Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Nino dan Samyang


Nino ingin makan mie instan. Kebetulan ia sekarang tinggal di apartemennya sendiri.


Karena jika ia tinggal bersama Ryan dan Ryan melihatnya makan mie instan. Ia akan di omeli oleh ayahnya itu. Walaupun ia telah makan mie instan tersebut seminggu sekali.


Ia memilah-milah, mulai dari mie instan produk lokal sampai import ia ambil satu persatu.


"Samyang." ujar Nino sambil memperhatikan mie instan tersebut.


"Menurut gue biasa aja sih, orang aja yang terlalu membesar-besarkan mie ini. Jadi kesannya enak."


Ia melewatkan mie tersebut. Namun terus melangkah sambil masih memperhatikan rak. Hingga tanpa sengaja.


"Buuuk."


Ia menabrak seseorang yang ada di depan dengan troly nya.


"Aaa, sorry, sorry." ujar Nino meminta maaf.


Perempuan yang ditabraknya itu menatap dengan kemarahan, ia kemudian berbicara dalam bahasa Korea. Sepertinya tak terima dengan ketidaksengajaan yang dilakukan Nino.


"Yee, dasar Jajangmyeon. Orang udah minta maaf juga." celetuk Nino.


Ia kemudian berlalu dan beralih ke barisan rak lain. Kali ini ia menuju ke tempat dimana produk susu berada. Nino memilah-milah, ia mencari susu almond dan ternyata dari merk yang biasa ia minum hanya tersisa satu kotak lagi.


Nino segera menyambar susu almond tersebut. Dan pada saat yang bersamaan, tangannya menyentuh sebuah tangan yang juga menginginkan susu itu. Nino menoleh, dan lagi-lagi si perempuan Korea itu yang ia temui.


"Heh, Jajangmyeon. Ini saya duluan ya yang ambil." ujarnya.


Perempuan itu lagi-lagi menjawab dalam bahasa Korea. Namun dari ekspresi yang ia perlihatkan, sepertinya ia tak mau mengalah begitu saja. Ia tak ingin memberikan susu tersebut pada Nino.


Akhirnya perebutan pun terjadi. Hingga tanpa sengaja Nino melihat ke suatu arah. Dimana Nadine tengah berjalan sambil mendorong troly.


Entah ini kebetulan atau apa. Yang jelas kini mata Nadine melihat ke arah Nino.


Secara serta merta Nino pun merangkul perempuan Korea itu layaknya mereka adalah sepasang kekasih.


"Kamu mau apa, mau yang mana?" tanya Nino.


"Ayo pilih yang mana aja, bebas koq." lanjutnya lagi.


Perempuan Korea itu memberontak, namun tak cukup kuat menahan tangan Nino yang kekar. Nino melotot padanya dan seolah memberi kode.


Nadine melihat ke arahnya, Nino pura-pura mesra dengan si Korea. Tak lama Nadine pun berlalu. Buru-buru Nino melepaskan pelukannya.


Sekuriti mendekat karena melihat ada yang aneh. Ia pikir sebuah kasus pelecehan telah terjadi. Nino yang melihat hal tersebut pasrah.


Ia tadi benar-benar refleks memeluk si gadis Korea itu. Bermaksud untuk menghindari Nadine dan membuat Nadine mengira jika ia berjalan dengan seorang perempuan.


Ia benar-benar tak berpikir panjang. Dan sepertinya gadis Korea ini juga memang berniat melaporkan dirinya.


"Permisi, ada apa ini?" tanya sekuriti tersebut.


"Oh nggak ada apa-apa pak."


Tiba-tiba si gadis Korea itu mengubah bahasa yang ia pakai dan menyelamatkan semuanya. Nino terkejut sekaligus tak menyangka.


"Bener tidak ada apa-apa?" tanya sekuriti itu sekali lagi.


"Nggak pak, ini teman saya." ujarnya sambil melirik ke arah Nino. Nino pun lalu bersikap seolah tak terjadi hal yang serius.


"Oh ya sudah kalau begitu. Saya mohon maaf, saya pikir sudah terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan." ujar sekuriti tersebut.


"Kalau begitu saya permisi." ujarnya lagi.


