
Amanda teringat dengan ucapan Nindya. Ia masih tak habis pikir. Jika benar Arka memiliki hubungan dengan wanita lain, bisa jadi ini akan menjadi sebuah pukulan yang berat baginya.
Mengingat ia percaya 99% dengan suaminya tersebut. Ia tak pernah menduga jika sisa yang 1% itu akan berdampak besar bagi perasannya saat ini.
Jelas ia akan sedih, marah, sekaligus kecewa jika memang itu semua benar adanya. Membayangkan saja sakit, apalagi melihat kenyataan.
Sore itu tanpa memberitahu sang suami, Amanda sengaja pulang agak lebih cepat dari kantornya. Dan kini ia meminta supir untuk membawa dirinya ke kantor Arka.
Saat terlihat mobil Arka keluar dari kantor tersebut. Setelah beberapa lama ia mengintai. Amanda meminta supir untuk mengikuti.
Tak ada hal mencurigakan, Arka langsung pulang ke rumah. Dan di rumah itu tak ada tanda-tanda penghuni lain kecuali dirinya.
"Ka, dimana?"
Amanda mengirim pesan singkat pada suaminya tersebut.
"Di rumah, Man. Baru sampe aku."
Arka jujur soal keberadaannya. Tak lama ia mengirimkan foto selfie pada Amanda. Wanita itu tersenyum, bahkan menertawai dirinya sendiri yang sudah curiga pada Arka.
"Kamu dimana?" Arka balik bertanya.
"Masih di jalan pulang." jawab Amanda.
Dari lantai atas Arka bisa melihat mobil Amanda dan ia pun tersenyum. Kemudian mobil itu berlalu, Arka membuka galeri dan melihat-lihat foto pernikahan mereka dulu.
Sedang Amanda kini menilik foto-fotonya semasa hamil. Banyak kenangan yang ia lalui bersama Arka.
***
Esok hari.
Rio mendadak meminta bertemu pada Amanda. Amanda sendiri tak tau mengapa tiba-tiba saja Rio meminta demikian.
Rio bilang ingin makan berdua dan curhat, maka Amanda pun mengiyakan. Lagipula ia sedang tak memiliki urusan yang penting.
Ketika sampai di lokasi pertemuan, Amanda agak celingukan mencari keberadaan teman dari suaminya tersebut. Namun kemudian Rio terdengar memanggil dari suatu arah.
"Firman." ujarnya mengundang perhatian sekitar.
Amanda menoleh dan tersenyum. Beberapa pasang mata melihat ke arah dirinya. Beberapa dari mereka tampaknya mengenali. Sebagian lain mungkin mengira Amanda adalah seorang transgender, sebab ia dipanggil dengan nama Firman oleh Rio.
"Akhirnya datang juga lo, gue udah jamuran disini." ujar Rio kemudian.
"Lo kagak kenapa-kenapa Ri, disini?" tanya Amanda.
"Banyak yang foto-fotoin lo tau dari tadi. Ntar jadi gosip lagi." ujar Amanda.
"Emang iya?" Rio balik bertanya.
"Perasaan ini tempat eksklusif. Apa udah banyak rakyat jelata yang kesini, sejak ada menu murah." tukas Rio.
"Tau, iya kali." jawab Amanda.
"Ya udah kita pindah aja yuk ke atas." ajak Rio.
"Di first kopi?" tanya Amanda.
"Iya, nggak suka gue kalau ada yang foto-fotoin." ujar pemuda itu lagi.
Mereka pun lalu pindah ke atas. Ke kafe lain yang lebih tenang dan semi private. Tadinya Rio memilih di bawah karena disana makanannya sangat enak. Tapi ia tak suka jika dirinya dijadikan konten oleh para fakir viewer dan hamba FYP.
"Lo kenapa mau ketemu gue?" tanya Amanda pada pemuda itu, ketika mereka telah berada di atas dan mendapatkan tempat duduk.
