Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Caper


"Makanya lain kali itu hati-hati."


Attar, ayah tiri Arka marah pada Rianti, ketika gadis itu pulang dan menangis. Lalu ia menceritakan kondisinya kepada ibu Arka dan di dengar oleh Attar.


Tadinya semua mengira jika Gareth lah laki-laki yang telah membawa Rianti. Ayah tiri Arka sempat hendak menghajar Gareth, namun kemudian Gareth menjelaskan yang sebenarnya terjadi.


Kini Gareth masih berada di sisi Rianti. Menemani dan mencoba meredam emosi ayah tiri Arka.


"Kalau tadi kamu sampai di apa-apakan oleh laki-laki itu bagaimana?. Gimana bapak sama ibu mau tanggung jawab ke orang tua kamu yang ada di kampung?. Apa kamu pernah mikir panjang soal itu?"


Rianti makin menangis.


"Sudah pak, yang penting sekarang Rianti baik-baik saja." ujar ibu Arka.


Rianti lalu mengusap air matanya.


"Kamu ini kan mahasiswa, Ti. Kamu harusnya lebih pintar dari orang-orang yang pendidikannya dibawah kamu. Jangan terlalu gampang percaya sama orang lain, kita nggak pernah tau niat orang itu."


Ibu Arka turut berujar pada sang keponakan. Rianti terlihat mengangguk, Gareth kemudian memberinya tissue. Setelah Rianti tenang, Gareth pun berpamitan.


"Saya pulang dulu, pak, bu." ucap Gareth.


"Terima kasih sudah menolong anak kami dan maaf soal kesalahpahaman tadi." ujar ayah tiri Arka.


"Kami tidak tau bagaimana membalasnya." lanjut pria itu kemudian.


Gareth tersenyum.


"Bapak dan ibu tidak perlu membalas apa-apa. Saya kebetulan kenal dengan Rianti. Saya partner kerjanya Amanda." jawab pria itu.


"Oh." Kedua orang tua Arka baru tau.


"Makasih sekali lagi ya nak, Gareth." ucap ibu Arka.


"Sama-sama, bu." jawab Gareth.


Kemudian Gareth benar-benar pergi dari rumah itu. Sementara Rianti kini masuk ke kamar.


***


"Halo, Ka."


Ansel menjawab panggilan Arka di seberang.


"Sel, kata nyokap gue Rianti udah ketemu. Dia udah pulang dan keadaannya baik-baik aja." ujar Arka.


Ansel menarik nafas lega.


"Syukur deh kalau gitu. Tapi beneran nggak apa-apa?" tanya Ansel.


"Kata ibu sih nggak, cuma ada masalah sama cowoknya. Sampai dia ditolong orang."


"Maksudnya?" tangan Ansel tak mengerti.


Arka kemudian menceritakan kronologi kejadian secara lengkap.


"Gue gregetan banget pokoknya, pengen gue hajar tuh cowok. Sayang gue masih disini." ujar Arka.


Ansel lagi-lagi menghela nafas.


"Lo tenang aja, ntar Rianti kita awasin deh mulai besok. Dia masih kuliah kan?" tanya Ansel.


"Iya, masih. Tuh cowok gue yakin pasti masih bakal nemuin si Rianti." ujar Arka.


"Makanya." jawab Ansel.


"Kita tau lah isi kepala cowok brengsek kayak gitu." lanjutnya kemudian.


"Ya udah, gue cuma mau mengabarkan itu doang. Gue harus balik syuting lagi." ujar Arka.


"Oke, oke. Gue sama Nino juga udah mau balik."


"Oke, thanks banget ya bro. Bilang sama Nino juga."


"Sip." jawab Ansel.


Arka kemudian berpamitan dan melanjutkan proses syuting. Sementara kini Ansel berbicara pada Nino mengenai kekasih Rianti. Mereka sepakat untuk mengawasi gadis itu mulai hari ini.


Karena biasanya laki-laki peselingkuh, ketika ketahuan. Mereka akan mengulanginya lagi. Tak peduli si selingkuhan ini masih mau atau tidak. Ansel dan Nino takut Rianti akan mendapat ancaman atau intimidasi.


