
"Hap."
Azka melahap biskuit bayi yang ada di tangannya. Seperti agak terburu-buru untuk menggigit semua bagian. Sementara Afka memperhatikan biskuit yang dimakan oleh saudara kembarnya itu.
Amanda masih berbincang dengan Nindya, namun kemudian ia menangkap keanehan pada kedua anaknya.
"Man, gue ngurus kerjaan dulu ya. Ntar besok atau lusa atau kapan ada waktu, gue telpon lo lagi."
"Ok sip Nind, have a nice day ya."
"Hae a nice day too. Bye Man."
"Bye Nind."
Nindya menyudahi panggilannya. Amanda kini berjongkok untuk memperhatikan sang anak. Tampak Azka sedikit meletakkan ujung biskuitnya ke lantai. Tak lama seekor semut naik ke biskuit tersebut.
Amanda mengerutkan kening dan memperhatikan pola tingkah sang anak. Sejatinya ia sudah hendak melarang sambil mencak-mencak, saat melihat sang anak meletakkan biskuitnya tadi.
Sebab meletakkan makanan di lantai bisa saja mengundang bakteri jahat, yang akan membahayakan kesehatan.
Namun karena ingin tau anaknya melakukan hal apa. Maka Amanda pun memperhatikan dulu secara seksama.
Azka mengamati semut yang berjalan di atas biskuit tersebut, lalu kini ia berusaha memakannya.
"Oh jadi ini perbuatan kamu. Pantes anteng ya, trenggiling."
Amanda menyingkirkan semut tersebut, hingga kembali jatuh ke lantai.
Si kembar memperhatikan hewan itu dan mengejarnya sambil merayap. Sedang biskuit yang mereka pegang kini mereka biarkan begitu saja di lantai.
"Itu semut, dek." ujar Amanda mengajari.
"Mut."
"Iya nggak boleh di makan, kan kamu bukan trenggiling."
"Wing?"
"Iya, bukan trenggiling. Kita manusia, nggak makan semut."
"Mut."
"Iya, lagian rasanya nggak enak." ujar Amanda kemudian.
Kedua anak itu masih terus mengamati, bahkan kini mereka tengkurap di lantai. Saat si semut menghilang di sela-sela dinding, mereka tampak kecewa.
Namun akhirnya Afka berhasil menemukan semut lain dan itu kembali menarik perhatian mereka.
***
Arka menelpon Amanda di sela-sela break syuting.
"Hai, Ka."
"Hallo sayang." ucap Arka pada Amanda.
"Hallo juga, gimana syuting perdananya hari ini?" tanya Amanda pada suaminya itu.
"Baik, ini lagi break. Nanti mau ada beberapa take adegan lagi." ucap Arka.
"Yang semangat ya papa." ucap Amanda kemudian.
"Iya sayang, makasih ya."
"Sama-sama."
"Oh ya, anak-anak mana?. Pada nangis nggak?" tanya Arka.
"Tadi iya, tapi sekarang udah nggak lagi. Karena mereka lagi ada kebiasaan baru." jawab Amanda.
"Apa tuh?" tanya Arka penasaran.
"Mengamati semut." jawab Amanda.
"Mengamati semut?"
"Iya, tadi nemu semut sebiji. Terus diliatin sampe tengkurep-tengkurep. Dan mau dimakan sama Azka, si Afka ngeliatin."
"Hahahaha." Arka tertawa.
"Terus gimana?" tanya nya lagi.
"Ya aku larang. Aku bilang kalau kita ini manusia, bukan trenggiling."
Lagi-lagi Arka terbahak.
"Harus benar-bener diawasi itu, Man. Iya kalau semut doang. Takutnya kaki seribu, lipan nanti yang mereka makan."
"Makanya, Ka. Kayaknya mereka lagi mulai tertarik mengamati sesuatu yang bergerak deh." ujar Amanda.
"Lebih tepatnya hewan kecil yang bergerak kali ya. Soalnya kalau benda bergerak, mereka kan punya mobil-mobilan yang bisa jalan kemana-mana. Ada juga kaktus dancing dan lain-lain. Tapi mereka biasa aja kan ngeliatnya."
