Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Amman


"Gue harus balik sekarang."


Gareth berujar pada temannya, ketika urusan mereka telah selesai.


"Oke, take care ya bro." ujar temannya tersebut.


"Thanks." jawab Gareth.


Pria itu kini berjalan menuju ke halaman parkir restoran dan masuk ke mobil. Tak lama ia pun meninggalkan tempat itu.


Baru berjalan beberapa menit, tepatnya di sebuah jalan yang cukup padat. Tiba-tiba Gareth melihat Amanda dan mobilnya berbelok ke sebuah rumah sakit yang ada di sisi kanan jalan.


Sontak Gareth pun terkejut, ia kemudian mengambil jalur memutar dan membuntuti mobil wanita itu.


Gareth parkir setelah Amanda parkir. Posisi mereka cukup berjauhan tetapi ia masih bisa melihat dengan jelas, Amanda yang baru keluar dari mobil.


Perempuan itu tampak terburu-buru, dan kini Gareth pun bergegas keluar dari dalam mobilnya lalu menyusul wanita itu. Ketika Amanda mengambil langkah seribu, Gareth pun demikian untuk mengimbangi.


Amanda menelpon Nino. Tak butuh waktu lama Nino pun tiba di muka instalasi gawat darurat. Keduanya bertemu muka, lalu saling berpelukan dan menguatkan.


Tentu saja hal tersebut disaksikan oleh Gareth, yang kini sudah menemukan tempat persembunyian untuk mengintip ke arah Amanda.


Hati pria itu mendadak terbakar. Apalagi Amanda dan Nino berpelukan begitu erat. Seperti orang yang sudah lama memendam kerinduan.


Gareth mengira-ngira apakah Nino merupakan selingkuhan Amanda. Jika iya, tentu ia akan sangat marah sekali. Sebab telah lama ia mengincar perempuan itu dan berharap menjadi selingkuhannya.


Padahal di tempat dimana Nino dan Amanda kini berada. Keduanya berpelukan dalam keadaan yang penuh emosional.


Meski tak tumbuh bersama Amman, namun mereka takut jika Amara nantinya tak sempat merasakan kasih sayang dan kebersamaan dengan sang ayah.


"Apa dia baik-baik aja, Nin?" tanya Amanda pada Nino.


"Aku juga kurang tau, Man. Dokter masih mengobservasi lebih lanjut." jawab pria itu kemudian.


"Kalau petugas sipir penjara bilang, papa itu ya sakit biasa. Tapi kan kita nggak tau apa yang terjadi sebenarnya." lanjutnya lagi.


Amanda mengangguk.


"Kita masuk aja ke dalam." ujarnya.


Nino mengangguk lalu membawa Amanda untuk masuk ke dalam gedung rumah sakit.


***


Di lokasi syuting.


Arka tampak beradegan serius, mamun kali ini bukan bersama Rio. Scene Rio telah selesai diambil pada sebuah set yang berbeda.


Kali ini tampak Arka tengah berbicara dengan lawan mainnya yang merupakan seorang aktris. Ceritanya ia adalah istri Arka di film tersebut.


Adegan ini merupakan pelengkap sebelum terjadi perselingkuhan, antara sang istri dengan Rio yang menjadi bos mafia. Yang mana adegan tersebut sudah diambil sehari sebelumnya.


"Kamu nggak apa-apa kan, aku tinggal?"


Arka mengucapkan dialog seolah ia hendak meninggalkan istrinya itu. Dan sang istri pun mengangguk, dengan berurai air mata. Arka lalu memeluk perempuan itu cukup lama, sampai kemudian.


"Cut."


Sang sutradara menyudahi adegan tersebut.


Arka segera menyingkir dari hadapan kamera. Ia sudah sangat haus dan ingin minum sejak tadi. Maka ia pun bergegas mengambil air mineral, sebelum akhirnya kembali lagi.


"Siap-siap, Ka. Ke set lokasi berikutnya." ucap asisten sutradara. Arka menarik nafas lalu melangkah ke set berikutnya dan bekerja dengan penuh profesional.


***


"Dia mengalami tekanan dan stress berat. Suasana yang terkungkung serta pola makan yang kurang baik, menyebabkan masalah pada pembuluh darah dan jantungnya."


Dokter berkata pada Nino dan juga Amanda. Ketika akhirnya mereka dimintai untuk datang ke ruangan dokter tersebut.


