
"Man."
Arka menelpon Amanda ketika malam semakin beranjak. Acara makan telah selesai sejak tadi dan kini ia kembali ke kamar. Begitupula dengan Rio, pemuda itu kini sibuk bermain game mobile legends.
"Hai, Ka. Kamu nggak syuting?" tanya Amanda.
"Lagi nggak hari ini, besok jam sembilan pagi baru mulai." ucap Arka.
"Oh, ya udah. Berarti kamu di apartemen sekarang?" tanya Amanda lagi.
"Iya, lagi dikamar." jawab Arka.
"Anak-anak mana?" tanya nya kemudian.
"Belum pulang, tadi pergi sama Nino, sama Min Ji juga." jawab Amanda.
"Oh, pergi kemana mereka?" tanya Arka lagi.
"Nggak tau, ke mall katanya jalan-jalan."
"Oh." jawab Arka.
"Tapi ngerepotin nggak ya kira-kira mereka?" lagi-lagi Arka bertanya.
"Ada mbak yang ikut tadi." jawab Amanda.
"Oh gitu, syukur deh. Kalau Nino kan udah biasa di repotin sama anak-anak. Nggak enak aja sama ceweknya. Masa mau pacaran di recokin sama para hoaya."
Arka berujar sambil tertawa.
"Kayaknya mereka belum jadian deh, Ka. Baru PDKT doang." ucap Amanda.
"Oh ya, Dari mana kamu tau?" tanya Arka lagi.
"Tempo hari aku ada nanya sama Nino, dan Nino bilang dia sama Min Ji itu masih berteman doang." jawab Amanda.
"Kayaknya si Nino belum terlalu suka sama tuh cewek, tapi dia keliatan banget mau mencoba." lanjutnya lagi.
"Iya, semoga aja. Siapa tau dari yang nggak terlalu suka ini, ceweknya lebih bener dari yang sebelumnya." ucap Arka.
"Ya, semoga aja. Lagipula kayaknya si cewek ini baik dan sopan orangnya. Si kembar juga suka sama dia." ucap Amanda.
"Siapa kalau mereka manggil si ceweknya?" tanya Arka.
"Jiji." jawab Amanda.
Arka kini tertawa.
"Kalau Afka udah berubah, jadi Mimin." ujar Amanda lagi.
"Mimin?"
"Iya, Mimin. Kalau Azka masih Jiji."
Lagi-lagi Arka tertawa.
"Ada-ada aja ya mereka." tukasnya kemudian.
"Nggak expect bakal selucu itu loh mereka. Dulu kayaknya kecil banget, rapuh, merah."
Amanda mengenang masa-masa bayi kedua anaknya. Arka pun kini teringat pada peristiwa tersebut.
"Iya sih, dulu waktu bayi kayaknya kalem banget. Pas udah umur segini, ternyata banyak ngoceh." ujar Arka.
Mereka berdua lalu tertawa-tawa.
"Perjalanan, Man." ujarnya kemudian.
"Iya, Ka. Nggak berasa ya." tukas Amanda lagi.
"Maafin aku kalau ada salah." ujar Arka.
"Koq gitu?" tanya Amanda heran.
"Berasa kayak mau ditinggal." lanjut wanita itu kemudian.
Arka tertawa.
"Minta maaf itu perlu, Man. Karena kita ini manusia biasa. Dan harusnya minta maaf, bukan cuma diucapkan pada saat mau meninggoy doang. Maaf, terima kasih, minta tolong. Itu harusnya jadi konsumsi tiap hari. Biar jiwa tuh bersih terus." tukas pemuda itu.
"Iya juga sih." ujar Amanda lalu tertawa.
"Maafin juga kalau aku ada salah." lanjutnya lagi.
"Oke, kita saling memaafkan aja." ucap Arka.
"Tapi nggak berlaku untuk kesalahan berselingkuh ya, Ka." tukas Amanda setengah sewot. Maka Arka pun tertawa mendengar semua itu.
"Aku juga nggak bakal mentolerir kalau kamu selingkuh." ujarnya lagi.
"Kayaknya itu Nino sama anak-anak deh, Ka." ucap Amanda.
"Oh ya udah, kamu urus mereka dulu. Nanti aku telpon lagi." tukas Arka.
"Oke."
