
Nino menemani Ansel berburu hantaran. Sebab meski merencanakan pernikahannya masih beberapa bulan lagi, namun Ryan mendesak agar prosesi tersebut dipercepat.
Alasannya takut Intan nanti hamil. Meski bule, dan biasa melihat pasangan yang hamil sebelum menikah. Namun disini orang tua Intan juga berpesan, untuk tak menunda lebih lama lagi.
Sebab mereka juga khawatir pada anak perempuan mereka. Mengingat gaya pacarannya dengan Ansel sudah terlihat makin dekat.
Selain itu mereka juga sudah sangat ingin menimang cucu dari keduanya. Ryan ingin melihat bagaimana rupa anak Ansel nantinya.
"Nin, pakai keranjang ini kah?" tanya Ansel seraya menunjukkan keranjang hantaran.
"Iya, ini boleh. Tapi kata gue lebih bagus yang kotak bening begini."
Nino merekomendasikan kotak kado dengan penutup Mika bening di atasnya.
"Lebih elegan." ucap Nino.
"Oh ya udah deh." Ansel menurut saja. Sebagian besar Nino yang memilihkan.
Mereka membawa hasil yang mereka dapatkan ke dalam mobil. Dan kini mereka bersiap untuk pindah lokasi, guna mencari yang lainnya lagi.
"Braaak."
Seseorang menabrak bahu Nino. Nino yang kaget pun menoleh, begitupula dengan orang tersebut. Ansel memperhatikan keduanya secara seksama.
"Heh, Samyang."
Nino menyadari jika orang itu adalah perempuan Korea yang tempo hari memeras dirinya. Sementara si perempuan Korea itu bergerak dan seperti hendak kabur.
"Heh, pemeras." ucap Nino sambil menyusul.
Lalu perempuan Korea itu berlari sambil mengacungkan jari tengahnya. Nino benar-benar ingin menyusul dan membuat perhitungan. Andai saja ia tak ingat tujuannya bersama Ansel.
"Itu siapa sih?" tanya Ansel pada Nino.
"Cewek stress." jawab Nino lalu masuk ke dalam mobil.
Masih tak mengerti dengan itu semua, namun Ansel akhirnya ikut masuk dan mobil mereka pun merayap meninggalkan tempat tersebut.
***
Usai dari satu tempat, mereka pergi ke tempat lain. Mereka kini mencari sendal dan sepatu yang juga ikut dalam daftar list hantaran.
"Disini emang nggak ada wedding organizer yang langsung ngurusin beginian?" tanya Ansel pada Nino.
"Ada, tapi ya barangnya gitu. Kita nggak bisa memilih dan belum tentu kualitasnya bagus. Orang sampainya udah dalam kotak semua koq." ucap Nino.
"Jadi mending kita nyari sendiri gini?"
"Iya, nggak usah package. Jadi bisa milih barang yang bagus apa nggak. Yang penting lo tau size nya Intan." tukas Nino lagi.
"Tau sih." jawab Ansel.
"Nah ya udah."
Mereka kemudian berburu sepatu, mereka meminta rekomendasi dari Amanda via telpon. Amanda memilihkan yang menurutnya bagus. Dan untuk makeup serta skincare, Amanda memberitahu merk yang biasa dipakai oleh Intan.
"Gila, makeup sama skincare aja kita habis lima juta."
Ansel kaget ketika mereka telah selesai membayar. Dan kini melangkah keluar dari outlet.
"Ya wajar dong, foundation aja tadi harganya enam ratus ribu. Belum yang lain-lain. Tadi ada satu skincare yang hampir satu juta harganya. Jadi wajarlah habis segini." ucap Nino.
"Ya udah, nanti nikah nggak usah skincare-skincare-an." ucap Ansel.
"Tapi jangan iri juga kalau liat istri atau pacar orang cantik, sementara istri lo busuk di makan radikal bebas." ucap Nino pada saudaranya itu.
"Emang radikal bebas bikin jelek?" tanya Ansel pada Nino.
