Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Pergi Lagi


"Papa berangkat dulu ya. Nanti kalau syutingnya udah selesai, papa langsung pulang lagi kesini lagi."


Arka berkata pada si kembar yang kini turut mengantar dirinya bersama Amanda di bandara. Ia memang memilih keberangkatan pagi-pagi buta, karena nanti malam syuting sudah akan di mulai kembali.


"Papapa?" Azka berkata dengan nada seperti bertanya.


"Iya, sayang. Papa pergi dulu ya." ujarnya kemudian.


"Papapa?" Afka menimpali seraya menatap sang ayah.


Arka lalu mencium kedua anak itu, kemudian lanjut mencium kening Amanda. Tak lama Rio juga ikut mencium kening si kembar satu persatu.


"Wiwi?" ujar Azka kini memperhatikan Rio.


"Iya, Riri pergi dulu ya." tukas Rio.


Si kembar pun terdiam, seraya terus memperhatikan. Ada semacam raut wajah ingin menangis, namun masih terlihat bingung.


"Papa pergi dulu ya, nak."


Amanda berujar pada keduanya. Azka dan Afka bengong lalu melambaikan tangan.


"Da-da." ujar keduanya serentak.


"Da-da."


Arka melambaikan tangan lalu bergegas masuk ke terminal untuk kemudian melakukan check in. Saat Arka dan Rio masih terlihat, kedua anak itu masih terus memperhatikan.


Sesekali baik Arka maupun Rio menoleh sambil melambaikan tangan. Namun ketika Arka dan Rio sudah memasuki gate, Azka dan Afka mulai murung bahkan menangis.


Amanda dan mbak pengasuh mencoba menenangkan keduanya dengan mengalihkan perhatian mereka pada hal lain. Tak lama mereka kembali ke mobil dan kini mobil tersebut telah berada di jalan pulang.


"Papapa?"


Azka tampak seperti mencari keberadaan ayahnya di mobil.


"Papa pergi nak, nanti papa pulang kalau udah selesai kerjanya ya."


Amanda mencoba menghibur. Kemudian ia kembali mengalihkan perhatian sang anak pada mobil-mobil yang ada disebelah mobil mereka.


Beruntung tak lama setelah itu keduanya mulai tertidur. Sehingga Amanda bisa sedikit bernafas lega.


***


Di suatu tempat.


Vera tengah terdiam menatap jauh ke depan. Sementara Steve kini berada di dekatnya. Memperhatikan wanita itu secara seksama dan menanti sebuah jawaban.


"Aku belum bisa untuk bicara sekarang kepada bapaknya Amara atau siapapun." ujar Vera tanpa menoleh ke arah Steve. Sedang Steve sendiri kini menghela nafas panjang dan belum berpaling kemana-mana.


"Aku takut nanti semua orang akan kaget, dan nggak bisa terima hal ini." tukas Vera lagi.


"Aku tau." jawab Steve sambil lagi-lagi menghela nafas panjang.


"Aku tau ini nggak mudah buat kamu. Tapi aku akan menunggu." lanjut pria itu kemudian.


"Aku benar-benar serius sama kamu dan aku akan menerima Amara seperti anakku sendiri." imbuhnya.


Vera memejamkan mata. Kali ini gantian ia yang menarik nafas sedalam-dalamnya. Membiarkan udara masuk guna menetralisir rasa yang berkecamuk dalam dirinya.


"Aku minta maaf." ujar wanita itu kemudian.


Steve lalu mendekat, ia membalikkan tubuh Vera hingga menghadap ke arahnya. Ia mengangkat dagu wanita itu dan membiarkan tatapan mata Vera beradu dengan tatapan matanya yang begitu dalam.


Tak lama ia pun mendaratkan sebuah ciuman di kening Vera. Sesaat kemudian mereka pun saling berpelukan satu sama lain.


Cinta yang tumbuh diantara mereka semakin hari, semakin tak bisa di halau. Dan merek membiarkan saja hal tersebut terus terjadi sampai detik ini.


***


Siang hari.


