
"Jadi sekarang lo lagi pisah dulu gitu, sama Arka?" tanya Nindya.
Amanda curhat pada sahabatnya itu. Ketika akhirnya mereka tersambung telpon, dan Nindya menanyakan kabar Arka serta si kembar.
Amanda bisa menahan diri untuk tidak menceritakan perihal masalah yang tengah ia hadapi ke orang lain, tetapi tidak pada Nindya. Sebab Nindya adalah teman curhat yang sangat ia percayai.
Meski tak semua urusan rumah tangganya ia katakan, banyak juga yang ia rahasiakan dari temannya itu, termasuk urusan ranjang.
"Iya, Nind. Arka sih yang punya ide sebelumnya. Tapi setelah gue pikir-pikir ada benarnya juga. Gue sama dia harus sama-sama mencari kebahagiaan dan kebebasan. Sebelum akhirnya kami berkumpul kembali."
Nindya diam. Ia masih merenungi konsep penyelesaian masalah yang dibuat oleh Arka dan Amanda.
"Ini bukan akal-akalan Arka buat selingkuh dari lo kan, Man?. Lo nggak segoblok itu kan, bisa ditipu sama laki-laki berondong?"
Nindya menaruh curiga pada Arka.
"Nggak, Nind. Gue percaya sama Arka koq." ucap Amanda.
"Yakin nih?" tanya Nindya lagi.
Teman Amanda itu masih diliputi rasa ragu sekaligus prasangka.
"Gue curiga si Arka udah bosan sama lo. Terus dia cari-cari alasan buat bisa selingkuh di belakang elo. Makanya dia buat skenario model begini. Alasannya supaya lo berdua bisa beginilah, begitulah."
Amanda mulai terusik pikirannya. Karena bisa saja Arka berbuat demikian, dan penyakitnya adalah ia gampang percaya pada suaminya tersebut.
"Lo harus tetap hati-hati, Man. Sorry ya, gue tau Arka baik. Tapi kan kita nggak tau hati manusia dari hari ke hari. Bisa aja berubah karena pengaruh lingkungan, godaan pelakor dan lain-lain." ujar Nindya lagi.
Amanda masih diam.
"Gue bukan mau nakutin lo. Tapi curiga dan waspada itu harus, Man. Jangan sampe rumah tangga lo disusupi pelakor yang nggak tau malu." ujar Nindya.
Amanda menarik nafas dan mencoba tersenyum. Meski hatinya kini mulai diliputi perasaan yang campur aduk.
"Gue percaya Arka koq, Nind. Gue tau dia orangnya kayak apa. Tapi gue akan tetap waspada kayak kata lo tadi." ujarnya kemudian.
Mereka pun lalu melanjutkan percakapan.
***
Sepulang kerja, Arka memenuhi ajakan teman kantornya untuk bermain bilyard di suatu tempat. Tentu saja ini memberikan kesan tersendiri bagi mereka yang ikut sore itu.
Arka cukup bisa memainkan permainan tersebut, meski tak sejago teman-temannya. Asap rokok mengebul di mana-mana dan ada beer yang menemani mereka disana.
"Wiiih, keren."
Teman-temannya bertepuk tangan dan bersorak sorai, ketika Arka berhasil memasukkan bola yang ia bidik.
Permainan berlangsung sengit, namun menyenangkan. Arka benar-benar kembali menjadi laki-laki single yang seharusnya. Bukan laki-laki yang terikat dengan urusan menjaga anak-anak.
Padahal tadi pagi ia baru saja merasa hampa. Apalagi saat menelpon dan melihat wajah si kembar. Namun sore ini tekad untuk menyelesaikan status single berjangka menjadi lebih kuat lagi.
Yang harus ia lakukan adalah melawan rasa rindu terhadap istri dan anak-anaknya.
"Arka."
Sebuah suara dari seorang wanita, terdengar menyapa Arka dari suatu arah. Saat Arka telah menyerahkan stick bilyard pada temannya yang lain, sebab ia mulai lelah.
"Elina?"
Arka mengenali gadis itu. Teman-teman Arka pun tampaknya demikian.
"Hei."