"Iya sih, mungkin baru ngeliat semut kali ini dalam hidupnya." tukas Amanda lagi.
Mereka pun lanjut berbincang hingga beberapa saat. Setelah itu Arka pamit untuk kembali take adegan dan Amanda pun sama kembali berkutat dengan urusan anak-anak.
***
Beberapa jam setelah itu.
"Dek."
Amanda yang baru selesai membereskan kamar memanggil kedua anaknya, namun tak ada jawaban.
Biasanya ketika dipanggil seperti itu mereka akan menjawab dengan dua kata. Yakni Hoaya atau ehe.
Tetapi kali ini tidak ada sama sekali. Bahkan setelah Amanda kembali memanggil mereka berkali-kali.
"Adek, dimana kalian?"
Amanda menilik ruangan demi ruangan, namun keduanya tidak ada. Sampai kemudian ia menemukan mereka di sebuah ruang yang berada di pojok. Tepatnya dibawah sebuah meja.
"Kalian ngapain tengkurep disitu?'' tanya Amanda heran.
Kedua anak itu tak menjawab dan tetap fokus. Amanda menunduk, ternyata banyak sekali semut yang lalu lalang di tempat tersebut. Dan yang lebih membuat kaget lagi adalah, mereka meletakkan biskuit yang harusnya mereka makan disana.
Amanda lalu merekam kejadian itu dan mengirimnya pada Arka. Kebetulan Arka juga sudah pulang dari lokasi dan saat ini tengah membaca script di hotel bersama dengan Rio. Tak lama Arka pun video call.
"Dek." Arka berujar kepada kedua anaknya.
Azka dan Afka menoleh pada layar handphone yang disodorkan Amanda. Mereka melihat sejenak dan menyadari jika itu adalah Arka.
"Papapa."
"Papapa."
"Iya ini papa, kalian ngapain?" tanya Arka kemudian.
"Mut." jawab Azka.
"Kenapa semutnya?" tanya pria itu lagi.
"Mut." Afka menimpali.
"Iya mereka kenapa?"
"Mamam." jawab keduanya serentak. Arka dan Amanda agak kaget.
"Semutnya mam?" tanya Amanda.
"Mam."
"Baik banget anak-anak kamu, Ka. Sampe biskuit utuh di kasih semua."
Amanda berujar antara kesal namun lucu. Hingga membuat Arka kini menjadi tertawa.
"Di makan nggak tuh sama mereka semutnya." lagi-lagi Arka bertanya.
"Nggak tau orang aku baru disini." ujar Amanda.
Kini ia memperhatikan kedua anaknya tersebut.
"Kalian makan nggak dek, semutnya?" tanya Amanda memastikan.
"Mamam." jawab keduanya.
Amanda tak begitu khawatir. Sebab kata "Mamam" tersebut, bisa jadi semutnya yang makan. Bukan mereka yang memakan semut.
"Enak nggak semutnya?" tanya Amanda lagi. Kali ini sambil tertawa.
"Nak." jawab Azka.
Kemudian Amanda dan Arka kembali tertawa.
"Gimana caranya ya, Ka. Kalau dikasih obat semut, kasian semutnya pada mati. Kalau dibiarin, ntar takutnya ini anak dua kesini mulu. Ngeri masuk kuping semutnya." ujar Amanda.
"Iya sih, tutup aja kalau nggak pintunya. Semutnya nggak banyak banget kan?. Kalau banyak banget mau nggak mau ya harus pake obat anti semut." tukas Arka.
"Nggak sih, wajar ini mah. Cuma segaris doang."
"Ya udah tutup aja pintunya. Kalau mereka minta ngeliat, temenin aja. Ntar juga lama-lama lupa kalau pintunya sering ditutup."
"Iya sih. Besok juga mereka nginep di rumah daddy koq. Mudah-mudahan pulang dari sana jadi lupa.
"Daddy minta mereka kesana?" tanya Arka.
"Iya, udah kangen katanya."
Arka tertawa.
"Padahal baru dari ketemu beberapa hari lalu ." tukasnya kemudian.
"Namanya orang tua, pasti selalu kangen sama cucu." ucap Amanda.
