beberapa hari ke kampung halamannya, maka praktis Ryan pun akan sendirian tak ada teman.


Ia mendaulat kedua anaknya itu untuk menginap selama Pamela belum kembali. Kedua anaknya itu tak masalah. Mereka menginap dan malah mengerjakan hantaran milik Ansel.


Sudah beberapa kotak hantaran tersebut jadi dan terlihat elegan. Berkat tangan mereka dan juga melihat contoh dari YouTube pastinya.


Sebab jika hanya mengandalkan kreativitas mandiri, otak keduanya sama-sama tumpul dan tak bisa berimprovisasi.


"Nino, nanti malam jangan kemana-mana. Ansel juga." ucap Ryan pada kedua anaknya itu.


"Kenapa emangnya, dad. Nino ada rencana mau minum bareng karyawan Nino di klub." jawab Nino.


"Tunda dulu sampai besok." ucap Ryan.


"Kenapa emangnya?" tanya Nino sekali lagi.


"Malam ini daddy mau mempertemukan kamu sama anak teman daddy." jawab Ryan.


"Yes." Ansel yang malah semangat 45.


"Nino mau dijodohkan ya dad?" tanya nya kemudian.


"Iya, mau daddy kenalkan dulu."


Nino menghela nafas panjang.


"Bisa nggak sih, dad. Itu jadi urusan Nino aja." tukas Nino pada sang ayah.


"Untuk urusan kali ini, adalah urusan daddy juga. Daddy udah nggak mau liat kamu patah hati terus karena Nadine."


"Nino udah nggak kenapa-kenapa soal dia."


"Bohong." ucap Ryan.


"Kamu sering melamun sendirian akhir-akhir ini."


Nino diam, ia ingat beberapa hari ini melamunkan profit perusahannya yang agak menurun, dan tidak sama sekali memikirkan Nadine.


"Tapi dad, itu bukan..."


"Benar tau dad. Ansel sering lihat Nino nangis sendirian."


"Kapan, Jumali?"


Nino sewot pada saudaranya itu. Sementara Ansel menjulurkan lidah.


"Daddy nggak mau kamu sedih, Nino. Daddy mau kamu happy terus." ucap Ryan sekali lagi.


"Nino happy dad, Nino udah biasa aja."


"Bohong, dad. Nino mau minum sama karyawannya itu buat berusaha melupakan Nadine."


Nino sudah sangat ingin mengirim Ansel ke luar angkasa, andai saja ada roket space X di dekat sini. Namun sayangnya yang ada hanya kroket di pedagang kue subuh.


"Pokoknya nanti malam, kamu dandan yang rapi. Kita akan dinner sama keluarga Min Ji."


Ryan berlalu sebelum di protes lebih lanjut oleh anaknya itu.


"Minji?. Namanya Suminji?" tanya Ansel pada Nino.


"Apa Darminji?"


"Tau ah, minji-minjian kali." ucap Nino sewot, kemudian beranjak.


"Biji dodol, kalau yang itu." tukas Ansel.


"Bodo amat."


Nino keluar lalu masuk ke dalam mobil. Tak lama kemudian mobil itu pun bergerak meninggalkan pekarangan rumah.


***


Sementara di sebuah tempat ngopi.


Intan janjian dengan Nadine dan bertemu disana. Kebetulan hari ini kantor Amanda masuk jam 11 siang dan saat ini masih pukul 9 pagi. Jadi keduanya masih bisa bertemu sambil minum dan mengobrol.


"Lo balikan aja sama Nino, Nad. Gue rasa dia mau maafin kalau lo sungguh-sungguh. Lo masih sayang kan sama dia?" tanya Intan kemudian.


"Bodoh banget sih gue ninggalin dia. Padahal awalnya gue yang ngejar-ngejar." ucap wanita itu penuh sesal.


"Makanya berpikir dulu sebelum bertindak." tukas Intan.


"Gue salah sama dia, Tan. Dia udah baik banget sama gue, tapi apa balasan gue."


Intan menghela nafas panjang dan terus menatap Nadine.


"Setiap orang pernah punya salah, Nad. Coba aja lo perbaiki. Gue rasa Nino mau mempertimbangkan. Dia juga masih sayang banget koq sama lo. Ansel bilang dia frustasi waktu lo tinggalkan dia tanpa sebab."


