Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Nino Healing


"Man dimana?" tanya Nino pada saudaranya itu di telpon.


Ia kini telah masuk ke dalam mobil dan bersiap untuk pulang. Namun pemerasan yang dilakukan wanita Korea itu tadi telah membuat ia kehilangan mood yang baik. Sehingga ia merasa butuh healing dengan cara apapun.


"Di rumah, Nin. Baru sampe aku." ujar Amanda.


"Kenapa?" tanya nya kemudian.


"Mau kesana dong, pengen main sama si kembar." balas Nino lagi.


"Ya udah kesini aja." ujar Amanda.


"Arka udah pulang?" tanya Nino.


"Udah juga, kan barengan."


"Tapi ganggu nggak nanti?" Lagi-lagi Nino bertanya.


"Nggak, kesini aja!" tukas Amanda.


"Oke."


Nino lalu mengubah rencananya. Dari ingin pulang ke apartemen menjadi pergi ke kediaman Amanda.


Setibanya disana mereka memasak mie instan bersama. Karena kebetulan Amanda dan Arka sendiri memang belum masak apa-apa untuk makan malam. Dan Nino membawa mie instan yang ia beli tadi.


Mereka lalu sama-sama makan, kemudian Nino menceritakan kejadian yang ia alami di supermarket. Tanpa di duga Amanda dan Arka malah tertawa-tawa.


"Koq lo berdua malah ketawa sih?. Bukannya simpati kek sama gue."


"Iya, gue prihatin tapi tuh lucu." ujar Arka.


"Uncle nak, di abisin uangnya sama saranghaeyo." ujar Amanda pada kedua anaknya yang kini menonton televisi.


"Eheee." Keduanya tertawa.


"Tuh, mereka aja ketawa." ucap Amanda lagi.


"Heh, uncle miskin ini." ucap Nino pada kedua keponakannya.


"Eheee."


Lagi-lagi keduanya tertawa.


"Lagian lo panikan sih, pas ketemu Nadine. Aturan mah santai aja." Arka kembali berujar.


"Iya sih, gue juga gegabah." ucap Nino sedikit menyesali diri.


"Masih punya rasa kali kamu." timpal Amanda.


Nino menghela nafas dan memperlambat makannya.


"Emang masih ada, aku nggak bisa bohong soal itu. Cuma aku udah nggak mau menjalin hubungan apa-apa sama dia, kalaupun ada kesempatan."


"Iya sih, dia kan ninggalin kamu gitu aja. Tanpa omongan apa-apa." lagi-lagi Amanda berujar.


Nino melanjutkan makan, sementara Arka dan Amanda serentak meminum air putih.


"Oh ya Nin, kita kapan ngeliat papa lagi.?" tanya Amanda.


"Belum tau, Man. Nantilah mungkin. Ini mau bantu ngurus pernikahan si ribet dulu." ujar Nino. Ia menyinggung perihal pernikahan Ansel dan Intan.


Arka tertawa.


"Tadi dia ada WhatsApp gue. Nanyain suvenir apa yang paling bagus, diantara tiga jenis yang dia kirim. Gue pilih salah satu terus dia ngomong panjang lebar dan punya pilihan sendiri. Kalau udah punya pilihan, ngapain nanya." ujar Arka.


Nino dan Amanda kini yang tertawa.


"Ansel tuh emang gitu. Bule paling ribet di dunia tuh dia doang, udah." ujar Nino kemudian.


"Tapi cocok loh, dia sama Intan." Amanda menimpali.


"Ansel ribet, Intan itu orangnya simpel dan praktis. Intan bisa jadi solusi dari keribetannya Ansel." lanjutnya lagi.


"Iya kalau gitu, kalau nggak?. Ribut mulu bakalan." ucap Nino.


"Papapa."


"Papapa."


"Kenapa?" tanya Arka pada kedua anak itu.


Arka melihat tayangan YouTube yang mereka tonton telah habis.


"Oh habis." ujarnya kemudian.


"Bis." jawab Azka.


Maka Arka pun mendekat, lalu mencari lagi tayangan kartun yang jadi favorit mereka. Setelah itu ia kembali ke meja makan.


***


Di rumah, Ryan menyiram tanaman bersama Pamela. Setelah sekian lama berlalu hubungan mereka masih berlanjut. Ketiga anaknya juga tak begitu masalah.


Toh sebagai laki-laki, Ryan juga butuh seseorang yang bisa mendampinginya. Meski kerapkali kebersamaan mereka jadi bahan gosip diantara Arka, Nino, dan juga Ansel.


Mereka sering mengintip apabila Ryan terlihat tengah berduaan bersama perempuan itu.


"Anaknya pak Kim cantik ya, sayang." ujar Pamela pada Ryan.


Beberapa saat yang lalu seorang kolega Ryan yang berkebangsaan Korea mampir ke rumah dengan membawa istri serta anak perempuannya yang cantik.


"Iya, cantik. Rencana mau aku jodohkan dengan Nino." tukas Ryan.


"Boleh juga tuh." ucap Pamela bersemangat.


"Cocok kalau sama Nino." lanjutnya lagi.


"Makanya, daripada dia sedih terus. Kan kasihan." tukas Ryan.


"Iya, sudah saatnya dia move on." Pamela menimpali.


***


"Apaan, dad?. Nggak, nggak."


Nino menolak serta merta, ketika ia akhirnya datang dan Ryan menyampaikan keinginannya.


"Enak aja jodoh-jodohin mulu. Nama Nino masih Zionino Andhika, bukan Zionino Nurbaya." ujar Nino sewot.


Pamela tertawa mendengar semua itu.


"Lagian perjodohan itu kayak beli kucing dalam karung. Kita nggak tau dia siapa, gimana wujudnya, sifat-sifatnya."


"Cantik tau, tanya Pamela." tukas Ryan lagi.


"Iya Nin, cantik." Pamela menimpali.


"Tadi kamu liat?" tanya Nino pada perempuan itu.


"Iya, tadi ada aku waktu mereka kesini." ujarnya lagi.


"Nggak percayaan sih orangnya." Ryan kembali berujar.


"Nino tetap nggak mau."


Nino bersikeras.


"Awas ntar kamu menelan omongan sendiri." ujar Ryan.


"Mustahil kamu nggak jatuh cinta, orang cantik soalnya." lanjutnya lagi.


"Dad, Nino nggak mau. Titik!"


Nino masuk ke dalam, ia berjalan ke dapur lalu membuat kopi. Sementara di depan Ryan dan Pamela tampak tertawa-tawa.


***