Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Ultah Riri


Hari berganti, ulang tahun Rio Salim akhirnya tiba. Sesuai janji ia mengajak Arka, Amanda dan si kembar jalan-jalan. Ada juga Liana, Nino, Min Ji. Serta Intan plus bule karbitan, Ansel.


Mereka semua tak menyangka jika Rio memiliki ide yang sangat-sangat di luar dugaan. Terutama Arka dan Nino, mereka tak habis pikir pada pemuda itu.


"Lo kepikiran aja, bangsat. Ngajak ke tempat beginian." ujar Arka masih tak percaya.


Ia melihat sekeliling waterboom yang kini tampak sepi, lantaran di sewa oleh Rio.


"Ingat masa kecil kan lo?" ujar Rio pada Arka.


Arka memperhatikan tempat yang seharusnya menjadi tempat umum tersebut.


"Ri, ini lo booking semua?" tanya Nino pada Rio.


"Oh, iya dong. Sama air-airnya udah diganti semua kemaren. Jadi aman kalau kita berenang disini." jawab Rio.


"Ini hebat." ujar Ansel takjub.


Ia tidak tau jika harga masuk kolam renang ini di hari normal hanya lima belas hingga 25 ribu saja.


"Dia nggak tau ini kolam sejuta umat." seloroh Arka pada Nino.


Nino pun kini jadi tertawa-tawa.


"Ingat jaman SD-SMP gue." ujar Nino.


"Nostalgia kan lo pada." ujar Rio lagi.


"Bener, Ri."


Intan menimpali, sementara Liana tampaknya menyetujui hal tersebut. Hanya Amanda dan Min Ji yang agak celingak-celinguk.


"Lo pasti belum pernah kan Firman, kesini?" tanya Rio pada Amanda.


"Nggak pernah." jawab Amanda sambil tertawa.


"Dia mah anak orang kaya, mana pernah ketempat beginian." ucap Arka kemudian.


"Eheee."


Si kembar yang dibukakan baju oleh sang ibu, kini antusias. Tak lama setelah itu mereka dibawa oleh Ansel dan Intan ke dalam kolam, dengan menggunakan ban pelampung kecil.


"Eheee."


Azka dan Afka tampak menepuk-nepuk air, lalu semuanya terlihat berenang kesana-kemari. Mereka ganti-gantian menaiki perosotan yang setinggi belasan meter.


Mereka juga merekam segala kegiatan melalui handphone. Beberapa diantaranya di unggah di laman insta story Instagram.


"Byuuur."


"Booom."


Rio loncat ke air layaknya anak kecil lalu mereka lomba berenang dari satu titik ke titik lainnya. Semua terlihat senang hari itu.


"Papapa."


Azka memangil sang ayah, lalu Arka pun mendekat dan mengajak anak itu bermain-main. Sementara Amanda dan Nino mengajari Afka berenang.


"Eheee."


Afka menepuk-nepuk air hingga wajah Nino dan Amanda pun kecipratan. Mereka lalu tertawa-tawa setelah itu.


***


"Happy birthday to you."


"Happy birthday to you."


"Happy birthday to you, Riri."


"Happy birthday to you."


Setelah sekian lama berenang, mereka menggelar tikar piknik dan mengeluarkan makanan serta kue yang sudah disiapkan.


Semua dibawa oleh Rio. Sebab ia melarang siapapun membawa makanan, karena takut makanan yang ia sediakan nanti tidak habis.


Tetapi ia mempersilahkan bagi siapapun yang ingin membawa kado atau hadiah untuk dirinya. Arka dan Amanda sendiri membelikan Rio sesuatu yang branded dan cukup mahal. Sesuai apa yang diminta oleh pemuda itu.


"Make a wish dulu, Ri." ucap Amanda ketika Rio hampir saja meniup lilin yang dibakar di atas sebuah kue ulang tahun.


Rio pun memejamkan mata lalu mengucap doa serta harapannya dalam hati. Kemudian ia mematikan lilin tersebut dengan tangan.


Karena kue akan dimakan bersama-sama. Rasanya tidak etis saja jika ditiup dengan mulut. Takut bakterinya akan menyebar kemana-mana.


