
"Ka, kita ada rencana perubahan skenario." ujar sang sutradara pada Arka. Ketika hari itu mereka semua mengadakan meeting sekaligus briefing di lokasi syuting.
Semua talent telah berkumpul kembali di lokasi dan mereka siap melanjutkan proses pengambilan gambar.
"Apanya yang diubah?" tanya Rio mewakili pertanyaan Arka dan juga cast yang lainnya.
"Di tengah cerita nanti, Arka akan jadi beneran jatuh cinta sama karakter yang dimainkan oleh Elina." ucap sang sutradara.
"Arka dan Rio diam, begitupula dengan yang lainnya.
"Perasaan kita udah ngomongin ini deh sebelumnya." ujar sutradara itu lagi.
"Nggak tau, lupa." jawab Arka seraya tertawa. Kemudian ia mengambil air mineral yang ada di atas meja, lalu meminumnya hingga hampir setengah.
"Tapi apa itu nggak jadi bikin karakter disini terlalu banyak, mas?"
Si penulis skrip bertanya pada sang sutradara, sementara para cast masih setia mendengarkan.
"Justru itu. Nggak apa-apa karakternya jadi sedikit lebih banyak, yang penting tokoh utamanya ini bisa move on dari si mantan dan nggak kelihatan selalu dendam. Karakter yang diperankan Elina, harus dibangun sebagai perempuan yang mengisi kekosongan dan memberi kasih sayang." ucap sang sutradara panjang lebar.
"Oke, nggak masalah." ujar Arka.
Sementara di meja lain, Elina yang mendengar hal tersebut mencoba bersikap tenang dan damai. Padahal dalam hatinya begitu jingkrak-jingkrak. Ia senang akhirnya bisa satu frame dan dekat kembali dengan pemuda yang menjadi idolanya tersebut.
Meeting di lanjutkan, kali ini mereka membahas soal peran antagonis yang dimainkan oleh Rio. Mereka membahas hal tersebut dengan serius, hingga beberapa waktu berlalu tanpa terasa.
Proses syuting di lakukan. Ia belum beradegan apapun dengan Elina. Masih seputar struggle menghadapi perceraian yang ia alami bersama istrinya. Diketahui jika dalam film tersebut, Arka memiliki seorang istri.
***
Di penthouse.
"Papapa."
Azka berdiri dan merambat didinding. Ia menilik ke kamar Amanda yang terbuka sedikit pintunya.
"Papa kerja, nak." tukas Amanda dari arah belakang.
"Didi?"
Azka menunjuk ke arah kamar mandi yang ada di dalam kamar tersebut. Ia mengira Arka sedang mandi.
"Nggak, papa nggak mandi. Papa keluar kota, kerja, dan cari duit buat kita." Lagi-lagi Amanda berujar.
Azka diam sejenak, kemudian perhatiannya teralihkan karena Afka yang tengah bermain di depan televisi. Saat itu Arka melempar mainannya sambil tertawa-tawa. Tak lama kemudian Afka menyusul kesana.
"Dert."
"Dert."
Handphone Amanda bergetar, sebuah notifikasi panggilan dari Arka masuk kesana. Segera saja wanita itu mengangkat telpon tersebut dan berbicara.
"Hallo, Ka."
"Hey, man. Gimana anak-anak, aman?" tanya nya kemudian.
"Aman koq." jawab Amanda.
"Mereka nggak nanyain aku?" Arka kembali bertanya.
"Nyariin lah, mustahil kalau nggak nyariin." Amanda menjawab seraya tertawa.
"Tapi belum gimana-gimana banget, cuma nanyain doang." lanjutnya lagi.
"Oh ya udah, bagus deh. Aku kira mereka nangis." tukas Arka.
"Nggak, tuh lagi pada main di depan TV." ujar Amanda lagi.
"Good." jawab Arka.
"Kamu syutingnya udah mulai?" tanya Amanda.
"Udah, ini aku udah ada di lokasi." jawab Arka.
"Yang semangat nyari duitnya, tapi jangan lupa makan, ibadah, dan lain-lain juga."
"Iya, ini aku sambil maka dan ngerjain tugas kantor. Ibadah udah duluan tadi."
"Good, makan apa kamu?"
"Nasi sama ikan salmon dan salad."
"Tumben kagak nasi Padang?" Amanda berkata seraya tertawa. Arka pun jadi ikut-ikutan tertawa dibuatnya.
"Yang disediain sekarang ini, jadi ya makan aja. Lagian enak koq, sumpah. Nggak lagi berasa makan-makanan sehat. Kayak makan biasa aja." ujar Arka.
"Ya udah, yang penting makanannya di syukuri. Pasti semuanya tambah nikmat." ucap Amanda.
