
Gareth tengah senyum-senyum sambil mengingat kebersamaannya beberapa hari ini dengan Amanda.
Sementara Amanda sendiri kini tengah membuka album pernikahannya dengan Arka, dan memandangi foto tersebut satu persatu.
"Dert."
"Dert."
Tiba-tiba Arka mengirim pesan singkat. Amanda lalu membaca isi pesan tersebut.
"Mama Firman lagi apa?"
Amanda tersenyum.
"Lagi mikirin papa kangkung." jawab Amanda.
"Good, dilarang memikirkan laki-laki lain selain Arka yang ganteng ini ya." ucap Arka lagi.
"Iya sayang, janji."
"Ingat kita udah mau punya bayi lagi loh." Goda Arka.
Amanda makin tersenyum. Ia ingat beberapa waktu lalu sempat bercanda akan hal ini juga dengan sang suami.
Saat itu Amanda masuk ke kamar dengan membawa segelas susu hangat. Tepat sesaat setelah Arka selesai mandi dan berpakaian.
"Nih minum dulu." ujarnya lalu meletakkan susu tersebut ke atas meja kecil yang ada di samping tempat tidur.
"Makasih ya, sayang."
Arka menarik Amanda ke dalam pelukannya. Tak lama sebuah ciuman pun mendarat di kening wanita itu. Amanda lalu balas mencium bibir Arka.
"Diminum susunya, Ka. Mumpung masih anget." ujarnya kemudian.
"Iya." jawab Arka.
"Apa mau yang punya anak-anak?"
Amanda bertanya seraya melirik dadanya yang penuh dan seperti hendak tumpah tersebut.
Arka pun tertawa.
"Kamu tuh, Man. Baru di hajar udah gatel lagi aja, godain orang mulu. Ntar aku hantam lagi baru tau rasa kamu." ujarnya kemudian.
Beberapa saat sebelumnya mereka memang menjalani sesi bercinta.
"Ya nggak apa-apa, kalau mau hajar lagi mah. Yang penting jangan dihamili." tukas wanita itu.
"Orang di keluarin disini semua." ujar Arka seraya menyentuh perut Amanda bagian bawah.
"Kemungkinannya ya pasti hamil, walau cuma sedikit." lanjutnya kemudian.
"Tapi kan aku pake kontrasepsi."
Amanda menjulurkan lidahnya sejenak tanda meledek sang suami. Arka pun lalu tertawa dan mencium kembali bibir wanita itu cukup lama.
"Aku mau kamu hamil lagi, biar nggak selingkuh dan nggak ninggalin aku. Biar cowok lain juga mikir kalau mau sama kamu. Karena kamu anaknya banyak." tukas Arka.
Amanda tertawa.
"Kamu takut ya Ka, aku jadi kayak istrinya pak Jeremy?"
Amanda mengeluarkan pertanyaan yang membuat Arka terkejut. Sebab sebelum itu ada kejadian istri dari pak Jeremy, sang pemimpin manajemen Peace Production yang ketahuan berselingkuh. Arka sendiri belum ada cerita mengenai hal tersebut pada Amanda.
"Kamu tau dari mana?" tanya nya kemudian.
"Siapa lagi kalau bukan admin lambe turah." celetuk Amanda.
"Rio?" tanya Arka memastikan.
"Lah iya." jawab Amanda lagi.
Kali ini Arka menarik nafas dalam-dalam.
"Aku takut, man." ujarnya kemudian.
"Sebab di sekitar kamu banyak laki-laki yang lebih dari aku." lanjut pria itu.
"Pak Jeremy yang setajir itu aja bisa di selingkuhin, apalagi yang hanya remahan rengginang kayak aku." tambahnya
"Di sekitar kamu juga banyak cewek yang lebih dari aku koq, Ka. Terutama yang lebih muda soal usia." ujar Amanda.
"Mereka mungkin lebih menggoda, lebih menggigit kalau diajak begituan." tukasnya lagi.
Arka kini menatap Amanda. Sementara Amanda terus melanjutkan kata-kata.
Amanda balas menatap sang suami.
"Aku masih disini untuk kamu. Selagi kamu nggak selingkuh dari aku, aku nggak akan melakukan hal serupa." ucapnya lagi.
"Aku masih inget gimana sakitnya kita di awal-awal pernikahan. Kamu cuma mikirin uang, aku mikirin gimana caranya cepat hamil dan punya anak. Sampai kemudian kamu jatuh cinta duluan sama aku dan aku belum menyadari hal itu."
