
"Kalian saling kenal?"
Ryan bertanya pada Nino dan juga gadis Korea yang diketahui bernama Lee Min Ji tersebut. Orang tua Min Ji juga menanyakan hal yang sama pada sang anak dalam bahasa mereka.
"Nggak."
"Aniyo."
Keduanya menjawab serentak dengan bahasa yang berbeda.
"Lah tadi?" ucap Ryan dengan nada heran.
"Tadi Nino cuma kaget dan refleks aja, dad." Nino berkilah.
"Oh."
Ryan percaya lalu tertawa. Tak lama ia mempersilahkan semuanya untuk makan.
Di sela-sela acara makan tersebut Ryan banyak bertanya mengenai Min Ji pada orang tuanya dan begitupula dengan orang tua Min Ji. Mereka banyak menanyakan perihal tentang Nino.
Sementara Nino dan Min Ji sendiri tampak tidak nyaman satu sama lain dan jelas mereka berkeinginan untuk adu mulut, meski berusaha keras mereka tahan demi menjaga sopan santun.
Terutama Nino. Ubun-ubun pria itu terasa penuh berasap tatkala melihat Min Ji. Ia terbayang akan berapa banyak uangnya yang telah di peras oleh wanita itu.
Meski bukan tergolong pria yang pelit terhadap pasangan. Namun untuk kasus ini adalah pengecualian bagi Nino.
"Koq kalian diem aja, ngobrol dong." ucap Ryan pada keduanya.
Kemudian ibu Min Ji menyikut sang putri dan berbicara dalam bahasa kerajaan. Intinya ia ingin Min Ji juga turut berinteraksi dengan Nino.
Min Ji agak menolak dan suara mereka terdengar seperti dialog dalam drama Korea.
"Nin, cantik tau, kalau diliat lama-lama."
Ansel berbisik di telinga Nino ketika acara makan telah selesai, dan mereka semua kini berada di ruang keluarga.
"Lo udah bilang itu berkali-kali, sejak tadi." ucap Nino pada Ansel.
"Makanya sikat." ujar Ansel sekali lagi.
"Sikat pala lo, bukan tipe gue." ucap Nino lalu menghisap batang rokok yang sejak tadi telah terselip di antara jari tangannya
"Tipe lo yang kayak Nadine kan?. Tipe pengkhianat." Ansel berseloroh.
"Dia juga bukan tipe gue, berhubung gue jatuh cinta dan sayang aja lama-lama."
"Nah kenapa nggak coba yang ini?" tanya Ansel.
"Lo tau nggak kalau gue udah pernah ketemu ini cewek dan dia memeras gue." ucap Nino kemudian.
"Oh ya?. Memeras gimana?" tanya Ansel heran.
"Jadi gue pernah ke supermarket, dan ketemu dia ini. Kita biasa aja karena nggak kenal sama sekali. Dan pada saat yang bersamaan, gue juga ngeliat Nadine ada disana. Gue refleks inisiatif untuk narik si Samyang ini ke dekat gue dan pura-pura jadi pasangan gue."
"Terus?"
"Gue kasih imbalan dia belanja, tapi belanjanya super nggak tau diri. Gue habis belasan juta juga demi dia doang."
Ansel agak terkejut, sebab tampilan Min Ji tak mengindikasikan jika ia seorang materialistis. Gadis itu terlihat seperti protagonis yang selalu di bully dalam drama Korea.
"Gue kira cupu, ternyata suhu." ucap Ansel sambil tertawa.
"Makanya." Nino menimpali.
"Tapi kan lo banyak duit." ujar Ansel lagi.
"Tetap aja gue nggak rela." jawab Nino Kemudian.
***
"Maaf."
Nadine mengetik kata-kata tersebut di handphone-nya. Tentu saja itu akan segera ia kirimkan untuk Nino. Demi mendekati pria itu kembali dan mengajaknya berbaikan.
"Maaf, aku udah salah selama ini."
Nadine memperpanjang ketikannya. Namun kemudian ia menjadi ragu dan insecure sendiri. Padahal saat itu Nino tengah merokok sambil memperhatikan fotonya bersama Nadine, yang masih ia simpan di galeri.
Ryan menyinggung soal Lee Min Ji yang tengah duduk di sebuah ayunan, di halaman rumah Richard.
"Nggak baik mengabaikan perempuan, apalagi di depan orang tuanya." ucap Ryan.