Keduanya saling mendekat dan cipika-cipiki. Elina adalah artis yang saat ini lumayan terkenal.
Mereka saling kenal sudah sejak lama, dan pernah tergabung di management yang sama. Sebelum akhirnya mereka sama-sama pindah dan Arka memilih masuk ke management Peace Production.
Mereka juga pernah dekat satu sama lain. Namun karena saat itu Arka masih bucin terhadap Maureen, jadilah hubungan diantara keduanya hanya sebatas teman saja.
"Apa kabar, Ka. Long time no see. Cuma sering liat lo wara-wiri aja akhir-akhir ini di TV dan di mana-mana." ucap Elina.
Arka tertawa kecil.
"Gue baik koq." jawabnya kemudian.
"Baik, masih sibuk syuting juga saat ini." jawab Elina.
"Syukur deh kalau gitu, gue udah jarang banget ketemu anak-anak management kita dulu. Kalaupun ketemu pasti di acara award. Dan itu paling lambai-lambai tangan doang dari jauh." ucap Arka.
"Iya, udah pada mencar sekarang. Oh ya, nomor lo ganti ya Ka?" tanya Elina.
"Iya, ganti." jawab Arka.
"Berapa nomor lo?" tanya Elina lagi.
Arka pun lalu memberikan nomor handphonenya pada gadis cantik itu. Elina lalu melakukan panggilan kepada Arka. Arka kemudian menyimpan nomor gadis itu.
"Ntar kapan-kapan kita meet up yuk bareng anak-anak." ujar Arka.
"Boleh banget, udah kangen juga gue sama mereka." ucap Elina.
"Ntar berkabar aja." ujar Arka.
"Sip, gue jalan dulu ya Ka." tukas Elina.
"Tadi lo kesini sama siapa?" tanya Arka.
"Sama temen-temen gue, tapi udah pada bubar." jawab Elina.
"Oh ya udah, lo balik sendiri nih?"
"Ada supir yang jemput."
"Oke deh, hati-hati ya." ujar Arka.
"Iya, makasih dan jangan lupa kontak-kontakan Ka." ujar Elina.
"Iya." jawab Arka.
Elina pun menjauh, Arka kembali mendekat pada teman-temannya.
"Bro, itu yang main film janji mentari kan?" tanya salah seorang rekan kerja Arka.
"Iya." jawab Arka sambil tersenyum.
"Lo kenal sama dia?" tanya temannya yang lain lagi. Lalu teman yang lainnya lagi nyeletuk.
"Yaiyalah kenal, sesama artis masa nggak kenal." ujarnya.
"Eh jangan salah, nggak semua arti saling kenal juga. Iya kan, Ka?" ujar temannya yang lain dan lagi-lagi Arka tersenyum.
"Iya, nggak semuanya kenal juga. Kalau nggak pernah satu project nggak bakal kenal. Kecuali dikenalin temen atau apa." ucap Arka.
"Kalau sama dia tadi, lo udah lama kenal?" tanya temannya.
"Lumayan sih, dari awal kita sama-sama masuk ke dunia entertaint. Kebetulan waktu itu ketemu di lokasi casting dan pada akhirnya kita gabung di management yang sama. Sebelum akhirnya mencar dan sama-sama ikut management lain." ujar Arka.
Rekan-rekan kerja Arka mengangguk-anggukan kepala.
"Cantik ya aslinya." ujar salah seorang dari mereka lagi.
"Lu mah cepat banget kalau ngeliat yang cakep, yang bening." teman Arka yang lain kembali nyeletuk. Mereka saling meledek dan saling toyor-toyoran kepala. Sementara Arka hanya memperhatikan sambil tertawa-tawa.
***
Amanda pulang agak belakangan dadi para karyawannya. Kemudian di tengah jalan tiba-tiba ia ingin minum kopi.
Maka mampirlah ibu dua anak itu ke sebuah kafe yang ia temui di jalan pulang. Ia memesan dua cup es kopi dingin. Dan bermaksud membawanya pulang.
"Amanda."
Tiba-tiba seseorang menyapa dari belakang. Amanda menoleh.
"Gareth?"
"Hai." Gareth tersenyum, dan Amanda pun demikian.
***