"Ya mau ketemu aja, emang nggak boleh." ujar Rio kemudian.
Tak lama pelayan mendekat dan mereka pun mulai memesan minuman dan juga cemilan. Selang beberapa saat, mereka sudah terlihat mengobrol kembali.
"Lo sama Arka kenapa?"
Rio mulai melontarkan pertanyaan yang menjadi bagian dari misi investigasinya.
"Nggak sih, tapi gue kaget aja. Koq tiba-tiba kalian berdua memutuskan untuk pisah. Awalnya gue pikir emang kalian udah mau cerai, terus di Arka masih nutup-nutupin kalau kalian itu ribut gede. Tapi kata dia pisah sementara aja." jawab Rio.
"Emang pisah sementara doang, Ri. Sesuai dengan apa yang dia bilang. Ntar juga kalau udah gumoh sendirian, kita balik lagi. Istilahnya ini tuh break dulu."
Rio tertawa.
"Eh Firman Nurmanto, kalian tuh udah bukan pacaran lagi. Pacaran mah enak ngomong break. Ini break sampe ke ngasuh-ngasuh anak juga break. Lo berdua kira si Azka sama Afka itu boneka. Kalau lagi males maen, tarok dulu."
Amanda jadi ikut tertawa namun kecil.
"Ya abisnya mau gimana coba?"
"Ya lo berdua kalau bosan sama rutinitas rumah tangga, jalan-jalan ke. Kemana gitu biar fresh."
"Kagak bakalan nolong, Ri. Kita jalan berdua ketemu-ketemu lagi, saling ngurusin lagi, repot lagi. Titik permasalahannya tuh disitu. Muak sama tugas rumah tangga yang itu lagi, itu lagi. Lo liburan sama pasangan, sama anak. Itu cuma mindahin rumah tangga lo ke tempat lain. Bukan bebas dari urusan rumah tangga."
Amanda berujar panjang lebar, dan Rio sekarang semakin mengerti apa yang menjadi masalah diantara kedua temannya itu.
"Hhhh." Ia menghela nafas panjang.
"Tapi lo berdua nggak ada niat buat cerai kan?" tanya nya kemudian.
"Kalau dari gue terus terang, nggak. Tapi gue nggak tau kalau Arka." tukas Amanda.
"Loh koq gitu?" tanya Rio heran.
"Ya, we never know. Siapa yang bisa menebak hati orang." ujar Amanda.
"Walaupun itu suami sendiri." lanjutnya lagi.
"Tapi lo berdua nggak ada ribut gede kan sebelum itu?"
"Nggak ada, baik-baik aja." jawab Amanda.
Lagi-lagi Rio menghela nafas panjang.
"Kalau yang gue tangkap dari Arka sih, sejauh ini dia nggak ada niat mau pisah sedikitpun. Gue udah berkali-kali curiga dan berkali-kali nanya, jawaban Arka tetap sama. Dia nggak mau pisah dan nggak kepikiran sampai sana." ujarnya lagi.
Amanda kini jadi sedikit tenang. Omongan Nindya yang agak menganggu dirinya mengenai Arka, kini seperti berkurang.
Ia kembali yakin jika suaminya itu tak memiliki wanita lain. Hanya saja keadaan mereka memang beginilah adanya.
***
"Ka, besok syuting. Jam 8 udah di lokasi, oke."
Mbak Arni mengabari Arka via WhatsApp.
"Iya mbak." jawab Arka kemudian.
"Karena iklannya santai, jadi pakaiannya casual aja. Nggak ada wardrobe soalnya."
"Bebas nih?"
"Bebas, yang penting keren, ganteng."
"Warna?"
"Bebas."
"Oke deh kalau gitu."
"Good luck ya, Ka. Semangat!"
"Thanks mbak."
"Sama-sama."
Mbak Arni menutup sambungan telpon tersebut. Kali ini Arka melangkah ke dekat lemari dan melihat-lihat pakaian mana yang akan ia kenakan besok.