
Esok harinya ketika bangun pagi. Arka dan Amanda kembali saling menatap satu sama lain, dan telinga mereka kembali diramaikan oleh celotehan anak-anak.
"Hoaya."
"Mama."
"Papapa."
Arka dan Amanda sama-sama tertawa. Rasanya tak ada yang lebih berharga dari pada ini semua. Ini merupakan karunia yang sepatutnya di syukuri, dan bukan malah di keluhkan.
Di luar sana mungkin ada banyak orang yang ingin menikah, tetapi belum menemukan jodohnya.
Mungkin juga ada yang bertahun-tahun menginginkan kehadiran seorang anak, tapi belum diberikan oleh sang maha pencipta.
Lalu mereka yang memiliki semua itu, termasuk juga harta yang melimpah. Apakah pantas mengeluh dan ingin menghindar.
Bosan adalah hal yang wajar dalam hal apapun. Tetapi mensyukuri yang ada di depan mata, lebih baik daripada hanya mengumpat dan berharap semuanya tidak pernah terjadi.
Semua orang pernah berada di titik, dimana ia merasa hidupnya begitu-begitu saja. Termasuk orang yang bebas sekalipun. Ia akan berada di titik dimana ia merasa hidupnya seperti tak ada kemajuan.
Bebas, merdeka, berpesta, pergi kesana sini. Ujungnya ketika kembali ke rumah, semua terasa hampa. Pesta akan selalu usai dan setiap kepergian, pasti ada saatnya ingin kembali.
Jadi lebih baik seperti ini. Lebih baik bosan bersama daripada bosan sendirian. Setidaknya itulah istilah yang kini ditanamkan oleh Arka dan Amanda di benak mereka.
Meski jujur rasa bosan itu sejatinya sudah hilang. Mereka kini benar-benar saling merindukan satu sama lain. Terutama pada anak.
"Mama."
"Papapa."
"Tutu."
"Lah langsung minta susu." ujar Amanda sambil tertawa.
"Padahal popoknya pada penuh itu pasti." tukas Arka.
"Harusnya minta ganti popok dulu ya." ujar Amanda.
"Ini nggak, mintanya Tutu." lanjutnya lagi.
"Mama."
"Papapa."
"Tutu."
"Iya, tunggu ya." ujar Arka dan Amanda secara serentak.
"Tutu."
"Iya ini lagi diambil tutu-nya." ujar Amanda.
"Papa dulu ya." ujar Arka dengan suara sangat pelan. Amanda lalu memukul lengan suaminya itu.
"Aw, sakit." Arka meringis sambil tertawa-tawa.
Mereka kemudian beranjak dan mengurus kedua anak mereka terlebih dahulu. Sama-sama memandikan, memakaikan baju dan mengganti popok baru. Lalu si kembar baru diberi sarapan berupa dua botol ASI.
"ASI kamu masih banyak, Man?" tanya Arka pada Amanda ketika kedua anak itu sudah mengenyot botol susu.
"Masih, kenapa emangnya?" tanya Amanda.
"Nggak, kayak orang kan ada tuh. Semakin bertambah usia anaknya, semakin berkurang juga produksi ASI-nya." jawab Arka.
"Tuh buktinya kulkas masih penuh sama makanan mereka doang." ujar Amanda sambil tertawa.
"Syukur deh kalau gitu." ujar Arka lagi.
"Kamu mau?" tanya Amanda kemudian.
"Apa?" Arka mendadak ambigu.
"Kopi susu." ujar Amanda lagi.
"Oh."
Arka berkata dengan ekspresi yang agak sedikit bengong.
"Kamu pikir apa?" tanya Amanda seraya tertawa.
Arka pun lalu memperlihatkan barisan giginya yang rapi.
"Kirain mau kasih yang sama dengan anak-anak, tapi dari sumbernya langsung." ujar pemuda itu.
"Ngarep." balas Amanda lalu mencium pipi Arka.
Arka pun tertawa.
"Bikin omelette dong, sayang. Boleh nggak?" tanya Arka.
"Iya nanti aku bikinin ya, nih kopi susunya."
Amanda menyerahkan kopi susu yang telah selesai ia buat.
"Kamu nggak minum?" tanya Arka.
