Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Berkunjung di Perusahaan Papah


Sesampainya diperusahaan, para karyawan segera berjejer dengan rapinya untuk menyambut kedatangan Ceo mereka seperti.


“Selamat pagi, Tuan Xavier!” sapa para karyawan begitu Rayden menginjakkan kaki didepan perusahaan.


Biasanya Rayden akan langsung berjalan masuk kedalam perusahaan, tetapi kali ini Rayden seperti sedang menunggu seseorang keluar dar dalam mobilnya.


Beberapa karyawan memberanikan diri untuk melirik siapa yang sedang ditunggu oleh pimpinan mereka itu.


Ternyata dua malaikat kecil yang sedang viral didunia maya.


Semua orang pun langsung terpana melihat kedatangan Luca dan Lucia, wajah mereka memang benar-benar sangat mirip dengan Rayden sewaktu masih kecil.


“Papah! Papah! Benarkah ini perusahaan milik papah?”


Lucia langsung berseru sembari meraih tangan Rayden, dengan kedua bolanya yang sudah sangat berbinar. Gadis kecil sudah sangat takjub melihat bangun pencakar langit milik papahnya itu.


“Papah, apakah didalam sana ada banyak computer yang sangat canggih?”


Berbeda dengan Luca yang sangat antusias ingin segera masuk kedalam perusahaan milik papahnya itu.


Didalam pikirannya, Luca sudah membayangkan banyaknya computer canggih dan orang-orang yang sangat ahli dalam bidang IT.


“Iya, ini perusahaan milik papah! Ayo, kita,_”


“Woahhh,…. Cepetan, Pah! Luca sudah tidak sabar lagi ingin melihat komputernya!”


Belum selesai Rayden mengatakannya, Luca malah sudah berjalan masuk mendahuluinya.


Rayden hanya bisa tersenyum melihat kelakuan putranya itu yang memang sangat menyukai dunia IT.


Rayden pun mengikuti Luca sembari menggandeng tangan mungil putrinya yang masih saja menengok kekanan dan kiri menganggumi setiap sudut perusahaan tempat papahnya bekerja.


“Husshhhtttt,…….”


Will segera menyadarkan para karyawan yang terpana saat melihat kedatangan anak pimpinan mereka yang sedang sangat viral itu.


Will segera memberi sebuah isyarat agar para karyawan itu segera memberi salam dan hormat juga pada Luca serta Lucia seperti mereka memberi salam pada Rayden.


“Selamat pagi, Tuan Xavier! Selamat pagi, Tuan dan Nona kecil!”


Para karyawan itu pun segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Will.


Setiap karyawan yang dilewati Rayden dan kedua anak kembarnya akan selalu menyapa dengan membungkukkan badan mereka sebagai rasa hormat pada pimpinannya.


“Papah, kenapa mereka semua terus menyapa dan memberi hormat pada kita?” ujar Lucia yang tidak terbiasa mendapat perlakuan sespecial itu.


Lucia menatap pada papahnya dengan mata polosnya yang meminta penjelasan. Sementara, Luca sudah asyik sendiri dengan dunianya.


Luca terus saja memperhatikan setiap computer yang dilihatnya dengan sangat serius seakan sedang membandingkan computer satu dengan yang lainnya.


“Karena mereka semua adalah karyawan papah! Sudah seharusnya mereka menyapa dan menunjukkan rasa hormat pada pemimpinnya.” ujar Rayden yang mencoba menjelaskannya secara singkat.


Lucia pun hanya mengangguk-anggukan kepala seolah dirinya sudah mengerti apa yang dijelaskan oleh papahnya itu.


Padahal dia tidak mendengarkannya sama sekali, bola matanya terus sibuk memperhatikan setiap sudut dari perusahaan milik papahnya yang tampak sangat menakjubkan dimatanya.


“Tuan, anda sudah ditunggu oleh para dewan diruang rapat! Anda harus keruang rapat sekarang.” ujar Will yang mencoba mengingatkan kembali tentang rapat penting yang harus Rayden hadiri pagi ini.


“Aku mengerti!” sahut Rayden yang kembali dengan ekspresi dinginnya.


“Luca! Luci, papah harus pergi untuk rapat sekarang. Apa kalian berdua mau ikut?”


Rayden pun beralih pada kedua anak kembarnya, rautnya wajahnya pun seketika berubah menjadi ceria. Dia mencoba menawarkan pada kedua anak kembarnya untuk mengikuti rapat dengannya.


“Tidak! Aku tidak mau ikut, Pah!” sahut Luca dan Lucia secara bersamaan, kata ‘rapat’ mengingatkan mereka pada perasaan yang sangat bosan saat mereka dulu ikut mamahnya pergi rapat.


“Kalian berdua yakin tidak mau ikut dengan papah? Sepertinya papah juga akan lama dengan rapat kali ini.” ujar Rayden yang mencoba memastikan kembali.


“Iya, Pah! Luca ingin melihat-lihat kantor papah saja.” sahut Luca dengan cepat.


Apalagi mengetahui pasti bahwa rapatnya akan berjalan lama, bisa mati karena bosan jika dia ikut dengan papahnya.


“Luci juga, Pah! Kantor papah sangat bagus. Luci ingin melakukan tour pribadi pada kantor papah yang cantik ini!”


