
Gareth mengingat pertemuannya tadi dengan Amanda sambil senyum-senyum sendiri di kamar. Ia merasa senang bisa menemani perempuan itu berbelanja.
Meski Amanda mengingatnya sebagai hal yang biasa saja. Sebab tak hanya dengan Gareth, ia juga pernah berbelanja dengan Satya atau Deni. Dua orang karyawannya di kantor.
Kemudian ia juga pernah berbelanja dengan kedua mahasiswanya Dito dan juga Fahri. Bahkan bersama Rio cukup sering. Dan itu tak menjadikan ia terbawa perasaan.
Namun bagi Gareth ini merupakan sebuah anugerah. Sebab ia tak sedang mencari Amanda dengan sengaja.
Tetapi alam mempertemukannya dengan wanita itu. Meski harus agak sedikit terganggu dengan kedua anaknya.
Si kembar sendiri sejatinya tak ada masalah. Namun mereka tak begitu ramah kepada Gareth. Tak seperti sikap mereka kepada orang lain selama ini. Tadi mereka lebih banyak diam dan terus memperhatikan pria itu.
***
Sementara di lain pihak, Min Ji teringat pada perlakuan Nino yang tanpa aba-aba memeluk dirinya dengan erat. Sampai saat ia pulang ke rumah, Nino tak memberitahu perihal Nadine. Ia membiarkan saja Min Ji dengan segala persepsinya tentang pria itu.
Min Ji menduga Nino menyukai dirinya, sedang Nadine mengira jika Nino kini telah benar-benar memiliki pengganti. Sebab telah dua kali ia melihat Nino dan gadis Korea itu di tempat umum.
Hati Nadine benar-benar sakit, ia bahkan tak ingat dan tak sadar pernah melakukan hal yang sama terhadap Nino. Saat ia memutuskan untuk berselingkuh.
Nino pun sama sakitnya kala itu, tetapi ia diam dan memilih untuk tidak menjadikanya sebagai masalah yang besar. Ia bahkan tak banyak protes ketika akhirnya Nadine menjauh serta menghindari dirinya, tanpa penjelasan.
Kini Nadine merasakan apa yang Nino rasakan. Walau sejatinya Nino tak cukup tega untuk melakukan hal tersebut. Mengingat ia sangat sulit untuk berbuat jahat kepada seorang perempuan.
***
"Tok, tok, tok."
Seseorang mengetuk pintu apartemen Maureen. Disaat Jordan tengah pergi membeli ASI booster untuknya di sebuah swalayan. Maureen membuka pintu tersebut, dan ternyata salah satu petugas keamanan.
"Iya pak, ada apa?" tanya Maureen.
"Ini bu, ada surat untuk ibu." ujar pihak keamanan tersebut sambil menyerahkan surat yang dimaksud. Maka Maureen pun menerimanya.
"Terima kasih, pak." ujarnya kemudian.
"Sama-sama, bu."
Pihak keamanan tersebut berlalu. Maureen kembali ke dalam dan melihat bagian belakang surat. Ternyata itu adalah surat dari lab dan merupakan hasil tes DNA milik Joana.
Dengan penuh harap-harap cemas pun, Maureen membuka hasilnya. Dan ternyata benar Joana adalah anak Jordan. Maureen lega dengan air mata yang jatuh berurai. Setelah ini dan seterusnya ia tak perlu membesarkan Joana dengan beban.
Ia bisa menjadi ibu dengan hati yang bahagia dan tak perlu was-was lagi. Joana memang benar darah daging Jordan.
"Maureen kamu kenapa?"
Jordan yang baru tiba melihat Maureen terduduk sambil menangis. Ia pikir telah terjadi hal yang serius disana. Maureen diam, dan belum sadar akan kedatangan suaminya itu.
"Maureen?"
Jordan menyadarkan lamunan Maureen. Segera saja wanita itu menghapus air mata dan tersenyum pada Jordan.
"Kamu kenapa?" tanya Jordan lagi. Ia sudah sangat takut sekali, Maureen mengalami hal serius.
Maureen pun lalu menunjukkan hasil dari tes DNA yang masih ada dalam genggaman tangannya. Jordan tersenyum bahagia, sesaat kemudian keduanya saling berpelukan.
***
Elina si aktris mantan asuhan menajemen Peace Production pun, entah mengapa selalu teringat pada Arka. Saat adegan mereka di depan kamera tempo hari.
