
“Apa yang dikatakan Tuan besar sepertinya ada benarnya juga, Tuan muda! Sepertinya kita memang harus berhenti melakukan dengan cara kita untuk menyelesaikan ini. Ku piker sudah cukup kejadian kali ini umntuk mengakhiri semuanya.”
Levi yang biasanya diam sambil menunggu perintah dari Tuannya.
Kini ikut menyuarakan pendapatnya dan menyetujui perkataan Noland, dia memang sangat menikmati aksi menggilanya membunuh para musuhnya itu.
Akan tetapi, saat Lucia tiba-tiba tak sadarkan diri setelah melihatnya membunuh Jayden. Levi jadi berpikir ulang, mungkin sekarang Lucia tak sadarkan diri karena shock melihat kegilaannya.
Tetapi tidak menutup kemunginan, Nona kecilnya itu akan terjerat dalam bahaya jika mereka terus melakukan cara mafia untuk menyelesaikan kejadian kali.
Bisa saja setelah ini akan muncul Evan lainnya yang lebih kejam dan licik dan itu bisa membahayakan semua orang yang tidak terlibat sepertin Zhia dan juga si kembar.
“Apakah menurut kalian ini yang terbaik?” ujar Rayden yang masih saja ragu akan keputusannya sendiri.
“Menurut papah itu yang tebaik, Cano! Serahkan sisanya pada pihak yang berwajib, biarkan Evan dan anak buahnya yang menjadi korban dimakamkan dengan layak. Ingatlah, secara tiudak sengaja selama ini Evan juga menjaga Zhia dan si kembar selama kau tidak berada disamping mereka. Jadikan ini sebagai balas budimu pada mereka.”
Noland kembali menyakinkan Rayden untuk menyudahi semuanya yang terpenting sekarang adalah Zhia dan si kembar.
Rayden pun mengerti maksud dari perkataan papahnya, akhirnya dia kini pun dapat mengambil keputusannya.
“Baiklah, kita serahkan sisanya pada pihak yang berwajib saja! Pastikan bahwa tidak ada satu orang kita yang ditetapkan sebagai tersangka, gunakan semua kekuatan kita untuk menutupi keterlibatan kita pada public!” ujar Rayden yang akhirnya setuju dengan perkataan papahnya.
“Baik, Tuan! Saya kan sampaikan ini pada Will sekarang juga!” sahut Levi dnegan cepat.
“Kau pergilah, bantu Will menyelesaikannya! Gunakan mobil ini untuk kembali kesana.”
Rayden pun memerintahkan Levi untuk kembali ketempat kejadian dan membantu Will yang sendirian mengurus sisanya disana.
Sebenarnya Levi ingin tetap berada dirumah sakit sampai mengetahui kondisi Lucia, tapi apalah daya dia harus menuruti perintah dari Tuannya.
“Baiklah, Tuan!” sahut Levi yang langsung meraih kunci mobil dari tangan Rayden dan segera pergi dari sana.
“Bagus, Cano! Papah bangga padamu!” ujar Noland sembari menepuk-nepuk Pundak putranyan itu.
Setelah kepergian Levi, seorang dokter dan beberapa perawat datang menghampiri mereka.
Dengan ramah dokter itu menawarkan Nolan dan Rayden untuk sekalian mengobati luka mereka, terlebih lagi luka yang ada dilengan kiri Rayden yang masih saja mengelurakan darah.
“Tuan, sebaiknya anda berdua juga mendapat perawatan sekarang! Apalagi lengan kiri anda terus mengeluarkan darah. Tolong biarkan kami mengobati luka anda berdua?” pinta dokter tersebut, sebagai seorang dokter orang itu tidak bisa membiarkan orang tengah terluka begitu saja.
“Tidak perlu! Aku baik-baik saja, aku akan tetap disini sampai dokter yang sedang menangani istri dan anak saya keluar dengan membawa kabar baik.” Ujar Rayden yang tetap mengindahkan lukanya dan ingin tetap menunggu sampai Zhia dan si kembar selesai diperiksa.
“Cano, jangan keras kepala! Obati lukamu terlebih dahulu, jika Zhia dan si kembar bangun lalu melihat dirimu yang masih terluka seperti ini. Mereka pasti akan sangat sedih! Tenanglah, papah yang akan menjaga mereka disini.” seru Noland yang memaksa Rayden untuk menerima pengobatan itu.
“Anda juga, Tuan! Meskipun hanya luka lebam dan gores saja, tetap harus diobati. Mari ikuti saya, jika kalian berdua patuh maka pengobatannya juga akan cepat selesai. Kemungkinan sebelum Dr. Ian dan Direktur selesai mengobati mereka.”
Dokter itu pun dengan cepat menimpali perkataan Noland dengan tegas. Sehingga Papah dan anak itu hanya bisa saling melempar pandangan satu sama lain, mereka berdua bimbang karena tidak mau meninggalkan Zhia dan si kembar.
“Tuan besar! Tuan muda, ternyata anda berdua sedang berada disini juga?” sapa beberapa pengawal yang bertugas membawa Julia kerumah sakit.
Mereka pun langsung membungkuk memberi hormat kepada parra Tuannya itu yang ternyata juga berada dirumah sakit yang sama.
