Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Anak Cucu


Sesuai apa yang telah dijanjikan oleh Nino dan juga Amanda. Pada keesokan harinya Amman dipertemukan dengan Amara.


Pria tua itu menangis, sebab ia sudah lama menahan kerinduan terhadap anak bungsunya itu.


Ia menganggap Amara sebagai anak yang paling tak beruntung di dunia. Sebab ia terlahir dari seorang ibu yang dihamili pria tua. Dan lagi pria tua itu sekarang harus mendekam di penjara.


Amara terus memperhatikan Amman, saat berada dalam gendongan pria itu. Sesekali ia mengeluarkan suara, seakan berbicara. Meski semua orang dewasa didekatnya tak mengerti.


"Hoaaaaa." Begitulah suaranya terdengar.


"Iya sayang."


Amman berujar pada anak itu seraya sesekali menyeka air matanya.


"Amara kangen sama papa?"


Vera berkata pada sang anak, dan anak itu kembali berujar.


"Hoaaaaa."


"Dia cantik." ujar Amman kemudian.


"Iya, mirip sama Amanda." Vera menimpali.


Amman terus berbicara pada anaknya itu. Hingga ketika ia telah cukup puas, Amanda datang membawa kedua anak serta keponakannya bersama Nino.


Amman begitu senang. Ia memeluk Rasya dan Rania secara bergantian. Namun karena kedua anak itu sudah cukup besar, mereka agak canggung terhadap Amman.


Hal tersebut juga lantaran selama ini mereka tidak tau jika Amman adalah kakek mereka dan mereka tidak pernah dekat. Sedang si kembar kini terlihat memperhatikan secara seksama.


"Mpa?" tanya Azka seraya memegang kepala dan rambut Amman yang memutih.


"Dia bilang apa?" tanya Amman pada Amanda dan juga Nino.


"Dia kira papa itu, daddy." jawab Nino.


Amman tertawa lalu mencium pipi cucunya tersebut. Sedang Afka memilih di gendong oleh Nino sebab ia takut pada Amman.


"Mpa?" tanya Afka pada Nino.


"Iya, ini juga grandpa." ucap Nino.


Afka memperhatikan Amman.


"Dadak." ujarnya seraya menggelengkan kepala.


"Ini grandpa, nak." tukas Amanda.


"Utan." Afka masih menggelengkan kepala.


"Liat tuh rambutnya sama ada putihnya." ucap Nino.


Afka dan Azka memerhatikan rambut Amman.


"Mpa." tukas Afka. Namun kemudian ia diam sejenak dan kembali bicara.


"Dadak."


Mereka semua tertawa.


Amman tak henti-hentinya memeluk anak, dan para cucunya tersebut. Ia terlihat begitu bahagia hari itu.


"Kalau gini, papa pengen sakit terus aja." ujar Amman.


"Biar bisa sama kalian terus." lanjutnya lagi.


Amanda dan Nino saling menatap satu sama lain. Antara berbahagia untuk Amman sekaligus miris mendengar pernyataan dari pria tersebut.


***


"Gue udah mantap, Tan. Gue pengen temui Nino dan minta maaf langsung sama orangnya."


Nadine berujar pada Intan ketika akhirnya mereka kembali bertemu dan minum kopi di sebuah kafe.


"Nah gitu dong, jangan biarkan terlalu lama berlarut-larut." tukas Intan.


"Selagi masih bisa diperbaiki, ya perbaiki." lanjutnya lagi.


Nadine mengangguk, lalu ia menyeruput minumannya dan mengingat soal gadis yang sering ia lihat bersama Nino akhir-akhir ini.


"Dia tuh ada cewek tapi, Tan." ujarnya kemudian.


"Siapa?. Si Min Ji, Min Ji itu?" tanya Intan.


"Oh, jadi namanya Min Ji?" Nadine balik bertanya.


"Iya, yang orang Korea itu kan?" tanya Intan lagi.


"Kayaknya iya." ucap Nadine.


"Itu bukan pacar Nino kali. Cuma anak temen daddy yang lagi dikenalkan sama dia." tukas Intan.


"Oh?"


Nadine merasa ada secercah harapan. Sebab ia sudah mengira jika Min Ji itu merupakan kekasih baru Nino. Sementara Intan sendiri tak tau jika Nino sedang memanfaatkan Min Ji untuk menjauhi Nadine.


Sebab berdasarkan apa yang sering Ansel katakan, Intan hanya mengetahui jika Nino masih menyimpan perasaan terhadap Nadine.


