
Nino dan Amanda kembali menjenguk Amman, setelah kemarin mereka berdua absen dari penglihatan sang ayah.
"Apa kabar, pa?"
Amanda memeluk ayahnya itu. Kemudian gantian Nino yang melakukan hal serupa.
"Kalian berdua dari mana saja?. Papa tunggu kemarin nggak datang." ucap Amman pada keduanya.
Pria itu baru saja selesai di suapi makan oleh Vera.
"Mumpung papa belum di kembalikan ke penjara." tukas Amman lagi.
Amanda kini duduk disisi kanan ayahnya itu. Sementara Nino ada di ujung sisi kiri.
"Amanda kemarin sibuk banget, pa. Pulangnya aja udah malam, belum ngurus anak-anak." Amanda memberi alasan.
Pandangan mata Amman kemudian beralih pada Nino. Seakan hendak meminta penjelasan dari anak kesayangannya itu.
"Nino juga sama, pa. Ini aja baru ada waktu buat kesini lagi." ujar Nino.
Amman menghela nafas agak dalam.
"Ya sudah, yang penting kalian ada disini sekarang." ucap pria itu.
"Papa kalian tuh pengen banget ketemu cucu-cucu dan juga Amara. Dia pengen ketemu anak kamu, anaknya Rani juga." Vera menyampaikan apa yang menjadi keinginan sang suami.
"Makanya dia nungguin kalian, buat mengurus itu semua." lanjut wanita itu.
Amanda dan Nino saling bersitatap. Mereka mengerti apa yang harusnya mereka lakukan.
"Apa bisa?" tanya Amman pada kedua anaknya itu.
"Kita akan usahakan." ucap Amanda.
"Kalau bisa jangan keburu papa sembuh. Nanti jadi nggak bisa ketemu mereka." ucap Amman.
Amanda mengangguk.
"Iya, nanti di usahakan." ujarnya lagi.
"Oh ya soal Rani, apa kalian ada menjenguk dia?"
Amman menanyakan perihal anaknya yang satu lagi. Dan lagi-lagi Amanda serta Nino saling bersitatap. Sebab sejauh ini mereka belum ada pergi kesana. Hanya waktu itu Amanda pernah menyampaikan video tentang Rasya dan juga Rania.
"Belum ada, pa. Tapi Amanda mengurus anak-anaknya dengan baik dan Nino juga selalu mengirimkan keperluan penting ke dalam sana. Termasuk kasih dia uang." jawab Amanda.
"Mungkin dalam waktu dekat." Nino menimpali.
Amman menghela nafas.
"Baguslah kalau begitu. Jangan sampai dia merasa terlupakan." ucap Amman.
"Iya pa." jawab Amanda kemudian.
***
"Rania kenapa diem disini sendirian?"
Mbak Ratmi, salah satu pembantu atau asisten rumah tangga yang bekerja pada Amanda bertanya pada anak itu.
Pasalnya Rania terlihat duduk termenung di dekat kolam belakang. Biasanya ia selalu ceria dan bermain-main disekitar. Atau sekedar menonton tayangan YouTube di dalam kamar.
"Mama udah lama nggak kirim video ke tante Amanda. Rania kangen deh sama mama."
Ratmi yang tengah berada di dekat pembantu lainnya itu, kini saling bersitatap dengan mereka semua.
"Nanti mbak Ratmi coba bilang sama tante Amanda ya." ujarnya kemudian.
Rania mengangguk, namun dengan wajah yang tertunduk dalam. Menandakan ada kesedihan yang ia simpan di dalam matanya dan tak ingin hal itu terlihat.
"Iya." jawab anak itu lalu beranjak.
"Rania mau kemana sekarang?" tanya mbak Ratmi.
"Mau ke kemar, mau tidur." jawab Rania.
"Ya udah, mbak Ratmi antar ya."
Rania mengangguk. Maka Ratmi pun mengantar gadis kecil itu hingga ke dalam.
***
"Nin, soal yang kata papa tadi gimana?"
Amanda bertanya pada Nino perihal apa yang menjadi keinginan Amman. Saat ini mereka berdua telah berada di jalan pulang dan berjanji jika besok mereka akan kembali.
"Aku akan usahakan sebisa mungkin. Besok aku akan menemui pihak-pihak yang terkait. Baik itu dari pihak rumah sakit maupun pihak yang berwajib. Aku akan urus izin supaya anak-anak bisa menjenguk papa." jawab Nino.
