Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Cerita Kopi


"Aku mau mengembalikan ini semua. Totalnya 32 juta, berdasarkan struk belanja yang waktu itu kamu bayar di kasir."


Mi Ji menemui Nino dan membawa sejumlah uang cash ke hadapan pria tampan itu. Mereka kini bertemu di kantor Nino.


Tadinya Nino diberitahu oleh resepsionis bahwa ada seorang perempuan yang hendak bertemu. Meski merasa tak memiliki janji sebelumnya, namun Nino meminta supaya perempuan tersebut dibawa ke atas.


Dan ia kaget ternyata Min Ji yang datang. Biasa mengekor di belakang sang ayah, Min Ji kali ini datang sendirian.


"Ini buat apa?" Nino bertanya pada Min Ji perihal uang yang kini ada di hadapan matanya.


"Ya mau aku kembalikan. Aku merasa jahat sudah memeras kamu waktu itu. Dan lagi papaku tau, terus dia marah sama aku." jawab Min Ji.


Nino menatap perempuan itu, sementara yang ditatap membalas. Namun kemudian ia kembali sedikit menunduk. Sama persis ketika tadi ia baru datang, terlihat agak kaku serta begitu canggung.


"Ini nggak usah di kembalikan, kamu simpan aja uangnya. Lagipula saya sudah melupakan kejadian itu." ucap Nino.


"Jangan begitu, nanti papa saya nanya sudah dikembalikan atau belum. Saya takut ketahuan." ujar Min Ji.


"Saya nggak mau dapat masalah lagi. Soalnya papa saya bilang, kita ini orang mampu. Kenapa harus memeras orang lain." lanjutnya kemudian.


"Sekarang saya tanya, kenapa kamu memeras saya waktu itu?" tanya Nino.


"Saya..."


Min Ji menjeda ucapannya.


"Saya cuma pengen ngerjain kamu aja waktu itu. Saya pikir kamu nggak akan sanggup bayar, terus kamu kabur karena malu. Tapi ternyata kamu kaya dan bisa bayar semua itu." lanjutnya lagi.


Nino menghela nafas, lalu meraih handphone dan menggenggam uang tersebut. Kemudian,


"Cekrek."


Ia mengambil foto uang itu dan meletakkannya kembali ke tempat semula.


"Mana nomor WhatsApp kamu." tanya Nino.


Min Ji agak bingung, namun kemudian ia pun memberikan nomor WhatsApp miliknya kepada pada pria itu. Nino lalu mengirimkan foto uang yang tadi ia ambil.


"Kirim ke papa kamu dan bilang kalau uang itu sudah saya terima. Nanti uangnya kamu bawa lagi pulang, simpan aja buat kamu." ujar Nino.


"Maksudnya, kamu nggak mau menerima uang ini?" tanya Min Ji pada Nino.


"Saya nggak pernah berharap ini kembali, dan nggak usah dikembalikan. Kecuali kalau saya yang meminta." ucap Nino lagi.


"Tapi..."


"Bawa pulang!" perintah Nino.


"Kalau gitu sebagai gantinya, gimana kalau kita minum kopi. Tapi saya yang bayar." Min Ji memberi tawaran.


Nino diam lalu menatap gadis itu.


"Oke." Ia memberikan jawaban singkat.


"Yes."


Min Ji bersorak-sorai kegirangan. Namun mendadak ia malu sendiri atas sikap yang ia perlihatkan. Perempuan itu lalu menunduk dengan wajah yang memerah. Nino menahan senyum dan meraih kunci mobil yang terletak di atas meja.


"Ayo!" ajaknya kemudian.


Nino melangkah, Min Ji mengiring di belakang pria itu.


"Hasya." Nino berkata pada sekretarisnya, ketika telah keluar dari ruangan.


"Iya pak." ucap sekretarisnya tersebut.


"Nanti tolong selesaikan yang sudah saya perintahkan tadi pagi. Saya mau keluar, kemungkinan langsung pulang. Lagipula ini sudah cukup sore."


"Baik pak." jawab sang sekretaris.


Nino kemudian berpamitan dan berlalu. Sesampainya di bawah tepatnya di halaman parkir, ia membukakan pintu untuk Min Ji. Tampak Min Ji terpaku sejenak, ia tak menyangka jika Nino juga bisa bersikap manis.