"Iya sayang, kamu sama anak-anak tadi makan apa?"
"Aku makan nasi sama sayur sop telor puyuh." Anak-anak cuma makan pancake doang. Sayurannya di hambur-hamburkan ke lantai, telor puyuhnya dipake buat saling nimpuk." jawab Amanda.
"Dihambur-hamburkan terus saling nimpuk?" Arka tak kuasa menahan tawa.
"Iya, Ka. Bosan kali." lanjut Amanda lagi.
"Kayaknya emang udah harus mengenalkan banyak rasa deh ke mereka." ucap Arka.
"Aku pikir juga gitu. Mereka mungkin bosan karena sayurannya di rebus melulu, telurnya juga di rebus." tukas Amanda.
"Ya udah, coba kamu bikin masakan yang ada rasanya buat mereka. Kayak pancake kan mereka suka tuh, karena manis dan gurih."
"Iya, Ka. Ini juga aku lagi lihat-lihat konten orang di YouTube. Yang bikin masakan buat bayi sama anak-anak gitu. Besok mau aku peaktekin, siapa tau mereka mau."
"Iya, semoga aja." ujar Arka.
"Mama, papapa?"
"Iya, ini papa." ucap Amanda.
"Ka, mereka nyariin kamu." lanjut wanita itu.
"Ya udah, aku ganti video call deh." ujar Arka.
Pria itu kemudian mengganti mode panggilan menjadi panggilan video atau video call. Tak lama tampaklah wajah Arka dilayar. Amanda langsung duduk di lantai dan menunjukkan handphonenya kepada si kembar.
"Eheee."
"Papapa."
Keduanya sangat bersemangat sambil bertepuk tangan.
"Papapa."
"Yeyeye."
"Papapa."
Arka tersenyum lalu tertawa.
"Maafin papa ya, papa tinggal terus kalian. Papa mesti kerja." Arka berkata pada kedua anaknya.
"Wit?" tanya Afka.
"Iya nyari duit." ujar Amanda.
"Tau dari mana mereka duit, Man?" Arka bertanya sambil tertawa.
"Aku suka bilang ke mereka, kalau setiap kamu lagi nggak dirumah. Aku bilang papa itu kerja cari duit."
"Oh." Arka kembali tertawa.
"Jan?" Azka menimpali.
"Iya, cari duit buat jajan. Buat sekolah, buat beli mainan dan lain-lain." Amanda kembali berujar.
"Wit, jan." tukas Afka.
"Kalian nakal nggak tadi?" Arka bertanya pada si kembar.
"Dadak."
Keduanya kompak menjawab seraya menggelengkan kepala.
"Nggak nakal, tapi TV dilempar pake mainan ya." tukas Amanda sambil tertawa.
"Ngelempar TV?'' tanya Arka.
"Biasa kesel sama Dora." jawab Amanda.
Arka terbahak.
"Dora nanya mulu sih soalnya." tukas pria itu kemudian.
"Iya dan aku ganti Diego. Sama aja, kesel juga. Akhirnya nonton Upin-Ipin." Lagi-lagi Amanda berujar.
"Pipin, tatak."
Afka berkata seraya memegang kepalanya sendiri.
"Iya, Upin-Ipin nggak ada rambutnya. Tapi nggak boleh ngatain orang botak ya." Amanda mengingatkan.
"Otak." Afka menimpali.
"Eheee."
"Dedi." ujarnya lagi.
"Eh!" Arka dan Amanda sama-sama kaget.
"Koq bisa ngomong Dedi, Man?" tanya Arka heran.
"Nggak tau." Amanda memperhatikan sang anak.
"Dedi siapa?" tanya Amanda pada Azka.
Kemudian Azka menunjuk televisi.
"Dedi, otak."
Arka dan Amanda loading agak lama, namun kemudian keduanya terbahak-bahak.
"Dedi, botak." ujar Amanda dan arka secara serentak. Namun tiba-tiba mereka langsung menutup mulut.
"Ganti YouTube kids aja Man, menunya. Biar mereka nggak bisa nonton tayangan dewasa." ujar Arka.
"Udah kan, dari waktu itu." jawab Amanda.
"Nggak pernah juga aku liat mereka nonton tayangan lain, kan aku awasin juga." lanjutnya lagi.
Arka diam dan berpikir.
"Apa jangan-jangan mereka nonton sama Ansel ya?. Ansel kan suka banget nonton podcast." Arka mengira-ngira.
"Maybe." Amanda berkata sambil tertawa.
"Otak, otak." Azka dan Afka kembali berujar.
"Nggak boleh ya, kayak gitu." Amanda menegur mereka dan mereka hanya tertawa.
"Eheee."