Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Dirumah Bersama Ansel


Amanda menunggu jawaban dari Vera. Namun setelah sekian lama, ia tak mendapat apa-apa. Bahkan Vera menjadi tidak bisa dihubungi sama sekali. Tentu saja hal ini membuat Amanda makin bertanya-tanya.


Kemudian benak wanita itu langsung menghubungkan pada pemandangan, yang selalu hadir terhadap Vera selama beberapa waktu belakangan ini.


Ya, perihal laki-laki yang sudah dua kali kepergok jalan dengan istri dari ayahnya tersebut.


Amanda jadi kian curiga. Apa jangan-jangan saat ini Vera sudah memiliki hubungan lain dan sengaja mengabaikan Amman.


"Nin, ini Vera malah nggak bisa dihubungi sama sekali." ucap Amanda pada Nino.


"Tadi chat kamu juga nggak di balas sama dia?" Nino bertanya.


"Nggak ada juga, parah banget nggak sih?. Jangan-jangan dia lagi selingkuh tuh sekarang."


Amanda berspekulasi. Nino ingat saat ia pernah melihat Vera tengah jalan dengan laki-laki lain.


"Jangan berprasangka buruk dulu." Nino masih mencoba meredam suasana.


"Gimana aku nggak berprasangka buruh coba. Sekarang dia susah banget di hubungi. Liat pesan masuk kek, masa iya dia nggak baca notifikasinya. Dan lagi nih beberapa waktu belakangan, aku ada dua kali mergokin dia jalan sama cowok."


Nino memperhatikan Amanda. Ia menarik nafas agak dalam lalu beralih memperhatikan Amman, dari kaca ruang tengah dimana pria itu dirawat.


Amman belum juga sadar dan masih terbaring lemah disana. Nino merasa jika dirinya butuh berbuat sesuatu, maka tak lama dari situ ia pun beranjak.


***


"Wew."


Ryan lupa menutup pintu kamar Ansel, setelah tadi membersikan sedikit area tersebut. Meski sudah agak sehat, namun Ansel masih sehari masuk kerja dan sehari tidak. Hari ini giliran ia tidak masuk lantaran harus beristirahat.


Ryan sendiri masih di bawah dan belum berangkat ke kantor. Rencananya ia memang akan membangunkan Ansel untuk menjaga si kembar.


Tapi Ansel kini sudah keburu bangun, lantaran Azka memasukkan mainan mobil-mobilan ke mulut sang paman yang sedikit menganga.


"Kalian koq nakal sama Ansel?" tanya Ansel kemudian.


"Eheeee." Keduanya tertawa.


Ansel tersenyum lalu mengelus kepala kedua anak yang sudah mandi dan wangi tersebut. Ia masih malas untuk beranjak, namun kemudian ia menyadari sesuatu.


"Oh iya, ini kan lantai dua ya. Kenapa ini anak ada disini?. Apa daddy yang naikin mereka ke atas?" gumamnya.


Ansel diam sejenak lalu beranjak.


"Dad, daddy." panggilnya kemudian.


"Iya."


Ryan yang telah bersiap berangkat kerja tersebut mendongak ke atas.


"Ini Azka sama Afka, daddy yang bawa ke atas?" tanya Ansel pada sang ayah.


"Hah?. Mereka di atas memangnya?" Ryan kaget.


"Iya itu dikamar." ujar Ansel lagi.


Ryan melihat ke pembatas tangga yang sengaja dipasang sejak ia memiliki cucu. Namun pembatas tersebut lupa ia kunci, dan kini dalam keadaan terbuka.


"Astaga."


Ryan bergegas ke atas dan menemui si kembar. Tampak keduanya sedang bergelut dan saling gigit sambil tertawa di atas tempat tidur Ansel.


Kebetulan tempat tidur Ansel memang di lantai dan tidak ada ranjangnya. Ansel tak suka ada ranjang, agar seperti drama Korea katanya.


"Kalian naik kesini berdua?" tanya Ryan pada kedua anak itu. Mereka yang kaget dengan kedatangan Ryan, kini menatap ke arah kakek mereka tersebut.


"Eheeee."


"Eheeee."


Keduanya tertawa. Ansel dan Ryan menarik nafas panjang. Rasanya takut sekali membayangkan kedua anak itu jatuh dari tangga.


Sebab jarak antara lantai satu dan dua rumah Ryan memang tinggi. Sebab penghuninya pun tinggi-tinggi. Jika sampai keduanya jatuh, mereka bisa mengalami cidera yang parah.


"Dad, lain kali hati-hati." ucap Ansel.


"Mereka udah jago ini manjatnya." lanjut pria itu kemudian. Ryan pun mengangguk.


Maka Ryan dan Ansel menggendong kedua anak itu untuk kembali turun ke bawah. Lalu Ansel menutup pembatas tangga dan benar-benar memastikan kalau itu sudah terkunci rapat.


Ia juga mengecek pembatas ke pintu-pintu lainya. Terutama pintu keluar ke arah halaman belakang yang memiliki kolam renang.


"Ansel, kamu yakin jaga mereka berdua sekaligus?. Kalau nggak daddy bawa aja satunya ke kantor?"


"Jangan dad, nanti di kantor kalau daddy sibuk terus teledor gimana?. Ntar dia terjebak di lift atau jatuh dari mana kan serem." ujar Ansel kemudian.


"Kalau di rumah kan Ansel bisa awasi mereka." lanjut pria itu lagi.


"Oke deh. Kalau begitu daddy berangkat dulu." ucap Ryan. Ansel mengangguk, Ryan mengambil tas laptop dan kunci mobil.


"Kalian jangan nakal."


Ryan berujar pada si kembar, mereka kini bengong melihat Ryan yang seperti hendak pergi. Azka dan Afka mengangkat tangan seolah minta digendong dan ikut.


"Tinggal ya, grandpa kerja dulu. Grandpa pulang sore koq. Kalian sama uncle Ansel dulu ya." ujar Ryan lagi.


"Empa." ujar Afka.


"Empa." Azka menimpali.


Keduanya tak bisa menyebut grandpa. Maka kata itulah yang terdengar.


"Grandpa kerja dulu." ujar Ansel.


Mereka diam sejenak, namun kemudian melambaikan tangan.


"Da-da." ujar keduanya dengan penekanan.


Ryan tertawa lalu mencium kening kedua cucunya tersebut.


"Ansel jangan teledor jaga mereka."


Ryan memberi pesan kepada anak sulungnya tersebut.


"Iya dad." jawab Ansel kemudian.


Tak lama Ryan pun meninggalkan rumah. Ansel membuat sarapan pagi, sedang si kembar kini duduk sambil makan biskuit.


Ansel juga memberikan mereka banyak mainan. Sebab di rumah itu ada banyak mainan yang dibelikan Ryan, dan khusus untuk dimainkan oleh mereka apabila tengah menginap.


"Wew."


"Iya, Ansel bikin sarapan dulu ya. Kalian main aja, nanti Ansel temenin." ujar Ansel.


"Eheeee."


Keduanya lalu merayap kesana-kemari.