Amanda mengangguk-anggukan kepalanya.
"Kasihan papa." ujarnya kemudian.
"Iya, semoga kedepannya kita bisa membantu banyak. Kalau bisa hukumannya diringankan." tukas Nino lagi.
"Bu, Rania nanyain video mamanya."
Ratmi mengirim pesan singkat pada Amanda. Amanda kaget membaca semua itu. Ia menyadari jika sudah lama baik Rasya maupun Rania tak mendapat kabar dari sang ibu. Begitupula sebaliknya.
"Mau nggak Nin, kalau besok atau lusa temenin aku jenguk Rani?"
"Kepikiran soal omongan papa tadi ya?" Nino balik bertanya.
"Iya sih, tapi ini soal Rania. Kata mbak di rumah, Rania nanyain ibunya." ucap Amanda.
"Ya sudah kalau gitu. Besok aku bisa temenin kamu." ujar Nino.
Amanda menarik nafas, ada banyak hal yang saat ini harus ia urus. Sangat melelahkan jika dipikir. Tapi mau bagaimana lagi. Atas nama keluarga, ia tak mungkin tinggal diam. Ia harus berbuat sesuatu untuk keluarganya.
***
"Firman, aku kangen."
Arka menelpon Amanda tepat setelah Amanda tiba di rumah dan hendak pergi mandi.
"Aku juga kangen sama kamu, sayang. Kamu lagi apa?" tanya Amanda kemudian.
"Baru sampe ke apartemen." jawab Arka.
"Lah, sama dong." tukas Amanda.
Keduanya lalu tertawa.
"Tapi koq kamu di apartemen, bukannya hotel ya?" tanya Amanda heran.
"Jadwal syutingnya jadi lebih serius dan lebih lama. Mungkin pihak Production House juga nggak mau rugi banyak kalau kamu semua di hotel. Jadi sekarang dipindahkan ke apartemen. Aku sama Rio, berdua." ucap Arka.
"Oh gitu, pantesan."
"Kamu lagi apa?" tanya Arka.
"Mau mandi." jawab Amanda.
"Mau ditemenin, nggak?" tanya Arka dengan suara yang menggoda.
"Mau dong, kalau kamu nggak keberatan." ucap Amanda.
"Aku video call ya." tukas Arka.
"Oke."
Arka pun lalu mengalihkan panggilan menjadi video call.
"Hai." ujarnya sambil tersenyum.
"Hai." Amanda ikut-ikutan tersenyum.
"Kamu sendirian, Man?" tanya nya kemudian.
"Iya sendiri. Soalnya mau ajak anak-anak, mereka udah mandi. Udah pada cakep. Jadi ya udah."
"Mereka nggak ada rewel?" tanya Arka.
"Nggak ada, tapi tetap nanya papa-papa." jawab Amanda kemudian.
"Walau udah diajak ke tempat daddy kemaren?" tanya Arka lagi.
"Iya, tetap aja inget sama bapaknya. Nggak bisa teralihkan." tukas Amanda.
"Anak papa banget." Lanjutnya lagi.
Arka pun tertawa, mereka kemudian lanjut berbincang. Kadang serius, kadang juga sekedar ngalur-ngidul.
Sampai akhirnya mereka melakukan hal yang biasa di lakukan pasangan ketika berjauhan. Hal tersebut berlangsung cukup lama dan berakhir dengan sangat menyenangkan.
"Aku matiin dulu telponnya ya, Ka. Mau bersih-bersih." ujar Amanda ketika semuanya telah selesai.
"Iya, aku juga sama. Nanti aku telpon lagi, mau liat anak-anak." ujar Arka.
"Oke deh." tukas Amanda seraya tertawa.
Tak lama telpon tersebut disudahi oleh Amanda. Keduanya sama-sama mandi hingga bersih. Setelah selesai dan berpakaian, juga setelah mengeringkan rambut dengan hairdryer. Amanda mengabari Arka.
Lalu Arka pun kembali menelpon dan kini ia berinteraksi dengan si kembar.
"Hallo anak-anak papa." ujar pria itu pada keduanya.
"Papapa?"
"Papapa?"
"Iya ini papa, nak."
"Hoaya."
"Eheee."
Keduanya tampak antusias.
"Udah mampir belum kalian?"
"Papapa."
"Iya ini papa, Azka sama Afka udah makan belum?" tanya Arka sekali lagi.
"Eheee."
Keduanya sama-sama tertawa. Membuat Arka jadi turut melakukan hal yang sama.