Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Pisah


Sesuai apa yang sudah di sepakati bersama. Arka dan Amanda akhirnya pisah rumah untuk sejenak. Si kembar di titip ke rumah ibu Arka dengan persediaan ASI yang masih di supply oleh Amanda.


Lagipula saat ini si kembar sudah MP ASI, jadi mereka tidak akan terlalu kelaparan meski pasokan asi berkurang.


Tapi Amanda berjanji tetap akan memenuhi hak mereka tersebut dan berusaha untuk tak lalai atau terlambat dalam mengirimkan ASI nya ke rumah orang tua Arka.


Hari pertama menjadi single kembali, dilalui dengan baik dan menyenangkan. Baik Arka maupun Amanda sangat senang, sebab mereka bangun pagi tak harus mengurusi pasangan maupun anak.


Keduanya seperti mendapatkan udara segar, setelah dua tahun berkutat dengan kegiatan rutin bernama rumah tangga.


"Selamat pagi Amanda." ujar wanita itu seraya menggeliat meregangkan kedua tangannya. Ia pergi ke dapur, membuat kopi lalu membaca berita pagi.


Hal yang dulu sering ia lakukan setiap pagi sebelum bersuami dan memiliki anak. Sementara Arka memulai harinya dengan melakukan jogging. Ia juga biasa melakukan hal tersebut, sebelum menjadi bapak-bapak yang hanya mengurusi anak kembarnya saat matahari mulai menyapa.


Amanda menghirup kopi, sambil scroll media berita online yang lain lagi. Banyak kejadian yang ia baca di pagi itu. Hingga kemudian ia mulai memasang robot pembersih lantai dan beranjak menuju kamar mandi.


Amanda keluar di beberapa saat kemudian. Robot pembersih lantai telah menyelesaikan tugasnya dan Amanda juga sudah mengeringkan rambut.


Wanita itu lalu berdandan dan memilih pakaian kerja di lemari. Sementara Arka telah jogging ke tempat yang jauh dan keringatnya sudah membanjiri tubuh.


Amanda sejatinya masuk jam 10 pagi. Namun hari itu di kantor ada rapat yang mengharuskan ia datang lebih awal. Tak masalah, sebab ia kini menjadi single sementara dan tak punya beban apa-apa.


"Pia kamu sudah di jalan kan?"


Amanda menelpon sekretarisnya.


"Iya bu, sudah."


"Ya udah, nanti segala sesuatunya tolong kamu persiapkan dengan baik."


"Baik bu."


Amanda menyudahi telpon tersebut dan pergi ke meja makan. Ia ingat masih ada roti disana. Tak perlu repot menyiapkan makanan bagi Arka dan anak-anak.


"Degh."


Tiba-tiba batin Amanda terusik. Arka dan anak-anak gumamnya. Amanda melihat kursi yang biasa digunakan oleh Arka, dan juga kursi tambahan bayi yang sering di pakai oleh si kembar.


Hati amanda seraya di pukul-pukul. Namun dengan cepat ia berusaha menetralkan kembali perasaan. Sebab kini dirinya tengah menjalani hal istimewa sebagai single dan ia harus menikmati itu semua.


Amanda sarapan, sambil mengusir ingatan tentang Arka dan juga si kembar dari dalam benaknya. Ia berusaha keras meskipun itu sangatlah sulit.


***


Sementara Arka kini kembali dari jogging. Rasanya tubuh enteng sekali dan tak memiliki beban apapun. Tiba-tiba alarm di handphonenya berbunyi. Alarm tersebut bertuliskan,


"Si kembar mandi."


Gantian batin Arka yang terusik. Biasanya di jam segini ia sibuk memandikan sang anak. Bercanda dan tertawa dengan mereka.


Biasanya Azka dan Afka akan memukul-mukul air di dalam bathub, hingga membuat baju dan wajah ayah mereka basah.