"Sampe bilang, tolong ya Amanda. Daddy kangen banget sama mereka. Kan nggak enak aku kalau nggak ngasih." lanjutnya kemudian.
"Ya biarin lah, lagipula daddy nggak punya hiburan. Ansel sama Nino kadang kesana, kadang nggak. Sepi tuh dia pasti. Pamela juga belum pulang, masih di kampung." tukas Arka.
"Iya bener." ujar Amanda.
Azka dan Afka tampak berusaha menangkap semut-semut tersebut. Amanda meletakkan handphone di suatu titik, kemudian membersihkan tangan si kembar.
"Kenapa man?"
"Ini semut semua tangan mereka, Ka. Aku pindahin mereka dulu ya."
"Oke."
Arka menunggu. Amanda memindahkan kedua anaknya ke kamar mereka, lalu memberi mereka mainan mobil-mobilan serta dancing kaktus. Kemudian ia mengambil handphone yang masih tertinggal dan menutup pintu ruangan itu.
"Nangis nggak, Man?"
Arka mempertanyakan kondisi kedua anaknya pasca dijauhkan dari tempat bersemut tersebut.
"Tadi hampir, tapi aku kasih mainan." jawab Amanda.
"Syukur deh kalau gitu. Anak kecil itu ada-ada aja emang." ucap Arka kemudian. Untuk kesekian kalinya mereka kembali tertawa.
"Kamu tuh lagi apa, Ka?" Amanda kini mempertanyakan kegiatan sang suami.
"Lagi baca script sama Rio." jawab Arka.
"Tumben Rio nggak berkicau pas aku nelpon. Biasanya udah nimbrung."
"Dia ada di ruangan sebelah. Fokus banget kayaknya."
Arka melangkah ke ruangan satunya dan merekam Rio. Saat itu Rio tengah membaca dialog dan berbicara di depan sebuah kaca dengan sangat serius.
"Tuh aktor Hollywings." ujar Arka dengan suara pelan, kemudian menjauh.
Amanda kini tertawa-tawa.
"Kamu kalau latihan kayak gitu juga nggak sih, Ka?" Lagi-lagi Amanda bertanya pada sang suami.
"Seumur-umur nikah, belum pernah aku liat kamu latihan baca script di rumah." lanjut perempuan itu.
"Iya sama aja, kurang lebih." jawab Arka.
"Tapi koq kamu nggak pernah latihan di rumah?"
"Hahaha." Arka tertawa.
"Nggak ah, malu." ujarnya kemudian.
"Malu kenapa?" tanya Amanda heran.
"Ya, malu aja." ujar Arka.
"Alah, biasa juga kamu nggak punya malu." tukas Amanda.
"Hahaha." Lagi-lagi Arka tertawa.
Percakapan itu pun berlanjut, sampai kemudian Amanda menyuruh Arka untuk melanjutkan latihan. Sebab ia juga masih harus makan dan mengurus si kembar.
Belum lagi membereskan barang-barang mereka. Agar besok saat hendak pergi ke rumah Ryan, semua sudah siap dan tinggal berangkat.
"Ya udah man, baik-baik ya disana. Jangan macem-macem." ujar Arka.
"Kamu juga, disana jangan keganjenan sama sesama artis. Ntar nggak inget pulang lagi kesini." seloroh Amanda.
"Aku disini aman koq, yang godain aku paling Rio."
"Hahaha." Amanda tertawa, begitupula dengan Arka.
"Arka, ketawa lo gede banget anjay. Kedengaran sampe sini." terdengar suara Rio yang menggerutu.
"Sampe gue nggak hafal dialog ini, gue geprek lo pake sambel." lanjutnya lagi.
Arka masih tertawa-tawa meski kini tanpa suara.
"Hati-hati sama Rio, Ka. Kayaknya udah mulai psikopat tuh dia." seloroh Amanda.
"Biasalah Man, kebiasaan bangsa ini. Dia yang minjem tempat, dia yang ngegas." ujar Arka.
Keduanya kembali tertawa.
"Ya udah aku latihan lagi dulu ya."
"Iya, Ka."
"Love you, Amanda."
"Love you too, Ka."
"Muach."
"Muach."
***