Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Sweet Uncle


"Mana keponakan uncle."


Nino yang sudah pulang kerja itu pun tiba di kediaman Ryan. Ia memang sudah janjian dengan ayahnya itu untuk makan malam bersama sekaligus menginap. Sementara Ansel masih diperjalanan menuju ke tempat yang sama.


"Hoayaa."


Salah satu dari anak kembar memberikan reaksi. Namun Nino tak bisa melihat pergerakan mereka.


"Mereka dimana, dad?. Koq suaranya doang." tanya Nino heran.


"Tuh."


Ryan menilik ke bawah kolong meja makan. Maka mata Nino pun tertuju ke arah sana.


"Kalian ngapain?" tanya nya kemudian.


"Eheeee."


"Mut." ucap Azka.


"Mut?" tanya Nino seraya mengerutkan dahi.


"Mumut." Afka menimpali.


"Mumut?" Nino kembali bertanya.


"Eheeee." jawab mereka lagi.


"Apaan sih dad?" Nino mengalihkan pertanyaan pada Ryan.


"Nggak tau bahasanya mereka." jawab Ryan.


Saat ini pria tua itu tengah berkutat dengan segala pekerjaan kantornya. Nino mendekat dan melihat ke arah Azka dan juga Afka.


"Mut apaan?" tanya nya kemudian.


"Mut."


Azka menunjuk seekor semut yang tengah melintas.


"Semut?"


"Mut." jawab mereka.


"Grandpa ada kelinci hitam noh, baru beli. Mau liat nggak?" tanya Nino.


"Ajak aja Nin, ke belakang. Daddy belum sempat ajak mereka main hari ini." tukas Ryan.


"Bentar ya, uncle ganti baju dulu." ucap Nino.


"Hoayaa."


Nino kemudian naik ke atas dan berganti kaos serta celana pendek. Kemudian ia turun ke bawah dan mengajak kedua anak itu keluar. Mereka melihat ke kandang besar berisi berbagai beberapa kelinci. Salah satunya ada kelinci hitam yang baru dibeli Ryan kemarin.


"Cici."


Mereka selalu mengingat hewan tersebut, sebab pernah diajak oleh kedua orang tua mereka ke kebun binatang dan juga sering bermain dengan yang disini.


"Cici."


"Cici."


Nino melepaskan saja kedua keponakannya tersebut di hamparan rumput Jepang yang tumbuh. Rumput tersebut bersih dari kotoran kelinci, sebab setiap pagi selalu dibersihkan oleh orang yang bekerja pada Ryan.


"Eheeee."


Azka dan Afka merayap kesana kemari sambil mengejar kelinci-kelinci tersebut. Kadang mereka tertawa, kadang terguling. Nino membiarkan saja namun tetap mengawasi.


Kebetulan cuaca sedikit mendung dan tempat tersebut memang cukup rimbun. Karena banyaknya pepohonan yang tumbuh. Ada pohon rambutan rendah yang juga tengah berbuah. Jadi sambil mengawasi, Nino sambil memakan rambutan.


***


Beberapa saat berlalu.


"Ngebosenin banget sih obrolan papa sama om Ryan. Bisnis terus, mana dipaksa ikut melulu lagi. Untung nggak ada anaknya yang songong itu."


Min Ji menggerutu sambil berjalan mengitari halaman rumah Ryan yang luas. Beberapa saat lalu ia dan ayahnya mengunjungi tempat tersebut. Ada beberapa bisnis penting yang harus dibicarakan oleh ayahnya dan juga Ryan.


"Hmmm, kemana ya biar nggak bosan?" tanya nya kemudian.


Ia melihat kesana kemari, sampai suatu ketika mata indah gadis itu menangkap Nino yang tengah mengajak si kembar tengah bermain.


"Dia udah punya anak?" gumam Min Ji dalam hati.


"Tapi katanya belum nikah."


"Apa dia itu kumpul...?"


Tiba-tiba Min Ji teringat di hari pertemuan pertamanya dengan Nino, Ryan pernah bercerita bahwa anak ketiganya sudah menikah.


"Ah mungkin itu anak dari adiknya si cowok bawel ini." gumam perempuan itu lagi.


Min Ji mengendap-endap lalu mendekat. Ia bersembunyi di balik pepohonan yang tak jauh dari Nino. Ia lalu mengamati perilaku pria itu.


"Ayo Afka sini, kejar uncle." ujar Nino pada Afka.


Batin Min Ji benar, bahwasannya kedua anak itu adalah keponakan Nino.


