Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Akankah Terulang Kembali?


“Menyingkirlah! Tugasku,_..............”


“Hay, ayolah jangan menolakku seperti ini nanti aku bisa menggila lebih dari ini!”


Levi dengan santainya memotong perkataan Felix. Levi mengetahuinya, dia bisa melihatnya dengan jelas bahwa Evan memberikan perintah pada orang yang ada didepannya saat ini.


Felix hanya diam tidak menanggapi perkataan Levi sama sekali, matanya hanya tertuju pada Rayden yang semakin menjauh dari posisinya saat ini.


Karena merasa diabaikan, Levi pun langsung saja menyerang Felix hingga perhatiannya kembali focus pada Levi.


Benar saja apa kata Tuannya, Felix bukanlah lawan yang mudah untuk dikalahkan. Setiap serangannya begitu tenang, tetapi akan berakibat fatal bila terkena pada musuhnya.


Sikap dingin dan pendiamnya membuat Levi sulit menebak setiap serangan yang akan dilancarkan kepadanya, Felix bahkan tidak terpengaruh sedikitpun dengan setiap perkataan yang dilontarkan Levi untuk memancing emosinya.


Levi memang gagal menyulut emosi Felix dengan cara merendahkannya, dia pun tidak menyerah begitu saja. Levi menggunakan cara lain dan metode baru agar bisa sedikit mengalihkan focus Felix dalam menyerangnya.


“Hay, bung! Ternyata kau sangat pendiam dari yang aku perkirakan.” ujar Levi disela pertarungannya.


Dan seperti biasa Felix tetap diam dan terus focus menyerang Levi dan memojokkannya.


“Kau diam lagi! Padahal aku hanya ingin meminta sedikit pendapat darimu.”


Levi kembali melanjutkan perkataannya dan terus berusaha mengalihkan focus menyerang lawannya itu, dirinya sudah cukup babak belur karena beberapa kali terkena pukulan telak dari Felix begitu juga sebaliknya.


Dan sayangnya, sulit sekali untuk melakukan itu.


“Sudahlah, kau dengarkan saja ceritaku ini. Aku sedang menyukai seorang gadis, tapi berbedaanku dengan gadis itu sangatlah jauh. Umur dan status merupakan yang paling mencolok diantara perbedaan yang lainnya. Dia seorang Tuan putri, apakah aku salah karena menyukainya? Hahahaa,…Kalau dipikir-pikir bukankah perasaan seperti itu sangat Lucu?”


Levi sungguh sudah kehilangannya akalnya. Kalau tidak bagaimana dia masih bisa curhat kepada lawannya saat sedang dalam pertarungan sengit.


Namun ternyata kali ini dia berhasil sedikit mengalihkan perhatiannya.


“Baik kau dan perasaanmu itu tidak bersalah! Perasaan seperti itu tidak ‘lah lucu, menurutku itu lebih tepat sebagai anugrah.” ujar Felix yang tiba-tiba menghentikan serangannya dan menjawab perkataan Levi.


“Jangan mengalihkan perhatianku lagi! Kau ingin menggila, bukan? Maka lakukanlah dengan baik, karena aku tidak akan segan lagi untuk melawanmu sekarang!” lanjutnya lagi yang mengingatkan pada Levi agar tidak lengah saat menghadapinya.


Sesaat Levi memang sedikit merasa terkejut karena Felix malah merespon curhatannya.


Detik berikutnya Levi kembali mengeluarkan senyuman iblisnya, bahkan dia tertawa puas mendengar perkataan Felix barusan.


“Hahahaaa,….Kau memang benar! Terima kasih sudah bersedia mendengarkan ocehanku dari tadi. Bisakah kita mulai serius sekarang?”


Setelah selesai mengatakan itu, Levi kembali menyerang Faelix begitu juga sebaliknya. Mereka berdua sama-sama menunjukkan kemampuan masing-masing.


Kali ini Levi menyerang tanpa banyak bicara lagi, sebab dia tahu bahwa itu hanya percuma saja.


Levi lebih memilih focus untuk mengalahkan lawannya yang cukup sulit dihadapi itu.


Akhirnya Noland dan Levi pun menggila bersama disana melawan musuhnya masing-masing. Jayden semakin terdesak dengan setiap serangan yang dilancarkan oleh Noland, karena luka dikedua lengannya.


“Sial! Aku tidak bisa menahan dan menyerang seperti ini terus. Apalagi mengingat lenganku yang terluka, aku harus memikirkan cara untuk bisa menghindar dari tempat ini dan mencari cara lain untuk mengalahkannya!” batin Jayden yang merasa semakin terdesak dengan setiap serangan Noland padanya.


Apalagi mengingat Noland yang sangat ingin membunuhnya saat itu juga, Jayden tidak bisa melawannya secara langsung.


Karena itulah, Jayden harus keluar dari pertarungan itu dan memikirkan cara lain untuk dapat mengalahkannya.


...****************...


Sementara Luca dan Lucia sekarang sudah sampai ditempat Will sedang mengamuk. Awalnya Lucia berniat ingin membantunya bertarung ketika melihat beberapa kali Will terdesak oleh banyaknya musuhnya yang mengeroyoknya.


