Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Kekhawatiran Si Kembar


"Ka, hmmh."


"Ssshhh."


"Iya sayang, hmmh. Aku mau kel......aaaaah"


"Aaaaaaah."


Amanda berteriak kencang ketika rahimnya dipenuhi oleh cairan hangat milik sang suami. Pada saat yang bersamaan muncul suara dan tangan yang seperti memukul-mukul di depan pintu kamar.


"Mama."


"Mama."


"Dar, dar, dar."


"Mama."


Arka dan Amanda yang nafasnya masih tersengal-sengal tersebut, mendadak kaget dan sama-sama tertawa.


"Koq mereka bisa kesini sih?" tanya Arka heran.


"Tadi mereka tuh tidur di kasur bawah, Ka. Dan pintu kamar mereka nggak aku tutup rapat juga. Karena aku pikir mereka bakalan tidur lama. Eh, taunya bangun." Amanda menjelaskan.


"Untung pintu kamar ini di kunci. Kalau nggak, bisa diliat mereka tuh kita tadi." ucap Arka.


"Makanya." ujar Amanda lagi.


"Mama."


"Papapa."


"Dar, dar, dar."


Si kembar kembali menggedor-gedor pintu.


"Iya sayang, bentar ya." ucap Amanda.


Arka lalu beranjak kemudian masuk ke kamar mandi. Sementara Amanda memakai kembali pakaian tidurnya lalu membuka pintu. Tampak si kembar dengan wajah penuh ketakutan langsung merayap dan memeluk kaki sang ibu.


"Mama."


"Mama."


Mereka seperti mengkhawatirkan Amanda. Mungkin karena tadi mereka mendengar ibu mereka itu berteriak.


"Mama nggak apa-apa sayang. Mama baik-baik aja." ucap Amanda.


Mereka masih memeluk kaki sang ibu dan Amanda kini menahan tawa.


"Yuk kesana yuk!. Mama mau ganti seprai dulu." ucap wanita itu.


Maka si kembar pun melepaskan pelukan di kaki sang ibu, lalu mereka merayap ke arah tempat tidur.


"Jangan naik dulu ya, mau mama ganti."


Amanda berujar seraya melucuti seprai yang tadi ia gunakan untuk bercinta. Sebab seprai tersebut telah basah oleh keringat dan cairan yang lainnya.


Ia memasukkan seprai dan sarung bantal yang juga telah ia lepaskan ke dalam keranjang pakaian kotor. Kebetulan letak keranjang itu ada di muka kamar mandi.


Amanda mengambil seprai yang baru, lalu membentangkannya di atas tempat tidur. Namun kemudian muncul dua gundukan dibawah seprai tersebut.


"Koq ada hantu?" tanya Amanda seraya memperhatikan. Tadi saat ia membentangkan seprai tersebut, si kembar buru-buru naik ke atas.


"Eheee." Kedua anak itu tertawa di dalam selubung.


Amanda mendiamkan saja dengan memasang sarung bantal dan juga guling. Tak lama kemudian Arka selesai mandi dan keluar.


"Loh, koq ada makhluk dibawah seprai." ujarnya sambil tertawa.


"Eheee."


"Eheee."


Si kembar kembali tertawa geli. Arka membuka lemari dan berpakaian dengan segera. Sementara Amanda kini menuju kamar mandi.


"Hayo, pada ngapain?"


Arka membuka selubung yang menyelimuti si kembar, tampak keduanya masih juga tertawa-tawa.


"Eheee."


"Eheee."


Arka kemudian mengajak mereka berdua untuk bermain-main sejenak di bawah seprai. Sampai akhirnya seprai tersebut kemudian di rapihkan dan kedua anak itu tidur-tiduran diatasnya.


Amanda selesai mandi, dan telah selesai pula mengeringkan rambut. Wanita itu keluar lalu mengambil pakaian di lemari dan mengenakannya.


"Tadi begitu mereka masuk, langsung peluk kaki aku. Muka mereka kayak cemas gitu, sambil mama-mama." tukas Amanda.


Arka pun jadi tertawa.


"Dengar teriakan kamu kali." ucap pemuda itu.


"Iya, mungkin mereka kira aku dipukul sama kamu."


"Padahal lagi dibikin enak." ujar Arka.


"Ember."


"Hahaha." Keduanya sama-sama tertawa.


"Mama, nini!"


Azka dan Afka melambaikan tangan mereka, tanda memanggil sang ibu. Tak lama Arka pun sama dipanggil oleh mereka.


