Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Kembali Bersekolah


“Hah?”


Semua orang ternganga mendengar penjelasan dari Lucia yang ternyata hanya ingin menanyakan apakah Zhia akan mengenakan baju pengantin seperti layaknya boneka barbie milik temannya.


“Jadi Luci tadi hanya ingin bertanya mengenai itu?” tanya Rayden yang ingin memastikan sekali lagi.


“Iya, tapi papah malah menyuruh Luci untuk berhenti!” sahut Lucia dengan wajah cemberutnya.


“Ayo, papah tanggung jawab! Luci menangis ‘tuh!” ujar Luca yang semakin memperkeruh suasana.


Mata Lucia pun semakin berkaca-kaca ditambah lagi setelah mendengar perkataan kembarnya yang seperti sedang membelanya.


“Hiks,….Hikss,…Papah jahat sama Luci!”


Lucia mulai menangis terisak sembari menundukkan kepalanya.


“Sayang, papah tadi tidak bermaksud seperti itu pada Luci! Maafin papah ‘yah, sayang?”


Rayden yang melihat putri kecilnya mulai menangis, dia segera menghampiri Lucia dan memeluknya.


“Ck,…Ck,…Iisshh, Cano! Kau ini papah yang bagaimana ‘sih? Masa putri ingin bicara malah disuruh diam!” ujar Noland yang langsung menyalahkan Rayden dan memojokkannya.


“Iisshh, papah ini! Jangan semakin memperkeruh suasana ‘deh!” sahut Rayden dengan kesal.


“Papah, jangan bercandain Cano disaat seperti ini!” Julia mengingatkan pada suaminya.


“Luci, sayang! jangan menangis ‘yah! Papah pasti tidak sengaja bicara seperti tadi, maafin papah ‘yah. Jangan menangis lagi nanti cantiknya hilang ‘loh!”


Zhia pun berusaha membantu Rayden untuk membujuk putri yang sedang merajuk itu.


“Apalagi ini? Apakah drama paginya masih terus berlanjut sekarang?”


Will hanya bisa bertanya-tanya didalam hatinya sendiri.


“Apa yang terjadi disini, Will!” bisik Levi yang menyadarkan Will dari lamunannya.


“Jangan tanya padaku!” bisik Will balik seakan tidak peduli dengan apa yang terjadi sekarang.


“Kalau tidak bertanya padamu, terus aku harus bertanya pada siapa? Hembusan angin? Yang ada aku mencium bau kentut atau bau bajumu yang sebulan tidak pernah dicuci itu!” gerutu Levi pada dirinya sendiri dengan sedikit menyindir Will yang berdiri disampingnya.


Will pun hanya bisa melontarkan tatapan tajamnya pada Levi tanpa bisa berkata apapun.


“Jangan menangis ‘yah, sayang! maafkan papah! Papah yang salah kerana bicara seperti tadi!”


Rayden masih berusaha membujuk Lucia agar berhenti menangis dan merajuk padanya.


“Luci akan maafin papah, asalkan papah mengijinkan Luci dan kak Luca berkunjung ke markas grup papah!” bisik Lucia pada papahnya yang saat ini tengah memeluknya dengan erat.


“Tidak, sayang! Papah tidak akan pernah mengijinkan kalian pergi kesana sekalipun!”


Dengan cepat dan tegas Rayden langsung menolak permintaan putrinya itu yang ingin pergi mrngunjungi markas besar klannya.


“Tapi, Pah!”


Lucia masih mencoba merayu papahnya dengan rengekkan manjanya.


“Tidak, sayang! Papah bilang tidak ‘yah tidak! Kalian hanya boleh berlatih diruang latihan papah saja, tidak boleh pergi kesana meskipun bersama dengan Grandpa sekalipun.”


Rayden masih kekeuh dengan keputusannya yang satu ini. Zhia yang sedari tadi memperhatikan percakapan Rayden dan Lucia pun menjadi penasaran denga napa yang sedang dibicarakan papah dan anak itu.


“Apa yang sednag kalian bicarakan?” tanya Zhia pada Rayden dan Lucia.


“Tidak ada, Zhi! Lucia hanya ingin meminta sesuatu yang tidak bisa aku berikan!” sahut Rayden yang tentu saja menyembunyikan tentang masalah klan mafianya dari Zhia.


“Sayang, jangan memaksa seperti itu! Kalau papah tidak bisa memberikannya berarti itu demi kebaikan Luci sendiri, jangan bersikap seperti ini lagi ‘yah!”


Zhia pun percaya saja dengan apa yang dikatakan oleh Rayden. Dia bahkan memberi nasehat agar Lucia berhenti memaksa pada Rayden.


“Pah, berarti kalau hari ini Luca ingin pergi keperusahaan papah lagi. Boleh ‘kan?” seru Luca dengan penuh antusias.


“Tidak boleh juga! Hari ini kalian berdua akan kembali bersekolah seperti biasa. Kalian tidak lihat Levi sudah berada disini untuk mengawal kalian berdua pergi kesekolah?” ujar Rayden yang dengan cepat kembali menolak permintaan kedua anak kembarnya itu.


“Yaahhh,….Pantas saja tadi kakak pelayan memaksa kami untuk memakai seragam sekolah!” gerutu Luca dengan memayunkan bibirnya.