"Ya iya, plus umur juga bisa bikin orang jadi jelek kalau nggak di rawat." tukas Nino lagi.
Ansel diam.
"Ntar Intan gue kasih sepuluh juta perbulan buat skincare-nya doang." ucap Ansel lagi.
"Makanya cari duit yang kuat. Jangan jadi laki-laki yang nggak ngotak. Istri nggak boleh kerja, harus diem dirumah. Tapi saat istri minta duit buat beli skincare, dibilang boros. Terus kalau istri jelek dikatain. Udahlah ngasih duit nggak mau, nggak ngebolehin kerja, nggak boleh skincare-an. Tapi pengen istri cantik. Lo kata nikah sama bidadari kahyangan." ucap Nino lagi.
"Iya juga ya." ujarnya kemudian.
"Bidadari apaan?" tanya Ansel kemudian.
Nino bingung dan berpikir.
"Angel." jawabnya singkat.
"Oh." Ansel manggut-manggut.
Mereka pun lanjut mencari hantaran yang lain.
***
Disisi lain keluarga Intan pun tengah sibuk mempersiapkan segala sesuatu. Meski Intan sendiri saat ini masih nyantai dan pergi ke kantor seperti tak ada pikiran sama sekali.
"Cie yang bentar lagi mau jadi pengantin baru."
Karyawan kantor yang belum pulang menggoda Intan, sementara yang di goda hanya mesem-mesem dan nyengir. Intan melangkah, kemudian di dekatnya melintas seorang pria yang cukup asing didepan mata.
Pria itu tampak memperhatikan Intan, sebelum akhirnya ia bertemu dengan salah satu petinggi di kantor Amanda.
Orang tersebut ternyata perwakilan dari Gareth untuk mengurus beberapa keperluan.
"Maaf pak, itu tadi siapa ya?" Orang itu bertanya mengenai Intan yang kini telah berlalu dan bersiap untuk pulang.
"Oh itu namanya Intan. Karyawan di kantor sini juga."
Pria suruhan Gareth itu tampak memperhatikan Intan dari kejauhan kemudian tersenyum.
***
"Duh, udah kelar nih beberapa."
Ansel dan Nino memasukkan barang terakhir yang mereka dapatkan hari itu ke mobil.
"Udalah kayak gini, awas aja kalau sampai ribut terus putus. Atau si Intan jatuh cinta sama orang lain. Aku hamili dia, liat aja."
Nino tertawa mendengar ucapan saudaranya itu.
"Yang perlu di khawatirkan itu diri lo sendiri. Kayaknya Intan nggak bakal selingkuh. Tapi kalau elo, mungkin iya." jawab Nino.
"Ya siapa tau aja, Nin. Nadine yang awalnya keliatan polos aja tau-tau selingkuh kan?" ucap Ansel.
Nino terdiam, dalam hatinya membenarkan.
"Sorry." Ansel seolah menyadari kesalahan ucapannya.
"It's ok." ucap Nino kemudian.
"Emang gitu koq kenyataannya." Lanjutnya lagi.
Tapi kan setiap orang itu beda-beda. Nadine mungkin begitu dan Intan bisa jadi nggak." tambahnya.
Ansel mengenal nafas.
"Doain aja semua lancar sampai hari pernikahan." ucapnya.
Nino mengangguk. Tak lama keduanya pun, lalu kembali masuk ke mobil.
***
Amanda menyudahi acara ngopinya bersama Gareth. Sebab wanita itu harus pulang dan mengurus si kembar.
Sejatinya Gareth masih ingin bersama, namun Amanda bilang ia tidak tenang meninggalkan anak-anak. Sebab di jam segini biasanya baik Arka maupun Amanda sudah berada di rumah.
"Takut mereka ngamuk ke mbak pengasuhnya." ucap Amanda pada Gareth.
"Oh ya sudah kalau begitu. Hati-hati di jalan." ujar pria itu kemudian.
Maka Amanda pun berpamitan lalu meninggalkan tempat itu.
***