Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Sendal


Amanda tampak menyilangkan tangan di dada, ketika akhirnya Arka dan Rio tiba di muka apartemen. Setelah sekian lama menempuh perjalanan. Saat itu juga ada Nino, Ansel, dan sutradara. Ada pula beberapa anggota kepolisian dari polres setempat.


"Astaga." ujar Rio kaget.


Arka keluar dari mobil dengan tenang lalu melangkah mendekati sang istri. Sementara sang istri wajahnya seperti sudah siap mengeluarkan kata-kata mutiara plus melempar sendal.


"Kalian berdua ya, bikin khawatir semua orang tau nggak?" tukas Amanda dengan nada yang tak ramah.


"Nih si Bambang yang punya ide." ujar Arka seraya melirik ke arah Rio. Sementara yang dilirik mendadak nyengir bajing.


"Hehe."


Dan pada detik berikutnya,


"Byuuur."


Ia kabur dari hadapan istri Arka tersebut. Amanda masih sangat emosi. Nino serta Ansel dan anggota polisi yang ada disitu tertawa kecil. Kemudian sang anggota polisi berujar pada Amanda, Arka, dan juga Nino serta Ansel.


"Jadi semuanya sudah selesai ya pak, bu. Suaminya juga sudah ketemu. Dan untuk bapak, kalau pergi bilang sama istri pak. Kasihan istrinya sampai terbang ke luar kota cuma untuk mencari keberadaan bapak."


Anggota kepolisian tersebut berkata pada Arka.


"Iya pak, saya benar-benar minta maaf dan berjanji bahwa kejadian seperti ini tidak akan terulang lagi." tukas pemuda itu.


"Baik, kalau begitu kami pamit dulu."


"Terima kasih ya pak."


Amanda, Arka, Nino dan Ansel berujar secara serentak. Tak lama Rio kembali muncul dan berbicara pada polisi tersebut. Rio juga di nasehati dan meminta maaf.


Akhirnya semua masalah pun clear. Pihak-pihak terkait yang sebelumnya telah mendengar kabar berita tentang hilangnya Arka serta Rio, langsung diberitahu. Bahwa kedua orang itu sudah ditemukan dalam keadaan selamat.


Hal tersebut tentu saja untuk menyetop kekhawatiran, yang terlanjur timbul di hati orang-orang tersebut. Arka, Amanda, Nino, Ansel serta Rio kini menuju ke apartemen.


Saat masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di apartemen tersebut, Amanda masih ngambek pada Arka. Sedang Rio, Nino, dan juga Ansel sudah duduk di ruang makan sambil ngopi.


"Man, aku minta maaf ya."


Arka yang telah selesai mandi dan berganti baju, kini mendekati sang istri yang tengah duduk di ujung tempat tidur. Wanita itu tampak diam, dengan tangan yang masih tersilang di dada dan tatapan mata yang tertuju ke suatu sudut.


"Kejadiannya itu cepet banget. Tau-tau aku diajak ke Cetho, dalam perjalanan itu aja aku banyakan tidur karena masih ngantuk. Tau-tau dia mendaftar dan kita mendaki."


"Tapi kan kamu bisa kabari aku dulu sebelum jalan."


"Aku bener-bener ngeblank saat itu, karena aku masih ngantuk parah. Aku sadar sama semua hal pas udah ditempat yang nggak ada sinyal."


Amanda menghela nafas. Tak ada gunanya memperpanjang masalah ini lebih lanjut.


"Aku tuh udah mikir macem-macem, Ka. Aku takut terjadi apa-apa sama kamu." ujar Amanda.


"Seandainya aku amit-amit jadi janda karena kamu kenapa-kenapa. Aku nggak apa-apa, masih bisa menghidupi anak. Tapi anak-anak butuh bapaknya. Mereka akan timpang kalau tumbuh tanpa salah satu dari kita." tukasnya lagi.


Kali ini Arka yang menarik nafas agak dalam. Ia tau meski Rio adalah biang kerok, tetap ia juga bersalah dalam hal ini.


"Iya, maafin aku ya."