Nadine diam.


"Tapi, kenapa dia nggak nyariin gue ya?. Atau minimal telpon dan tanya kenapa gue mulai menjauh dari dia"


"Karena dia tau lo selingkuh. Dan sifat cowok itu ada yang berbeda, nggak semuanya sama." ucap Intan.


"Ada yang nyamperin ketika di tinggal ataupun di selingkuhi. Tapi ada juga yang males dan membiarkan aja karena mereka udah kelewat kecewa." lanjutnya lagi.


"Mungkin Nino adalah tipe orang yang nggak akan capek-capek memperjuangkan. Ketika cewek yang dia suka sudah berpindah ke lain hati." tambah perempuan itu.


Nadine menelan ludah, kemudian menunduk lalu mereguk minuman yang ia pesan.


"Tapi kira-kira dia mau nggak ya, menerima gue lagi?" tanya nya kemudian.


"Kalau menurut gue sih, masih mau. Secara dia masih cinta sama lo. Di coba aja, mana kita tau kalau nggak di coba. Iya kan?"


Nadine mengangguk, dan sekali lagi ia mereguk minumannya.


***


Malam itu meski kesal dan rasanya ingin kabur. Namun Nino mengikuti keinginan sang ayah untuk berdandan rapi. Ansel pun sama demikian.


Bedanya Ansel tak ada keinginan untuk lari dari perjodohan. Sebab ia telah memilih pasangannya sendiri.


"Gue kalau bukan demi daddy aja, ogah banget datang ke acara perjodohan kayak gini. Udah kayak Siti Nurbaya gue." Gerutunya di depan kaca.


"Jangan ngomel mulu, siapa tau ceweknya cakep dan seksi." tukas Ansel.


"Iya kalau gitu, kalau nggak?" tanya Nino kemudian.


"Misalkan cakep dan seksi juga belum tentu gue tertarik." lanjutnya lagi.


"Gue ngerti sih perasaan lo. Tapi apa salahnya menyenangkan orang tua, sehari ini aja. Besok-besok kan lo bisa menghindar kalau emang nggak mau. Alasan aja kerja dan lain-lain." ucap Ansel.


Nino diam.


"Daddy udah tua, Nin. Udah saatnya kita membahagiakan dia."


Entah terkena setan apa, yang jelas malam ini Ansel menjadi sedemikian bijak. Hingga membuat Nino sedikit terdiam dan menyadari itu semua.


Belasan tahun yang lalu, jika bukan karena kedua tangan Ryan. Mungkin saat ini ia hanya akan menjadi sampah yang terlupakan. Ia terbuang dan Ryan yang menyelamatkan. Kini sudah saatnya ia membalas budi baik orang tuanya itu.


"Udah ayok, kita turun ke bawah." ucap Ansel.


Nino pun menuruti hal tersebut. Mereka turun ke bawah dan menuju meja makan. Tampak disana sudah ada seorang teman Ryan dan juga istrinya.


"Orang Cina, Jepang, apa Korea tuh?"


Bisik Ansel pada Nino ketika mereka sudah tiba di bibir tangga.


"Tau, orang-orangan sawah kali." celetuk Nino.


"Hai dad."


Nino berusaha untuk terlihat baik-baik saja. Ryan tentu saja sumringah dan langsung memperkenalkan kedua anaknya itu pada sang rekan.


"Ini anak saya, Ansel dan juga Nino." ujarnya kemudian.


"Nah Nino, Ansel. Ini keluarga pak Lee. Beliau ini dari Korea Selatan dan merupakan teman bisnis papa."


Nino dan Ansel berusaha tersenyum dan berkenalan dengan mereka. Tak lama si istri teman Ryan itu memanggil seseorang yang baru keluar dari toilet.


"Min Ji aaa, bla, bla, bla." Ia berbicara dalam bahasa Korea.


Nino dan Ansel menoleh dan betapa terkejutnya Nino melihat siapa orang itu.


"Heh, Samyang." ucapnya tanpa sadar. Lalu si gadis yang ia panggil samyang itu pun sama kagetnya dan terlihat tak percaya.