Arka lalu menyudahi panggilan tersebut, dan kini Amanda keluar dari ruang tempat dimana tadi ia berada. Ia menuju ke arah Nino dan anak-anak.
"Loh, ahjumma nya mana?" tanya Amanda pada Nino.
"Udah dianter pulang. Kebetulan kan tempat dia lebih dekat ketimbang kesini." jawab Nino.
"Oh gitu."
Amanda menyambut kedua anaknya. Untuk beberapa saat ia masih sanggup menggendong mereka.
"Darimana kalian tadi?. Nyusahin Nono sama Jiji nggak?" tanya Amanda pada si kembar.
"Dadak."
Keduanya menjawab seraya menggelengkan kepala.
"Beneran, nggak?" tanya nya lagi.
"Dadak."
Nino tersenyum, sementara Amanda kini tertawa. Tak lama Azka dan Afka disambut oleh kedua pengasuh, untuk kemudian dibersihkan dan diganti pakaiannya.
"Mau minum apa, Nin?" tanya Amanda pada Nino.
"Nggak usah, Man. Aku mau pulang." jawab Nino.
"Buru-buru amat, kayak telat sekolah." seloroh Amanda kemudian.
Nino pun tertawa.
"Ansel noh, nggak tau kenapa nyuruh aku datang tiba-tiba." ujar pria itu.
"Koq tumben?. Sakit kali dia, apa gimana?"'
"Nggak, palingan juga kayak waktu itu. Udah heboh banget, minta tolong aku segera datang. Aku udah panik, taunya minta pasangin selang gas doang."
Amanda terbahak mendengar semua itu.
"Emang iya?" tanya nya kemudian.
"Iya, pengen banget aku gebuk kepalanya pake tuh tabung gas." ujar Nino lagi. Dan lagi-lagi Amanda tertawa.
"Udah ah, aku mau pulang."
Nino mendekat lalu mencium kening Amanda. Tak lama ia pun berpamitan. Setelah si kembar berganti pakaian dan mendapat ASI dalam botol satu persatu, Amanda mengirim pesan singkat pada Arka.
Tak lama Arka kembali menelpon. Kali ini dengan panggilan video call. Tentu saja si kembar jadi antusias dan berceloteh banyak. Seakan menceritakan jika tadi mereka bergembira. Padahal bahasa yang mereka gunakan sama sekali tak dimengerti oleh orang dewasa.
***
"Bagus nggak pak, bu?"
Rianti bertanya pada ibu dan ayah tiri Arka, mengenai gaun yang dikirim oleh pacar barunya. Besok ia akan diajak oleh pacar barunya itu untuk menghadiri sebuah pesta kelas atas di suatu tempat.
Tentu saja Rianti saat girang, sebab baru kali ini ada laki-laki yang mendekati dan sepertinya akan serius.
"Bagus." jawab ibu Arka seraya mengagumi Rianti yang berada di dalam balutan gaun tersebut.
"Kamu cantik, Ti." ujarnya lagi.
Rianti tersenyum lalu kembali mematut dirinya di depan kaca.
"Pacarnya Rianti itu orang mana, bu?"
Ayah tiri Arka bertanya, ketika sang istri telah berada di teras depan dan duduk disisinya. Sedang Rianti masih di dalam kamar dan berkutat dengan barang-barang pemberian sang kekasih.
"Katanya sih orang sini juga, pak. Tapi dia pengusaha kaya raya. Kenapa emangnya?" Ibu Arka balik bertanya.
Ayah tiri Arka menghela nafas agak dalam.
"Bapak sih senang kalau memang dia sudah menemukan orang yang dia anggap tepat. Tapi bapak cuma mau mewanti-wanti, jangan sampai terjebak sama suami orang. Karena rata-rata yang kaya raya itu, kalau nggak keturunan orang kaya, ya dia suami orang biasanya."
"Koq, bapak bisa menyimpulkan hal seperti itu?" tanya ibu Arka heran.
"Nggak ada salahnya kan, kita waspada dan mencari tau dulu siapa laki-laki itu. Sebelum terlanjur dan terjadi hal-hal yang membuat malu." ujar Ayah tiri Arka lagi.
Sejenak ibu Arka pun teringat pada pengalamannya terdahulu. Yang main percaya saja terhadap Ryan, padahal Ryan sudah punya istri.
"Iya pak, nanti ibu akan bilang sama Rianti." ujarnya kemudian.