
“Hahahaa,….Ayo, Mah! Silahkan dijawab pertanyaan dari cucu kembar kalian ini!”
Rayden pada akhirnya tertawa lepas saat melihat ekspresi wajah kebingungan kedua orang tuanya itu.
Rayden benar-benar merasa sangat senang melihat mamah dan papahnya tidak bisa menjelaskan jawabannya pada kedua anak kembarnya yang selalu mempunyai rasa ingin tahu yang tinggi.
Zhia pun hanya bisa tersenyum melihat kelakuan Rayden dan kedua mertuanya itu yang menurutnya sangat lucu, meskipun selalu membawa-bawa dirinya didalam setiap percakapan mereka.
Rasanya sangat nyaman dan menyenangkan berada ditengah-tengah keluarga yang harmonis seperti keluarga Xavier ini.
“Ehmm,…Begini sayang! Aduh, gimana jelasinnya pada mereka ‘yah, Mah?”
Noland mencoba untuk menjelaskannya pada Luca dan Lucia, tapi sedetik kemudian dia kembali merasa ragu untuk mengatakannya.
Noland bahkan meminta bantuan pada istrinya, tetapi Julia juga sedang bingung sendiri memikirkan cara menyampaikan penjelasan yang tepat pada cucunya yang serba kepo itu.
“Jangan tanya mamah, Pah! Mamah juga sedang bingung memikirkannya!” sahut Julia dengan kesal, kerena dia harus terlibat dalam kesulitan menjawab pertanyaan cucunya.
“Kenapa Grandpa dan Grandma harus bingung? Apa pertanyaan Luci dan Luca sangat sulit ‘yah!” ujar Lucia yang masih menatap Grandpa dan Grandma penuh harap untuk segera mendengar jawabnya.
“Iya, padahal dari tadi Grandpa dan Grandma terus membicarakannya!” sahut Luca yang membantu adiknya mendesak Grandpa dan Grandmanya untuk segera menjawabnya.
Ternyata sedari tadi Noland, Julia dan Rayden berdebat. Si kembar Luca dan Lucia selalu memperhatikan dan mencerna setiap kata yang di ucapakan mereka.
Sampai mereka tidak tahan dengan rasa ingin tahunya yang semakin besar, apalagi saat melihat reaksi dari papah dan mamahnya.
“Grandpa! Apa ini ada hubungannya dengan papah yang sedang mabuk cinta dengan mamah!” seru Luca yang teringat dengan perkataan Noland yang sebelumnya.
“Mabuk cinta?”
Tanpa sadar Rayden, Zhia dan Julia serentak mengucapkan kata itu. Mereka semua langsung menatap Noland untuk meminta penjelasan.
“Apa yang sedang kita bicarakan ini? Sudah, sudah,…..Ayo, kita makan sekarang sebelum semua makan lezat ini menjadi dingin.”
Noland semakin terpojok, dia hanya bisa mengalihkan semua orang pada makan malam mereka jika ingin selamat.
“Tapi Grandpa belum menjawab pertanyaan dari Luca!” ujar Luca yang tidak mudah dialaihkan begitu saja pada makanan.
“Iya, pertanyaan Luci juga belum dijawab!” sahut Lucia yang juga masih menunggu jawabannya.
“Hahahaa,….Rasakan ‘tuh!” gumam Rayden yang tersenyum puas melihat papahnya terjebak dengan pertanyaan si kembar.
“Kapan-kapan Grandpa jawab ‘yah! Sekarang kita makan malam saja dulu. Pertanyaan yang itu anggap saja buat PR, okay!” ujar Noland dengan putus asa, dia menatap kesal pada Rayden yang saat ini malah menertawakan kesusahannya.
“Grandpa janji ‘loh!” ujar Luca dan Lucia secara bersamaan.
“Iya,…Iya,…Sudah, ayo kita mulai makan malamnya saja sekarang!” ujar Noland dengan nada bicaranya sedikit terdengar kesal.
Rayden semakin tersenyum puas, begitu juga dengan Julia dan Zhia. Makan malamnya akhirnya dimulai, beberapa pelayan langsung datang untuk melayani Tuan dan Nyonya nya itu. Mengambilkan sepiring nasi beserta lauk pauknya yang sudah tersedia disana.
Selesai makan malam, mereka semua langsung kembali kekamarnya masing-masing. Namun tidak dengan Rayden dan Zhia yang harus kekamar si kembar terlebih dahulu untuk menidurkan mereka.
Zhia bertugas menidurkan Luca, sementara Rayden menidurkan Lucia dikamar si kembar masing-masing.
Entah kenapa Luca lebih dekat dengan mamahnya dibandingkan dengan papahnya dan Sebaliknya Lucia lebih dekat dengan papahnya dibandingkan dengan mamahnya.
Lagi-lagi Rayden harus menyanyikan lagu andalannya untuk menidurkan putri kecilnya itu.
Sedangkan Zhia menceritakan sebuah dongeng yang biasa diceritakan sebelum kedua anak kembarnya tidur. Perlu cukup waktu lama untuk menidurkan kedua bocah kembar itu.
Setelah memastikan bahwa Lucia telah terlelap didalam tidurnya, Rayden pun segera keluar dari kamar putrinya itu. Disaat yang bersamaan Zhia juga keluar dari kamar Luca.
Sesaat Rayden dan Zhia saling menatap satu sama lain, hingga Rayden mulai bertanya “Apa Luca sudah tidur?