Nino menarik nafas agak dalam, ia menghisap batang rokoknya yang sudah tersisa sedikit hingga habis. Kemudian setelah membuah sisa ke tong sampah, ia melangkah ke arah Min Ji tanpa perlawanan.
Seperti yang dikatakan Ansel padanya di kamar tadi. Bahwa mereka harus sudah mulai menyenangkan hati Ryan. Sebisa mungkin memenuhi keinginan pria itu dan membuatnya bahagia.
Nino duduk di bangku taman sebelah ayunan, dengan pandangan mata jauh ke depan. Ditangannya masih tergenggam segelas kopi.
"Saya kesini karena disuruh papa saya." ujarnya kemudian.
"Jadi jangan GR." lanjutnya lagi.
"Saya juga sama." tukas Min Ji.
"Kamu kira saya mau ketemu kamu." lanjut perempuan itu dengan angkuhnya.
"Ya, karena kamu takut kelakuan kamu di bongkar kan?" tanya Nino seraya menarik salah satu sudut bibir, tanda mencibir.
Sejatinya Min Ji memang takut akan hal tersebut. Namun ia berusaha menyembunyikannya dan tetap bersikap sombong.
"Siapa yang takut." ujarnya kemudian.
"Saya cuma malas ketemu kamu, nggak menarik." lanjutnya lagi.
"Nggak punya kaca di rumah?" tanya Nino seraya menoleh.
"Emangnya kamu pikir kamu menarik." tambahnya dengan nada nyelekit.
Tak lama Ryan dan kedua orang tua Min Ji melintas sambil mengobrol. Nino dan gadis itu tampak memaksa diri untuk nyengir dan bersikap seolah mereka telah akrab.
Ansel mengambil rekaman video dan memperlihatkan betapa fake-nya wajah Nino pada Arka. Lalu keduanya pun bercakap di WhatsApp sambil tertawa-tawa.
"Ah, gue nggak disitu. Padahal seru." ucap Arka pada Ansel.
"Iya, Ka. Coba lo disini. Pokoknya lucu liat Nino sewot tapi berusaha untuk nggak keliatan sama daddy."
"Wkwkwkwk, tapi si cewek Korea itu lumayan juga sih. Walau nggak cantik-cantik amat." ucap Arka.
"Iya, lumayan dari pada Nino terus ngarep sama Nadine." jawab Ansel.
"Emang Nino masih ngarep banget ya?" tanya Arka.
"Ya, Nino bilang sih nggak terlalu. Tapi kan hati manusia siapa yang tau, Ka. Nadine itu yang membantu Nino move on dari Amanda. Jadi pasti kesan yang ditinggalkan lumayan besar dan dalam." ucap Ansel lagi.
"Iya sih, apalagi kan hubungan mereka cukup nempel juga. Nggak mungkin Nino secepat itu melupakan orang yang pernah dia sayang." balas Arka.
"Iya, gue sampai hari ini nggak habis pikir. Kenapa Nadine ninggalin Nino." ucap Ansel.
"Ya cewek." ujar Arka.
"Kayak nggak tau aja tabiat sebagian besar dari mereka." lanjutnya kemudian.
"Dikasih cowok baik, yang sayang sama mereka. Mereka maunya yang bejat dan berharap bisa menaklukan si bejat. Ujungnya nyesel dan nangis minta balikan. Gue yakin nanti bakal ada saatnya si Nadine nyesel." ucapnya lagi.
"Pasti." jawab Ansel
Tanpa mereka ketahui jika hal tersebut sudah terjadi. Bahkan kini Nadine tampak menimbang-nimbang. Apakah ketikan panjang lebar yang ia buat, akan ia kirim pada Nino atau tidak.
Ia masih takut tak di tanggapi. Atau malah balas di maki oleh Nino. Sebab sejak ia pergi meninggalkan, Nino bungkam dan tak memberikan tanggapan apa-apa.
Nadine jadi bingung harus mengambil sikap yang bagaimana. Nino benar-benar seperti pria misterius yang sulit ditebak arahnya kemana.
"Kirim nggak, kirim nggak."
Otak Nadine berkecamuk.
"Kirim aja, ah."
Ia memutuskan untuk mengirim chat tersebut. Kemudian ia mulai hendak memencet tombol di handphonenya.
Namun tiba-tiba keraguan kembali menyeruak dan menghentikan semua itu.