Untuk itulah ia pikir, tindakan Nadine yang akan segera meminta maaf ini merupakan tindakan yang tepat. Untuk mengembalikan lagi hubungan mereka yang telah pecah.


"Gue pikir itu ceweknya dia." ucap Nadine lagi.


"Nino tuh masih sayang sama lo." lanjut perempuan itu.


***


Kembali ke rumah sakit.


"Coba aja kamu ajak mama kamu ngomong baik-baik."


Amanda berujar pada Nino, ketika sesi kunjungan telah usai. Meski sedih harus berpisah dari anak bungsu dan juga para cucunya. Namun Amman sudah cukup puas hari ini.


"Orangnya batu gitu, aku harus ngomong dengan cara apa lagi coba?" tanya Nino.


Amanda kini tampak menghela nafas cukup panjang. Sepanjang mengenal Citra, ia kini paham betapa keras kepalanya wanita itu. Sama seperti Nino yang kadang tak bisa berpindah dari satu prinsip ke prinsip lainnya.


"Di coba lagi aja, Nin. Dia kan mau banget tuh bisa baikan sama kamu. Coba kamu melakukan pendekatan dari arah sana. Siapa tau hatinya melunak." ucap Amanda.


Kali ini Nino yang menghela nafas panjang.


"Iya deh." ujarnya kemudian.


"Hoaya."


Tiba-tiba terdengar suara si kembar dari suatu arah. Mereka terlihat sedang memakan kue, dan digendong oleh pengasuh.


"Eh, beli kue dimana kalian?" tanya Amanda pada kedua anaknya itu.


"Nana." ujar Azka menunjuk ke suatu arah.


"Disana." timpal pengasuhnya sambil tertawa.


"Nino nggak dikasih?" tanya Nino pada mereka.


Afka mengeluarkan kue dari mulutnya lalu memberikan pada Nino.


Nino tertawa lalu kembali menyiapkan kue tersebut ke mulut keponakannya.


"Pulang yuk!" ajak Amanda kemudian.


"Rasya sama Rania mana?" Nino bertanya pada pengasuh si kembar.


"Udah diantar pulang tadi sama pak Darwis." ucap mereka.


"Oh ya udah kalau gitu, kita pulang ya." Kali ini Nino yang mengajak.


"Ya udah yuk!" Amanda bersiap.


Mereka semua kini masuk ke dalam mobil. Tak lama Nino mulai menghidupkan mesin dan mereka pun tancap gas.


***


Nun jauh disana, Arka dan Rio tampak tengah berkelahi di depan kamera. Kali ini durasinya lebih panjang.


Meski keringat sudah membanjir di sekujur tubuh. Namun sang sutradara belum juga berniat memotong adegan.


Keduanya terus saja berakting, namun pukulan yang mereka lakukan benar-benar memakai tenaga. Hingga pada suatu titik, tanpa sengaja Arka menjatuhkan Rio.


"Buuuk."


Sutradara dan yang lainnya terkejut, sebab itu tidak ada dalam koreografi yang diajarkan.


"Cut."


Sutradara pun menyudahi semuanya. kemudian Arka tampak membangunkan Rio. 


"Sorry, bro." ujarnya kemudian.


"It's ok." ucap Rio.


"Sip, keren part terakhirnya." teriak sang sutradara.


Arka dan Rio kini beristirahat. Mereka pergi ke belakang set dan mencari air dingin.


"Ka, ntar kan kita ada libur nih selama beberapa hari. Kita ngonten yuk, review makanan." ajak Rio.


"Boleh." jawab Arka seraya mereguk air putih dingin yang ia ambil dari dalam lemari es.


"Ntar gue suruh kru gue kesini deh." ucap Rio lagi.


"Gaes makan."


Salah satu koordinator lapangan berbicara kepada para cast.


"Mau makan sekarang nggak?" tanya Rio.


"Mau." jawab Arka.


"Tapi gue mager kesana." lanjutnya lagi.


"Ya udah gue ambilin." ucap Rio.


Tak lama pemuda itu pun bergerak, lalu mengambil nasi kotak yang disediakan di sebuah tempat. Kemudian ia membawa nasi kotak itu kepada Arka.


"Lo mau yang ayam goreng apa bakar, Ka?" tanya Rio.


"Gue mau yang goreng." jawab Arka.


Maka Rio pun menyerahkan satu kotak dengan ayam goreng didalamnya kepada Arka. Sesaat kemudian mereka sudah terlihat makan bersama.