Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Memberitahu Arka


"Nomor yang anda tuju tidak menjawab."


Arka terus mencoba menelpon Amanda. Setelah seharian ini ia benar-benar melepaskan handphone. Sebab jadwal syutingnya begitu padat, dari pagi hingga malam. Bahkan istirahat pun mereka hanya makan saja, lalu kembali take adegan.


"Nomor yang anda tuju tidak menjawab."


Lagi-lagi Arka mendengar hal serupa dari layanan yang ia gunakan.


"Sibuk kali si Firman."


Rio yang memperhatikan hal tersebut pun nyeletuk.


"Iya kali ya." ucap Arka kemudian.


"Lembur mungkin." lanjutnya mengira-ngira.


Arka lalu meletakkan kembali handphone-nya ke atas meja. Dan ia kini mengambil sebatang rokok, kemudian membakarnya. Tak lama Amanda yang menelpon.


"Hallo, Ka." Amanda berujar ketika telpon telah diangkat oleh Arka.


"Man, kamu kemana aja?" tanya Arka pada istrinya itu.


"Sibuk banget emangnya?" tanya nya lagi.


"Iya, Ka. Papa mendadak sakit di penjara." jawab Amanda.


"Hah?"


Arka kaget mendengar semua itu.


"Terus sekarang gimana?" tanya nya penuh kekhawatiran.


"Udah dibawa ke rumah sakit dan aku sama Nino tuh lagi ngurusin dia. Makanya aku nggak ada telpon atau chat kamu."


Oke, oke. Aku ngerti koq. Tapi udah ketahuan belum sakitnya apa?" tanya Arka lagi.


"Pembuluh darah sama jantungnya yang bermasalah, Ka." tukas Amanda.


"Astaga." Arka kembali kaget mengetahui hal tersebut.


"Kamu yang sabar ya, sayang." ujarnya pada sang istri.


"Iya, Ka. Makasih." tukas Amanda.


Mereka pun lanjut berbincang hingga membahas soal Vera.


***


Esok hari, di kediaman Ryan.


"Ayo makan dulu!."


Ansel mendudukkan kedua keponakannya di kursi makan khusus bayi. Sebelum itu ia telah mensterilkan meja di kursi tersebut, agar aman diletakkan makanan.


Sebab namanya anak kecil, jika diberi makanan, akan ada saja tingkah mereka. Termasuk memindahkan makanan dari piring ke meja, kemudian baru dimasukkan ke dalam mulut.


"Wew." Afka berujar pada Ansel.


"Iya, Ansel juga makan koq." ujar pria itu seraya meletakkan piring kayu bersekat kehadapan Azka dan juga Afka.


Isinya mashed potato tanpa rasa, sayur rebus dan potongan buah. Mereka pun mulai makan, tak lama Ansel juga makan di dekat mereka.


***


"Dad, anak-anak aman?" tanya Arka pada Ryan di WhatsApp.


Ryan yang saat ini tengah bekerja tersebut, membaca pesan dari sang anak.


"Aman lah, kan Ansel yang jaga." jawab Ryan.


"Emangnya daddy nggak dirumah?" tanya Arka lagi.


"Daddy kerja, Ka." Lagi-lagi Ryan menjawab.


"Loh, katanya lagi pengen work from home." ujar Arka.


"Lagi ada rapat penting hari ini. Nggak puas kalau hanya lewat zoom meeting. Kamu coba hubungi Ansel kalau mau tau kabar anak-anak." balas Ryan.


"Oke."


Arka pun lalu coba menghubungi Ansel.


"Sel, anak-anak aman?"


Dalam sekejap Ansel pun lalu mengarahkan kamera.


Ia mengambil foto si kembar dan mengirimnya pada Arka.


"Aman koq." jawabnya kemudian.


"Koq muka mereka ijo semua?"


Arka kembali bertanya pada Ansel sambil menahan tawa. Sebab di gambar yang terkirim, wajah kedua anaknya itu memang tampak kehijauan.