Akan tetapi, Luca tidak mengijinkannya sama sekali dengan alasan yang sama bahwa aksinya itu sangatlah berbahaya.


“Kak Luca, lihatlah disana ada paman Will! Sepertinya dia membutuhkan bantuan, Luci akan membantunya sekarang!” ujar Lucia yang menunjuk kearah Will yang sedang dalam pertarungan sengit.


Lucia bahkan tanpa berpikir panjang langsung melangkahkan kakinya berniat bergabung dengan Will.


Beruntung dengan cepat Luca langsung mencegahnya dengan cara memegang tangan Lucia dengan erat.


“Jangan ikut campur! Percayakan saja yang disini pada paman Will. Kita harus ke tempat papah sekarang! Jika kau ingin bertarung setidaknya bertarung ‘lah dengan orang yang seharusnya.”


Luca tidak bisa membiarkan Lucia menghabiskan tenaga untuk menghadapi orang-orang itu sebelum mereka menmukan lokasi papah dan mamah mereka.


Jika memang diperlukan seharusnya Lucia melawan Evan langsung daripada anak buahnya.


“Kakak benar! Ayo, kita lanjutkan mencari papah dan mamah!”


Lucia langsung mengerti dengan maksud perkataan Luca. Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan dengan mengikuti sinyal alat pelacaknya.


Sebenarnya kaki kecil Luca dan Lucia sudah terasa sangat lelah untuk berjalan, tetapi demi membantu sang papah menyelamatkan mamahnya mereka harus kuat.


...****************...


Jujur saja, Rayden cukup banyak mengeluarkan tenaganya saat menghadapi Felix yang terus menghadangnya tadi.


Begitu masuk, rumah itu tampak sangat kosong seakan tidak ada satu orang pun yang berada didalamnya.


Meskipun begitu, Rayden harus tetap bersikap waspada dan terus mencari keberadaan istrinya yang diyakini berada didalam rumah itu.


Rayden memegang sebuah senjata api sebagai perlindungannya, jikalau ada yang tiba-tiba menyerangnya dari kejauhan.


Apalagi Evan masih bersembunyi entah dimana bagaikan seekor tikus.


Rayden memeriksa satu perssatu ruangan yang dilewatinya dengan terus bersikap waspada dan juga ssangat hati-hati.


Karena dia juga tidak tahu kapan musuh akan muncul dan menyerangnya.


Setelah beberapa lama berpacu jantung, mewaspadai apa yang ada disekitarnya.


Rayden akhirnya sampai juga diruang utama, ruangan dimana dulu dia menghukum Sam Joseph dan seluruh keluarga yang berhasil dia tangkap.


“Zhi,….?!?”


Betapa terkejutnya Rayden saat melihat Zhia yang tengah terikat disebuah kursi dengan mata dan mulutnya yang ditutupi kain dan selotip hitam.


Hati Rayden terasa sangat sakit melihat keadaan wanita yang sangat dicintainya itu.


Seluruh tubuh dan wajahnya dipenuhi luka lebam yang dapat disimpulkan bahwa semua luka itu pasti dilakukan oleh Evan.


Sejenak Rayden mematung ditempatnya, airmatanya tiba-tiba saja mengalir keluar tanpa dia sadari.


Ingatan tentang Rayna, kembali bermunculan dikepalanya bagaikan potongan puzzle.


Terlihat jelas dalam ingatannya, saat pertama kali dia menemukan Rayna yang seluruh tubuhnya di penuhi luka dan tidak bernafas lagi.


Dan sekarang sekali lagi dia harus mengalami semua itu, wanita yang paling dia cintai sekarang berada diposisi adik kembarnya.


Beruntung kali ini dia bisa menemukan Zhia dalam keadaan masih hidup.


“ZHIAAAA,….!”


Rayden langsung memanggil nama istrinya dan berlari secepat mungkin untuk menghampiri wanita yang sangat dicintainya itu tanpa memikirkan apapun.


Detik itu yang ada dipikiran Rayden hanyalah menyelamatkan Zhia dan membawanya pergi ketempat yang aman secepat mungkin.


“Mmmpht,…Mmmmphht!”


Zhia mencoba memberitahukan sesuatu pada Rayden begitu dia mendengar suara Rayden yang memanggil namanya dan suara langkah kakinya yang semakin mendekat kepadanya membuat Zhia seketika menjadi sangat panik.


Akan tetapi, mulutnya tertutup rapat dengan selotip, sehingga dia tidak bisa menghentikan Rayden tepat waktu.


“Zhi, tenanglah! Aku sudah disini, kau akan aman sekarang!” ujar Rayden yang langsung memeluk tubuh istrinya itu, kemudian melepaskan selotip yang menutup mulut Zhia.


“CEPAT PERGI DARI SINI!!!!”


Begitu selotip yang membungkam mulutnya dilepas, Zhia langsung berteriak kencang dan menyuruh Rayden untuk segera pergi dari sana.


Doorrr,……........🔫🔫🔫


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