“Kenapa kalian semua malah berada disini? Apa terjadi sesuatu saat kami pergi?” ujar Noland, pikirannya secara spontan langsung tertuju pada istrinya.
“Iya, Tuan! Maafkan kami! Kami terpaksa harus membawa Nyonya besar kerumah sakit karena tiba-tiba beliau mengalami sesak nafas, setelah kedatangan pria itu.” Jelas salah satu pengawal yang mewakili yang lainnya.
“Pria itu?” seru Rayden yang kembali merasa cemas akan keberadaan pria yang dimaksud oleh para pengawalnya itu.
“Siapa pria yang kalian maksud? Dan memangnya apa yang mereka bicarakan sampai istriku seperti itu?”
Noland pun langsung meminta penjelasan yang detail dengan orang yang dimaksud.
“Tuan, sepertinya orang itu adalah Jaydon ketua klan Tiger Dark! Dia datang dalam keadaan yang sangat lemah, sepertinya dia sedang terluka parah dan dia juga mengatakan ingin menyampaikan pesan terakhir dari Alm. Nona Rayna. Jadi karena alasan itulah, penjaga gerbang mengizinkan dia bertemu dengan Nyonya besar.”
Pengawal itu pun kembali menjelaskan bagaimana dan alasan mereka mengizinkan Jaydon bertemu dengan Nyonya besar mereka.
Sebenarnya para pengawal itu sangat takut mengatakan yang sejujurnya, apalagi sekarang Nyonya besar mereka sampai harus dilarikan kerumah sakit.
Seketika Noland langsung terpaku begitu nama putrinya yang telah tiada disebutkan.
“Jadi kalian tidak tahu apa yang mereka bicarakan?” ujar Rayden yang memastikannya.
“Iya, Tuan! Kami diperintahkan untuk menjauh saat mereka berbicara.” sahut pengawal itu.
“Maaf, Tuan! Mau sampai kapan kalian mengabaikan keberadaanku disini. Saya seorang dokter, banyak pasien yang harus saya tangani. Jadi bisakah kalian berdua memberikan kami waktu untuk mengobati luka-luka kalian dulu?”
Sang Dokter yang merasa diabaikan dari tadi pun akhirnya memutuskan untuk menyela pembicaraan diantara mereka.
Sebagai seorang dokter pasti banyak pasien yang harus dia tangani, tapi disatu sisi dia tidak bisa membiarkan orang yang tengah terluka beritu saja.
“Ouh,….Baiklah!” sahut Rayden dan Noland tanpa sadar.
“Kalau begitu, mari ikuti saya keruang perawatan!” ujar sang dokter yang meminta kedua Tuan Xavier itu untuk mengikutinya.
“Kalian berjaga disini dan kau carikan kami pakaian! Kalau dokter sudah keluar dari kedua ruangan ini segera beritahukan kepada kami dan jangan lupa berjaga juga didepan ruang perawatan Nyonya besar!”
Perintah Rayden yang membagi tugas kepada para pengawalnya.
“Baik, Tuan! Akan segara kami laksanakan!” sahur para pengawal itu sembari membungkuk memberi hormat.
Setelah itu, Rauden dan Noland pun mengikuti dokter itu keruang rawat untuk mengobati luka mereka.
Sementara salah satu pengawalnyan langsung saja pergi untuk mengambil beberapa pakaian untuk kedua Tuannya.
Rayden pun diobati langsung oleh dokter mengingat lukanya yang cukup parah dibandingkan dengan luka yang dialami oleh Noland, sehingga Noland hanya diobati oleh perawat saja sudah cukup.
“Luka anda cukup dalam, tapi kenapa anda malah menolak diobati?” ujar Dokter tersebut sembari memberishkan luka bekas tembakkan pada lengan Rayden.
“Bukannya aku menolak untuk diobati, tapi aku hanya ingin memastikan terlebih dahulu bahwa kondisi istri dan kedua anak kembar saya baik-baik saja!” sahut Rayden sembari menahan perih pada luka yang terkena obat merrah itu.
“Hahahaa,…Tidak aku sangka ternyata Tuan muda Xavier bisa bucin juga terhadap anak dan istrinya! Selama ini saya hanya bisa menyaksikan anda melalui layar handphone saja, saya hanya melihat ekspresi dingin dan arrogant saja dari sana!”
Sang dokter pun dengan santainya menyampaikan penilaiannya sembari terus mengobatilukanya tentunya.
“Hahahaaa,….Aku tidak peduli dengan pendapat buruk orang lain, apalagi dari orang yang tidak aku kenal dan tidak mengenalku dengan baik! Yang terpenting mereka orang yang aku sayangi tidak menilai buruk kepadaku, itu sudah cukup untuk aku menjadi diriku sendiri!”
Tanpa disangka Rayden tertawa mendengar pendapat dari dokter yang sedang mengobati lukanya itu.
“Hahahaa,…Anda memang benar! Untuk apa memperdulikan perkataan orang lain yang tidak mengetahui apapun tentang diri kita dengan baik!” sahut Dokter itu yang masih saja tertawa dengan perkataan Rayden.
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