
"Firman, kamu lagi dimana sayang?"
Arka kembali menelpon Amanda.
"Di rumah sakit, Ka. Abis ngurus papa sama Nino nih." ujarnya kemudian.
"Nino?"
"Iya, dia tadi datang mukanya pucat banget. Dan badannya panas. Jadi aku suruh istirahat dulu, ini dia lagi tidur di sofa dekat papa." ujar Amanda.
"Lagi banyak pikiran kali dia. Mikirin soal Nadine."
Arka langsung menghubungkan ke arah sana.
"Masa sih Nino masih kepikiran soal Nadine. Dan kalaupun iya, kenapa baru sekarang?" tanya Amanda heran.
"Jadi si Nadine tuh dari nemuin dia dan mau minta maaf. Ansel ada kasih tau aku. Tapi saat dia datang itu, Ansel menghalangi mereka untuk nggak balikan lagi. Terus Nadine juga tiba-tiba ada chat aku dan minta tolong supaya aku bantu memperbaiki hubungan mereka."
"Terus kamu jawab apa?" tanya Amanda.
"Ya aku bilang aja nggak bisa. Paling aku bisa minta ke Nino untuk menemui Nadine doang. Sisanya mau balikan atau nggak, ya itu kembali lagi ke keputusan Nino sendiri. Bener nggak kan?"
"Iya, bener. Soalnya riskan juga kalau kita bujuk-bujukin mereka supaya balikan."
Amanda berkata seraya menoleh pada Nino yang kini telah tertidur lelap. Amanda saat ini berdiri di dekat pintu masuk.
"Takutnya ntar Nadine ngulang lagi tabiatnya." lanjut Amanda.
"Iya makanya, Man. Kasihan Nino kalau sampe harus luka dua kali." ucap Arka.
"Iya, Ka. Tadi tuh Nino panas banget loh badannya. Aku tau dia dari dulu tuh suka memendam apapun itu. Dia bukan tipikal kayak kita yang lebih gampang bercerita dan mengungkapkan perasaan." tukas Amanda lagi.
"Tapi udah kamu kasih obat?" tanya Arka.
"Udah, makanya dia tidur itu." jawab Amanda.
"Papa gimana?" Lagi-lagi Arka bertanya.
"Ada tuh lagi baca artikel."
"Anak-anak?"
"Di rumah ibu. Ibu sama papa minta mereka kesana."
"Oh dari kapan mereka disana?"
"Dari pagi tadi, aku yang nganter." ucap Amanda.
"Oh, ya udah ntar aku telpon ibu aja kalau gitu.
"Ini kamu lagi break, Ka?"
"Udah kelar yang sesi pertama ini, Man. Kita ada libur selama beberapa hari. Aku tuh pengen balik ke rumah, tapi Rio ngajakin jalan-jalan."
"Oh, kemana?" tanya Amanda.
"Nih ngomong sama Rio deh."
Arka mengaktifkan mode loud speaker. Sejak tadi Rio memang sudah ada di dekatnya.
"Hallo, Firman." ucap Rio pada Amanda.
"Iya, kenapa Ri?" tanya Amanda pada sahabat dari suaminya tersebut.
"Boleh ya kita jalan sambil ngonten. Mumpung lagi ada di kota ini. Kan jarang-jarang juga gue sama Arka jalan jauh." tukas Rio.
"Ya udah, Ri. Jalan mah jalan aja. Kasihan juga Arka selama ini jadi bapak rumah tangga mulu, jarang liburan." ucap Amanda sambil tertawa.
Arka dan Rio pun turut tertawa mendengar semua itu.
"Jadi dibolehin nih?" tanya Arka.
"Boleh, asal jalannya jangan ke tempat-tempat nggak bener. Ntar main cewek lagi, atau kepincut janda." ujar Amanda seraya masih tertawa.
Arka dan Rio ngakak.
"Nggak lah, sayang. Aku cuma cinta sama kamu doang koq." ucap Arka.
"Bohong Man, buktinya dia tinggal sama gue sekarang satu apartemen. Arka tuh suka sama gue tau nggak." tukas Rio.