Arka menggenggam tangan sang istri sambil terus menatap matanya.
"Inget kan saat itu ujian rumah tangga kita adalah Nino. Aku cinta banget sama Nino, tapi aku masih bisa menahan diri. Begitu juga dengan saat kita pisah ranjang kemaren, aku nggak ada kepikiran untuk selingkuh."
"Aku nggak mau keluargaku hancur, kasihan Azka sama Afka. Hidup sebagai anak broken home itu nggak enak, Ka. Walau kedua orang tuaku nggak cerai, tapi rumah tangga mereka porak-poranda dan aku adalah korbannya."
"Maafin aku, Man. Aku tau mungkin aku berlebihan. Tapi aku beneran takut kehilangan kamu dan anak-anak sekarang. Kemaren-kemaren saat kita pisah ranjang, aku biasa aja. Sejak kejadian pak Jeremy ini aku beneran takut. Aku sayang kalian, soalnya." ucap Arka.
Amanda lalu tersenyum, Arka kemudian membelai kepala dan wajah istrinya itu dengan lembut.
"Buuuk."
Sebuah benda mengenai tangan Arka dan Amanda yang tengah saling menggenggam tersebut. Mereka kaget sebab yang dilempar itu merupakan mainan anak-anak.
"Azka?" Mereka sama-sama kaget melihat kemunculan Azka di tempat tersebut.
"Hoayaa."
Amanda lalu ingat jika kedua anaknya ia biarkan berkeliaran, dan tidak tengah berada di dalam box.
"Udah bisa nimpuk kamu ya."
Arka berujar sambil beranjak dan hendak menangkap Azka. Namun anak itu malah merayap dengan secepat kilat.
"Eheeee."
"Nggak usah ehe, ehe. Sini kamu!"
Arka mengejar Azka sambil tertawa. Melihat kembarannya di kejar, Afka yang tengah duduk di ruang tengah pun ikut merayap dengan cepat. Sepertinya ia juga minta dikejar oleh sang ayah.
"Eheeee."
Mereka berhenti di muka ruangan lain sambil menoleh pada Arka. Sedang Arka beralih ke dapur untuk membuat segelas kopi.
"Wuuu, nggak dikejar papa lagi ya?"
Amanda meledek Azka dan juga Afka. Kedua anak itu memperhatikan Amanda, namun kemudian mereka kembali bermain.
"Eheeee."
"Eh dek, bentar lagi papa bakal sibuk reading dan syuting loh. Bakalan jarang sama kalian di rumah. Nggak mau sayang-sayang dulu sama papa?" Amanda bertanya pada kedua anak itu.
"Hoayaa."
Mereka tampak tak peduli.
"Liat aja nanti papanya pergi, baru pada kangen." ujar Amanda lagi.
***
"Lo tenang aja, Ka. Ada gue ini sama Ansel."
Nino berujar pada Arka di telpon. Saat itu malam telah sangat larut dan Amanda beserta si kembar sudah tidur. Arka masih resah dan pikirannya kemana-mana. Akibat kejadian pak Jeremy yang membuat heboh seisi kantor management.
Maklum, ia pun masih muda. Hati dan pikirannya masih gampang terusik, bahkan oleh kejadian yang belum terjadi sekalipun.
Ia juga tak punya teman curhat kecuali Rio. saat ini Rio pasti sudah berada di alam game online, ataupun sudah tidur. Maka dari itu ia menelpon Nino.
"Pokoknya titip Amanda dan anak-anak, selama gue masih menjalani syuting. Sebab mungkin gue akan jarang pulang sampai semuanya selesai." ujarnya kemudian.
"Beres, tenang aja." ucap Nino meyakinkan.
"Gue yakin sama Amanda koq, dia nggak akan macem-macem. Orang dia sayang banget sama makhluk kayak lo." seloroh Nino.
Arka tertawa.
"Makhluk, kayak gue apaan aja." ucap pria itu.
Nino pun ikut tertawa.
"Makhluk berondong aneh yang suka sama mbak-mbak. Dan si mbak-mbaknya juga aneh, suka sama bocah." selorohnya kemudian.
"Bangsat." ucap Arka makin tertawa.
Keduanya lalu lanjut berbincang hingga beberapa saat ke depan.