
Malam itu Arka, Amanda, Nino dan Ryan mempersiapkan segala keperluan untuk melamar Intan lusa nanti. Termasuk mencoba pakaian seragam yang telah mereka pesan dari sebuah butik beberapa waktu lalu.
Mereka tidak menjahit melainkan beli jadi. Tetapi dengan warna yang senada, meski dengan model yang agak berbeda.
Sementara di kamar Ansel beristirahat sambil mengasuh si kembar. Si kembar sendiri tampak tenang menonton tayangan YouTube.
"Otak."
"Eheee."
"Otak."
Si kembar tertawa-tawa.
"Eheee."
"Eheee."
Ansel terbangun dari tidurnya, karena suara tawa kedua anak itu cukup keras.
"Otak."
"Eheee."
Ansel melihat ke layar tablet yang digunakan kedua anak itu untuk menonton.
"Koq kalian nonton close the door?" tanya Ansel heran.
Sebab tadi ia ingat betul menyuguhkan kartun Upin-Ipin kepada mereka. Tapi ternyata tayangannya telah berganti, entah karena mereka pencet atau memang otomatis.
"Eheee."
"Otak." ujar Azka seraya memegang kepalanya.
Ansel mengerutkan dahi.
"Otak." Afka menimpali.
"Tau dari mana kalian arti botak?"
Lagi-lagi Ansel bertanya, kemudian ia pun tertawa. Ia lalu menggendong si kembar dan turun ke bawah.
"Arka, anak lo nih?" ujar Ansel seraya menuruni anak tangga dengan hati-hati.
"Tau dari mana sih mereka arti botak?" tanya nya kemudian.
"Kenapa emangnya?" Arka balik bertanya.
"Ngeliatin close the door terus ngomong "otak, otak. Gue pikir apaan ternyata botak." jawab Ansel.
Semua orang pun tertawa.
"Lo yang ngajarin ya, Man?"
Ansel langsung menjudge Amanda seraya masih tertawa.
"Nggak ah, nggak pernah gue. Arka nih kali." Amanda melempar tuduhan.
"Nggak pernah." jawab Arka.
"Gue juga nggak ya."
Nino mengeluarkan pernyataan sebelum dituduh.
"Mbaknya kali." Ryan mengemukakan pendapat.
"Oh iya, bisa jadi." ujar Arka.
"Otak."
"Otak."
Si kembar kembali berkata, kali ini memiliki nada seperti bernyanyi.
"Heh."
Amanda memprotes sambil menahan senyum, yang lainnya pun tak kuasa menolak kelucuan tersebut.
"Otak." ujar Azka.
"Nggak boleh ya. Nanti ada orang botak, kalian ngomong begitu. Dikira mama yang ngajarin." tukas Amanda.
"Manda." Azka berujar.
"Lah?"
Nino, Ansel, dan Ryan kaget. Sementara Arka kian terbahak. Amanda sendiri tampak sewot mukanya dihadapan kedua anak itu.
"Bu Manda." ujar Afka.
"Oh."
Amanda dan Arka mengerti. Pasalnya salah satu mbak yang suka mengasuh mereka suka memangil Amanda seperti itu.
"Manman." Afka menimpali.
"Nah kalau ini pasti nurutin Arka nih." ujar Nino.
"Emang." jawab Amanda. Sementara yang lain terus tertawa-tawa.
"Kalau ini siapa?"
Ansel menunjuk Ryan.
"Yen." jawab keduanya serentak. Sontak Amanda dan yang lainnya pun mendadak menjadi kaget, bahkan lebih dari yang sebelumnya.
"Heh, nggak boleh gitu ya." Arka menegur.
"Grandpa." Nino membenarkan.
"Mpa?"
"Iya, grandpa." tukas Amanda.
"Eheee."
"Mpa."
"Iya, grandpa.". ujar Arka lagi.
"Yen."
"Heh, nggak boleh."
Amanda memarahi mereka sambil tertawa. Ryan sendiri tersenyum menyaksikan semua itu.
***
Di lain pihak, Intan yang tengah melakukan perawatan mandiri. Kini bercerita pada Nadine yang ada di sampingnya.
Kedua perempuan itu tampak tengah berbaring di atas tempat tidur sambil maskeran.
"Gue deg-degan banget ini, gimana ya?" tanya Intan.
"Udah dibawa santai aja." jawab Nadine.
