
Selang beberapa saat sorang driver ojek online pun tiba. Gareth memberikan apa yang hendak ia kirim pada Amanda, tapi ternyata tidak semuanya.
"Katanya nggak makan cake?" ujar Rio.
"Itu isinya gorengan kali bos, yang dia bawa pulang." Kameramen Rio berujar dengan sotoy.
"Ya sama aja, Helmy. Kalau nggak makan cake, berarti lagi ngurangin cemilan. Kalau dia makan gorengan juga mah, ngapain sok diet makan cake segala. Sama aja bahayanya." ujar Rio lagi.
"Iya juga sih." ucap Helmy sambil nyengir dan menggaruk-garuk kepala.
"Ya udah deh, buru kita jalan lagi. Ntar ketahuan sama si karet gelang." ujar Rio.
Maka mereka pun berlalu meninggalkan tempat itu. Ditengah perjalanan ia mencetuskan sebuah ide.
"Kita ke rumah Arka aja apa ya?" tanya nya kemudian.
"Ngapain kita kesana bos?" tanya Helmy.
"Gue penasaran nanti kalau cake itu sampai, si karet bakalan ada drama lagi ke si Amanda. Jadi biar kita tau arah maksudnya dia kemana. Apakah benar si karet ada indikasi untuk jadi pebinor."
"Iya juga sih, bahaya itu bos kalau sampe jadi pebinor." ucap Helmy lagi.
"Makanya." jawab Rio.
"Ya udah, ayo!" imbuhnya.
Mereka pun lalu bergegas masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat itu. Di jalan ia menelpon Arka dan memberitahu sang sahabat, perihal dirinya yang ingin datang. Tentu saja Arka mengizinkan, karena Rio beralasan hanya ingin mampir saja sejenak.
Butuh beberapa menit bagi mereka untuk menempuh perjalanan. Sampai kemudian mereka tiba di penthouse milik Amanda.
Cake yang dikirim Gareth hanya tiba beberapa saat sebelumnya. Hal itu terlihat ketika Rio sampai, cake itu masih ada di atas meja makan dan masih berada di dalam kotak, serta berbungkus paper bag.
Arka dan Rio serta Helmy ngobrol di ruang tamu. Tak lama Amanda turun dari atas, sambil terlihat seperti menelpon atau di telpon.
"Makasih ya, Gar. Kuenya udah sampe nih." ucap Amanda.
Kemudian entah apa yang di katakan oleh Gareth. Yang jelas tak lama setelah itu Amanda tersenyum lalu menyudahi percakapan.
"Eh, makan cake nih."
Amanda mengajak sang suami, Rio dan juga Helmy. Ia membuka cake tersebut lalu mengambil piring.
"Ayo pada kesini!" ajaknya ke meja makan.
Maka Rio pun mengikuti Helmy untuk ikut bergerak lalu mendekat. Tak lama Arka yang tadi ke toilet sejenak, kini tiba.
"Sayang, mau kopi?" tanya Amanda pada suaminya itu.
"Boleh." jawab Arka.
"Rio kopi juga kan?" tanya Amanda.
"Iya, seperti biasa aja." jawab Rio.
"Helmy?"
"Saya, teh aja mbak." jawab Helmy.
"Kurang suka ngopi ya?" tanya Amanda lagi.
"Iya." jawab Helmy.
"Oke."
Amanda membuatkan minuman, sedang Arka, Rio dan Helmy kini duduk di meja makan. Tak lama Amanda tiba dan membuka cake pemberian Gareth, lalu ia memotong dan membagi-bagikannya. Tak lama Azka dan Afka mendekat sambil seperti mengendus-endus.
"Kekek." ujar mereka.
"Tau aja kalian ada makanan." Rio berseloroh.
"Eheee."
"Wiwi."
Arka dan Rio serta Helmy ngobrol di ruang makan. Helmy menunggu Rio nyeletuk dan menceritakan pertemuan mereka dengan Gareth tadi. Ia ingin melihat bagaimana tanggapan Arka mengenai hal tersebut. Namun sampai beberapa waktu berlalu, Rio tak ada menyingung hal tersebut.