Tentu saja hal itu membuat Amanda maupun Nino jadi bercampur aduk pikirannya, sekaligus merasa iba pada Amman. Ia sudah tua dan harus mendekam di penjara serta menjalani hukuman atas perbuatannya.


***


"Kamu pasti memikirkan Nino kan?"


Ayah Min Ji mencoba menebak isi hati anak perempuannya, yang kedapatan tengah duduk diam sambil senyum-senyum sendiri di teras rumah.


"Ah, appa. Aku nggak mikir ke arah sana koq." ujar Min Ji kemudian.


Ia dan ayahnya memang telah fasih berbahasa, sedangkan ibunya masih sedikit kaku dan mesti banyak belajar lagi.


"Nggak, tapi pipi kamu merah dan senyum-senyum sendiri." ujar sang ayah.


Mendadak wajah Min Ji pun kembali bersemu merah, dan itu terlihat jelas di kulitnya yang putih bersih.


"Udah ah." Min Ji beranjak.


"Mau kemana kamu?" tanya sang ayah kemudian. Sebab ia melihat Min Ji kini seperti hendak pergi meninggalkan teras rumah.


"Mau ke minimarket ujung jalan. Mau beli facial foam." jawab gadis itu.


"Ya sudah, hati-hati." ujar ayahnya lagi.


Maka Min Ji pun beranjak meninggalkan rumah dan menuju ke sebuah mini market, yang ada di ujung jalan dekat kompleks perumahannya.


Gadis itu masuk lalu memilih facial foam yang biasa ia pakai. Ia juga membeli hal lain seperti snack dan juga minuman. Usai membayar ia keluar dari minimarket tersebut dan melangkah dengan sedikit cepat.


"Buuuk."


Bahunya menabrak seorang perempuan. Perempuan itu menatap Min Ji dan begitupula sebaliknya. Sampai kemudian,


"Nadine."


Seorang gadis lain yang sudah terlebih dahulu mencapai pintu minimarket, menoleh dan memanggil nama gadis itu.


Entah mengapa Min Ji agak lama menatap perempuan bernama Nadine tersebut. Sampai kemudian ia pun memutuskan untuk kembali berjalan dan menuju rumah.


***


"Apa yang harus kita lakukan, Nin?"


Amanda bertanya pada Nino, ketika mereka telah keluar dari ruangan dokter. Di sebuah sudut yang cukup jauh, Gareth masih memperhatikan dan mengamati keduanya.


"Yang jelas kita lihat dia dulu. Kita pastikan keadaannya sekarang dan baru berpikir lagi." jawab Nino.


Amanda mengangguk, lalu keduanya menyambangi ruangan tempat dimana Amman kini di rawat.


"Kreeek."


Pintu ruangan itu dibuka oleh Amanda, ia dan Nino melangkah masuk. Tampak Amman masih memejamkan mata dengan selang infus serta alat bantu pernafasan.


Rasa iba di diri keduanya pun kian membuncah. Hati mereka mendadak terasa pilu melihat Amman yang tengah terbaring lemah.


Tak peduli apapun perbuatan yang telah dilakukan oleh pria itu selama ini. Di mata Amanda maupun Nino kini, Amman hanyalah sesosok pria tua yang menyedihkan.


Ia harus mendekam dalam penjara akibat ulahnya sendiri. Padahal di usianya yang sekarang, seharusnya ia menjalani sisa kehidupan dengan tenang.


"Man, kasih tau Vera. Siapa tau papa bisa lebih tenang kalau ketemu dia dan Amara." ucap Nino kemudian.


"Oh iya, aku lupa Nin."


Amanda meraih handphone yang ada didalam tas. Ia mencoba menghubungi Vera, namun Vera tengah berada di panggilan lain. Amanda bahkan mencobanya hingga beberapa kali.


Sampai kemudian ia mengetik pesan dan mengirimkannya pada istri dari ayahnya tersebut. Sebab telpon kepada Vera tak kunjung dapat terhubung.


Tiba-tiba Amman tampak bergerak, dan hal tersebut dilihat oleh Amanda maupun Nino. Mereka memperhatikan Amman, namun pria itu tampaknya belum akan terbangun saat ini. Sebab ia tak lagi membuat gerakan setelahnya.


***