“Tidak apa-apa, sayang! Kalian berdua belajar saja disekolah, nanti siang Grandpa dan Grandma jemput untuk mencoba gaun dan jas yang akan kalian pakai diacara pesta resepsi pernikahan papag dan mamah kalian berdua.” Ujar Julia yang memberitahu rencana mereka hari ini.


“Benarkah Grandma? Berarti mamah akan memakai baju cantik yang seperti boneka barbie milik teman Luci ‘yah? Papah juga? Luci dan kak Luca juga? Semuanya juga?” seru Lucia yang berubah menjadi sangat antusias dalam sekejap mata.


“Luca ingin jas yang seprti punya papah!” seru Luca yang juga sangat bersemangat.


“Luci juga! Luci ingin yang sama persis seperti punya papah warnanya putih ‘yah, Grandma!” ujar Lucia dengan polosnya.


“Sayang, kalau punya Luci harusnya seperti baju mamah! Luci ‘kan anak cewe, jadi harus memakai gaun seperti mamah dan Grandma!” jelas Julia yang sangat gemas melihat kedua bocah kembar itu yang kadang terlihat seperti dewasa dan kadang terlihat seperti anak kecil pada umumnya.


“Yeahhh,….Baju Luci sama sama dengan Grandma dan mamah!” Lucia bersorak sorai kegirangan.


“Papah! Ayo, antarkan sekolah Luca sekarang agar bisa cepat mencoba baju dan jas milik Luca!” pinta Luca yang menarik tangan Rayden untuk pergi sekarang.


“Iya, Pah! Ayo cepat, Luci sudah tidak sabar ingin melihat mamah dan papah seperti boneka barbie!”


Lucia pun membantu kakaknya untuk menarik papahnya pergi dari sana dan mengantarkan mereka kesekolah.


“Iya, sayang! Ayo,..Ayo, pelan-pelan ‘dong jalannya!” pinta Rayden yang tangannya terus ditarik oleh kedua anak kembarnya itu.


“Ayo, Zhi!” seru Rayden yang menyuruh Zhia untuk mengikuti mereka.


“Zhi, kau akan kekantor dengan Cano?” tanya Jullia yang sedikit terkejut saat Rayden meminta Zhia untuk mengikutinya.


“Iya, Mah! Nanti jadi sekalian langsung mampir kebutik kalau meeting Ray sudah selesai.” sahut Zhia dengan sejujurnya.


“Ya sudah sana! Anak-anakmu sudah tidak sabar ‘tuh!” ujar Julia yang mengijinkan Zhia pergi.


“Zhi pergi dulu, Mah!”


Pamit Zhia, setelah itu dia pun berjalan keluar menghampiri Rayden dan kedua anak kembarnya yang sudah berada didalam mobil.


Will, Levi, Eva dan Alea pun mengikuti para Tuannya itu dengan menggunakan mobil yang berbeda.


Levi menyetir dengan mobilnya sendiri, sementara Will ikut menumpang bersamanya. Kerena tidak mau menjadi obat nyamuk diantara keluarga baru Rayden itu.


Sedangkan Eva dan Alea juga menggunakan mobil yang telah disedia oleh keluarga Xavier guna untuk keperluan Zhia, jika ingin pergi mengunjungi suatu tempat.


Sesampainya disekolah, Rayden dan Zhia sambut dengan hangat oleh para guru dan bahkan samapi kepala sekolahnya secara langsung. Rayden dan Zhia, akhirnya berbincang sebentar dengan para guru itu.


Sementara Luca dan Lucia langsung masuk kedalam kelasnya, mereka sepertinya tidak sabar ingin menceritakan tentang papah dan mamahnya yang akan segera menjadi layaknya boneka barbie yang cantik dengan mengenakan baju pernikahan.


“Dahh,…Papah! Mamah, kami masuk dulu ‘yah!” seru Luca dan Lucia yang berlari masuk kedalam kelasnya sembari melambaikan tangannya pada papah dan mamahnya.


“Dahhh,…Sayang!” sahut Zhia dan Rayden yang membalas lambaian tangan si kembar dengan senyum bahagia mereka.


“Selamat datang disekolah kami Tuan dan Nyonya muda Xavier! Sebuah kehormatan bagi kami, anda sekalian berkenan mempercayakan putra dan putri kembar anda disekolah ini! Dan saya beserta guru yang mengajar disini ingin menyampaikan banyak terima kasih kepada Tuan muda Xavier yang telah bersedia berdonasi banyak dana pada sekolah kami ini. Kami pasti akan menjadikan sekolah ini semakin maju untuk kedepannya” sapa kepala sekolah yang sangat pintar berbasa-basi itu.


“Ray, kau,_.....”


“Tidak masalah! Itu hanyalah sebagai bentuk atas terima kasihku karena berkat salah satu guru disini yang memposting si kembar di internet, membuatku jadi mengetahui bahwa mereka adalah anak kandungku!” ujar Rayden yang segera memotong perkataan Zhia, dia pun secara tidak langsung ingin mencari tahu guru yang ikut campur urusan orang lain itu.


“Ouhya, maksud anda Bu Meetha! Dimana Bu Meetha sekarang?” seru kepala sekolah yang langsung mencari keberadaan Bu Meetha, pahlawan untuk sekolahnya dan juga untuk hidup si kembar.


“Ini, Pak! Bu Meethanya!”


Salah satu guru yang berada didepan Bu Meetha pun segera mendorongnya untuk maju kedepan dan menemui Rayden dan Zhia.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