
Nino terus terpikir akan Amman. Meski wajahnya tak menunjukkan jika ia demikian. Namun yang lebih membuatnya merasa tertekan lagi adalah, Nadine terus mengirim pesan berisi ungkapan penyesalan.
Nino tak mudah mencintai seseorang. Setelah Amanda, agak sulit baginya untuk menerima kehadiran wanita baru. Namun dengan Nadine ia jatuh hati, meski akhirnya di kecewakan.
Tak mudah baginya untuk berpindah. Sebab cinta bukan sesuatu yang bisa ia lakukan secara cepat. Ia butuh proses untuk bisa mengubah pola-nya menjadi yang baru.
Ia benar-benar terganggu dengan pesan-pesan yang dikirim tersebut. Rasa ingin membalas dan memaki, namun ia sadar berapa usianya kini. Meski kemarahan harusnya tak mengenal usia.
Namun Nino malu jika ia harus mengeluarkan kata-kata kasar. Terlebih ia merupakan seorang yang terpelajar. Lagipula perasaannya terhadap gadis itu belum hilang.
"Nono."
Tiba-tiba salah satu dari si kembar muncul dihadapannya. Nino yang kaget kemudian mengecek gelang nama yang ada di pergelangan tangan mungil anak itu. Ternyata itu adalah Azka.
Seperti yang pernah Arka katakan pada rekan sesama artis di lokasi syuting. Bahwasannya semakin besar, wajah si kembar semakin menyatu antara perpaduan ayah dan ibunya. Sehingga sulit untuk di kenali mana Azka dan mana Afka. Mereka kini telah menjadi kembar yang semakin identik.
"Oh ya, kamu koq bisa naik kesini?. Bukannya tadi dibawah?"
Nino lalu menggendong Azka. Ia keluar dari kamar dan melihat Afka berada tepat di bibir tangga. Segera saja ia berlari dan langsung menangkap anak itu.
Ia menilik ke bawah. Dan pembatas tangga ternyata terbuka, dengan Ansel yang tertidur di sofa dekat sana.
"Astaga."
Nino turun ke bawah dengan membawa keduanya.
"Ansel." ujarnya memanggil.
"Hmmm."
Ansel menggaruk kepala karena mendengar suara Nino, namun ia masih terlelap.
"Ansel ini mereka naik ke atas." ujar Nino lagi.
Namun saudaranya tersebut belum juga bangun.
"Ansel."
Suara Nino terdengar lebih besar dari sebelumnya, hingga menyebabkan Ansel benar-benar terbangun kali ini.
"Hah?. Ada apa?" tanya Ansel dengan ekspresi wajah kaget namun bengong. Agaknya nyawa pria itu belum kembali setengahnya.
"Ini anak dua naik ke atas." ujar Nino.
"Hah?. Serius?"
Ansel menatap Nino, lalu beralih melihat ke pembatas tangga yang terbuka.
"Lo gimana sih, teledor banget. Ini Afka tadi di bibir tangga loh, kalau jatuh kepala duluan gimana?"
Ansel menarik nafas dan menutup kedua matanya dengan tangan. Ia masih kaget sekaligus syok saat ini. Sementara si kembar cengar-cengir dari tadi.
"Kalian jangan lagi naik ke atas kayak tadi ya." ujar Nino pada keduanya.
"Eheeee."
"Jangan ehe-ehe, nggak boleh. Kalau ada Nono sama Wew boleh, tapi kalau sendiri nggak boleh."
"Eheeee."
"Ngerti nggak?"
Kedua anak itu mengangguk. Nino lalu menurunkan mereka, sedang Ansel menutup pintu pembatas dan menguncinya. Ia benar-benar lupa dan keburu tertidur, akibat empuknya sofa yang ia duduki.
***
Kondisi Amman belum juga membaik, tetapi pria itu sudah bisa diajak bicara cukup banyak. Meski suaranya masih terdengar lemah. Vera sendiri masih ada di sana untuk merawatnya.
"Amara di rumah sama siapa?" tanya nya pada wanita itu.
Vera tersenyum tipis dan menggenggam tangan Amman.
"Amara ada sama pengasuh." ujarnya kemudian.
"Oh." Amman tersenyum.
