Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Sebuah Petunjuk Penting


“Ya sudah sana! Apa salahnya dengan darah ini, bukankah terlihat sangat ekstentic dengan dipadukan wajahku yang tampan dan manis ini!” gumam Levi sembari berkaca menilai wajahnya sendiri yang terdapat percikan darah.


Sesampainya diruang Pribadi Will, mereka berdua duduk berseberangan didalam suasana ruangan yang gelap dan sunyi.


Will hanya diam memperhatikan mata-mata dari klan musuhnya yang memang terbilang sudah tua itu dengan sangat intens.


Siapa orangnya yang tidak akan merasa gugup dan takut ditatapan seperti se-intens itu oleh Will, ditambah lagi dia baru saja menyaksikan sebuah adegan pembunuhan yang sangat kejam dan sadis.


“Siapa namamu?” tanya Will yang akhirnya sedikit memecahkan kesunyian diantara mereka.


“Na-nama saya Mason, Tuan!” jawab orang itu dengan terbata-bata, sepertinya sudah gilirannya yang akan dinterogasi sekarang.


“Mason? Kau yakin itu nama aslimu?” ujar Will yang masih merasa tidak percaya, karena Namanya terdengar sangat aneh ditelingannya.


“Be-benar, Tuan! Kalau tidak percaya, silahkan lihat saja sendiri. Ini kartu identitas atau bisa juga anda mencari tahu dari tempat pinjaman uang didaerah X. Saya meminjam uang disana dengan menggadaikan sertifikat rumah, kalau bisa sekalian lunasi juga boleh!” sahut Pria tua bernama Mason itu, kerena merasa sangat gugup dan takut dia mecoba bercanda dengan Will orang yang membuatnya takut.


“Ogah banget! Aku saja masih nyicil rumah untuk istri dan anak masa depanku nanti!” sahut Will yang ternyata bisa diajak bicara dengan santainya.


Jeklekk,…….


Seketika lampu yang tadinya mati langsung menyala dan menerangi setiap sudut ruangan itu. Will dan Mason pun langsung menatap kearah suara saklar lampu tadi berbunyi.


Tampak jelas bahwa itu adalah Levi yang sudah berganti pakaian dan sepertinya baru saja selesai mandi.


Tapi anehnya, ini baru 15 menit setelah dia menyuruhnya membersihkan diri dan sekarang dia sudah berada disana dengan penampilan yang sangat bersih. Tentu saja hal itu mengundang tanya untuk Will dan Mason.


“Kenapa kalian tidak menyalakan lampunya? Aku hampir berpikiran mesum tadi. Kalau begini ‘kan enak, pikiranku juga tidak berkelana kemana-mana?” ujar Levi dengan santainya yang berjalan dan duduk disalah satu kursi yang berada disana.


“Ada apa? Kenapa kalian berdua menatapku seperti itu?” tanya Levi yang menyadari bahwa dirinya sedang ditatap oleh Will dan Mason dengan intens.


“Kau barusan mandi ‘kan?” ujar Will yang tidak tahan ingin segera mengetahui rasa penasarannya.


“Iya, kenapa?” tanya levi lagi dengan raut wajah bingungnya.


“Kenapa cepat sekali?” ujar Mason yang juga penasaran mandi seperti apa yang dilakukan Levi hingga bisa secepat ini bersihnya.


“Aku hanya mengguyurnya dengan air hangat, setelah itu selesai!” sahut Levi masih dengan sikap santainya.


“Kau tidak menggunakan sabun sama sekali?” seru Will yang tidak percaya denga napa yang didengarnya barusan.


“Kalau pakai sabun bisa lama ujung-ujungnya, makanya aku tidak pernah mandi dengan menggunakan sabun kecuali kalau aku habis melakukannya!” sahut Levi yang masih bersikap santai menanggapi setiap pertanyaan yyang dilantarkan Will.


“Waahhh,….. Kau ini benar-benar ‘yah!” Sungguh kali ini Will tidak bisa berkata apapun lagi.


“Sudahlah, lupakan soal diriku yang tampan ini! Kau jelaskan perkataanmu yang tadi mengenai ketua klan Tiger Dark yang baru!”


Levi pun mengalihkan pembicaraan pada topik utama mereka.


“Mengenai itu, Tuan! Seperti yang saya katakana sebelumnya. Tuan Jaydon selama ini memang ketua klan kami yang baru, tapi sebenarnya dia hanya ketua klan boneka yang dikendalikan oleh orang lain dibelakangnya. Maksud saya, Tuan Jaydon hanya digunakan sebagai pengalih klan musuh saja. Sementara yang memimpin asli, itulah yang sebenarnya ketua klan kami. Kami akan bergerak setelah ada perintah dari orang tersebut.”


Jelas Mason yang menceritakan sebatas yang dia ketahui saja selama berada didalam klan Tiger Dark.


“Jadi, si Jaydon ini memang ketua klan Tiger Dark yang asli. Akan tetapi, masih ada orang lain yang mengendalikannya, begitu?” ujar Will yang memperjelas semuanya, karena jujur saja dia tadi sedikit bingung dengan penjelasan Mason yang terdengar berputar-putar pada satu kata.


