Berondong Bayaran, CEO Cantik 2

Berondong Bayaran, CEO Cantik 2
Nono dan Jiji


"Huaaaaa."


"Papaka."


Azka dan Afka menangis di hari ketiga kepergian ayah mereka. Sepertinya sudah mulai rindu, karena belakangan mereka semakin dekat dengan Arka dan sering diajak bermain ataupun di temani tidur.


"Papanya lagi kerja, sayang. Nanti papa pulang ya." Amanda berujar.


"Huaaaaa."


Keduanya kian menangis sejadi-jadinya. Membuat mbak-mbak yang mengasuh mereka kini kewalahan.


Pasalnya mbak-mbak tersebut menjadi sasaran amukan mereka. Ada yang menggeliat dan memberontak, ada pula yang menjambak rambut si mbak.


"Eh, nggak boleh begitu. Tangannya nggak boleh latahan."


Amanda memberi pukulan kecil di tangan Azka, tetapi tidak sampai menyakiti. Hanya berpura-pura saja, agar anak itu berhenti menjadikan mbak pengasuhnya sebagai sasaran.


"Nggak boleh kayak gitu sama mbak Lastri. Kalau mama lagi kerja, siapa yang jagain kamu?"


Azka diam, namun masih ada sisa-sisa tangis dimatanya.


"Kan mama udah bilang, papa kerja. Papa cari uang buat Azka sama Afka." ujar Amanda lagi.


"Hekheee."


Mereka kembali merengek dan menangis. Tak lama kemudian Nino dan Min Ji tiba. Beberapa saat sebelum itu, Nino ada menelpon Amanda. Ia mengatakan jika ia ingin mengajak si kembar jalan-jalan, dan kini mereka berdua sudah sampai.


"Loh kenapa nangis?"


Nino bertanya seraya mendekat, begitupula dengan Min Ji. Perempuan asal negri ginseng itu langsung menghampiri Amanda dan mengucap salam. Amanda membalas salam tersebut, kemudian berbicara pada Nino.


"Biasa, nyariin papa. Untung belum diganti baju. Kalau udah diganti tadi, bakalan kena air mata semua tuh." ujarnya.


Nino tertawa kecil lalu menggendong si kembar.


"Jadi kan mau ikut Nono?" tanya nya pada mereka.


Kedua anak itu tampak menyeka air mata.


"Kalau mau ikut Nono, jangan nangis." ujarnya lagi.


"Nggak usah ajak aja, Nono. Kalau mereka masih nangis."


Amanda berkata, kemudian si kembar dengan cepat menghapus air mata hingga tangan mereka basah.


Semua orang yang ada disitu kompak menahan tawa. Karena sikap si kembar seolah menunjukkan jika mereka mengerti, perihal apa yang ibu mereka ucapkan.


"Ya udah sana, ganti baju dulu sama mbak!" ujar Amanda lagi.


Maka Azka dan Afka pun dibawa oleh pengasuh mereka, untuk kemudian dipakaikan baju baru. Karena baju sebelumnya kini sudah kotor dan juga basah.


Amanda membuatkan Nino dan Min Ji minuman dingin. Mereka mengobrol sebentar dan tak lama kemudian si kembar pun siap.


"Widih, keren. Keponakan siapa ini?" Nino menggoda mereka berdua.


"Nono." jawab Afka.


"Nono." Azka menimpali.


"Eheee."


Keduanya lalu sama-sama tertawa.


"Bukan keponakan Wew?" tanya Amanda.


"Dadak." jawab Azka seraya mengerutkan dahi dan menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Dadak." Afka menimpali.


Lagi-lagi semua yang ada di tempat itu kini tertawa.


"Kenapa nggak mau dibilang keponakan Ansel?"


Min Ji akhirnya bersuara dengan melontarkan sebuah pertanyaan.


"Karena Ansel tuh jahil sama mereka." jawab Nino.


"Oh gitu." Min Ji manggut-manggut.


"Tapi aku lihat mereka akrab-akrab aja kalau ketemu." ujarnya lagi.


"Ya, akrab. Tapi kadang si Ansel suka jahil, makanya mereka kesal." Amanda menjelaskan.


"Wew, dadak." ujar Azka.


"Kalau Nono?" Nino bertanya pada keduanya.


"Nono." jawab si kembar seraya memeluk Nino.


"Sayang Nono ya semuanya?" ujar Nino lagi.


"Wawang." balas mereka.