“Ehmm,…..Bagaimana dengan Luci?”
Zhia hanya menjawabnya dengan dehaman, dia pun bertanya sebaliknya pada Rayden.
“Luci juga sudah tertidur!” sahut Rayden dengan perasaan canggung.
Entah kenapa tiba-tiba saja jantung Rayden berdetak lebih cepat dari biasanya, dia hanya bisa menatap Zhia tanpa bisa berkata apa pun yang ingin dia sampaikan.
“Ray, ada apa? Ayo kita kembali kekamar. Apa kau tidak mau istirahat?” tanya Zhia yang bingung sendiri dengan sikap diam Rayden.
Zhia yang bingung harus bicara apa lagi, akhirnya hanya bisa mengajak Rayden untuk kembali ke kamar mereka untuk beristirahat. Namun. Rayden sepertinya salah mengartikan maksud perkataan Zhia.
“Ayo, Zhi! Kita kekamar sekarang!” sahut Rayden yang segera menggandeng tangan Zhia dan berjalan cepat menuju kekamarnya.
Zhia tampak bingung dengan perubahan sikap Rayden yang sangat tiba-tiba itu, tetapi dia tetap mengikuti kemana Rayden menariknya.
Sesampainya didalam kamar, Rayden segera mengunci pintu kamarnya dari dalam. Zhia pun hanya bisa menatap penuh tanya dengan apa yang sedang dilakukan oleh suaminya itu.
“Ada apa, Ray?” tanya Zhia dengan raut wajah bingungnya.
“Haah? Bukankah kamu yang memintaku untuk kembali kekamar?”
Bukannya menjawab Rayden malah berbalik bertanya pada Zhia, dia perlahan menghampiri dan semakin mendekat pada Zhia.
“Aku hanya ingin mengajakmu untuk beristirahat! Malam sudah semakin larut, kau tidak mau tidur diluar ‘kan? Maka dari itu aku mengajakmu kembali kekamar.”
Zhia pun mengambil langkah mundur menjaga jarak antara dirinya dengan Rayden, dia takut Rayden akan tiba-tiba menyerangnya lagi seperti sebelumnya.
“Tapi aku mengartikan lain pada perkataanmu tadi, Zhi! Sekarang kau harus bertanggung jawab, bukan?”
Rayden tidak peduli lagi dengan penjelasan Zhia, dia terus saja mendekat hingga membuat Zhia semakin terpojok dan terjatuh diatas ranjang.
“Ka-kau mau apa, Ray?” tanya Zhia dengan suara terbata-bata, dia sudah tidak bisa melangkah mundur lagi dan bahkan kini tubuhnya sudah dikunci oleh Rayden.
Jarak wajah diantara mereka sangat dekat, hingga mereka bisa merasakan deru nafas satu sama lain.
“Jelaskan padaku!”
Perintah Rayden yang membuat Zhia mengeryitkan dahinya karena merasa bingung dengan perkataan Rayden.
“Jelaskan tentang apa?” tanya Zhia dengan memberanikan dirinya.
“Tentu saja tentang maksud dan tujuan kedatangan Evan tadi siang! Aku tahu dia datang untuk menemuimu. Apa saja yang kalian bicarakan?” tanya Rayden langsung pada inti pembicaraan yang terus mengganggu pikirannya itu semenjak masih berada dikantornya.
Sejenak Zhia berpikir darimana Rayden mengetahui kedatangan Evan, tapi sedetik kemudian dia sadar bahwa banyaknya pelayan dirumah ini.
Semuanya bekerja dengan Rayden, sehingga tidak perlu ditanyakan lagi dari siapa Rayden mengetahui tentang kedatangan Evan.
“Ouh,…Evan datang hanya ingin melihat keadaanku saja. Tidak ada maksud lain!” sahut Zhia dengan sejujur-jujurnya, karena untuk apa juga dia berbohong pada suaminya sendiri.
“Apa kau yakin tidak ada maksud lain dari kedatangannya?” Rayden harus benar-benar memastikannya.
“Iya, Ray! Tapi sepertinya Evan lebih banyak berdebat dengan mamah dari pada bicara denganku!” ujar Zhia yang kembali teringat kejadian tadi siang.
“Okay, aku akan tanyakan ini nanti pada mamah!” sahut Rayden dengan cepat.
“Lalu apa yang dikatakan anak-anak kita? Kenapa anak-anak kita terlihat dekat sekali dengannya?”
Lanjut Rayden yang kini beralih meminta penjelasan apa yang terjadi antara anak kembarnya dengan Evan, karena dilihat melalui rekaman cctv si kembar seperti sudah melekat pada Evan.
“Sejak lahir Luca dan Luci memang sudah dekat dengan Evan, Ray! Karena sebelum mereka lahir kedunia ini hanya Evan yang selalu berada didekatku dan selalu membantuku. Bukankah aku sudah sering mengatakannya padamu bahwa hubungan kami dengan Evan sangat dekat!” Jelas Zhia apa adanya.
Jujur saja Rayden sangat membenci saat ini, saat Zhia terus menceritakan tentang kebaikan yang telah Evan lakukan pada Zhia dan anak kembarnya selama ini.
Dimana Evan terlihat sebagai sosok malaikat penyelamat hidup Zhia dan si kembar, sementara Rayden merasa sebagai orang yang menjadi penyebab penderitaan Zhia dan anak kembarnya. Jujur dari lubuk hatinya yang paling dalam, Rayden sangat membencinya.
Bersambung........
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