"Eheeee."


Afka merayap cepat, namun kemudian tanpa sengaja ia melihat Min Ji. Min Ji yang kaget langsung bersembunyi di balik pohon.


"Tutu, hiii."


Afka berujar, Nino tak mengerti banyak bahasa bayi.


"Apaan tutu?" tanya Nino sambil menoleh.


Min Ji masih bersembunyi di balik pohon dan kebetulan pohon itu cukup besar batangnya. Hingga tubuh gadis itu tak kelihatan.


"Eheeee."


Azka melihat Min Ji dari arah lain. Gadis itu kaget lalu menempelkan jari telunjuk di bibirnya. Berharap Azka tidak ember pada sang paman. Sebab Min Ji tak mungkin bergeser dari titik tersebut. Takut Nino akan mengetahui letak keberadaannya.


"Eheeee."


"Azka ketawa sama siapa?" tanya Nino dari area balik pohon. Tempat dimana Min Ji bersembunyi.


"Tutu." jawab Afka sambil menunjuk pohon tersebut.


"Hantu?" tanya Nino pada keponakannya itu.


"Tutu."


Nino melihat lagi ke arah pohon tersebut dan Azka masih tertawa. Meski tak pernah melihat hantu, Namun Nino jadi begitu khawatir dibuatnya. Ia yakin dengan penglihatan mata anak kecil. Maka ia pun segera menuju kesana. Min Ji hendak memutar arah, namun ia terinjak akar pohon dan,


"Buuuk."


"Aaaaw." Ia terjatuh sambil meringis kesakitan.


"Heh, tteokbokki ngapain lo disitu. Pake acara jatuh segala lagi."


Nino yang semula kaget kini menertawai Min Ji. Sementara Min Ji sewot setengah mati.


"Eheeee."


Azka merayap pada Min Ji, sedang Arka mendekat.


"Eheeee."


Anak itu tertawa pada Min Ji. Dengan kesal Min Ji pun berdiri, namun kemudian Azka bergelayut di kakinya. Terpaksa ia pun menggendong bayi itu. Sedang Afka kini di gendong oleh Nino.


"Makanya lain kali jangan suka ngintip orang, kualat kan jadinya."


Nino berjalan ke arah rumah.


"Kualat itu apa?" tanya Min Ji pada Azka.


"Eheeee." jawab Azka kemudian.


Min Ji masih saja sewot, namun ia turut bergerak ke arah rumah. Sesampainya di rumah, Min Ji menyerahkan Azka pada Nino.


Nino lalu memandikan keponakanya tersebut di halaman samping. Dengan menggunakan kolam plastik tiup yang besar.


Perhatian Min Ji kembali tertuju kepada Nino. Meski tadi pertemuan mereka tak berkesan sama sekali. Namun ia terkesan dengan cara pria itu mengurus si kembar.


"Itu cucu om dari anak ketiga yang sudah menikah." ujar Ryan.


Min Ji hanya mengangguk-anggukan kepala, sebab ia sudah menduga sejak tadi.


"Ayahnya sedang di luar kota dan ibunya sibuk bekerja. Karena om rindu mereka, jadi om suruh kesini."


Min Ji kembali memperhatikan Nino yang tengah menyiram kepala Afka dengan selang air yang sejatinya tidak deras sama sekali. Namun anak itu menyukainya. Sementara Azka memukul-mukul air hingga wajahnya sendiri basah dan kecipratan.


Nino masuk, Min Ji mengalihkan tatapan ke arah lain. Pria itu menuju ke kamar yang biasa digunakan Arka-Amanda dan si kembar, lalu mengambil baju anak-anak itu.


Tak lama ia kembali keluar, Mi Ji pura-pura minum teh. Ryan dan ayah Min Ji melihat gelagat gadis itu sambil menahan senyum.


Nino kembali memandikan si kembar, sampai kemudian ia menyudahi semuanya. Cara Nino menyudahi agar mereka tak menangis adalah, dengan cara mengurangi air sampai habis. Setelah air habis mereka rela untuk memakai handuk dan dipakaikan baju oleh Nino.


Usai mandi mereka di letakkan di atas kursi makan masing-masing. Nino berkutat di kitchen set selama beberapa saat, dan itu pun tak luput dari pandangan Min Ji.


Tak lama Nino mendekat ke arah si kembar. Membawa potongan labu kuning, kentang, dan wortel rebus. Mereka makan sendiri dengan gembira. Sementara Nino dengan sabar menunggu mereka.