Mereka sangat suka bila bathub dipenuhi bebek-bebekan kuning. Kadang bebek itu mereka biarkan berenang, di celupkan hingga dasar, atau di lempar ke luar dan meminta Arka untuk mengambilnya.


Arka menarik nafas, jujur dalam hati ia merindukan kedua anak itu. Tapi sekali lagi, ini adalah hak istimewa yang tengah ia jalani. Ia hanya ingin menikmati kebebasannya tanpa rutinitas membosankan itu. Arka masuk ke dalam rumah, dan menaiki tangga.


"Papapa."


Ia seperti mendengar suara si kembar.  Reflek pemuda itu menoleh, namun ia sadar saat ini dirinya ada di rumah lain. Maka Arka pun segera menepis semua itu.


Ia istirahat sejenak, kemudian mandi. Usai mandi ia mengambil pakaian di lemari. Namun ia tak menemukan dasinya yang berwarna hitam.


"Man, liat dasi aku yang item nggak?"


Tiba-tiba Arka kembali terdiam. Ia sadar sedang tidak bersama Amanda saat ini. Maka pria itu menarik nafas dan mencari letak dimana benda yang ia inginkan.


Usai berpakaian ia turun, perutnya sudah sangat lapar. Apalagi tadi ia berolahraga cukup lama.


Arka tiba dimeja makan, dan melihat meja tersebut kosong melompong. Kembali ia teringat jika saat ini dirinya adalah seorang single.


Maka Arka pun mencari sesuatu di lemari kitchen set. Masih ada mie instan disana dan untungnya belum expired. Sebab itu stok yang sudah lama sekali, sejak terakhir ia dan Amanda datang serta menginap di rumah tersebut.


Arka memasak mie instan itu dan makan sendirian. Tak ada pertanyaan rutin dari Amanda mengenai pekerjaannya. Tak ada pula anak-anak yang membuang beberapa sayuran yang tak mereka suka ke lantai.


Arka meletakkan bekas makannya di wastafel. Tak ada yang ia cium ketika hendak pergi. Namun lagi-lagi ia berusaha menepis semua pikiran itu.


"Gue harus menikmati semua ini." ucap Arka.


Maka ia pun bergerak meninggalkan rumah dan menuju ke kantor.


***


Amanda tiba di kantor dan langsung memimpin rapat. Saat hal tersebut berlangsung ia benar-benar memberikan performa terbaiknya.


Namun ketika semua telah usai dan ia kembali ke ruangan, wanita itu diam menatap handphone. Sebab tak ada pesan dari Arka.


Kemarin sebelum semua ini di mulai, mereka ada perjanjian untuk tidak saling chat atau telpon dulu.


Jika ada apa-apa mereka akan sampaikan pada ibu Arka dan ibu Arka akan meneruskan kepada mereka berdua.


Sebuah cara mempersulit hidup, kata Rio. Ketika Arka menceritakan lebih lanjut rencananya. Tetapi baik Arka maupun istrinya sama-sama telah sepakat.


Mereka berjanji akan membuat diri mereka kekenyangan dengan yang namanya kebebasan. Sebab belakangan itulah yang membuat hubungan mereka menjadi renggang.


***


Sementara itu, disaat kedua orang tua mereka tengah menyelesaikan perkara. Si kembar justru sangat senang tinggal dirumah kakek dan nenek mereka.


Kebetulan kalau siang begini maid di perbantukan disana. Sebab ibu dan ayah Arka harus ke toko.


Sore hari menjelang mereka makin senang, sebab banyak ibu-ibu dan anak-anak kecil yang bermain di halaman. Ada juga geng bu Mawar yang selalu siap sedia mengajak mereka bermain.


Jika Arka dan Amanda sejatinya merasakan hampa saat berjauhan dari kedua anak mereka tersebut. Namun si kembar justru menikmati. Sebab seluruh keinginan mereka dituruti, oleh ibu dan ayah tiri Arka. Rianti pun sama tak bisa menolak, jika keponakannya itu menginginkan sesuatu.