
Untung saja Azka dan Afka tidak mengamuk saat di bawa pulang. Biasanya mereka akan sangat drama sekali ketika diminta untuk pulang dari kediaman Ryan.
Mereka akan menangisi kelinci dan ayam serta burung yang di pelihara oleh kakek mereka itu.
"Cici."
"Yayam."
"Ung."
Mereka ingin mengatakan burung tapi tidak bisa. Maka kata "Ung." lah yang keluar. Biasanya mereka akan menangis untuk itu di sepanjang jalan.
Tapi kali ini tidak, karena Arka dan Amanda memberi mereka kentang goreng saat di mobil. Keduanya jadi fokus pada kentang masing-masing.
"Tau gitu dari dulu aja kita bawain nih kentang kalau jemput dia." ujar Amanda.
"Iya, biar nggak drama." ujar Arka sambil tertawa.
"Nih, Ka."
Amanda menyuapkan kentang goreng pada Arka. Karena memang masih ada satu bungkus besar yang mereka bawa.
"Pake sambel dong sayang." ujar Arka.
Amanda lalu mengambil lagi dan mencocol kentang tersebut ke sambal yang sebelumnya ia letakkan di dashboard. Lalu ia kembali menyuapi Arka.
"Mama."
Tiba-tiba Azka bersuara, ternyata kentangnya habis.
"Mau lagi?" tanya Amanda.
"Di." jawab anak itu.
Amanda memberikan satu batang lagi.
"Mama."
Afka mengulurkan tangannya, karena kentang di tangan anak itu pun telah habis.
"Nih buat kamu." ujar Amanda.
Afka menerima dan memakannya kembali.
"Dudos." ujar Afka seraya menyodorkan kentangnya.
"Dudos apaan, Man?" tanya Arka heran.
"Saos." ujar Amanda.
"Koq jauh banget." Arka tertawa kali ini.
"Nggak ada dudosnya. Kan yang keju udah abis. Sisa ini doang, ini pedes huh-hah, huh-hah?" ujar Amanda.
"Huh-hah?" Afka mengerutkan dahi seakan bertanya.
"Iya pedes, huh-hah." jawab Amanda.
Afka diam.
"Huh-hah."
Azka yang ada di sebelah mempraktekkan bagaimana orang kepedasan. Meski ia sesungguhnya tidak tau apa itu arti pedas. Sementara Arka kini tertawa-tawa, melihat tingkah kedua anaknya tersebut.
"Tuh, Azka aja tau tuh pedes. Kamu makan kentangnya aja ya, nggak usah pake saos." ujar Amanda.
"Wos?"
"Iya nggak usah ya."
"Dudos."
"Habis dudosnya."
Afka pun lalu memakan kentangnya dan tak lagi menanyakan saos.
"Bisa gitu ya, jauh banget antara saos ke dudos."
Arka kembali berujar, ia dan Amanda pun tampak tertawa-tawa.
***
Ketika sampai di rumah, si kembar tampak antusias sekali. Sebab mereka telah kembali ke kamar mereka dan bertemu dengan mainan-mainan serta suasana yang nyaman dan tenang.
"Hallo, home sweet home." ujar Amanda dan Arka ketika mereka telah membereskan rumah. Mereka menyambangi kamar anak itu dan bermaksud mengajak mereka mandi.
"Tit tom." ujar Azka.
"Bi tom." Afka menimpali.
"Apa?"
Arka dan Amanda mendadak tertawa.
"Home sweet home." ujar Arka membenarkan.
"Tit tom"
"Bi tom."
"Mandi yuk." ajak Amanda.
"Didi?" tanya Afka.
"Iya didi sama Azka, papa, mama, yuk!"
"Hoaya."
"Ayo!" ajak Arka seraya mengulurkan tangan pada salah satu anaknya.
"Didi?"
"Iya didi." jawab Arka.
Tak lama keempatnya pun sudah terlihat di dalam kamar mandi. Mereka berendam dalam bathub dengan posisi Arka dan Azka berhadapan dengan Amanda dan juga Afka.
Selama mandi Arka dan Amanda tak henti mencium anak mereka, lantaran menanggung rindu selama beberapa waktu belakangan. Akibat kebebasan bodoh yang mereka cari.