"Udah berusaha sih, tapi balik lagi mulu pikiran gue." Lagi-lagi Intan berujar.
"Lo takut apanya sih?" Nadine balik bertanya.
"Ya deg-degan aja nanti tuh gimana, mau jawab apa. Bingung aja gitu gue." jawab Intan.
"Udah, nggak usah dipikirin banget. Pikirin yang seneng-senengnya aja. Akhirnya lo mau dilamar, cowok lo serius." tukas Nadine.
"Banyak loh yang ngarep pengen dinikahi tapi belum kesampaian, contohnya gue." lanjutnya kemudian.
Intan menoleh pada mantan pacar Nino tersebut.
"Lo sama Nino belum balikan?" tanya Intan.
Nadine menggelengkan kepala.
"Belum." jawab perempuan itu.
"Tau deh." tambahnya lagi.
Intan jadi bersimpati, meski ia tau sebagian besar kesalahan ada pada diri Nadine sendiri.
"Tapi lo udah coba ajak dia ngomong baik-baik?"
Untuk yang kesekian kalinya Intan melontarkan pertanyaan.
"Udah, tapi tuh selalu nggak ada titik temu. Dia kayaknya udah nggak mau lagi sama gue." jawab Nadine.
"Lo yang sabar ya, Nad. Gue tau omongan gue ini klise. Tapi apa lagi yang bisa gue bilang selain sabar. Mungkin saat ini Nino egonya masih tinggi, karena dia merasa sakit hati juga sama lo. Tapi kan kita nggak tau besok atau lusa." ujar Intan.
Nadine menengadahkan pandangan ke langit-langit kamar.
"Iya sih, gue belum putus asa koq. Walau sikap dan omongan dia nyelekit banget di hati. Gue masih pengen berjuang." ujar perempuan itu kemudian.
"Nah gitu dong, jangan menyerah." tukas Intan.
Nadine menoleh dan Intan pun sama menatap temannya itu. Tak lama keduanya sama-sama tersenyum.
***
Malam beranjak naik, semuanya telah siap dan rampung.
"Udah, pada dimakan itu kuenya." ujar Ryan.
Ia memang menyiapkan beberapa kue basah untuk dinikmati. Mereka semua menoleh dan hendak mendekati kue serta air minum yang tersedia.
Namun kemudian mereka kaget, ketika melihat kue red Velvet serta coklat cake yang tersedia telah rusak sebagian alias compang-camping.
"Ada tikus nih." ujar Nino sambil tertawa.
Amanda dan Arka saling bersitatap sambil menarik nafas dan menahan senyum. Sementara Ansel dan Ryan sudah terkekeh sejak tadi.
"Azka, Afka, dimana kalian?" tanya Arka.
Tak ada jawaban.
"Dek."
Amanda mencoba ikut memanggil.
"Hoaya."
Terdengar sebuah suara.
"Sssttt."
Terdapat suara lainnya seperti menyuruh diam. Arka, Amanda, Nino, Ansel dan Ryan sama-sama menilik ke balik sofa. Tampak kedua bocah itu tengah memakan kue dengan mulut mereka yang dipenuhi cream. Azka memakan kue coklat sedang Afka memakan red velvet.
"Enak ya kuenya?" ujar Amanda.
Mereka tampak kaget.
"Eheee."
Keduanya lalu tertawa. Sementara yang lainnya pun kini sama. Rasanya ingin sekali mencubit pipi kedua anak itu.
Arka dan yang lainnya kemudian duduk, lalu menikmati minuman hangat dan juga cake yang tersedia. Meski compang-camping, namun mereka tetap memakan cake tersebut.
Mereka membicarakan banyak hal, termasuk menasehati Ansel perihal pernikahan. Ia diberi wejangan-wejangan yang dianggap bisa bermanfaat untuk kehidupan masa depannya kelak.
Amanda menyeruput teh hangatnya di dalam gelas. Kemudian ia hendak mengambil potongan cake coklat. Namun di dahului oleh tangan kecil dari bawah. Tak hanya dirinya saja, semua orang yang ada disitu melihat hal itu.
"Eh ada hantu." ujar Nino.
"Nggak kenyang-kenyang ya kamu."
Amanda berkata seraya merelakan cake yang hendak ia ambil tersebut. Sementara si pengambil bertangan kecil kini telah kembali ke belakang sofa.