“Iyaa,……Kurang lebihnya seperti itu, Tuan!” sahut Mason yang membenarkan perkataan Will.


“Apa kau tahu siapa orang yang mengendalikan si Jaydon ini?” tanya Levi yang tepat pada sasaran.


“Kami sebagai anak buah remahan tidak pernah melihat sekalipun wajah ketua klan kami Tuan Jaydon, apalagi melihat wajah orang yang kedudukannya lebih tinggi dari ketua klan kami!” ujar Mason yang menjawab semuanya sekaligus artinya dia hanya bisa menjawab seputar ketua klan yang baru selebihnya dia tidak mengetahui apapun.


“Haaah,…..Ya sudah, terima kasih atas informasi darimu! Kau tadi bilang kalau nyawa keluargamu terancam, bukan! Bersembunyilah ketempat ini, kalian aka naman disana!” ujar Will yang memberikan Mason secarik kertas bertuliskan sebuah alamat.


“Baik, Tuan! Terima kasih banyak! Terima kasih sekali, karena sudah membantuku dan keluargaku keluar dari dunia hitam ini.”


Dengan cepat Mason menerimanya, dia segera membungkuk memberi hormat pada Will dan juga Levi sembari mengucapakan kata ‘Terima kasih’ yang tiada hentinya. Setelah itu, Mason pun pergi menuju kerumahnya dimana keluarganya berada.


"Tentu saja, Tidak! Mana mungkin seorang Levi akan melepas mangsa buruannya begitu saja. Aku sudah menyuruh seseorang untuk mengikuti dan membunuhnya dijalan!" ujar Levi yang ternyata hanya memainkan triknya saja tadi.


"Dasar kau memang bocah psikopat!" ujar Will yang merasa sedikit lega dan kasihan juga pada pria tua itu.


“Bagaimana sekarang?” tanya Levi yang menatap Will meminta pendapatnya.


“Bagaimana lagi, kita harus melaporkan hal ini pada Tuan! Tapi setidaknya sekarang kita tahu bahwa Jaydon hanya sebuah umpan saja.” ujar Will yang merasa pusing karena masalah ini terlalu berbelit-belit dan sangat sulit untuk dipecahkan.


“Waahh, ternyata ada gunanya juga kau tadi mengampuni si Mason ini!” Puji Will pada insting Levi yang sangat jeli itu.


“Heheheee,….Tentu saja! Siapa dulu, Zaen Levi yang tampan, pintar dan dapat diandalkan!” Tanpa basa basi Levi langsung saja menyombongkan dirinya didepan Will.


“Apaan? Dimataku kau hanya bocah psikopat dan mata keranjang!” sahut Will yang mematahkan kesombongan Levi tanpa sisa.


“Sialan kau! Bisa ‘gak kalau memuji itu yang ikhlas dari dalam relung hati yang paling dalam. Jangan memuji tapi ujung-ujungnya menjatuhkan sampai tak tersisa. Sakit hatiku ini, Will!” ujar Levi dengan ekspresi sedih yang dibuat sedramatis mungkin.


“Iiihh,…Jijik sekali aku melihatmu yang seperti ini! Ouhya,….Aku hampir lupa menyampaikan pesan dari Tuan padamu!”


Tiba-tiba saja Will teringat dengan pesan Rayden saat berada dikantor tadi.


“Pesan apa?” tanya Levi yang menjadi penasaran dibuatnya.


“Kau mulai besok sudah mulai menjadi pengawal Tuan dan Nona kecil lagi, serta segera menangkap Grace dan Liam secepat mungkin. Itu yang Tuan perintahkan!” jelas Will yang menyampaikan sesuai apa yang dikatakan oleh Tuannya.


“Menjadi pengawal si bocah kembar itu ‘sih tidak masalah, tapi menangkap orang bernama Grace dan Liam terutama si Liam itu. Iiihhh,….Jadi malas banget bawaannya!” sahut Levi dengan ekspresi tidak sukanya, bahkan dalam bayangannya saja sudah membencinya. Apalagi kalau harus melakukannya.


“Haahh,…..Kenapa? Bukankah kau sangat menyukai permainan berburu seperti ini?”


Will pun merasa sedikit aneh dengan sikap Levi yang awalnya bersemangat sekarang malah seakan terlihat enggan untuk melakukannya.


“Will, kau tahu sendiri ‘kan kalau aku sangat takut dengan yang namanya hantu. Dan orang bernama Liam ini bertemannya sama hantu, harusnya aku jadikan dia hantu dulu baru berteman dengan mereka ‘kan? Tapi masih jadi manusia tidurnya sudah bareng hantu, makannya bareng hantu dan semuanya serba bersama hantu bikin aku malas jadinya!” jelas Levi dengan wajah cemberutnya yang membuat Will tidak tahan untuk tertawa saat melihatnya.


“Hah? Hahahaa,……Hahahahaa,……”


Awalnya Will merasa terkejut denga napa yang dicurhatkan Levi padanya, detik berikutnya tawanya seketika pecah.


Will tak tahan ingin tertawa ketika melihat ekspresi wajah Levi yang tidak terlihat seperti biasanya.


“Sialan! Kau malah menertawakan aku ‘yah!” umpat Levi yang merasa menjadi bahan tertawaan oleh Will.


Bersambung................


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