"Pengen susu kedelai dingin." ujar Amanda lalu membuka kulkas. Ia kemudian mengambil segelas susu kedelai instan dan meminumnya.
"Pagi-pagi minum dingin kamu." tukas Arka.
Tak lama mereka pun sarapan, pergi mandi, lalu bersiap. Sambil menunggu asisten rumah tangga datang, mereka bermain dengan si kembar.
"Papa tuh masih kangen banget, nak. Tapi harus kerja." ujar Arka.
"Mama juga sama nih, berat ninggalin kalian. Kalian kangen nggak sama papa-mama?"
"Hoaya."
Keduanya menggelengkan kepala. Arka dan Amanda saling bersitatap satu sama lain. Bisa jadi Azka dan Afka sejatinya tak mengerti dengan pertanyaan yang di lontarkan ibu mereka.
Dan bisa jadi mereka memberikan reaksi penolakan, sebab itu terdengar seperti sesuatu yang tak mereka sukai. Tapi tetap saja hati Arka dan Amanda seperti terpukul.
"Mereka nggak kangen kita, Ka." rengek Amanda. Arka antara miris namun ingin tertawa.
"Nggak kangen sama papa-mama?" tanya Arka lagi.
"Ndadak." jawab mereka.
"Tuh kan, Ka. Nggak kangen sama kita." Lagi-lagi Amanda merengek.
Arka merangkul dan mencium kening istrinya. Tak lama pengasuh mereka datang.
"Mama pergi dulu ya nak."
"Papa berangkat ya."
Arka dan Amanda bergantian mencium si kembar. Tak lama mereka pun berpamitan.
***
Hari kembali normal. Amanda pergi diantar Arka, dan Arka pun bersemangat sekali di hari itu. Ia mencium kening Amanda ketika mereka harus berpisah di muka lobi.
"Nanti aku chat, Ka." ujar Amanda seraya membuka pintu mobil.
"Iya sayang."
Amanda lalu keluar, dan berjalan ke arah lobi kantor. Sedang Arka melanjutkan perjalanan.
Amanda jadi lebih bersemangat lagi hari ini. Para karyawan yang menyapanya, ia jawab dengan ramah sekali.
Arka sendiri setelah sampai, sikapnya telah berbeda dari beberapa waktu belakangan. Ia telah kembali menjadi Arka yang dulu.
"Aku udah sampai ya."
Arka mengirim chat duluan di WhatsApp. Amanda yang sejak kedatangannya langsung sibuk tersebut pun, akhirnya melihat layar handphone dan mendapati notifikasi pesan. Ia tersenyum membaca pesan tersebut, kemudian membalas.
"Maaf ya, tadi aku agak sibuk sedikit. Jadinya baru liat handphone." balas Amanda.
"Nggak apa-apa, sayang." tulis Arka.
"Kamu yang semangat ya, Ka. Semangat cari duitnya, hehe."
"Iya sama, kamu juga."
"Ya udah kerja dulu gih, aku juga mau lanjut kerja lagi." tukas Amanda.
"Bye Arka."
"Bye Amanda sayang, love you."
"Love you too."
Keduanya sama-sama meletakkan handphone ke atas meja.
***
Sore hari ketika pulang, Arka menjemput istrinya. Perjalanan pulang mereka penuh dengan cerita tentang pekerjaan masing-masing.
Jika beberapa waktu belakangan Arka dan Amanda merasa bosan dengan semua itu, tapi tidak kali ini.
Cerita mengenai kejadian masing-masing di kantor menjadi sesuatu yang membuat mereka jadi saling penasaran.
Endingnya mereka terlihat serius, atau bahkan tertawa-tawa dalam membahas hal tersebut. Dunia mereka kembali tercerahkan, setelah sempat mengalami mendung, halilintar dan badai.
"Man."
"Hmm?"
"Ntar nonton bareng yuk di rumah."
"Mau nonton apa?"
"Apa kek, film yang lagi hits." jawab Arka.
"Oke." ujar Amanda.
"Kalau nggak nanti, TV di kuasai sama anak-anak buat nonton kartun." lanjutnya lagi.
"Ya udah kita nonton kartun. Ambil jalan tengahnya aja." tukas Arka.
"Oke."
Keduanya kini sama-sama tertawa. Arka menggenggam tangan sang istri sejenak, lalu kembali memegang stir kemudi.
***