
Esok hari Arka dan Amanda berangkat ke kantor. Si kembar diajak untuk kemudian dibawa ke kediaman Ryan. Sebab sore nanti mereka semua akan berkumpul disana.
"Masih ngantuk nggak kalian?" tanya Arka seraya menoleh ke belakang. Tepatnya ke tempat dimana sang anak tengah duduk pada dua buah car seat.
"Dadak." jawab Azka.
Sementara Afka menggelengkan kepala.
"Oh ya udah."
Arka lalu menghidupkan mesin mobil, Amanda memberikan biskuit pada masing-masing anaknya itu.
"Mereka tuh kalau ditanyain lucu ya, Ka. Kayak udah ngerti semua gitu." ucap Amanda.
"Iya, ngejawab lagi." ujar Arka.
Pria itu menginjak pedal gas mobil.
"Papapa." Afka berujar.
"Apa nak?" jawab Arka seraya terus fokus menyetir.
"Papapa." Azka menimpali.
"Papaka."
Afka membuat Amanda dan Arka tertawa.
"Apa?. Coba ulangi dek." ujar Amanda.
"Papapa."
"Yang tadi dong." tukas Amanda lagi.
"Eheee."
Keduanya tertawa.
"Belum bisa di request, semau mereka aja." ujar Arka.
"Iya, mood mereka lagi pengen ngomong itu ya ngomong itu." ujar Amanda.
"Kalau nggak ya nggak." lanjutnya lagi.
"Papaka." Azka berujar.
"Tuh bisa." ucap Amanda.
"Manda."
Afka kembali berkata lalu tertawa. Hal tersebut kian membuat Arka dan Amanda bertambah kaget.
"Koq bisa?" tanya Arka heran.
"Eheee." lagi-lagi kedua anak itu tertawa.
"Coba ulangi!" Amanda memerintahkan.
"Eheee."
"Mama."
"Mama."
Amanda dan Arka bersitatap sejenak kemudian sama-sama tersenyum.
"Manda."
Arka tertawa, sementara Amanda menoleh dengan wajah agak sewot.
"Nggak boleh tau panggil mama gitu. Itu kan nama mama."
"Manda."
"Mama." Amanda membenarkan.
"Manman."
Arka dan Amanda kembali tertawa. Tak lama kemudian mereka tiba di kediaman Ryan dan keduanya pun langsung di titipkan. Kebetulan Ryan tidak pergi ke kantor, karena sibuk persiapan lamaran Ansel.
"Ansel sakit noh di dalam." ujar Nino yang baru keluar dan hendak berangkat.
"Sakit apaan si Bambang?" tanya Arka.
"Biasa, grogi kali mau nikah." lanjutnya lagi.
"Ntar deh sekalian sore aja ngeliat dia. Mau ngantor dulu." ujar Arka.
"Hati-hati kalian." Ryan berpesan.
"Oke, berangkat ya dad." ucap Arka.
Arka kembali menekan pedal gas mobilnya. Kemudian ia mengantar Amanda terlebih dahulu ke kantor. Lalu ia sendiri berangkat, sebab telah beberapa hari ia off dari tugasnya sebagai karyawan.
***
Sore hari, Maureen melihat Jordan keluar dari dalam sebuah mobil. Ketika ia tengah turun ke bawah dan habis membeli sesuatu dari minimarket.
Kemudian suaminya itu tampak melambaikan tangan pada seorang wanita, yang kini tampak melaju dengan mobil yang tadi ditumpangi.
"Jo." ujar Maureen seraya mendekat. Jordan agak kaget melihat istrinya itu ada dibawah.
"Loh, Joanna sama siapa di atas?" tanya nya kemudian.
"Sendiri, tadi lagi tidur. Karena aku mau beli popok yang habis." jawab Maureen.
"Ya udah yuk, kita naik." ajak Jordan.
"Itu tadi, siapa?"
Maureen bertanya perihal siapa perempuan yang tadi ia lihat. Saat itu posisi mereka telah naik lift dan baru saja tiba di unit.
"Itu Maya, itu rekan kerja aku. Kebetulan dia tau kalau mobil aku lagi rusak. Kan bengkel tempat aku benerin mobil itu, bengkel kakaknya dia." jawab Jordan jujur.
"Tadi dia mau ngasih tebengan karena lagi ada urusan di daerah sini." lanjutnya kemudian.
"Oh." jawab Maureen.
"Dia cantik ya orangnya." sambungnya lagi.
Jordan menangkap ada nada kecemburuan pada cara bicara istrinya tersebut.
