
Arka menghidupkan handphone, dan ia mendapati notifikasi panggilan serta pesan dari Elina.
"Thanks ya, Ka. Kamu udah anterin aku kesini semalam. Pasti kamu bingung soal alamat rumah aku kan?" tanyanya.
"Iya sama-sama." balas Arka.
Ia sengaja menjawab seperti itu agar Elina tak ada topik lagi untuk membalas. Kemudian ia menghapus riwayat chat dan panggilan masuk.
Karena ia takut Amanda jadi salah paham dan ia saat ini sedang malas bertengkar ataupun menjelaskan sesuatu pada istrinya itu.
"Ka, ayo berangkat!"
Amanda yang telah siap memanggil Arka.
"Oke sayang.
Arka beranjak, ia mengambil handphone dan charger lalu berjalan ke arah sang istri. Beberapa menit kemudian mereka sudah terlihat menyusuri jalan demi jalan.
"Kira-kira ibu bakal marah nggak ya, Ka. Kita baru datangnya sekarang." tanya Amanda.
"Kayaknya iya, ibu bakalan ngoceh. Tapi kan yang dimarahi nggak cuma satu orang, kita berdua kena damprat pasti." tukas Arka.
"Ini semua gara-gara ide kamu nih." Amanda menyalahkan Arka.
"Eh, Juminten. Semua juga berasal dari kamu ya. Kalau kamu nggak bilang kamu bosan sama urusan yang itu-itu aja. Nggak mungkin ide ini akan tercetus di benak aku." ujar Arka.
"Lah koq jadi nyalahin aku?. Inget nggak yang kamu nanya duluan, soal aku merasa bosan apa nggak."
"Emang aku yang nanya?"
"Eh, Junaedi. Yang nanya duluan itu kamu." ujar Amanda sambil tertawa.
"Emang iya?" Arka kembali bertanya seraya ikut tertawa pula.
"Ye, pura-pura amnesia lagi." gerutu Amanda.
Arka makin tertawa.
"Nggak Man, serius. Emang aku ya yang duluan."
"Kalau kamu nggak mancing duluan, aku nggak bakal terbuka Ka. Aku takut soalnya."
"Ya tapi tetap aja ujungnya kamu jujur dan setuju kan." ucap Arka.
"Tapi bukan aku yang memulai."
"Oke deh, intinya kita sama-sama salah." ucap Arka lagi.
"Oke." jawab Amanda.
Lalu hening, tak lama keduanya pun sama-sama tertawa.
***
"Azka sama Afka nggak ada disini bu?" tanya Arka pada sang ibu seraya membawa barang belanjaan masuk ke rumah. Amanda berjalan disisi pemuda itu.
"Iya mereka di jemput daddy sama Nino dua hari lalu. Lagian kalian berdua ini gimana jadi orang tua, masa nggak ada menelpon nggak apa."
Amanda dan Arka saling melirik. Tak lama mereka telah terlihat duduk di ruang makan. Ibu Arka membuatkan minum untuk anak dan menantunya tersebut.
"Jadi kalian gimana sekarang?" tanya ibu Arka pada keduanya.
"Kita sepakat untuk balik aja, bu." ujar Amanda.
"Karena nggak ada gunanya juga kayak gini." lanjutnya lagi.
Ibu Arka menghela nafas lega dan tersenyum.
"Syukurlah kalau kalian berpikir lagi seperti semula. Nggak kekanak-kanakan kayak yang kalian jalani beberapa waktu belakangan ini. Ibu senang mendengarnya. Ibu tuh udah takut kalian bercerai, ibu sedih nggak bisa membayangkan." ujar ibu Arka.
"Maafin kita berdua, bu." tukas Arka.
"Arka yang punya ide ini duluan." lanjutnya kemudian.
"Dan Amanda nggak berpikir panjang dulu, bu. Cuma berdasarkan ego aja." Amanda menimpali.
Lagi-lagi ibu Arka menghela nafas, di sela-sela senyumnya ia seperti hendak menitikkan air mata.
"Ibu tuh memikirkan perjuangan kalian selama ini. Dimana kalian menyatukan perbedaan. Mulai dari usia, status, ekonomi. Sayang kalau sampai berpisah di tengah jalan. Lagipula kasihan anak-anak. Ya walaupun mereka cukup jarang menanyakan kalian."