Pemuda itu merangkul bahu sang istri. Awalnya Amanda masih terlihat tegang tubuhnya dan seakan menolak. Namun kemudian ia pun menurut saja saat Arka mencoba memeluknya.


"Di maafin nggak?" tanya Arka kemudian..


Amanda mengangguk. Arka lalu mencium kening istrinya itu dengan lembut. Usai beberapa saat berlalu, Arka keluar kamar. Kemudian ia menyambangi ruang makan dan berbicara pada Rio.


"Heh, Mulyono. Sono lo minta maaf sama Firman. Sebelum selanjutnya kita dilarang untuk pergi lagi berdua, gara-gara kelakuan lo." tukas pemuda itu.


"Iya." ucap Rio lalu beranjak.


Ia kini menyambangi kamar Arka, dimana Amanda masih berada disana dan membereskan beberapa barang sang suami.


Rio tidak masuk ke dalam, melainkan hanya berdiri di muka pintu yang saat ini tengah terbuka.


"Firman."


"Apa?" tanya nya seakan hendak membuat Rio menjadi Krispy geprek.


"Jangan, jangan Man!. Please!" Rio menghalangi niat barbar perempuan itu.


"Maafin gue, gue bener-bener minta maaf." ujarnya kemudian.


Amanda masih mengacungkan sendalnya.


"Gue janji nggak bakal mengulangi lagi. Suer, samber geledek pokoknya." Lagi-lagi Rio berucap.


Amanda menarik nafas lalu menurunkan sendal tersebut.


"Nah gitu dong." ujar Rio seraya memperhatikan Amanda.


"Sekali lagi lo bikin semua orang khawatir, Arka gue kerangkeng." ucap Amanda kemudian.


Rio antara ingin tertawa namun masih takut dengan refleks tangan wanita itu. Ia takut Amanda nanti mengambil lemari lalu melemparinya.


"Pokoknya gue janji ini yang pertama dan terakhir." tukasnya.


Amanda lalu benar-benar cooling down dan Rio sangat lega. Dalam beberapa saat mereka sudah terlihat berada di meja makan, dan menikmati makan siang bersama.


***


"Aduh Man, sakit."


Arka mengeluh seraya menggerakkan badannya. Ketika Amanda mengerok bagian punggung suaminya itu. Arka sejatinya yang meminta hal tersebut, sebab ia merasa tubuhnya begitu pegal.


"Makanya jangan nggak ngomong sama bini, kalau nggak mau kualat." Amanda berujar seraya terus mengayunkan uang koin dari arah tulang belakang ke luar.


Arka tertawa.


"Iya Firman." ujarnya kemudian.


"Ssshhh."


Tiba-tiba ia kembali mengeluh sakit.


"Ini udah pelan, Ka." tukas Amanda sebelum Arka sendiri melayangkan protes.


"Lebih pelan lagi, sakit soalnya." ujar Arka.


Amanda memperlambat gerakan, hingga Arka pun perlahan kembali merasa nyaman. Sementara di kamarnya sana, Rio sudah tertidur lelap sambil mendengkur. Saking lelahnya ia setelah mendaki gunung demi konten.


"Aku sama Nino dan Ansel pulang sore ini, Ka. Karena kami masih banyak kerjaan juga." ujar Amanda.


"Besok aja sayang, tanggung tau nggak." ucap Arka.


"Lagian aku kangen sama kamu." tukasnya lagi.


"Kangen sama aku apa sama jepitan?" Amanda berseloroh. Arka kini tersenyum.


"Ya dua-duanya lah." jawabnya kemudian.


"Heee, dasar."


Amanda mendorong sedikit bagian punggung Arka dengan jari telunjuknya. Dan Arka pun kembali tertawa.


"Ya udah deh, aku bilang dulu ntar sama Nino sama Ansel." tukas Amanda.


Ia kemudian melanjutkan proses kerokan. Hingga bagian punggung Arka di penuhi garis merah.


"Udah nih." ucap Amanda ketika semuanya telah selesai.


"Makasih ya sayang." Arka berkata lalu memakai baju.


"Aku bikinin susu dulu." Amanda beranjak


Dan lagi-lagi Arka pun berterima kasih pada istrinya tersebut.