Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Joanna


"Ssshh"


Maureen merasakan sakit di perutnya. Beberapa waktu belakangan ia sudah merasakan hal tersebut. Namun karena masih terbilang lama untuk proses kelahiran. Maka ia pun mengunjungi dokter.


Dokter bilang Maureen harus bed rest atau istirahat total. Namun sejak diperistri oleh Jordan, ia kadang terlalu semangat untuk melayani dan memberikan segala sesuatu yang terbaik untuk suaminya itu. Meskipun sejatinya Jordan tak pernah memaksa.


Akibatnya Maureen sering dilanda kelelahan. Sebab ia membersihkan rumah, berbelanja, dan memasak sendiri di rumah.


"Ssshhh."


Rasa sakit itu kembali menyerang. Ia hendak mengambil handphone, bermaksud mengirim chat pada dokter. Namun tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang pecah dan mengalir di bawah sana.


"Aaaaaaa."


Maureen pun berteriak karena panik. Tak lama kemudian Jordan pulang dari kantor dan mendengar suara teriakan istrinya itu.


***


"Kerja aja yuk Ti, di kantor mbak."


Amanda berkata pada Rianti. Ketika ia, Arka, dan si kembar kembali mengunjungi ibu dan ayah tiri Arka.


Sebab kedua orang tua itu kembali merasa rindu. Meski baru beberapa hari ini si kembar di ambil dari rumah mereka.


Amanda kemudian mendapat cerita jika Rianti dihina oleh keluarga pacarnya, lantaran keluarga pacarnya itu kaya-raya. Sedangkan Rianti adalah gadis yang berasal dari kalangan biasa.


"Iya, Ti. Daripada kamu ngabisin waktu nggak jelas." ujar Arka menimpali.


"Tapi, apa nggak apa-apa mas, mbak?. Rianti kan masih kuliah dan belum tamat." tanya gadis itu.


"Ya nggak apa-apa, kan bisa mbak tempatkan di bagian resepsionis atau yang lain. Ada banyak juga lowongan untuk tamatan SMA dan yang masih kuliah. Biar kamu terbiasa dengan dunia kerja dan bisa menghasilkan uang sendiri." jawab Amanda panjang lebar.


Rianti tampak berpikir, lalu menoleh pada kedua orang tua Arka.


"Ibu sama papa sih terserah kamu." Ibu Arka berujar pada sang keponakan.


"Mumpung kamu di kelilingi orang-orang yang mempermudah jalan." lanjutnya kemudian.


"Benar, Ti. Jaman sekarang agak susah loh cari pekerjaan." Ayah tiri Arka menimpali.


"Kalau kamu kerja, punya penghasilan sendiri. Cowok dan keluarganya nggak bisa seenak jidat nuduh kamu mau ngambil harta mereka. Kayak apa yang dituduhkan keluarga pacar kamu itu." ujar Amanda lagi.


"Kalaupun mereka tetap masih mau menuduh demikian, ya udah bodo amat. Yang penting kamu tunjukkan bahwa kamu adalah wanita mandiri. Kamu tidak tergantung dengan harta yang dimiliki oleh keluarga mereka." tambahnya.


Lagi-lagi Rianti berpikir.


"Kamu nggak perlu memutuskan sekarang." ujar Arka.


"Pikirkan dulu aja." lanjut pria itu.


"Dan kalau kamu berubah pikiran, kamu hubungi mbak." timpal Amanda.


"Iya mbak, mas." jawab Rianti kemudian.


***


Di sebuah klinik bersalin.


"Aaaaah, sakiiiit. Nggak kuat."


Maureen menjerit ketika team medis mulai menginstruksikan padanya untuk mengejan. Jordan ada disitu dan mendampinginya dengan penuh kecemasan.


Ini sudah sekitar 7 jam berlalu sejak kontraksi hebat menyerangnya di rumah. Kini pembukaan sudah lengkap dan bayi yang ia kandung siap dilahirkan.


"Tarik nafas, bu."


Salah satu perawat menginstruksikan. Maureen menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskan udaranya lewat mulut.


"Huuuh."


"Dorong!"


"Hmmmph, hmmmph."


"Tarik nafas lagi."


"Dorong!"


"Hmmmph, hmmmph, hmmmph."


"Sakiiiit."


Lagi-lagi ia berteriak, membuat hati Jordan seperti di tusuk ribuan pisau. Ini kali pertamanya ia mendampingi seorang perempuan melahirkan. Terlebih yang di kandung adalah anaknya sendiri.