"Yeay."


Semua orang bertepuk tangan dan mengucapkan selamat pada Rio.


"Semoga lo panjang segala-gala, bro." ucap Arka.


"Bangsat." seloroh Rio.


"Semoga Rio menjadi kaya raya." ucap Ansel.


"Aamiin." Lagi-lagi Rio berkata.


"Semoga Rio dan Liana cepat menikah."


Amanda mengungkapkan harapannya, sementara Liana hanya tersipu malu diikuti senyum Intan, Min Ji dan yang lainnya.


"Gue nyari duitnya dulu, Man." ucap Rio sambil tertawa.


Lalu mereka pun tampak duduk di tikar piknik.


"Gue udah laper banget." ujar Ansel.


"Jujur banget si Bambang."


Nino menertawai saudaranya itu. Mereka semua bersiap untuk makan. Namun kemudian Rio membuka satu kotak makan cukup besar dan membukanya.


"Anjrit."


Arka, Nino, Intan dan Liana kompak tertawa. Sementara Amanda, Ansel dan Min Ji tampak bingung.


"Ini nasi sama mie, Ri?"


Amanda bertanya dengan nada heran, sebab diantara makanan lain seperti pizza, ayam goreng krispi, kentang goreng dan lain-lain, terdapat mie instan dengan nasi di dalam kotak tersebut.


"Ini makanan legend, Man." ujar Rio.


Arka, Nino, dan dua lainnya ngakak.


"Legend maksudnya?"


"Rakyat jelata kalau mau berenang, pasti bekalnya ini." ucap Rio.


"Oh?"


Amanda baru tahu, ia kaget sekaligus tertawa kecil. Bukan menertawai tapi lebih kepada senang sebab mengetahui sesuatu yang baru.


"Iya, lo cobain deh!" ujar Rio.


"Lagi laper kan lo?" tanya nya lagi.


"Iya sih."


Amanda menjawab lalu mengambil sendok dan mencobanya. Detik berikutnya mereka memakan makanan nostalgia tersebut.


"Eh iya, enak. Walau udah dingin dan bentuknya kotak."


Amanda berseloroh, membuat Arka dan yang lainnya tertawa dan ikut mencoba. Ansel dan Min Ji juga dipersilahkan. Min Ji sendiri tak begitu kaget, sebab di negaranya biasa memakan Ramyun dengan nasi.


"Mama, mamam."


Si kembar menagih jatah, kemudian Arka dan Amanda memberikan pancake serta ikan salmon yang dimasak dengan bumbu dan susu. Amanda membawa bekal sendiri untuk si kembar.


"Kekek."


Azka dan Afka menolak pemberian sang ibu dan menunjuk ke arah cake ulang tahun Rio.


"Tau aja yang enak." seloroh Arka.


Tak lama kemudian si kembar mendapatkan keinginan mereka. Mereka semua makan dengan lahap, lalu kembali berenang, makan lagi, dan berenang lagi. Intinya hari itu mereka sangat-sangat bahagia.


"Kita keluar nanti siap-siap nih." ujar Nino seraya menyalakan sebatang rokok. Posisinya kini jauh dari si kembar.


"Siap-siap kenapa?" tanya Rio diikuti tatapan Arka dan juga Ansel.


"Digebukin sama orang-orang yang mau berenang." ujar Nino.


"Iya bener banget." ujar Arka.


"Tempat umum, lu booking. Pasti yang mau berenang pada kesel tuh sama kita." lanjutnya lagi.


"Kan sehari doang, Bambang. Lagian ini tempat udah gue booking sampe besok. Besok siapapun yang mau berenang, gue suruh gratiskan."


"Oh ya?" Arka bertanya pada temannya itu.


"Iyalah, lo kata gue se-egois itu mau seneng sendirian." ujar Rio.


"Gue seneng akhirnya setan ada yang tobat." seloroh Arka. Mereka semua pun lalu tertawa.


"Bangsat." ujar Rio kemudian.


Mereka makan sampai cukup kenyang. Beberapa diantara mereka menjauh untuk merokok setelah itu. Tak lama kemudian mereka semua kembali berenang.