Amanda, Nino, dan Min Ji pun tertawa. Tak lama keduanya berpamitan dengan membawa si kembar.


Salah satu pengasuh ikut mereka, sedang yang satunya lagi tinggal. Karena ditugaskan membantu Amanda untuk bersih-bersih penthouse.


***


"Kenapa?. Lo merasa kalah sekarang?. Hah?"


"Man, ini apa-apaan sih?"


Arka bertanya pada sang istri dengan penuh kemarahan serta kekecewaan.


"Aku kerja capek-capek loh buat keluarga kita. Tega-teganya kamu selingkuh dari aku."


Amanda tak menjawab dan malah memalingkan wajah ke arah lain. Membuat Arka seketika naik pitam. Ia mendekat lalu berusaha menjauhkan Gareth dari wanita itu.


"Lepas!"


Arka mendorong Gareth, namun Gareth memberikan perlawanan.


"Brengsek!"


"Buuuk."


"Aaaakh."


Arka terbangun dari tidurnya, dengan Rio yang tiba-tiba muncul sambil terlolong bengong.


"Lu ngapain ninju dinding, Ka?" tanya nya heran.


Seketika Arka sadar jika tadi dirinya hanyalah bermimpi belaka.


"Sakit nggak tuh?" tanya Rio lagi.


Arka menghela nafas dan masih mencoba bersikap cool. Padahal itu sangat sakit sekali. Karena di dalam mimpi ia mengeluarkan tenaga sekuat mungkin. Kini tangan pemuda itu terasa panas dan tulang jarinya berdenyut-denyut.


"Makanya jangan tidur Maghrib, lo. Setan bertebaran tau nggak." ujar Rio lagi.


"Salah satunya elu." tukas Arka lalu beranjak.


"Lu temennya setan." Rio tak mau kalah.


Arka menuju ke kamar mandi.


"Tuh makanan udah siap." Lagi-lagi Rio berujar.


"Iya." jawab Arka.


Selang beberapa saat berlalu, seusai menjalankan kewajiban umat beragama. Arka dan Rio menyambangi meja makan.


"Lo beli kapan ini?"


Arka mempertanyakan soal makanan yang kini ada di meja makan.


"Tadi." jawab Rio.


Kemudian mereka sama-sama membuka makanan tersebut. Sementara di lain pihak, Nino dan Min Ji mengajak si kembar ke tempat bermain anak di sebuah mall. Tentu saja kedua anak itu sangat gembira.


"Jiji, aaak."


Azka mencoba menyuapkan bola plastik kepada Min Ji. Bola plastik itu didapat dari kolam mandi bola yang saat ini tengah mereka sambangi.


"Nggak boleh dimakan." ujar Min Ji pada Azka.


Sementara Afka bermain perosotan dengan ditemani Nino. Mbak pengasuh berjaga di luar arena, karena di sana ada stroller dan barang bawaan lainnya.


"Mam, kekek."


Azka masih berusaha, Min Ji yang tak mengerti apa itu kekek kini hanya berpura-pura memakan bola tersebut.


"Yeyey."


Azka senang lalu bertepuk tangan.


"Nono, gigi." ujar Afka pada Nino.


"Mau naik perosotan lagi?" tanya Nino.


"Ya."


Afka mengangguk.


"Gigi." ujarnya kemudian.


Maka Nino pun kembali menaikkan anak itu ke atas perosotan, dengan diawasi dari jarak sangat dekat tentunya.


"Eheee."


Afka tertawa ketika tubuh mungilnya meluncur dan berakhir dalam kubangan bola. Tak lama ia meminta lagi dan lagi. Ketika semua sudah lelah, mereka menyudahi permainan.


Beruntung si kembar tidak menangis saat dibawa keluar dari tempat tersebut. Mereka kemudian menyambangi sebuah restoran dan makan di sana bersama-sama.


"Senang ngajak mereka, soalnya jarang nangis dan lucu." Min Ji berujar seraya memberikan makanan bagi si kembar.


Nino tertawa.


"Waktu kecil lebih lucu lagi." ucap pria itu.


"Oh ya?"


"Iya, lebih gemuk dari yang sekarang. Kalau dikasih makanan suka di simpan di samping kanan kiri kayak chipmunk." Jawab Nino.


Min Ji pun tertawa mendengar semua itu.


"Jiji, mum."


Azka meminta minum, lalu Min Ji pun memberikannya.