"Kamu cemburu?" Langsung saja ia to the poin.
"Nggak." jawab Maureen seraya membuang pandangan matanya ke suatu sudut. Namun nada bicaranya jelas-jelas terdengar ngeles. Jordan pun tertawa dan mendekat, lalu ia menggenggam erat tangan wanita itu.
"Ngapain mesti cemburu, kalau aku aja cinta banget sama kamu." ujarnya kemudian.
Maureen diam, dan kini wanita itu agak menunduk.
"Aku ngerasa aku bukan cewek baik-baik saat ketemu kamu."
Jordan memperhatikan istrinya tersebut.
"Aku kotor, aku mantan orang jahat, aku ngerasa nggak pantes aja. Sementara diluar sana banyak perempuan yang lebih dari aku."
"Udah selesai?"
Jordan melontarkan pertanyaan. Kali ini Maureen yang balas menatap suaminya itu.
"Kalau udah, aku mau kamu stop sampai disini. Stop ngomong kayak gitu dan jangan lagi!. Kalau kamu insecure terus-terusan, kamu bisa membawa itu semua sampai ke cara kamu mendidik Joanna. Dia bisa tumbuh jadi anak yang nggak percaya diri nantinya." Jordan berujar dengan nada setengah marah.
"Lagipula kalau aku mempermasalahkan hal itu, dari dulu aku pasti udah cari cewek lain. Ngapain aku sampai rela berkorban ini itu demi kamu." lanjutnya lagi.
Air mata Maureen menetes.
"Kalau misalkan di luar sana, ada kejadian laki-laki selingkuh hanya karena dia menganggap istrinya kekurangan. Jangan kamu sama-samakan dengan aku. Manusia itu nggak ada yang sama persis, mau dia kembar sekalipun."
"Oeeeeek."
Tiba-tiba Joanna menangis. Maureen buru-buru menyeka air mata dan bergegas masuk ke kamar sang anak. Kemudian ia mengambil bayi itu dari dalam box dan menggendongnya.
Tak lama setelah itu Jordan mendekat, lalu merangkul dan mencium kening Maureen. Mendadak Joanna pun diam.
"Koq bisa diam tiba-tiba gitu?" tanya Jordan seraya menatap mata sang anak. Joanna sendiri kemudian kembali memejamkan mata.
"Papa nggak ada niat marah koq, cuma mama aja agak mancing."
Jordan berkata lalu tertawa kecil. Tak lama Maureen pun terlihat tersenyum.
***
"Wew, tit."
Azka mengatakan pada Arka dan Amanda yang baru tiba, jika Ansel sakit. Ansel sendiri tertawa mendengar semua itu. Lalu pria itu pura-pura tertidur dan Azka serta Afka berusaha menarik selimut.
"Mau diapain itu Wew?" tanya Amanda pada sang anak.
"Tit." jawab Afka.
"Emangnya adek tau sakit itu apa?" kali ini Arka yang bertanya.
"Wew, tit."
Keduanya terus menarik selimut, hingga menutupi sampai ke kepala sang paman. Tentu saja Arka dan Amanda jadi terbahak dibuatnya, termasuk Ansel sendiri.
"Heh, ini Wew jadi di tutup semuanya sampai kepala?" tanya Ansel seraya menunggu kedua anak itu menurunkan selimut.
"Turunin selimutnya, Wew nggak bisa nafas loh nanti." Amanda menimpali.
"Tit." jawab Azka.
Mereka semua kembali tertawa, Ansel membuka selimut yang menutupi wajahnya.
"Kalau sakit itu, selimutnya batas sini aja."
Ansel menurunkan selimut hingga dada.
"Nih batas sini nih." ujarnya kemudian.
Si kembar bengong, seolah mendengar penjelasan dari paman mereka tersebut. Namun tak lama kemudian mereka kembali menyelimuti Ansel seperti tadi.
"Ka, Man. Makan dulu sana!. Daddy udah nungguin tuh."
Nino yang tiba dengan membawa makanan untuk Ansel serta si kembar itu pun berkata.
"Ya udah, ayo Ka makan dulu!" ajak Amanda.
"Jangan nakal ya." Arka berpesan pada kedua anaknya.
"Dadda."
Mereka melambaikan tangan dan dibalas oleh Arka serta Amanda.
"Papaka." ujar serentak.
Arka dan Amanda hanya tertawa. Tak lama Nino pun menyiapkan makan untuk keduanya.
"Lo makan dulu nih!"
Ia juga meminta Ansel untuk melakukan hal serupa. Maka Ansel pun duduk dan bersiap.