Ia kemudian masuk, Nino menutup pintu mobil. Kemudian pria itu mengambil posisi kemudi dan menghidupkan mesin. Tak lama ia mulai menginjak pedal gas dan mobil yang ia kemudikan tersebut mulai merayap.


***


Amanda mengirim foto kedua anak mereka yang tertidur di sofa semalam. Dengan posisi duduk sambil memeluk boneka Teddy bear besar.


"So cute." balas Arka diikuti emoticon love dan peluk.


"By the way itu boneka Teddy dari mana, Man. Kamu beli?" tanya Arka.


"Lah tumben Ansel beli begituan."


"Iya, dia katanya beliin Intan. Tapi mereka perginya kan ngajak anak-anak tuh. Anak-anak nggak mau lepas, narik boneka Teddy bear ini mulu. Akhirnya dibeliin sama Ansel. Harganya satu jutaan nih, yang segede ini." tukas Amanda.


"Iya wajarlah. Anak-anak aja sampe kecil gitu di dekat tuh boneka." balas Arka.


"Iya, wkwkwkwk. Mamanya semalem nggak perlu ngelonin. Udah tergantikan." Amanda juga membalas.


"Hahaha." Arka tertawa.


"Kamu di kantor?" tanya nya kemudian.


"Iya, banyak banget kerjaan aku hari ini." jawab Amanda.


"Sama, aku juga scene-nya banyak banget hari ini. Yang semangat aja pokoknya, inget cuan." ujar Arka.


"Iya, Ka. Ini juga aku tempel-tempelin duit tau nggak di depan komputer aku." Amanda membalas.


"Oh ya?"


"Wkwkwkwk, nggak. Bercanda, Ka." tukas sang istri lagi.


"Kalau beneran aku begitu, ntar karyawan aku pada gosipin aku. Bilang kalau aku gila."


"Hahaha." Lagi-lagi Arka tertawa.


"Kamu udah makan, Ka?" tanya Amanda.


"Belum, baru banget istirahat. Kamu udah?" Arka balik bertanya.


"Udah, kan udah dari tadi siang istirahatnya." jawab Amanda.


"Oh, ok."


"Makan gih, Ka!"


"Iya, bentar lagi Man."


Mereka kemudian lanjut berbincang hingga beberapa saat ke depan.


***


Sementara Nino telah tiba di sebuah kafe. Ia yang menentukan tempat dan Min Ji hanya menurut saja. Mereka memesan kopi lalu memilih tempat duduk yang berada di suatu sudut.


"Nino, aku minta maaf ya. Atas apa yang terjadi diantara kita belakangan ini."


Min Ji memberanikan diri untuk membuka obrolan. Nino yang baru selesai membakar sebatang rokok itu pun lalu mengangguk.


"It's ok." ujarnya lalu menghisap dan menghembuskan asap ke udara.


"Sorry, kamu nggak masalah?" tanya Nino seraya melirik rokok yang terselip di antara jari tangannya.


"It's ok. Aku juga ngerokok koq, kadang-kadang." ucap Min Ji.


"Good."


Nino mereguk kopi yang ia pesan, begitupula dengan Min Ji.


Sementara di lain sudut, seseorang tampak tengah menelpon.


"Gue nggak tau deh, Tan. Gimana caranya minta pak Zio supaya balik lagi sama gue."


Orang tersebut berujar.


"Ya lo usaha terus aja, Nad. Masa iya Nino nggak luluh sama lo. Kalau tiap hari lo usahakan untuk berbaikan sama dia."


"Gue tuh gampang baper. Pas gue chat tapi dia nggak bales, gue jadi kecil hati."


"Ya nggak bisa kalau kayak gitu. Namanya berusaha, lo mesti siap untuk berkecil hati. Sebab pasti adakalanya lo bakal di cuekin."


"Nah gue nggak sanggup untuk itu. Gue..."


Tiba -tiba percakapan terhenti.


"Nad, Nadine."


Intan memanggil perempuan itu. Sementara Nadine kini telah membeku. Sebab ia melihat Nino bersama Min Ji, tengah mengobrol dan berbincang di sebuah sudut.


Entah ini kebetulan atau tidak. Yang jelas jantung Nadine mendadak berpacu dengan cepat. Ada rasa sakit yang perlahan menusuk-nusuk di relung hatinya yang terdalam. Apalagi saat Nino dan si perempuan itu terlihat tertawa bersama-sama.