
"Jiji, Jiji."
Azka yang digendong oleh Min Ji menatap wajah perempuan itu sambil menyebutkan namanya. Tadi ia ada sempat mendengar Nino memanggil Min Ji dan ia pun akhirnya memanggil Min Ji dengan sebutan yang sama. Tetapi dengan pengucapan yang sedikit berbeda.
"Nono, mam." Afka turut berujar.
Nino lalu mengambil kue untuk ia berikan pada anak itu.
"Jiji, mamam."
Azka yang sudah lebih dulu memegang kue tersebut berusaha menyuapi Min Ji. Wanita itu menerima saja, bahkan ketika suapan tangan Azka malah meleset ke hidung.
Min Ji tertawa, begitupula dengan Nino. Ia lalu mengambil tissue dan mengelap bagian hidung Min Ji yang terkena cream cake. Azka dan Afka ikut tertawa, sementara di kejauhan Nadine sakit hati menyaksikan semua itu.
Intan dan yang lainnya menatap Nadine, lalu menatap Nino. Tak ada yang bisa dipersalahkan dalam hal ini. Karena Nino dan Nadine tak ada hubungan apa-apa lagi. Nino tidak berselingkuh, dan jika ia ingin dekat dengan gadis lain maka itu adalah hak pribadinya.
"Jiji, mamam."
Azka kembali menawari dan hendak menyuapi Min Ji. Kali ini Min Ji memakan semua kue yang ada di tangan anak itu. Hingga Azka pun melongo.
"Jiji, ue?"
"Iya, kan disuruh makan." ujar Min Ji.
Nino menahan tawa, sementara wajah Azka tampak kebingungan karena telah kehilangan kuenya. Antara kaget dan ingin menangis tapi tak ragu.
"Ue?" ujar Azka lagi.
Min Ji dan Nino membiarkan sejenak, sampai kemudian mereka memberikan kue yang baru. Azka tentu saja langsung bergerak cepat menyambar kue tersebut. Min Ji lalu menggodanya.
"Mau dong, kasih suap Min Ji lagi." ujarnya.
Azka melihat Min Ji. Mungkin ia teringat akan peristiwa tadi, saat kuenya tiba-tiba lenyap.
"Dadak." ujarnya lalu menarik kue tersebut ke arah lain. Min Ji dan Nino kembali tertawa, dan dari kejauhan lagi-lagi Nadine terluka.
"Hei, udah belum makannya?. Kita foto dulu sama Wew sama Tantan yuk!"
Amanda dan Arka menghampiri kedua anak itu, pada beberapa saat kemudian. Tampak mereka memasukkan sisa kue yang mereka makan ke dalam mulut.
"Ya ampun mulutnya penuh gitu." Arka mengomentari.
Mereka semua tertawa memperhatikan si kembar. Tangan kedua anak itu kemudian di lap dengan menggunakan tissue basah, begitupula dengan mulut mereka. Setelah itu lanjut di lap dengan menggunakan tissue kering.
"Tuh ada kena dikit tuh bajunya."
Amanda berujar ketika celemek mereka telah di lepaskan.
"Baju Nono sama tante Min Ji juga tuh lanjutnya kemudian.
"Nggak apa-apa ntar dibersihkan aja." ujar Min Ji. Sementara Nino hanya tertawa kecil.
Sejatinya cream yang terkena tak terlalu banyak, sebab si kembar cukup rapi kalau makan. Tak boleh ada yang terlewat oleh mereka dan semuanya harus masuk ke dalam mulut.
Kecuali untuk makanan yang tidak mereka sukai seperti brokoli. Jangankan masuk ke dalam mulut, begitu melihatnya saja mereka sudah mengerutkan dahi.
"Yuk, kita foto yuk."
Amanda menggendong Azka, sedang Afka digendong oleh Arka. Mereka kini mendekat ke arah Ansel dan juga Intan yang masih berdiri di depan.
"Wew, foto dong." ujar Amanda.
"Ayo sini!" Ansel dan Intan memberi ruang.
Arka dan Amanda lalu berdiri di kedua sisi calon mempelai tersebut, sambil menggendong si kembar. Tak lama foto mereka pun diambil oleh fotografer yang disewa jasanya hari itu.
"Jepret."
"Jepret."