Amanda tertawa.
"Bangsat!" ucap Arka sambil masih tertawa pula.
"Gue kalaupun belok, milih-milih ya Ri. Nggak lo juga orangnya."
"Hahaha."
Untuk yang kesekian kali Rio tertawa.
"Ya mengitari kota surabaya, kalau bisa ke Jawa tengah juga. Mumpung lagi di sini, Man." jawab Rio.
"Ya udah, have fun ya kalian. Tapi tolong jagain itu laki gue. Perhatikan makan, rokok dan kebiasaan minum alkoholnya. Pokoknya jaga kesehatan deh." ujar Amanda.
"Iya, beres pokoknya." ucap Rio.
"Kamu jangan kayak gitu, Man." Arka kini kembali berujar.
"Rio Bambang kamu kasih mandat begitu, ya ngelunjak. Selanjutnya dia bakalan over protektif ke aku, kayak emak-emak." lanjutnya lagi.
"Ih nggak apa-apa. Biar hati aku tenang ngelepasin kamu, Ka."
"Iya kamu tenang, aku di stress karena dia." ujar Arka.
Amanda dan Rio kembali tertawa.
Mereka lanjut mengobrol sampai beberapa saat kemudian. Setelah itu telpon tersebut pun disudahi.
***
Esok harinya di libur pertama, Arka dan Rio menghabiskan waktu untuk tidur. Benar-benar selama dua hari full mereka hanya bermalas-malasan di apartemen dan lebih banyak molor.
Di hari ketiga mereka mulai membuat konten. Dengan mencari tempat makan berdasarkan saran atau rekomendasi dari subscriber Rio yang tinggal di Surabaya.
Pemuda itu juga mengadakan meet and great dengan para subscriber-nya tersebut. Sementara Arka mengekor saja di belakang Rio. Kemana Rio pergi, maka dia akan ikut.
"Ka, lusa jalan lagi yuk!" ajak Rio ketika mereka sudah pulang di hari itu.
"Ya udah, bebas." jawab Arka.
***
Malam itu sebelum jalan-jalan lagi pada keesokan harinya. Arka ada menelpon sang ibu dan menanyakan perihal si kembar.
"Hei, kangen nggak sama papa?"
Ia bertanya ada kedua anaknya.
"Papapa?"
Mereka menatap layar handphone.
"Iya sayang, ini papa. Papa kangen sama kalian." ujar Arka.
"Eheee."
Keduanya sama-sama tertawa. Tak lama mereka pun mulai merayap dan menjauh. Seakan Arka hanya mereka anggap sebagai angin lalu.
"Koq papanya di tinggalin?" tanya ibu Arka pada kedua cucunya.
"Hoaya."
Keduanya semakin menjauh.
Arka ditertawakan oleh Rianti dan juga sang ibu.
"Jahat banget, bapaknya lagi kangen eh mereka cuek aja."
Arka berkata dengan nada miris namun sambil tersenyum.
"Hoaya."
"Hoaya."
Keduanya terus merayap kesana kemari. Arka lanjut menanyakan kabar sang ibu.
"Ibu apa kabar, bu." ujar pemuda itu kemudian.
"Baik." jawab ibu Arka.
"Papa belum pulang ya?" tanya Arka lagi.
"Belum, tadi bilangnya mampir ke tempat Jordan." ujar sang ibu.
"Oh, Arka waktu itu dari sana sama Amanda dan anak-anak. Tapi anak-anak nakal banget, bu. Masa Joanna mau di pukul sama mereka."
"Oh ya?" Ibu Arka tertawa, begitupula dengan Rianti.
"Tapi nggak sampai kepukul kan?" tanya ibunya lagi.
"Nggak sih. Untungnya tangan Amanda cepet, kalau nggak udah di gaplok tuh si Joanna sama mereka."
"Heee, si kembar nakal." ujar Rianti.
"Eheee."
Mereka tampak tertawa-tawa, dan tak peduli. Arka dan ibunya terus berbincang hingga beberapa saat kemudian.