"Mereka makan sayuran, abis itu di lepehin buat nimpuk saudaranya. Terus saudara yang satunya lagi membalas, hingga terjadilah Green War." balas Ansel.


"Wkkwwkk."


Balas Arka.


"Nangis nggak tapi mereka?" tanya nya lagi.


"Nggak sih, ini berantem biasa aja nggak sampe nangis. Malah mereka ketawa-ketawa." jawab Ansel.


"Amanda ada menghubungi atau kesana nggak?" tanya Arka.


"Nggak ada, Ka. Belum ada dia kesini, masih sibuk mungkin."


"Tapi lo nggak kerepotan kan ngurusin mereka?"


"Nggak, biasa aja. Ngurus anak-anak lo mah asik. Jarang nangis, main juga nggak perlu ditemani sepanjang waktu. Mereka bisa main sendiri." jawab Ansel.


"Syukur deh kalau gitu, gue taku lo kerepotan. Mau gue suruh pak Darwis antar mbak kesana, biar ada yang bantu urus."


"Nggak usah, Ka. Gue baik-baik aja sampai saat ini. Belum babak belur karena mereka, wkwkwkwk. Lagian Intan bentar lagi kesini koq. Kalau ada mbak, ntar dia curiga gue macem-macem. Mbak penjaga si kembar kan cakep-cakep dan masih muda." tukas


"Calon suami takut istri." balas Arka.


"Bukan takut, lebih ke males denger Intan ngoceh. Sakit kuping gue."


"Wkwkwkwk." Arka membalas lagi.


"Ya udah ntar kalau ada apa-apa kabarin gue ya." ujarnya kemudian.


"Sip, pasti gue kabarin." jawab Ansel.


***


Di lain pihak.


Amanda turun dari mobil, yang saat ini sudah terparkir di halaman perusahan milik Amman. Ia berniat menemui Vera dan memberitahu wanita tersebut perihal kabar terkini suaminya.


Amanda melangkah ke arah pintu lobi. Setelah masuk ia pun bertanya pada resepsionis yang bertugas hari itu, mengenai keberadaan Vera. Ia juga mengatakan jika ia ingin bertemu.


"Bu Vera sedang rapat di atas, bu. Saya antar ke ruang tunggu ya." ujar resepsionis itu lagi.


Amanda pun menurut saja. Ia mengikuti langkah sang resepsionis untuk menuju ke ruang tunggu. Sesampainya disana, Amanda duduk.


Sekitar lima belas menit berlalu, pintu ruang rapat terbuka dan keluarlah Vera bersama beberapa petinggi disana. Namun ada satu hal yang mencuri perhatian.


Yakni adanya sosok pria muda yang dilihat Amanda serta Arka tempo hari. Pemuda itu tampak berjalan mendampingi Vera, sambil berbincang.


Sesekali mereka terlihat tertawa bersama. Sampai kemudian mata Vera mendapati Amanda di ruang tunggu.


"Amanda?" gumamnya kemudian.


Ia pun bergegas menemui anak dari suaminya tersebut.


***


Intan tiba setelah beberapa saat berlalu. Ia membawa pancake dan beberapa kudapan lainnya yang ia beli di sebuah toko kue.


Seketika Azka dan Afka pun menyingkirkan makanan mereka. Sebab mereka mengenali kotak kue yang kini di keluarkan oleh Intan.


"Kekek." ujar Afka seraya menunjuk kotak tersebut.


"Abisin dulu makannya, baru boleh ambil pancake."


Ansel berujar seakan mengerti apa maksud dari keponakannya tersebut.


"Kekek." Azka menimpali sambil menunjuk pula ke arah yang sama.


"Bu Amanda sering banget beliin mereka ini. Makanya mereka hafal sama kotaknya " ujar Intan.


"Aaaa, kekek."


Keduanya mulai merengek. Akhirnya Ansel pun mengganti makanan mereka dengan pancake. Lalu mereka pun terlihat anteng sambil memasukkan pancake tersebut ke dalam mulut.