"Bek." Afka meminta bebek-bebekan kuningnya.
Kebetulan bebek itu ada di dekat bathub. Amanda mengambil bebek-bebekan tersebut.
"Bek."
Azka merebut milik saudaranya.
Afka memukul air dan menyiprati wajah Azka. Ia marah karena bebeknya diambil.
"Afka nggak boleh gitu ya." ujar Amanda.
"Azka juga jangan suka merebut mainan saudaranya. Sana kembalikan." ujar Arka.
"Bek."
"Iya nanti papa kasih bebek. Tapi kembalikan dulu bebeknya Afka."
Azka diam, dan masih memegang bebek-bebekan yang ia rebut. Sementara Afka terus menatapnya dengan tajam.
"Ayo kembalikan!" ujar Arka.
Azka pun mengembalikan bebek tersebut. Kemudian Azka diberi bebek-bebekan lain oleh Arka.
Melihat Azka mendapat bebek-bebekan lain, Afka menyingkirkan bebeknya dan hendak merebut milik sang kembaran.
"Eh nggak boleh, kamu udah punya. Jangan serakah." ujar Amanda.
"Hekheee."
Tiba-tiba Afka menangis. Amanda tetap tak memenuhi keinginan anak itu untuk merebut mainan Azka. Ia tetap memberi Afka bebek bebekan yang sebelumnya.
"Terserah kamu mau nangis gimana, jangan ngambil punya saudara kamu. Nggak boleh."
Lama kelamaan Afka pun diam. Lalu mereka sama-sama bermain di dalam bathub tersebut. Sementara air hangat perlahan berubah dingin.
Mereka kemudian membersihkan diri dengan sabun dan shampo lalu benar-benar membilas diri dengan air bersih.
Setelah itu si kembar di gulung handuk dan dipakaikan piyama tidur. Mereka sangat lucu, hingga membuat kedua orang tua mereka tertegun beberapa saat. Guna menikmati pemandangan yang menenangkan hati tersebut.
"Yuk pa, ganti baju." ajak Amanda setelahnya.
Arka pun mengikuti langkah sang istri dan berganti pakaian. Hari memudar, malam beranjak naik. Arka dan Amanda bersama-sama menyiapkan makan malam.
Si kembar di beri ASI dan akhirnya mereka tertidur.
***
"Jadi Arka sama Amanda sudah baikan?"
Attar ayah tiri Arka bertanya pada sang istri, ketika ia telah kembali dari toko dan mereka sudah menyelesaikan makan malam.
"Udah, pa. Akhirnya mereka kembali jadi orang dewasa." ucap ibu Arka sambil tersenyum.
Ayah tiri Arka pun tersenyum.
"Syukurlah kalau gitu, papa takut terjadi apa-apa kalau semakin lama dibiarkan."
"Ibu juga khawatirnya ke arah situ, pa. Tapi ibu berdoa terus, semoga kedua anak itu nggak terus-menerus bersikap kayak ABG." ujar ibu Arka.
"Iya, kasihan si kembar ujar ayah tiri Arka.
"Iya, yang namanya bosan dalam rumah tangga itu kan hampir semua orang pasti mengalami. Karena setiap hari kegiatannya itu-itu saja. Kita makan saja kalau lauknya setiap hari sama pasti bosan, apalagi kehidupan."
Ayah tiri Arka mengangguk-anggukan kepala.
"Nggak perlu lah healing sampai pisah-pisah rumah segala kayak gitu." lanjut ibu Arka lagi. Kali ini suami ya tertawa.
"Namanya juga anak muda jaman now, bu. Pikiran mereka beda sama generasi di jaman kita."
"Iya sih, tapi nggak gitu-gitu juga." tukas ibu Arka.
"Tapi tadi si kembar sudah diambil dari rumah grandpa-nya?"
"Nggak tau, mungkin sudah." jawab ibu Arka.
"Ya, mudah-mudahan mereka udah pulang. Walau mereka nggak mencari, bukan berarti batin anak-anak itu nggak rindu sama orang tuanya." ujar ayah tiri Arka.
Tak lama setelah mereka membicarakan hal tersebut, Arka menelpon kesana dan mengabarkan jika anak-anak sudah ia bawa pulang. Kedua orang tua itu pun makin bertambah lega lagi hatinya.