"Tadi kenapa nggak bilang aja, bos?" tanya Helmy ketika mereka akhirnya pulang.
"Tujuan kita kesana kan untuk itu." lanjutnya lagi.
"Tadinya sih, gue pikir mau ngomong sama Arka. Untuk jangan terlalu percaya sama Gareth. Pengen juga gue bilangin itu sama Amanda, tapi gue takut." jawab Rio.
"Takut kenapa?" tanya Helmy heran. Mereka kini sama-sama masuk ke dalam mobil.
"Gue takut si Arka jadi nggak percaya lagi ninggalin Amanda sendirian. Ntar yang ada proses syuting bakalan terganggu, Arka nya jadi over protektif dan rumah tangga mereka jadi ribut. Gue takutnya disitu aja sih." ucap Rio.
"Lagian gue yakin kalau Amanda tuh nggak bakal mengkhianati Arka." lanjutnya lagi.
"Tapi koq dia main terima-terima aja dikasih sama cowok lain." ujar Helmy.
"Ya, cowok lainnya terselubung, berkedok teman, partner bisnis. Mungkin si Amanda-nya juga nggak curiga apa-apa. Namanya dia bos, partner kerjanya banyak. Dia pasti udah biasa menerima hadiah dari banyak orang, orang yang ngasihnya aja yang baper."
"Iya sih, mungkin Amanda nya bisa aja kali ya?" tanya Helmy.
"Lah iya, lo liat aja tadi dia mukanya santai-santai aja. Karena memang dia mungkin nggak ngeh kalau si karet gelang suka sama dia." ujar Rio lagi.
Helmy mengangguk-anggukan kepala.
"Ribet juga ya bos, punya bini cantik dan sukses."
"Punya bini nggak cakep dan nggak sukses juga sama aja koq ribetnya." jawab Rio.
Ia kini menghidupkan mesin mobil dan mundur ke belakang untuk berputar arah.
"Ribetnya dimana?. Kan kalau nggak cakep dan nggak sukses, nggak ada cowok lain yang mau."
"Iya, tapi elo nya yang bakalan mau sama cewek lain." celetuk Rio sambil tertawa.
Mereka mulai keluar dari pintu gerbang penthouse.
"Maksudnya?" tanya Helmy tak mengerti.
"Ya kalau bini nggak cakep, biasanya si laki yang bertingkah. Nyari cewek cakep di luaran. Akibatnya bisa jadi ribet dan ribut juga." ujar Rio.
Helmy menggaruk-garuk kepalanya karena bingung.
"Kenapa?" tanya Rio kemudian.
"Bingung bos sama jawaban bos." ujarnya kemudian.
Rio tertawa.
"Intinya mau bini lo cakep atau kagak, masalah rumah tangga itu selalu ada aja Mi. Mana ada rumah tangga orang semulus jalan tol. Bini lo nggak ditaksir cowok lain, tapi lo pasti punya permasalahan yang lain juga dalam rumah tangga lo itu." ia menjelaskan.
Helmy kembali mengangguk-anggukan kepala.
"Iya juga sih." ujar pemuda itu.
"Kalau nggak mau ada masalah rumah tangga, ya jangan nikah." Lagi-lagi Rio nyeletuk dan keduanya kini sama-sama tertawa.
"Lapuk dong bos."
"Iya kan katanya nggak mau ada masalah rumah tangga." tukas Rio lagi.
"Iya sih, hehe."
Helmy nyengir, Rio menaikkan kecepatan mobil.
"Tapi berat loh itu saingannya Arka." ujar Helmy.
"Ya berat, tapi kan sesuai sama si Arka. Kalau saingannya receh, Arka bakalan merasa jumawa dan santai ngurusin rumah tangganya. Kalau saingannya berat, dia pasti sebisa mungkin bakalan memberi yang terbaik. Dia bakal menjaga rumah tangganya dengan sepenuh hati juga."
Untuk kesekian kalinya Helmy mengangguk-anggukan kepala. Sementara kini mobil mereka telah merayap cukup jauh.