Kali ini mereka bertiga tertawa.
"Emang mereka nggak pernah nyariin kami, bu?" tanya Arka.
"Waktu itu doang, di awal-awal yang ada kalian nelpon. Abis itu udah nggak lagi." jawab ibu Arka.
"Ya sudah pada makan dulu gih. Untung ibu masak, nggak tau kalian kesini."
Arka dan Amanda akhirnya makan. Sejatinya saat selesai belanja tadi, mereka ada memakan bakso. Tapi untuk menghormati sang ibu dan ibu mertua. Keduanya memilih untuk makan walaupun sedikit.
***
Beberapa saat berlalu.
Ibu Arka memeluk anak dan menantunya, sesaat sebelum pasangan itu bertolak menuju ke tempat Ryan.
"Salam sama papa dan Rianti, bu. Bilang kalau masalah kami sudah beres." ujar Arka.
"Iya nanti ibu sampaikan. Kalian berdua akur-akur. Yang namanya rasa bosan itu akan selalu ada. Tergantung bagaimana cara kalian menyikapinya. Nggak perlu lah sampai pisah rumah segala."
"Iya bu." jawab Arka dan Amanda secara serentak.
Kini keduanya sudah berada di kediaman Ryan dan dihadapkan pada sebuah persidangan. Ada Nino disana, sedang Ryan dan Ansel memilih untuk tidak ikut campur dan menggendong si kembar.
"Jangan ada lagi yang kayak gini."
Nino berujar pada Arka dan Amanda layaknya guru kesiswaan yang tengah memarahi siswa dan siswinya.
"Pisah ranjang, pisah rumah, itu bukan solusi. Kita bisa aja terlanjur nyaman dengan semua itu dan akhirnya malah memilih untuk berpisah selamanya." ujar pria itu kemudian.
Sementara Arka dan Amanda hanya menunduk dalam.
"Tapi kan akhirnya kita jadi saling kangen, Nin." Arka membela diri.
"Iya, oke. Tapi nggak bisa di jadikan acuan juga. Masa setiap kali dapat masalah solusinya pisah rumah. Lama-lama bakalan kayak gitu kalau terus-terusan di normalisasi."
Tak ada yang menjawab. Baik dari Arka maupun Amanda lebih memilih diam. Dari pada menjawab dan salah lagi. Bisa jadi Nino akan bertambah marah pada mereka.
"Tapi ini kalian berdua udah beneran balik kan?" tanya Nino lagi.
"Udah koq, Nin. Tenang aja." jawab Amanda.
"Ya udah, jangan di ulangi lagi. Kalau emang butuh bantuan, cerita. Jangan main bikin keputusan, ngerti nggak?"
Arka dan Amanda mengangguk. Dari kejauhan Azka dan Afka tampak cengar-cengir melihat ibu mereka.
"Eheee."
"Mama."
"Papapa."
***
Usai Nino menatar kedua saudaranya tersebut. Mereka pun membubarkan diri dari meja makan dan beralih ke ruang keluarga.
Ryan membeli pizza dan Ansel mengorder minuman seperti es Boba dan kopi.
Mereka menonton televisi bersama, sementara si kembar sibuk makan kentang wedges. Mereka duduk tertib dan tidak kemana-mana.
Lucunya Azka memakan semua kentang itu beserta kulitnya. Sedang Afka membuka dan menarik kulit kentang itu baru memakannya.
"Yang ini cuek, yang ini harus di kupas." ujar Ansel mengamati.
Mereka semua kini tertuju pada anak kembar itu.
"Pulang ya sama papa." ujar Arka pada mereka.
"Sama mama juga." lanjutnya lagi.
"Hoaya."
Mereka sama-sama mengangguk.
"Yuk kita pulang." ujar Amanda.
"Hoaya."
Keduanya menggeleng.
"Tadi mau sekarang nggak mau." ujar Arka.
"Eheee."
"Disini aja bareng grandpa sama Nono sama Wew ya." ujar Ryan.
Lagi-lagi keduanya mengangguk.
Mereka semua lanjut makan dan berbincang satu sama lain.