Padahal ia sudah diperingatkan oleh temannya sejak beberapa waktu lalu, untuk tidak lagi memikirkan Arka. Lantaran Arka bukan lagi seorang pria single.
Namun pertemuan kembali mereka di lokasi syuting, membuat perasaannya kembali berbunga-bunga. Dan hal tersebut masih tersisa hingga hari ini.
Elina sendiri bukan merupakan seorang aktris baru dalam dunia entertainment. Ia juga sudah banyak berakting dengan aktor lain, sebagian besar mereka beradegan mesra.
Tapi entah mengapa dengan Arka kemarin, itu menjadi sangat berkesan baginya dan terus saja terngiang dalam ingatan.
Tak ada hal istimewa dalam adegan tersebut. Semua aktor dan aktris hampir pernah melakukannya di depan sutradara. Hanya saja rasanya yang agak lain.
Seperti hati Elina yang paling dalam telah berhasil di sentuh. Meski Elina tau ini semua akan menimbulkan masalah besar, bila ditanggapi dengan lebih serius lagi.
"El, gue udah berapa kali bilang ya sama lo. Dari yang tempo hari loh."
Sahabat Elina kembali berujar. Ketika perempuan itu akhirnya tak tahan dan kembali curhat melalui sambungan telpon.
"Emang kenapa sih, kalau gue jatuh cinta sama dia?. Cinta itu kan nggak pernah salah." Elina membela diri.
"Iya, cintanya emang nggak pernah salah. Tapi posisi lo dan Arka yang salah. Dia itu suami orang, El. Lo ngeyel banget ya di bilangin. Kayak nggak ngerti-ngerti tau nggak."
"Koq lo jadi marah-marah gini sih?. Gue itu cuma pengen cerita, bukan pengen dengerin lo marah."
Teman Elina menarik nafas agak dalam.
"Gue cuma mengingatkan, supaya lo hati-hati. Sebab nggak ada untungnya mencintai suami orang. Ujungnya bakalan ada keributan dan apatis ada hati yang tersakiti." ujarnya lagi.
***
Di Sebuah apartemen.
Liana membuka pintu untuk mengambil paket. Beberapa saat yang lalu sekuriti ada mengirim pesan padanya melalui WhatsApp. Ia mengatakan jika banyak paket untuk Liana dan ia berniat mengantarnya ke atas.
Liana yang saat itu tengah berada di kamar mandi tersebut pun mengatakan, agar sekuriti meletakkannya di muka pintu. Kini ia membuka pintu tersebut untuk mengambil semuanya. Namun ternyata paketnya ada banyak sekali.
Tentu saja Liana kaget, sebab ia tak memesan barang belanjaan sebanyak itu di online marketplace. Ia hanya membeli beberapa saja dan itu belum sampai semuanya.
"Dari ayank : Rio Salim Paling Ganteng Sejagat Sosmed."
Begitulah nama yang tertera di salah satu paket tersebut. Dan untuk paket-paket lainnya juga sama. Liana yang sejatinya pendiam itu pun tak kuasa menahan tawa.
Ia lalu membawa paket-paket tersebut ke dalam. Usai mengunci pintu, segera ia mengambil gunting dan tak lama kemudian ia mulai membuka paket tersebut.
Paket pertama berisi iPad pro terbaru. Di dalamnya juga terdapat sebuah note. Kemudian Liana membaca isi note tersebut.
"Li, kata kamu kan pengen iPad pro terbaru, supaya bisa memudahkan kamu dalam menggambar dan bikin desain grafis. Semoga kamu suka ya Li."
Liana tersenyum menatap barang tersebut. Meski Rio bukanlah sosok yang romantis dan cenderung lebih suka tidur diwaktu senggang ketimbang chat ataupun telponan dengan dirinya.
Tetapi Rio merupakan sosok yang selalu mengingat hal-hal yang dikatakan oleh Liana. Sekecil dan sebesar apapun itu. Bahkan kadang Liana sudah melupakan hal tersebut, tapi Rio masih mengingatnya.
Liana meletakkan iPad itu di meja lalu mulai membuka paket-paket lainnya. Isinya sangat beragam, mulai dari yang penting sampai yang paling tidak penting sama sekali. Seperti mainan miniatur masak-masakan.
Rio bilang dalam catatannya di paket tersebut. Bahwa ia membelinya karena lucu dan tak ada alasan lain. Tentu saja Liana makin terbahak-bahak karenanya.