"Kamu udah kangen banget ya?" tanya Vera pada pria itu
"Semalaman aku kepikiran. Takut nggak punya waktu lebih banyak." lanjutnya kemudian.
"Jangan ngomong seperti itu, harus semangat. Amara masih butuh papanya." tukas Vera.
"Dia sudah bisa apa sekarang?" Lagi-lagi Amman bertanya.
Vera kemudian menunjukkan rekaman Amara yang tengah makan sambil tersenyum-senyum ke kamera. Air mata Amman menetes tanpa sadar.
"Aku pengen peluk dia."
"Iya, nanti aku coba bicarakan dengan Amanda dan Nino. Supaya mereka bisa meminta kepada pihak rumah sakit. Mengenai boleh atau nggak nya Amara dibawa kesini."
Amman mengangguk, dia berharap hal tersebut bisa terjadi.
"Amanda dan Nino mana?" tanya nya kemudian.
"Sekarang mereka masih kerja. Mungkin. Mungkin sore nanti mereka kesini. Tadi mereka ada sempat nelpon aku dan menanyakan kondisi kamu.
Lagi-lagi Amman mengangguk. Ia berharap sore hari akan cepat tiba. Dan ia segera berkumpul dengan dua anaknya tersebut.
***
"Gaes, pak Jeremy udah bisa diajak bicara sekarang. Keadaannya juga udah jauh lebih baik dari kemaren."
Mbak Arni memberi kabar di grup manajemen, tepat ketika Arka dan Rio baru saja break syuting.
"Syukur deh mbak kalau gitu, kita seneng dengernya. Maaf kalau belum bisa kesana lagi." balas Arka.
Rio pun tampak membalas pula.
"GWS dan semangat buat pak Jer." ucap pemuda itu.
Seketika grup pun penuh oleh chat dari sesama anggota management.
"Mau cerai katanya."
Mbak Arni mengirim WhatsApp secara personal pada Rio, kemudian Rio menunjukan pesan tersebut pada Arka. Arka memperhatikan dan membaca. Tak lama muncul lagi pesan yang satunya lagi.
"Pak Jer juga mau anaknya sama dia. Kayaknya ini bakalan panjang deh." lanjut mbak Arni.
Arka dan Rio sama-sama membaca pesan tersebut.
"Gue kalau cerai karena di selingkuhi juga, anak-anak gue ambil." ucap Arka.
"Gue nggak akan biarin anak-anak gue manggil bapak ke selingkuhan emaknya." lanjut pria itu lagi.
Rio diam, dalam hatinya ia berkata demikian. Jika hal yang dialami pak Jeremy, ia alami sendiri dalam hidup. Mungkin ia akan melakukan hal yang lebih besar lagi.
Tak hanya mengambil anak, tapi juga ia akan melarang anaknya untuk bertemu dengan sang ibu. Meski hal tersebut sejatinya tak boleh dilakukan.
***
"Ya lo minta maaf aja coba."
Intan memberi saran pada Nadine yang kembali curhat padanya di telpon mengenai Nino.
"Udah, tapi nggak di respon. Cuma di read doan." ujar Nadine.
"Dia marah banget sama gue." lanjut gadis itu kemudian.
"Ya iyalah marah. Siapapun akan marah Nad, kalau di selingkuhin. Jangankan dia, kita yang cewek aja mencak-mencak kalau mengalami hal serupa." ujar Intan lagi.
"Gue bener-bener udah sadar, Tan. Atas semua kesalahan yang gue buat." Lagi-lagi Nadine berujar.
"Iya gue ngerti. Tapi kalau Nino marah banget sama lo dan nggak menanggapi permintaan maaf lo, gue juga ngerti banget keadaan dia." tukas Intan.
"Nggak gampang loh bicara atau memaafkan orang yang udah nyakitin hati kita." lanjutnya lagi.
Nadine diam, sejatinya semua yang dikatakan Intan adalah benar adanya. Namun ia tidak sabar untuk di respon. Rasanya beban rasa bersalah ini sudah sedemikian sesak di dada.
Ia ingin memperbaiki semuanya dan tak ingin lagi dihantui oleh rasa bersalah. Ia ingin berbaikan dengan Nino apapun caranya.
***