"Mudah-mudahan sih, si Rianti belum di apa-apain sama tuh cowok." ujar Nino.


"Kalau sampai udah, terus ada dokumentasi baik berupa video atau foto. Bakalan di kejar terus dia sama itu cowok. Kalau nggak mau pasti diancam." lanjutnya kemudian.


"Laki-laki kayak begitu harus dibikin kapok." ujar Ansel.


***


Beberapa jam telah berlalu, kini gantian Amanda yang menasehati Rianti melalui sambungan telpon. Namun ia berusaha untuk tidak menyudutkan Rianti, dan menggunakan kata-kata yang mudah di cerna.


Amanda sangat paham posisi Rianti yang berusia masih dibawah 25 tahun, dengan latar belakang ia belum pernah pacaran dan berteman dengan teman-teman yang juga sama seperti dirinya.


Dan lagipula awalnya Alex mengajak ia pergi untuk makan malam. Ia tidak menduga kalau Alex akan berbohong padanya.


"Mama, mamam."


Azka cari perhatian di saat ibunya tengah menelpon. Amanda mengambil pancake dari tangan anak itu kemudian menyuapkannya.


"Mama, mum."


Afka minta di berikan air minum. Padahal ia jelas-jelas tengah memegang botol berisi susu.


Amanda mengalah dan membantu anak itu untuk minum. Sementara ia masih terus berbicara dengan Rianti.


"Mama, dedong."


Azka meminta gendong. Amanda dengan sabar menggendongnya.


"Mama pupuk."


Afka berguling di karpet bulu dan minta bagian belakangnya ditepuk-tepuk. Agaknya anak itu kini mau tidur.


Amanda dari yang tadinya berdiri sambil menggendong Azka, kini duduk lalu menepuk-nepuk Afka.


"Mama e'ek." ujar Azka.


"Kalian ya, mama mau nelpon nggak bisa banget."


Amanda menggerutu sambil menahan kesal.


"Eheee."


Kedua anak itu malah tertawa.


"Ti, mbak ngurus anak-anak dulu." ujar Amanda di telpon.


"Oh, iya mbak." jawab Rianti.


"Pokoknya ke depan lebih hati-hati lagi ya. Jangan gampang percaya sama orang.


"Iya mbak." jawab Rianti lagi.


Amanda menyudahi telpon tersebut.


"Titi?" tanya Azka seraya mengerutkan dahi.


"Iya, mama lagi ngomong sama Titi. Kalian ganggu terus dari tadi."


"Eheee." keduanya sama-sama tertawa.


"Ya udah ayok, kata kamu mau e'ek tadi."


"Dadak."


Azka menggelengkan kepala.


"Lah tadi katanya?"


"Dadak."


"Oh belajar bohong ya sama mama?"


"Eheee."


"Nggak boleh kayak gitu kamu. Kalau mama lagi ngomong jangan di recokin, ngerti."


"Ti."


"Beneran ngerti nggak?"


"Ya." Azka mengangguk.


"Nggak boleh bohong ya, bohong itu dosa."


"Eheee."


Azka menjauh sambil merayap. Sementara Afka tertawa-tawa sambil berguling-giling. Amanda hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil mengusap dada. Ia lalu menceritakan hal tersebut pada Arka dan Arka tertawa.


"Kelakuan anak kamu." ujar Amanda pada suaminya itu.


"Caper itu mereka. Minta diperhatikan." jawab Arka.


"Pengen banget aku unyel-unyel." ujar Amanda lagi.


Dan lagi-lagi Arka tertawa, meski hanya berupa tulisan di chat. Tak lama Amanda pun lalu mengerjakan hal lain. Azka dan juga Afka sesekali menghampiri, kemudian mengganggu ibunya itu.


Ada saja hal yang mereka minta atau tanyakan dari ibu mereka tersebut. Amanda sendiri berusaha untuk tetap sabar dalam menghadapi kedua anak itu.


Setiap kali mereka meminta sesuatu, Amanda selalu berusaha untuk memenuhi. Dan setiap kali mereka mengajukan pertanyaan, Amanda pun selalu siap untuk menjawab.