Seperti yang dilakukan sang kakak, Lucia pun langsung gerak cepat agar terhindar dari rapat yang membosankan.


Meskipun bersama dengan papahnya yang namanya rapat tetap saja membosankan bagi anak-anak seperti dirinya.


“Baiklah, kalau kalian tidak mau ikut dengan papah!”


Rayden pun menyerah, dia tidak mau memaksa kedua anak kembarnya itu menghadir rapat yang membosankan.


“Nana, Jaga kedua anak kembarku dengan baik! Jangan sampai mereka terluka sedikit pun. Awas saja kalau terjadi sesuatu dengan mereka!”


Perintah Rayden pada sekertaris yang lain yang bernama Nana dengan nada dan ekspresi dinginnya. Nada bicaranya lebih terdengar sebagai ancaman dibandingkan dengan sebuah perintah.


Wajah cantik dan bentuk tubuhnya yang seksi dari sekertaris itu pun langsung gemetar ketakutan melihat tatapan dari bossnya yang terlihat sangat serius itu atau yang lebih tepatnya menakutkan.


“Kalian berdua berkelilinglah dengan sekertaris papah ini. Ingat pesan mamah tadi, jangan nakal!” ujar Rayden yang kembali melembut begitu berhadapan dengan anak kembarnya.


“Baik, Pah!” sahut Luca dan Lucia secara serentak sembari menunjukkan senyum manis mereka.


“Kalau begitu, papah akan pergi keruang rapat sekarang ‘yah?”


Pamit Rayden sembari memberikan pelukkan dan juga kecupan kepada kedua ank kembarnya.


Semua karyawannya pun dibuat terpana dengan sikap Tuannya yang sangat jauh dari biasanya, mereka seperti menemukan sebuah harta karun yang sangat berharga setelah melihat sisi lembut Rayden.


“Ingat! Jaga mereka dengan baik!”


Rayden kembali mengingatkan pada Nana sebelum dirinya benar-benar pergi.


“Te-tentu, Tuan!” sahut Nana yang langsung membungkukkan tubuhnya untuk menghindari tatapan Rayden yang sangat menakutkan.


“Ayo. Will! Kita keruang rapat sekarang!”


Rayden pun segera beralih mengajak Will untuk mengikutinya keruang rapat.


“Baik, Tuan!” Will segera mengikuti langkah Tuannya, bahkan dia masih sempat-sempatnya menirukan Rayden dan mengancam Nana dengan menggunakan isyarat tangannya.


“Dahh, Papah!” seru Lucia sembari melambaikan tangannya pada sang papah yang mulai menjauh dari pandangan matanya.


“Semangat kerjanya, Papah!”


Luca tidak lupa memberikan semangat pada papahnya sebagai suplemen tambahan.


Rayden pun sejenak menghentikan langkah, dia langsung berbalik dengan senyuman merekah serta melambaikan tangannya seperti yang dilakukan kedua anak kembarnya.


Semua orang pun semakin terpana melihat kelakuan bossnya yang semakin tidak mereka kenali, pertama kali dalam seumur hidup mereka melihat kejadian langka itu.


Rayden pun menyadari bahwa semua karyawannya sedang memperhatikan kelakuannya, bahkan Will hampir saja tertawa terbahak-bahak tapi sekuat tenaga dia mencoba untuk menahanya.


Karena merasa saking malunya, Rayden pun mempercepat langkahnya menuju ke ruang rapat.


Luca dan Lucia pun menertawakan papahnya, hingga tawanya menular pada Nana yang tadi merasa ketakutan.


“Hallo, Kak! Perkenalkan namaku Luca dan ini adik kembar saya Lucia!”


Luca pun memperkenalkan dirinya dan juga adik kembarnya pada Nana.


“Hallo, Kak! Aku Lucia senang bertemu dengan kakak cantik.”


Lucia pun segera menimpali, dia memperkenalkan dirinya sambil memberikan pujian dan senyuman manisnya yang memabukkan.


“Hay, nama kakak Nana! Panggil saja dengan Kak Nana ‘yah?”


Sekertaris cantik bernama Nana itu pun ikut memperkenalkan dirinya.


“Ouhya, kalian ingin berkeliling perusahaan, Bukan? Ayo, kakak tunjukkan setiap ruangan yang ada disini!”


Nana pun teringat dengan alasan kedua bocah kembar itu yang mengatakan ingin melihat-lihat perusahaan milik papahnya itu.


Mereka pun mengikuti Nana, melihat setiap sudut perusahaan milik papahnya itu.


Wow, itulah kata yang tepat untuk menggambarkan setiap detail perusahaan BLOUSHZE Group.


Perusahaan yang sangat besar dengan fasilitas yang didukung berbagai teknologi canggih dan karyawan yang sangat berkualitas.


Namun, sebelum selesai melakukan tour secara keseluruhan. Luca dan Lucia menanyakan tentang keberadaan ruangan Ceo milik papahnya.


“Hmmm, Kak Nana! Kakak tahu dimana ruangan kerja papah kami?” tanya Luca dengan mengandalkan wajah polosnya yang terlihat sangat menggemaskan itu.


Bersambung................


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