"Silahkan, pak." ucap si perempuan Korea.


Kini ia menatap Nino.


"Itu tadi mantan pacar kamu kan?"


"Mmm, iya." jawab Nino.


"Oke, karena tadi kamu sudah menggunakan saya untuk berpura-pura. Dan pada saat itu terjadi, kamu bilang kalau saya boleh mengambil apa saja yang saya mau. Sekarang saya minta itu terjadi." ujarnya.


"Maksudnya anda mau memeras saya?" tanya Nino.


"Oh iya dong, masa iya anda mau gratis. Udah saya tolong juga. Atau anda sebenarnya nggak punya uang?"


"Enak aja." ujar Nino.


"Ya udah, penuhi dong!"


Merasa harga dirinya terusik, Nino pun menyanggupi.


"Oke, ambil aja apa yang anda mau. saya mampu koq membayar apapun."


"Oke."


Perempuan Korea itu segera mengambil troly. Ia mengambil apapun yang ia mau. Beberapa saat kemudian ia kembali ke hadapan Nino dengan membawa tiga troly penuh berisi belanjaan.


Nino kaget, karena ia pikir wanita itu hanya akan mengambil bahan makanan saja. Tetapi ternyata ia juga mengambil peralatan seperti rice cooker, pemanggang, blender dan lain sebagainya.


"Heh Jajangmyeon, anda mau memeras saya?" tanya Nino.


"Lah, anda kan yang bilang sendiri. Saya boleh mengambil apa saja yang saya suka. Lagian anda juga sudah saya tolong ya. Jangan jadi kacang lupa kulit."


"Tau-tau an lagi si corn dog soal kacang lupa kulit." gerutunya kemudian.


"Enak aja bilang saya corndog, dasar kamu guci kimchi. Bilang aja nggak mampu bayar semua ini kan?" ujar wanita itu.


"Enak aja, saya kaya ya. Uang saya banyak." ujar Nino.


"Ya udah, bayar!"


Tak lama Nadine kembali terlihat di dekat mereka. Secara serta merta Nino kembali merangkul dan memeluk wanita itu.


"Ya udah sayang, kita bayar yuk!" ajaknya dengan suara yang super lembut. Namun serasa ingin mencubit ginjal wanita Korea itu dengan tang.


Mereka berjalan ke arah kasir. Sama halnya dengan Nadine. Nino makin menambah kemesraan dan untungnya si wanita Korea itu bisa diajak kerjasama.


Mengetahui Nadine ada di dekat mereka, si wanita Korea itu semakin nempel-nempel pada Nino.


"Sayang nanti kita foto pake hanbok yuk!" ujarnya pada Nino. Ia berkata seolah-olah mereka akan melakukan pemotretan dengan menggunakan pakaian tradisional Korea dalam waktu dekat.


Mendengar hal tersebut Nadine diam. Sementara Nino terus berpura-pura tak melihatnya.


Seluruh belanjaan akhirnya di bayar. Nino banyak mengeluarkan uang hari itu.


"Bilang apa sama saya?"


Nino berujar dengan sengit ketika membantu wanita Korea itu memasukkan barang belanjaan ke mobilnya.


Sebab Nadine pun masih berada di dekat mereka, menunggu taxi online yang ia pesan. Jadi Nino berpura-pura membantu kekasih barunya. Dan ternyata kepura-puraan itu malah menjadi membantu secara nyata.


"Saya harus bilang apa memangnya?" perempuan Korea itu balik bertanya.


"Ya, apa kek. Makasih, kamsahamnida, gomawo, thank you gitu. Emang di Korea nggak diajarkan?" tanya Nino.


"Iya, makasih banyak kekasihku." Ledek wanita itu.


Nino ingin sekali menggetok kepalanya, namun Nadine masih disana.


Ketika Nadine telah mendapatkan taksinya. Nino benar-benar menoyor kepala si wanita Korea.


"Aw, sakit. Kamu nggak tau terima kasih, dasar. Saya udah tolong kamu ya." ujarnya pada Nino.


Nino hanya berlalu meninggalkan wanita itu. Sementara si wanita tak masalah, sebab ia telah belanja banyak.