Seorang office girl memberikan sebuah paper bag cukup besar untuk Nino.


"Dari siapa mbak Win?" tanya nya pada perempuan itu.


"Ini dari Min Ji tulisannya pak." ucap office girl itu lagi.


Nino kaget kemudian menerima kiriman tersebut.


"Thanks ya." ujar Nino.


"Sama-sama pak."


Office girl itu kemudian berlalu. Nino membuka paper bag yang dikirimkan oleh Min Ji, ternyata isinya makanan Korea. Ada catatan juga di dalam paper bag tersebut.


"Nin, selamat makan siang. Ini aku beli, nggak bikin sendiri. Soalnya kata mama, aku buruk dalam memasak masakan Korea. Jadi aku kehilangan percaya diri untuk masak lagi."


Nino tertawa. Ia kemudian melirik arloji dan kebetulan sudah jam makan siang. Maka Nino membawa makanan tersebut ke ruang sebelah dan mulai membukanya. Ada nasi, sup kimchi dan juga ayam goreng madu wijen yang tampaknya cukup lezat.


Ketika dimakan, rasanya memang tidak mengecewakan. Jelas karena itu dari restoran, bukan dibuat sendiri oleh Min Ji.


"Gimana, enak?"


Min Ji mengirim pesan padanya dan Nino pun membalas.


"Enak, makasih ya." jawabnya kemudian.


"Sama-sama." jawab Min Ji.


"Nanti weekend kit nonton, mau?" tanya Nino.


"Boleh." jawab Min Ji sambil tersenyum di tempatnya.


"Oke, nanti aku jemput kamu." balas Nino lagi


Mereka pun lanjut berbincang sampai Nino selesai makan. Sementara di lain pihak, Nadine baru menyelesaikan masakan pertamanya. Ia kini telah mewadahi masakan itu dan meletakkannya di dalam paper bag.


Ia belum ingin menyerah soal Nino, meski telah sekian kali merasa sakit melihat kedekatan pria itu dengan si gadis Korea. Maka Nadine memesan ojek online, kemudian mengirim hasil masakannya ke kantor Nino.


Pada saat yang bersamaan, seorang yang memegang jabatan penting di kantornya datang menghampiri Nino yang baru saja selesai makan dan menggosok gigi.


"Pak Nino, ini ada undangan dari klien yang harus kita datangi siang ini." ujar orang tersebut.


"Oh iya, say hampir lupa pak." jawab Nino.


"Ya udah, tunggu saya di bawah. Lima menit lagi saya turun." tambah pria itu.


Tak lama lima menit yang dimaksud itu pun berlalu. Nino turun dengan tidak membawa kunci mobil, sebab ada supir yang akan mengantar.


Nino pun pergi bersama salah seorang karyawannya tersebut. Setelah itu kiriman dari Nadine baru tiba. Nino diberitahu sekretarisnya jika ada kiriman tersebut.


"Tadi saya udah makan, dan nggak tau ini pertemuan pulangnya jam berapa. Daripada basi mending kamu makan." balas Nino pada sang sekretaris. Lalu sekretaris itu pun. menjawab.


"Oke pak, terima kasih."


"Sama-sama." jawab Nino lagi.


Di mobil Nino agak sedikit terdiam karena teringat pada Nadine. Tapi tak lama setelah itu sang karyawan yang ikut mengajaknya untuk membicarakan hal lain. Sehingga perhatian Nino pun kini teralihkan sepenuhnya.


***


Setelah beberapa jam tiba di Surabaya, Arka baru mengabari Amanda. Sebab tadinya mereka langsung menaruh barang di apartemen, kemudian langsung tancap gas ke lokasi syuting. Untuk melakukan reading bersama dengan par cast yang lain.


"Semangat ya papa kangkung. God bless you, always." ujar Amanda di WhatsApp.


"Makasih ya mama Firman. I Love you."


"I love you too." balas Amanda lagi.


Maka Arka menerimanya dengan senyuman z kemudian ia kembali reading bersama Rio. Malam harinya, syuting pun dilangsungkan kembali dan mereka bekerja dengan baik.