Amanda dan Arka sama-sama mendekat lalu duduk di kedua sisi anak mereka itu.


"Toton." ucap Azka seraya menunjuk ke depan.


"Ton." Afka menimpali.


Padahal di muka hanya terdapat dinding dan tak ada televisi ataupun laptop di sana.


"Anak kamu imajinasinya ketinggian, Ka." ucap Amanda.


Arka kembali tertawa.


"Mau nonton apa kita nak?" tanya Arka pada keduanya.


"Eheee, ton." ujar Azka.


"Ton, oton." Afka menimpali.


"Tuh liat tuh disitu, ada kelinci yang lagi lari-larian." ujar Arka seraya menunjuk dinding.


Kedua anak itu melihat ke arah dinding tersebut, kemudian kembali melihat wajah ayah mereka.


"Cici?"


"Iya, ada kelinci di sana. Warnanya hitam sama putih." ujar Arka.


"Cici?"


Keduanya lagi-lagi menilik ke arah dinding. Dan mereka terlihat seperti berimajinasi di tempat tersebut.


"Kelincinya lari-lari, makan rumput lalu kejar-kejaran." ucap Arka.


Amanda memperhatikan kedua anak itu sambil tersenyum.


"Eheee, Cici."


Keduanya menunjuk ke arah dinding.


"Ada kelincinya?" tanya Amanda.


"Da-da." jawab mereka sambil mengangguk.


Arka dan Amanda bersitatap sambil tersenyum satu sama lain.


"Ada ayam juga nggak?" tanya Amanda lagi.


"Dadak." jawab mereka serentak. Keduanya juga kompak menggelengkan kepala.


"Cuma kelinci aja?" tanya Arka.


"Cici."


"Eheee."


Arka melanjutkan cerita. Sementara Amanda beranjak ke dapur dan menyiapkan ASI untuk kedua anak itu. Tak lama ia kembali dan memberikannya kepada masing-masing.


Waktu pun berlalu, si kembar akhirnya bosan mendengar cerita dan memilih berkeliling rumah sambil berjalan dan merayap. Ayah dan ibu mereka sama-sama memasak makan malam di dapur.


Sesekali keduanya menangis. Karena berebut mainan dan saling memukul kepala kembaran mereka.


Setiap itu terjadi maka baik Arka maupun Amanda akan menegur mereka. Biasanya kalau sudah di tegur mereka diam, kemudian tampak bermain bersama lagi. Lalu bertengkar lagi di suatu waktu.


Saat sudah lelah akhirnya mereka tertidur dimana pun itu. Arka dan Amanda memindahkan mereka ke kamar. Kemudian keduanya menikmati makan malam bersama.


"Ka."


Amanda berujar ketika mereka telah selesai makan dan membereskan semuanya. Mereka kini berada di depan televisi sambil menikmati tayangan.


"Apa?" tanya Arka pada istrinya itu.


"Besok nonton pengabdi setan yuk!. Ajak Rio juga." ucap Amanda.


"Boleh, udah lama juga kan kita nggak nonton di bioskop." tukas Arka.


"Iya, kangen juga pengen jalan berdua sama kamu." ucap Amanda lagi.


Arka tersenyum lalu mencium kening istrinya itu dengan lembut. Kemudian Amanda membalasnya dengan pelukan.


"Ya udah, aku kasih tau Rio dulu." ujar Arka seraya mengambil handphone dan memberitahu Rio via WhatsApp. Tentu saja Rio sangat bersemangat.


"Apapun itu asal jadi nyamuk dan ngerecokin lo berdua, gue rela Ka." ucap Rio diikuti emoticon yang nyengir jahat.


"Hidung babi lo, dasar." balas Arka.


"Wkwkwkwk, yang penting gue ganteng." ujar Rio lagi.


Maka Arka pun mengirim emoticon berbentuk kotoran yang tengah tertawa sebanyak-banyaknya.


"Ya udah, gue mau maskeran dulu sama pake skincare. Biar besok gue mirip hyeong Song Jong Ki." ujar Rio.


"Heee, lagu lu. Song Jong Ki, Song Jong Ki. Elu mah Song Jongkok." seloroh Arka.


"Emang, ketampanan gue mah mirip Jung Kook."


Rio makin kepedean tingkat matahari.


"Bukan Jung Kook, tapi Jongkok ya Ali Udin."


Arka sewot, sementara Rio kini tertawa-tawa.


"Wkwkwkwk." ujarnya kemudian.