Si kembar beralih jadi digendong oleh Ansel dan juga Intan. Kemudian mereka kembali berfoto. Tak lama Amanda dan Arka memisahkan diri. Sisa hanya Ansel dan Intan serta si kembar saja yang masih berada di hadapan kamera.
"Jepret."
"Jepret."
Foto pun selesai diambil. Beruntung si kembar tak menangis dan malah cengar-cengir.
"Mamam."
"Mamam."
Mereka kembali minta makan. Memang sejak tadi mereka belum makan begitu banyak.
"Ya udah mamam yuk!" ajak Arka.
Mereka lalu mendekati meja prasmanan dan mencari apa yang bisa di makan oleh kedua anak itu.
"Nih ada brokoli dek, mau nggak?" Arka menggoda Afka yang tengah ia gendong.
"Dadak."
"Dadak, hiii." ujarnya seperti jijik. Tampak anak itu menutup mulut dengan kedua tangannya.
"Kenapa nggak mau, enak loh." goda Amanda lagi.
"Dadak." Azka makin menutup mulut seraya menggeleng-gelengkan kepala.
Melihat reaksi tersebut, Arka dan Amanda tertawa-tawa. Mereka juga tak mungkin memberikan brokoli yang dimaksud. Sebab brokoli tersebut di masak menggunakan saus tiram dan juga potongan cabai.
Pasangan suami-istri itu akhirnya memilih kue, kentang, dan beberapa potongan sayur rebus yang dijadikan pelengkap hidangan steak. Ada juga telur rebus yang didapat dari stand gado-gado.
"Nih, yuk kita makan."
Arka dan Amanda duduk di sebuah meja sambil memangku ke dua anak itu.
"Mamam."
Azka dan Afka bertepuk tangan.
"Yeay, kita mamam." ujar Amanda. Sementara Arka tersenyum memerhatikan keduanya.
Yang pertama mereka ambil adalah kentang, kemudian mereka mulai memakannya dengan lahap.
***
"Lo nggak apa-apa?"
Intan bertanya pada Nadine ketika puncak acara telah usai dan mereka kini tampak makan bersama. Saat ini Nadine ada satu meja dengan Intan, Ansel, dan juga Satya serta Deni. Sedang orang tua Intan ada bersama Ryan, Pamela dan juga kedua orang tua Arka.
Intan menyinggung soal Nino yang saat ini tampak begitu akrab dengan Min Ji. Mereka ada di meja yang sama dengan Arka dan juga Amanda. Ada pula Rio serta Marsha dan Jordan di sana.
"Ya nggak apa-apa sih." ucap Nadine. Namun nada bicaranya seperti ada ketidakrelaan yang sengaja ditutup-tutupi.
Sementara di meja itu Nino begitu tenang menghadapi Min Ji yang ternyata sangat atraktif dan banyak bercerita. Ia menanggapi wanita itu dan menjadi pendengar yang baik.
Nadine ingat di saat-saat dulu mereka masih bersama. Lalu kemudian ia jatuh hati pada lain laki-laki yang menurutnya lebih bisa mengimbangi. Namun ternyata laki-laki itu telah memiliki kekasih lain dan Nadine di kecewakan.
"Jiji."
"Eheee."
Si kembar yang ada di seberang memanggil Min Ji.
"Apa?" tanya Min Ji kemudian.
"Eheee." Kedua anak itu tertawa.
"Koq manggilnya Jiji sih?" tanya Amanda.
"Aunty." ia mengajarkan pada kedua anak itu.
"Jiji."
"Jiji."
"Aunty." Amanda masih berusaha.
"Manda."
"Manman."
Semua orang yang ada di meja tersebut tertawa, sementara Amanda keki setengah mati.
"Nanti bisulan kepala kalian, panggil mama kayak gitu."
"Eheee."
"Mama." ujar Azka.
"Mama." Afka menimpali.
"Iya, mama." tukas Amanda.
"Eheee."
"Manda."
Mereka kembali mengulang dan yang lain kembali tertawa-tawa.
***
YUK MAMPIR KE SINI
Apa jadinya jika seorang seleb tiktok dan juga selebgram. Ditawari untuk menikah gimmick dengan seorang om-om aktor yang karirnya sudah redup, untuk mengembalikan ketenaran om-om tersebut. Harus berbohong dan tampak mesra di depan publik demi viral dan endorsmen. Padahal di belakang itu bagaikan kucing dan anjing.