Ia begitu tegang dan serasa kakinya tak berpijak lagi di tempat itu. Maureen begitu kesakitan dan kesulitan, sebab ini merupakan kelahiran pertama baginya.


"Jordan aku nggak kuat, ini sakit banget dan huh, huh, huh, hmmmph, hmmmph."


Dorongan itu muncul sendiri dari dalam perutnya.


"Kamu pasti kuat, aku disini ada buat kamu. Kamu pasti bisa."


Kata-kata Jordan itu seolah menjadi kekuatan tersendiri untuk Maureen. Hingga ia pun kembali mendorong bayinya untuk keluar.


"Hmmmph."


"Hmmmph."


"Hmmmph."


Kepala bayi itu akhirnya keluar. Maureen berusaha mengambil nafas, di tengah udara yang terasa semakin menipis.


"Huh, huh, huh."


Petugas medis mulai meraih kepala bayinya dan membuat gerakan memutar. Maureen menjerit sejadi-jadinya ketika harus mengeluarkan bahu bayi itu.


Meski susah payah dan seolah hendak merenggut nyawanya. Namun akhirnya bayi itu berhasil dilahirkan, ia menangis kencang sementara Maureen dan Jordan menitikkan air mata.


***


"Apa, Maureen sudah melahirkan?"


Ibu Arka menerima telpon dari Jordan. Saat itu mereka sekeluarga tengah makan bersama. Tentu saja mereka semua kaget, sebab jika dihitung maka ini belum waktunya Maureen melahirkan.


Mereka cemas, namun sekaligus bahagia. Sebab menurut kabar yang di dengar ibu Arka, Maureen dan bayinya selamat. Hanya saja bayinya harus menjalani perawatan inkubator.


Beberapa saat berlalu mereka semua sudah berada di klinik tempat dimana Maureen melahirkan.


Sementara si kembar di jemput oleh Ansel dan dibawa ke rumah Ryan. Sebab bayi tidak boleh dibawa ke rumah sakit, jika bukan keperluan berobat ataupun mendesak.


Jordan memeluk Arka dan juga ayahnya dengan penuh emosional. Sedang kini ibu Arka, Amanda, dan juga Rianti langsung menjenguk Maureen. Bayinya berjenis kelamin perempuan dan diberi nama Joanna.


"Jo nggak sempat bawa dia ke rumah sakit besar, pa. Karena Jo panik dan ini tempat yang paling dekat."


Jordan berujar pada ayahnya di hadapan semua yang datang saat itu. Mereka semua telah berkumpul di dalam.


"Jo udah takut dia kenapa-kenapa, karena ini belum waktunya dia melahirkan. Makanya dimana ada klinik atau rumah sakit yang keliatan, Jo langsung datangi aja."


Ibu Arka mendekat dan menepuk bahu anak tirinya itu.


"Ibu yakin Maureen juga udah nggak kepikiran mau melahirkan di rumah sakit mana. Iya kan Reen?" Wanita itu bertanya pada Maureen.


"Iya bu, intinya tadi Maureen pengen bayinya cepat lahir aja. Sakit banget soalnya, nggak kuat."


Maureen berujar sambil mencoba tersenyum, semua orang pun akhirnya ikut tersenyum. Jordan jadi tak merasa bersalah lagi, lantaran hanya membawa istrinya ke klinik biasa.


Padahal seharusnya ia bisa memberikan fasilitas lebih. Toh rejekinya semenjak menikah dengan Maureen jadi lumayan meningkat. Ia mampu membayar rumah sakit yang mahal untuk istri dan anaknya tersebut.


Namun seperti apa yang telah dikatakan Maureen, ia tak peduli melahirkan dimana. Yang penting adalah bayinya bisa cepat lahir dengan selamat. Lantaran ia tak kuasa menahan rasa sakit yang melanda.


Ia jadi ingat bagaimana dulu ia suka melawan ibunya. Ternyata melahirkan seorang anak begitu sulit dan penuh perjuangan.


Maureen menyesali hal tersebut meski saat ini hubungan antara ia dan ibunya sudah jauh lebih baik.


Ibu Arka terus menemani Maureen. Sementara Amanda dan Rianti pamit keluar. Mereka kini berbelanja keperluan bayi dan juga semua perintilan untuk menyambut anak itu.


Sedang Arka menemani Jordan dan banyak memberikan nasehat pada saudaranya tersebut.